5 Hal Unik yang Hanya Ada di Jambi



Melihat berita kebakaran Hutan Amazon, admin berubah pikiran soal karhutla (kebakaran hutan dan lahan). Sebelumnya sempat terpikir bahwa asap tahunan yang mengisi tenggorokan kami adalah kearifan lokal Sumatra dan Kalimantan. Ternyata belahan Bumi lain juga ambil bagian. Ini bukan candaan, tapi satire.

Di Sumatra, ada salah satu kota yang insyaallah selalu adem ayem. Adem bukan berarti dingin, sama sekali nggak. Di sini surganya tukang laundry, cuci pagi siang sudah bisa disetrika. Jemur malam pagi sudah bisa dipake, tapi amis.

Namanya Kota Jambi, tempat di mana orang lebih suka hidup santai daripada bergaduh ria. Tak ada gunung, pantai, apalagi air terjun. Tapi positifnya, tidak ada gunung meletus, tsunami, atau bencana alam ... eits, sebentar! Dunia ini adil. Tanpa gempa dan tsunami, tapi tiap tahun tenggelam dalam asap.

Seperti yang disebut di awal, Jambi, sebagaimana beberapa wilayah lain di Sumatra dan Kalimantan, setiap tahun terimbas asap karhutla. Inilah yang membuat Jambi punya keunikan tersendiri. Kearifan lokal yang tidak arif, tapi lumayanlah untuk bahan cerita.

Kalau kamu berniat main-main ke Jambi, kamu mungkin perlu tahu 5 hal unik yang ada di sini. Gak niat juga gak masalah, yang penting datang. Tapi sebentar saja, karena kalau mau dekat lebaran dan orang-orang pada pulang kampung, kota kami jadi tambah macet.

Kembali ke topik, inilah 5 hal unik yang hanya ada di Jambi. Dan mungkin beberapa daerah lain di Indonesia! (Yang tertera di judul istilahnya kalau kata orang Jambi, segek bae!) Cuma biar kamu kira ini betulan unik.

1. Ada musim masker.

Kalau di daerah lain ada musim durian, musim mangga, dsb. Jambi punya musim masker! Setiap memasuki bulan Juli, ramai pedagang masker menjajakan dagangannya di pinggir-pinggir jalan raya. Iyalah, kalau di tengah ya tambah macet. Belum lagi lebaran!
Menggunakan masker bukan hanya faktor debu dan knalpot kendaraan, tapi lebih karena asap yang bahkan masuk ke rumah.
Bulan Juli-September adalah masa di mana kamu (baca: admin) malas bangun untuk tahajud, karena asap lebih terasa di jam-jam dini hari itu. Makin males ibadah, makin enggan hujan turun. Terus aja gitu, makan tuh asap!
Alhamdulillah, di beberapa daerah di Kota Jambi harus begadang atau bangun pagi-pagi sekali untuk menampung air, sebab PDAM-nya introvert. Alhamdulillah!
Kisaran Juli-September tidak mengikat. Tahun 2015, asap muncul bulan Juli, parah gila di Agustus sampai tengah September. Di akhir September hujan sedikit, awal Oktober baru asap hilang disapu hujan.
Di 2019 ini, asap datang bulan Agustus dan sepertinya berakhir di bulan ini juga. Karena sudah 2 hari terakhir hujan deras melanda. Dan datanglah masalah baru lagi; banjir.

2. Helikopter bawa air.
Tahun 90-an, helikopter dan mobil hardtop adalah momok bagi anak-anak. Film-film Indonesia pada zaman itu mengajari penonton, bahwa dua kendaraan tadi dipakai penjahat untuk menculik anak, guna dijadikan bahan cor jembatan. Dulu kata hoaks belum dikenal.
Sekarang, melihat helikopter bagi anak Jambi adalah hal biasa. Setiap musim masker, akan ada helikopter yang bolak-balik terbang membawa air. Tujuannya jelas untuk memadamkan kebakaran hutan. Kalau memadamkan api kemarahan, mereka pasti bawa cinta. Dan duit.

3. Orang Jambi lebih suka kehujanan daripada pakai jas hujan.

Setelah melewati musim masker, pedagang pinggiran akan mengganti produk mereka. Dari masker jadi jas hujan. Tapi pedagang ini tidak akan banyak, karena orang Jambi adalah para pencinta hujan. Daripada repot-repot membuka jok motor untuk mengambil jas hujan (sepertinya ini adalah pekerjaan yang sungguh berat, melelahkan, dan membebani mental), lebih baik mandi hujan. Biar masuk angin terus disayang-sayang.

4. Lebaran jangan ke mall!
Awal Ramadan, pemotor berpengalaman akan menghindari daerah Kambang, Abunjani, Tugu Juang, Mayang, hingga STM. Macet jadi raja di sepanjang jalan itu. Apalagi pada kisaran waktu mendekati buka puasa. Orang-orang buka bareng teman sekolah, teman kantor, teman seiman, teman sepemikiran, senasib sepenanggungan.
Tengah Ramadan, mobil dengan  pelat luar Provinsi Jambi menambah kemacetan daerah yang memang sudah macet. Mereka adalah para perantau yang pulang membawa bukti kejayaannya.
Di ujung Ramadan, kota agak lengang. Akan ada pos polisi sementara di beberapa area. Inilah saat kamu bisa bebas hilir mudik di depan polisi tanpa helm. Di luar masa ini jangan coba-coba! Kecuali tanpa motor juga.
Meski lengang, pada hari libur yang masih beraroma lebaran, sebaiknya kamu tidak ke mall. Walaupun Kota Jambi tanpa pantai, gunung, lembah, dan ngarai. Kamu lebih bagus liburan di kamar dengan Hago daripada main ke mall.
Atau kalau punya duit dan waktu yang memadai, kamu bisa main ke daerah-daerah di luar kota yang punya banyak destinasi wisata. Naik Gunung Kerinci misalnya, atau bermain arung jeram di Sungai Batang Merangin.
Sebenarnya di Kota Jambi juga ada Danau Sipin yang katanya akan dipromo besar-besaran oleh pemerintah setempat, karena satu-satunya di Indonesia, danau di tengah kota. Ada juga Jambi Paradise yang bikin kamu ogah berbuat baik kalau surga cuma begitu doang. Pokoknya pergilah ke mana saja, asal jangan ke mall!
Kenapa? Karena daerah yang didatangi orang-orang kota yang mudik itu, penghuninya main tukar nasib ke kota. Mereka menguasai Jamtos, JPM, dan Transmart! Jangankan masuk ke wahana bermain, menuju pintu masuk saja butuh tenaga dan kesabaran ekstra! Tapi kalau kamu seorang yang tabah dan tahan banting, ya silakan saja. Admin bisa apa?

5. Jangan tanya "Mau ke mana?" pada orang Jambi.

Ini adalah buah kecerdasan yang turun menurun diwariskan. Kalau kamu berbasa-basi pada orang Jambi yang kebetulan lewat di depanmu, dengan bertanya hendak ke mana, mereka akan membuatmu berpikir.
Karena manusia diciptakan lengkap dengan akal, jadi harus digunakan.
Kamu tanya, "Mau ke mano, Yuk?" (Mau ke mana, Kakak?)
Dia jawab, "Dakdo lah!" (Tidak ada!)
"Nak ke mano nih?" (Mau ke mana ini?)
"Ay basenglah!" (Terserah!)
Jadi, kamu harus pikir sendiri. Mau ke mana mereka sebenarnya!

Ayo main-main ke Jambi! Buktikan 5 hal di atas segera!

Komentar

  1. Belum pernah ke jambi. Semoga ada saatnya ke sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aamiin. klo liburan mending ke kabupaten sih. klo kota sama aja kayak kota lain di indo

      Hapus
  2. Kalau di Palembang orangnya selalu sibuk. Kalau ditanya, "nak ke mano?" Jawabannya cenderung "Ado gawe."

    ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal belum tentu beneran ada gawe itu. krn menurut angin yg berembus ke jambi, wong plembang besak ota, wkwk

      ctt. di palembang ngota itu ngobrol, di jambi ngota artinya bohong (tolong koreksi kalau salah!)

      Hapus
  3. Hahaha... berat juga yang kalau hidup di Jambi. Mau basa-basi malah dijawab mikir 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. mau basa-basi malah basi beneran

      Hapus
  4. hahaha, baru kali ini saya baca lebih dekat tentang Jambi. Poin terakhir membuat saya geli.

    Musim masker berarti memang bencana tahunan ya mbak, sangat tidak enak pakai masker kemana-mana.

    BalasHapus
  5. iya, seperti saya yg karena sudah terlatih tiap tahun, jadi males maskeran. kalo gak pekat2 amat suka ngandelin kaca helm aja, hehe

    BalasHapus

Posting Komentar