Download Buku Sultan Thaha Saifuddin versi PDF


Yang benar Sultan Thaha Saifuddin, bukan Sulthan Thaha Saifuddin atau Sultan Thaha Syaifuddin. Karena kata "sulthan" tidak ada di KBBI, sedangkan "saifuddin" berarti "pedang agama". Kalau "syaif" (dengan huruf syin) ternyata berarti "chef".

Buku ini ketemu di laman kemdikbud, bagian pustaka. Mau cari bahan di perpustakaan, ngeri lihat asap di luar. Langit sampai oranye. Padahal kalau di prosa, kalimat langit jingga itu kesannya syahdu. Ini sih pilu! Karena jingganya efek kebakaran hutan. Belum lagi abunya yang berterbangan sampai ke dalam kamar.

Waktu baca, ketemu satu halaman yang menarik. Sultan Thaha rajin mendakwahi rakyatnya, dan mengingatkan mereka dengan surah Al Maidah ayat 51. Alquran dan hadits adalah amunisi beliau menghadapi Belanda.

Bahkan Belanda sendiri mengakui bahwa perlawanan Sultan Thaha adalah yang paling "gila" dibanding pribumi lain. Pengakuan ini tertulis dalam dokumen berbahasa Belanda yang ditulis orang Belanda sendiri. Ya iyalah, kalau orang Padang yang nulis kan pakai bahasa Minang.

Jadi ingat kejadian di Pulau Seribu kan? Coba orang Indonesia zaman sekarang hidup di tahun 1800-an, mungkin sampai sekarang Belanda masih di sini, ongkang-ongkang di atas ketek. Wak-wak Sebrang yang melayani.

Atau malah Sungai Batanghari lebih bersih, aman dari penambangan liar, dan kita bebas dari asap karhutla? Karena Belanda kan pintar mengatur tata kota, dan orang-orang Eropa konon lebih beradab soal alam dan lingkungan. Bisa jadi. Tapi tetap aja, kita jadi babu di tanah sendiri. Emangnya sekarang gak begitu? Heleeeh.

Atau kalau Sultan Thaha Saifuddin hidup di zaman sekarang, niscaya beliau akan digelari radikal oleh kaum paling toleran yang fatihah aja gak lurus.

Di buku ini kita bisa lihat bahwa penjajahan Belanda itu langkah-langkahnya mirip dengan penjajahan modern. Datang belanja, kasih-kasih hadiah, numpang dagang ... ujung-ujungnya menguasai. Monopoli, intervensi, bangun ini itu untuk kepentingan sendiri. Memangnya bangunan-bangunan peninggalan Belanda itu dipakai buyut kita dulu? Sama kayak sekarang, infrastruktur sih cuma buat selfie. Yang paling butuh dengan semua itu ... kamu taulah!

Nah, pas halaman tentang Al Maidah 51 tadi dipajang di status WA, seseorang sepertinya kepincut dengan buku ini. Entah memang penasaran dan ingin tahu lebih banyak. Atau meragukan dan gelora untuk menjatuhkan langsung berkobar. Iya, su'uzhon! Karena sekarang banyak yang begitu. Alih-alih bela agama, kalau perlu waktu agamanya dihina, dia maju duluan. Maju buat menghina lebih keras lagi.

Coba deh sebut Yahudi, Cina, dsb. Wuih, jangan tanya. Pada bangkit jadi pahlawan. Dilarang rasis! Kecuali ke muslim. Kayaknya keren kalau sudah menjatuhkan Islam. Tapi ngaku Islam. Apa yang merasukimu? Vangke.


Buku ini jelas bukan satu-satunya referensi untuk mengangkat sosok Sultan Thaha Saifuddin. Masih banyak lagi. Rasanya pengin belajar bahasa Belanda terus ngelayap sampai ke Leiden sana.

Kamu tertarik dengan buku ini? Unduh di sini. Gak pakai ribet, gak bakal dilempar ke link sana sini. Karena ini blog sehat. Tenang-tenanglah kalian mampir kemari!

Oh ya, ini ada versi buku anak-anak/remajanya. Bisa unduh format pdf juga.


Komentar

  1. Aku lama sekali nggak menemukan kembali buku ini, dulu pernah baca sekali. Aku sendiri pun ingin belajar bahasa Belanda, hahha, tapi apalah daya, sementara ini yang kubisa hanya, "Ikh Van Jou." dan beberapa kosakata lain yang sederhana.

    BalasHapus
  2. Wah sebegitu pentingnya makna sebuah nama. Aku belum pernah membaca buku ini. Buku lama dan bertema sejarah ini baik untuk dibaca anak2.

    BalasHapus
  3. Wah ternyata ini yg ditulis Mbak Rini. Padahal ya satu halaman sama bukuku di web kemdikbud tapi kok gak tau. Duh dasar aku!

    BalasHapus
  4. Wah memang Sultan Thaha Saifuddin ini salah satu pahlawan di Indonesia.
    Kalo boleh sedikit berpendapat sih, mungkin umat muslim di Indonesia ada yang beda pemikiran dalam menyikapi Saniah masalah sehingga ujung2nya saling suudzon. Tapi sebenarnya kita punya tujuan yg sama tapi pelaksanaannya yang beda. Yang terpenting sih jangan sampai berpecah belah karena pelaksanaannya dalam menyikapi sebuah problematika berbeda-beda.

    Salam mbk Tari ..

    BalasHapus
  5. Buku keren!!!! Dan benar, downloadnya gak pakai mampir-mampir langsung cus. Mantap! Terimakasih, Mas...

    BalasHapus
  6. Sudah tersedia bentuk ebook ya sekarang, jadi lebih mudah untuk melakukan baca. Gak ada alasan untuk tidak membaca

    BalasHapus
  7. Wah buku keren, nih. Makasih Kakak. Izin sedot. Semoga jadi jariah.

    BalasHapus

Posting Komentar