sleek baby

Pandemi sudah berlangsung selama satu tahun lebih di seluruh dunia. Pembatasan kegiatan sudah dilakukan di mana-mana baik meliputi sekolah, kantor, dan pusat-pusat perbelanjaan. 

Selalu berada di rumah tentunya membuat ayah dan bunda banyak menghabiskan waktu bersama dengan si kecil baik, untuk bermain atau hanya bersenda gurau. Bunda dan ayah selalu berusaha keras untuk mencoba menghibur si buah hati dengan kegiatan-kegiatan seru yang menyenangkan, dan tentunya tetap memiliki nilai edukasi. 

Selain kegiatan-kegiatan yang selalu dilakukan oleh bunda dan ayah, sebagai orang tua tentunya Anda akan mencoba menghibur dengan semua hal, termasuk dengan mainan. Selain mainan, si kecil tentu memiliki barang-barang yang disukai untuk menemaninya bermain. 

Media-media tersebut tentunya bisa menjadi sarang untuk kuman atau bakteri yang bisa menjadi sumber penyakit. Oleh karena itu, penting untuk bunda tetap mensterilkannya, beberapa contoh barang-barang tersebut yaitu:

1. Playmat

Salah satu barang yang sering digunakan oleh si kecil yaitu alas bermainnya, karena sebagian besar aktivitasnya dilakukannya di situ. Playmat yang tidak dibersihkan dengan rutin akan menyebarkan kuman dan bakteri ke mainan lainnya. 

Mainan-mainan tersebut jika sampai tergigit atau masuk ke dalam mulutnya akan menyebabkan si kecil sakit. Salah satu gejala yang sering mucul yaitu perut bayi kembung dan akan membuat si kecil tidak nyaman dan akhirnya aktivitasnya tidak seceria biasanya.

2. Teether

Barang lainnya yang selalu menjadi benda favorit bagi si kecil yaitu teether. Apa lagi bagi bayi yang baru mau mulai tumbuh giginya merasakan gusinya gatal. 

Teether terbuat dari beberapa bahan yang tentunya dipastikan sudah aman bagi si kecil. Karena teether adalah aksesoris bayi yang pasti akan masuk mulut si Kecil, maka jika tidak rajin dibersihkan akan menempel debu, kuman, dan bakteri. 

Membersihkan teether menggunakan sabun cuci botol bayi merupakan salah satu solusi untuk mencegah sumber-sumber penyakit bisa masuk ke tubuh si kecil. Selain itu sabun suci botol bayi juga memiliki formulasi yang aman dan tidak meninggalkan residu.

3. Mainan

Sama dengan dua barang lainnya, mainan merupakan salah satu barang terfavorit si kecil yang setiap harinya disentuh. Di mana jika tidak rajin dibersihkan, maka menjadi sarang kuman dan sumber penyakit bagi si buah hati.
Dari aku masih bocah sampai sudah punya bocah, Mamak sering cerita tentang perjalanan hidup beliau. Termasuk menikah tanpa cinta yang berjalan hingga 44 tahun lamanya. Pada 2012, orang tuaku bercerai. Karena sadar tak ada cinta? Bukan. Bapakku meninggal.

Orang zaman dulu sih biasa, nikah tanpa cinta tapi punya anak juga. Banyak pula! Kamu mikir gitu kan? Dan lihatlah, perceraian zaman dulu juga gak sebanyak sekarang. Betul kata orang tua, cinta saja nggak cukup.

Menikah Tanpa Cinta

Menikah Tanpa Cinta Menurut Islam

Sebagaimana yang sudah kita tau sejak dulu sekali, seorang muslim hendaknya menikahi pasangannya karena empat hal: hartanya, kedudukannya, fisiknya, agamanya. Kemudian kita disarankan untuk mengutamakan agama.

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, cinta akan hilang seiring dengan hilangnya sebab. Jadi orang-orang yang mencintai kamu karena kamu cantik, atau kaya, atau dari keluarga terpandang, suatu saat akan kehilangan sebab cintanya itu.

Cogan yang kegantengannya paling dahsyat sebumi pun suatu saat bakal gak ganteng lagi. Skincare apa pun gak akan bisa menolak kerut tanda usia. Ada sih nenek-nenek/kakek-kakek yang cantik/ganteng, tapi pembandingnya ya nenek/kakek juga.

Syukur kalau ada yang dari lahir sudah kaya, hingga dewasa, bahkan sampai mati pun sebagai orang kaya. Setidaknya selama hidup dicintai oleh orang yang cinta hartanya. Tapi ketika mati, harta gak dibawa. Yang dulu ngaku cinta juga sudah lupa, alih-alih mendoakan.

Maka menurut Ibnu Qayyim, cintailah orang karena Allah. Dialah “sebab” yang sudah ada sejak kita belum diciptakan, yang hingga kapan pun, Ia tetap kekal. Kesannya kelewat muluk? Nggak juga. Kita lakukan secara bertahap.

Apa kemudian gak boleh nikah karena ganteng/cantik, kaya, atau ternama? Boleh-boleh saja. Tapi agama nomor satu. Kalau pasanganmu paham agama, menikah karena ibadah, insyaallah ia akan berpikir ribuan kali untuk melalaikan kewajiban sebagai pasangan maupun sebagai orang tua bagi anak-anak

Bandingkan! Cantik, kaya, terpandang, tapi akhlaknya buruk. Ganteng, kaya, terhormat di masyarakat, tapi kasar pada anak dan istri. Tidak terlalu cantik/ganteng, tidak kaya raya, bukan siapa-siapa, tapi adabnya baik pada keluarga, rajin ibadah, dan bertanggung jawab.

Cantik/ganteng itu relatif. Ada yang bilang cantik harus putih, namun banyak juga cewek gak putih tapi menarik. Kemiskinan bisa ditambal dengan rasa syukur, sesusah-susah kita, masih banyak yang lebih susah. Lihat ke bawah, jangan ke atas.

Terpandang di kalangan manusia? Apalah pentingnya. Banyak orang populer yang justru mati bunuh diri. Makin terkenal, makin sulit kita bergerak. Semua diperhatikan orang. Mending jadi orang biasa, kan!

Nikah itu berat, Men! Bukan sekadar melepas syahwat. Kamu nggak ngundang orang-orang datang untuk izin berkembang biak. Jadi pikir baik-baik kalau mau mengabaikan faktor agama. Penyesalan tidak mengubah apa pun.

Risiko Menikah Tanpa Cinta

resiko menikah tanpa cinta

Hidup kita nyata. Bukan novel cinta apalagi sinetron. Menikah dengan atau tanpa cinta, sama saja, pasti ada badainya. Carilah rumah tangga yang belum pernah punya masalah! Sampai Bikini Bottom pun gak bakal ketemu. Belum nikah pun kita sudah punya masalah. Lahirmu aja sudah masalah! 

Kalau cinta yang dimaksud adalah syahwat semata, maka risiko menikah tanpa cinta sama dengan nikah dengan orang yang gak punya syahwat. Tapi bisa diobati kan.

Masih merujuk pada cinta adalah syahwat, maka menikah dengan cinta artinya beda tipis dengan tren cowok-cowok di banyak tempat yang memilih menikah dengan boneka seks. Kalau bonekanya rusak, ya tinggal cerai.

Tapi kalau yang dimaksud dengan cinta itu adalah cinta sejati. Yang menerima kekurangan, mengajak pada kebaikan, dan sama-sama berkorban, niscaya romantisme itu hanya nomor sekian. Hal utamanya adalah mengejar kebahagiaan. Kamu bahagia, pasangan pun demikian. 

Jadi, “cinta”nya itu diterjemahkan dulu. Bukan fokus pada cinta atau nggak cinta. Hidup nggak sepicis itu.

Taaruf dan Khitbah

Menikah Tanpa Cinta

Nah, kalau kamu mau menikah dengan cinta yang lurus, ada jalur syar’i yang bisa ditempuh. Gak harus nunggu jilbabmu lebar dulu, gak harus celanamu cingkrang dulu. Semua butuh proses.

Pertama, carilah orang yang kamu percaya agamanya untuk bisa menjadi penghubung antara kamu dan calon. Pastikan kamu dan keluargamu sudah siap dengan proses ini. Edukasi orang tua dengan cara yang santun.

Tak masalah kalau kamu  awalnya naksir duluan, bukan lewat tukar data atau yang semacamnya. Sahabat Nabi juga tidak pakai proposal waktu mau nikah, tapi mereka mendatangi wali atau konsultasi dulu kepada orang yang alim di antara mereka. Gak ujug-ujug nyosor ngajak kawin anak orang.

Untuk yang pernah pacaran, tak masalah kamu nikah lewat jalur taaruf. Yang sudah ya sudah, yang penting ke depan kita lebih baik. Nantinya mediator atau comblang akan mengatur waktu dan tempat untuk saling melihat dan berdiskusi terkait visi misi menikah dsb.

Setelah taaruf lancar, dilanjutkan dengan khitbah atau meminang. Hanya perlu sekira tiga bulan untuk proses ini, biar gak keburu pacaran sebelum nikah. Yang penting luruskan niat, kamu nikah untuk ibadah. Pasti ditolong Allah!

Untuk yang melalui proses ini dari nol, benar-benar belum kenal sebelumnya, di sinilah kita mempraktikkan kata-kata orang tua dulu, witing tresno jalaran soko kulino. Yang bukan orang Jawa pun tau artinya. Cinta akan datang seiring dengan frekuensi interaksi suami-istri. Makanya ngobrol!

Kalau setelah nikah lalu diem-dieman aja ya sudahlah. Anggap aja lagi KB.

Sudah Menikah tapi Tidak Cinta

sudah menikah tapi tidak cinta

Meski nikah adalah hal yang perlu disegerakan, namun prosesnya harus penuh dengan kesiapan. Tak cukup niat baik saja. Segera tidak sama dengan terburu-buru. Karena buru-buru adalah sifat setan.

Sakinah, mawaddah, wa (dan) rahmah itu diupayakan. Kalau sejak awal niat kita baik, penuh persiapan (dengan menabung, mencari ilmu, dll), sisanya tinggal doa. Jangan nikah modal tawakal, realistislah.

Tapi jika setelah upaya itu, cinta tak juga tumbuh, berarti kamu butuh usaha keras. Sudah punya anak, tapi tetap sulit mencintai pasangan. Sudah konsultasi ke ahlinya, sudah berdoa, tapi tak tumbuh cinta yang membuat kamu merasa terpanggil untuk melindungi keluargamu, mungkin cerai memang pilihannya.

Sahabat Nabi juga ada yang bercerai. Nabi sendiri pernah menceraikan istrinya. Tapi ini bukan perkara mudah ya, Gengs. Aku cuma nulis aja, gak nyaranin sama sekali. Fyi, orang-orang yang bermasalah secara psikis, yang kemudian hari menjadi pelaku kriminal, umumnya mereka adalah anak yang lahir dari keluarga broken home.

Kesimpulan

Menikah memang sebaiknya karena cinta. Tapi cinta yang dimaksud adalah cinta karena Allah, yang dijamin akan menyelamatkan kita di dunia hingga akhirat.

Menikah dengan niat ibadah akan menghapuskan kekhawatiranmu tentang menikah tanpa cinta. Kamu tak harus menikahi orang yang kamu cintai, tapi kamu wajib mencintai orang yang kamu nikahi.

Menikah tanpa berkah lebih buruk daripada menikah tanpa cinta. Mulailah dengan niat yang baik, jalani dengan cara yang baik. Jika kamu menikah karena Allah, Dia jugalah yang akan membersamai dalam susah senang pernikahanmu.

السلام عليكم

Ada yang tanya, mending mana? Berjilbab tapi pacaran (sebelum nikah) atau gak berjilbab tapi gak pacaran. Biasanya dijawab dengan berjilbab tapi gak pacaran. Jawaban yang mungkin lebih adil adalah, mereka sama-sama berproses. Gak usah dibanding-bandingin.

Kalau mau lebih vulgar lagi, masih ada yang celananya cingkrang tapi penjahat kelamin, bercadar tapi mulutnya sadis, sampai yang ngaji tapi doyan fitnah. Ada? Banyak. Tapi apakah semua yang berjilbab pasti pacaran, yang bercadar pasti lisannya jahat, yang ngaji tukang fitnah? Pasti nggak. 

Kalau mau tegas, tegaslah ke diri sendiri. Dengan orang lain sebaiknya banyak maklum. Kita nggak tau kondisi orang lain yang paling dalam. Karakter asli, kejiwaan, lingkungan, faktor keluarga, bahkan model setannya beda dengan setan yang biasa ngerjain kita. Ada semacam personalisasi.

Tampilan vs Pikiran

berjilbab tapi pacaran

Biasanya artikel yang kayak gini aku pajang di Kompasiana. Tapi karena topiknya kelewat seksi, agak sungkan juga. Sebab netijen zaman ajaib ini, kalau baca judul doang. Lalu menyimpulkan sesuai kehendak syahwatnya.

Ide menulis ini berawal dari curhatan seorang teman yang merasa difitnah oleh orang yang secara tampilan, kedudukan, usia, seharusnya lebih baik dari orang kebanyakan. Tapi apa lacur, ybs suka memfitnah.

Konyolnya, bukan hanya temanku yang jadi korban. Bahkan aku sendiri pernah. Dan kalau ditelusuri lagi, orang lain yang tampilannya lebih shalihah juga pernah melakukan yang sama. Yang mengeluhkan bukan aku saja.

Lebih jauh lagi, jangan-jangan kita pun melakukan hal yang sama. Dan dikeluhkan orang lain juga. Hayo! 

Ini dunia nyata, bukan sinetron yang tokoh antagonisnya selalu digambarkan berpenampilan jelek atau minimal menampilkan gestur sebagai penjahat. 

Jadi, sebenarnya yang berpakaian islami itu seharusnya gimana sih? Idealnya ya seislami tampilannya. Tapi kalau mereka tak berhasil, berusahalah untuk tidak memvonis jilbab mereka, cadarnya, cingkrangnya. Sebab bukan mereka yang rugi, tapi kita sendiri.

Contoh, ketika kita beranggapan orang berjilbab kebanyakan tidak menunjukkan akhlak yang baik sebagai jilbaber. Lalu memvonis bahwa kebanyakan jilbaber adalah munafik, misalnya. Berarti kita telah menentang apa yang Allah putuskan.

Pertama bahwa jilbab, gamis, dsb adalah pakaian takwa. Kita sebagai “orang yang apa adanya” sengaja atau tidak, menyelisihi Allah tentang hal ini. Kemudian vonis ini tertanam menjadi mindset, yang akhirnya dari tak berjilbab justru menjadi antijilbab. Anti terhadap perintah Allah. Ngeri.

Ngeri sekaligus konyol. Kita menjadi penentang Allah karena kesalahan orang lain. Dari benci orangnya, jadi benci jilbabnya, lalu ngajinya. Terakhir benci pada agamanya. 

Coba kembalikan cara berpikir kita pada jalur yang tepat. Kalau sudah berpakaian islami saja si tukang fitnah masih begitu, apalagi jika tidak. Mungkin dia buka kursus Cara Jadi Setan Paling Jitu. 

Ada juga yang berpikiran begini, karuan aku biasa-biasa aja, gak salat gak berjilbab tapi nggak ganggu orang. Percayalah, itu bisikan setan yang membuat kita merasa sudah berbuat baik. Orang kafir juga banyak yang baik, mereka tidak salat dan tidak menutup aurat. Mau gabung? Silakan. Muslim sejagat gak rugi kok.

Bukan Cuma Muslim

cadar, jilbab, celana cingkrang

Kalau mau contoh orang yang memanfaatkan penampilan untuk menutupi aib, ayo cek beberapa kasus korupsi dengan tersangka Nunun Nurbaetie, Yulianis, Malinda Dee, dll beberapa tahun silam. Ingat?

Mereka yang sebelumnya tidak berjilbab, bahkan sebagian kerap mengenakan pakaian terbuka, ketika masuk ke persidangan tiba-tiba menjadi lebih islami. Dari sekadar kerudung sampai mengenakan jubah dan cadar. Biadab ya? Eh yang bersumpah pakai Al-Qur’an lalu korupsi juga ada kan? Banyak. Mereka inilah para peleceh agama, yang menjadikan Islam sebagai topeng.  

Di Indonesia pelaku kejahatan kebanyakan adalah muslim. Lah iya, wong negara ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kejahatan di Vatikan, pasti pelakunya kebanyakan Kristen. Di Palestina yang dikuasai Israel, biasanya Yahudi.

Di sebuah lembaga yang isinya rata-rata jilbaber, ratu gosipnya hampir pasti berjilbab. Tak perlu hafal rumus peluang, ini bukan contoh soal cerita. 

Masa di lingkungan pengajian ada biang gosip dan tukang fitnah? Iblis aja pernah tinggal di surga, menganggu Adam sampai terusir. Kalau lingkungan itu masih sedikit jumlah iblisnya, bertahanlah. Sebaliknya, jika lingkungan itu terlalu toksik, pergilah. Daripada belum mati kamu sudah merasa di neraka.

Apa kemudian di lingkungan yang tidak menutup aurat, bahkan tidak seiman akan lebih baik? Kayaknya sih nggak. Bagaimana pun, ayam lebih aman tinggal bersama ayam. Carilah analogi yang lebih tepat kalau ini kelewat ngasal.

Kesimpulan

  • Memvonis orang lain dan mengklaim diri sendiri sama tidak baiknya.
  • Orang dengan tampilan islami tidak selalu baik, tapi setidaknya mereka sudah melakukan kebaikan lewat penampilan. Soal hati dan tabiat, bukan urusan kita.
  • Jangan mau ikut berdosa karena dosa orang lain. 
Daripada sibuk memikirkan jilbab pacaran, cadar mulut jahat, celana cingkrang tukang kawin, mending perbanyak amal baik yang menyenangkan. Makan enak untuk kesehatan, tidur cukup untuk kewarasan, cari duit halal untuk sedekah. Orang orang, kita kita.
Apa hewan peliharaanmu? Kucing? Ah biasa! Kecoak? Kamu pasti mageran. Bagaimana kalau coba adopsi hewan peliharaan unik? Tentunya yang legal dan aman dong!

Memelihara hewan punya efek positif untuk kesehatan mental, tapi tidak untuk kesehatan dompet. Jadi sebelum memutuskan beli hewan unik yang mana, pastikan jiwa ragamu terjaga hingga bertahun-tahun ke depan.

Hewan itu makhluk hidup, sama dengan manusia. Ada masanya mereka lucu, ada kalanya sakit. Jadi pertimbangkan baik-baik biar gak zalim. Waktu hewannya sehat disayang-sayang, giliran sakit ditelantarkan.

Sudah cukup tausiahnya, inilah lima hewan peliharaan unik yang mungkin menarik minatmu!

1. Landak Mini

Hewan Peliharaan Unik
Photo by Keith Pittman on Unsplash
Pada dasarnya landak adalah hewan liar Gengs, jadi kalau kamu mau memelihara mereka, ambillah sejak masih kecil. Nggak kayak kucing yang memang sudah terbiasa berdampingan dengan manusia, landak sebagaimana hewan liar lainnya, lebih tajam insting hewaninya ketimbang sayang-sayangan dengan manusia atau hewan lain.

Landak juga merupakan hewan soliter, alias lebih suka sendiri. Jadi jangan harap mereka akan kongkow bareng kucing dan ayam di rumahmu. Lagipula, duri mereka tajam. Khawatirnya melukai hewan lain saat mereka bercengkerama.

Landak mini artinya landak yang memang sampai dewasa akan tetap berukuran kecil (pygmy hedgehog). Bukan landak biasa yang berukuran mini hanya saat masih kecil. Kalau tak tau bedanya, pelihara kodok sajalah!

2. Iguana

Hewan Peliharaan Unik
Photo by Patrick Minero on Unsplash
Tampangnya seram, tapi tergolong mudah dipelihara. Untuk pemula, kamu sebaiknya memilih iguana hijau karena relatif lebih jinak dan mudah beradaptasi.

Iguana memakan serangga, sayuran, biji-bijian, atau bisa juga diberi makan pelet kering. Jaga kandangnya agar tetap kering dan bersih, cukup udara dan cahaya, serta jauh dari jangkauan anak-anak.

3. Ubur-ubur

Hewan Peliharaan Unik
Photo by lais Foratto on Unsplash
Memelihara ikan hias dipercaya banyak orang dapat mengurangi stres. Memandangi akuarium penuh warna-warni sepulang kerja, terbayang nyamannya ya! Tapi bagaimana kalau akuariummu diisi ubur-ubur? Tak hanya bebas stres, kamu juga bisa segirang Spongebob!

Ubur-ubur tersedia banyak di alam, insyaallah tidak termasuk hewan langka. Tapi yang bisa kamu pelihara di rumah adalah ubur-ubur jenis blue blubber, upside-down jellyfish, ubur-ubur bulan, dan ubur-ubur laguna.

Kabar buruknya, ubur-ubur tidak bisa dikasih whiskas yang gampang kamu temukan di alfamerit. Mereka makan plankton. Cek sakumu, jangan sampai stres hilang tapi malah depresi, gara-gara hewan peliharaanmu kelewat unik. 

4. Wupih Sirsik alias Sugar Glider  

Hewan Peliharaan Unik

Disebut juga possum meluncur, nama latinnya Petaurus breviceps. Dia pasti punya banyak akun! Hewan ini tergolong marsupial (mamalia berkantung) tapi tingkahnya mirip bajing, tanpa an. Bajing terbang bukan bajing lompat.

Makanannya buah dan sayur, jadi mudah didapat. Sugar glider butuh kandang luas supaya bisa pecicilan. Meski begitu, karena badannya kecil, luasnya juga gak sebesar garasi mobil. Kalau kamarmu cukup aman, mungkin sugar glider gak perlu dikandangin. Suruh petakilan aja di lemari, rak buku, dll. Mungkin ya!

5. Chinchilla

Hewan Peliharaan Unik

Hewan ini berasal dari Amerika Selatan. Artinya, secara iklim akan berbeda jauh kalau kamu pelihara di rumah dengan habitat aslinya. Kecuali rumahmu di Amerika.

Mirip dengan hamster, chinchilla punya pencernaan yang sensitif. Selain itu, bulunya yang halus akan rusak kalau kamu mandikan dengan air. Suruh mereka tayamum!

Serius. Menurut Wikipedia, chinchilla harus rutin dimandikan dengan debu vulkanik untuk membuang minyak dan air yang menempel pada bulu mereka. Pada satu folikel kulit chinchilla, ada lima puluh rambut!

Saking padatnya bulu chinchilla, parasit kulit tidak bisa menempel. Itulah kenapa mereka gak perlu kamu mandikan. Kamu hanya perlu nabung yang banyak dan diet ketat, karena selain pasir/debu khusus, kamu juga perlu menyiapkan makanan khusus dan pengatur suhu selama memelihar chinchilla.

Tentang Hewan Lainnya:

Masih banyak hewan peliharaan unik lainnya yang bisa kamu adopsi. Tapi hanya kuulas lima saja untuk lebih berhati-hati. Sebab tidak semua hewan itu boleh dipelihara oleh individu. Yang lima di atas insyaallah aman, sudah kucek.

Biarpun duitmu melimpah, sampai bisa impor hewan dari Mars sekalipun. Bisa buat nyuap petugas imigrasi, dinas kehutanan, sampai Sekjen PBB, masalahnya bukan sekadar melanggar aturan, tapi hewan-hewan tertentu jumlahnya sangat terbatas di alam.

Memelihara hewan yang hampir punah hanya akan merusak alam karena ekosistem terganggu. Apalagi kamu, atau aku deh, yang paling-paling adopsi hewan peliharaan unik modal barter dengan kucing kampung. Atau dapat hadiah dari kenalan (lebih masuk akal). Biarlah hewan-hewan itu hidup di alam bebas, dipelihara langsung oleh yang menciptakan. 

Ngapain harus punya hewan peliharaan unik, kalau kamu saja sudah unik!
Gengs, ini bukan membahas tentang cara menjadi orang tua yang baik, ya! Tau diri ah yang nulis. Kalau dibilang ciri-ciri orang tua yang baik, bisa dibilang sudah mendekati.

Walaupun kamu belum jadi orang tua, ilmu semacam ini penting banget loh. Bahkan kalaupun sudah sering ikut kegiatan parenting dan banyak baca buku tentang pengasuhan, ilmunya gak akan sia-sia walau terus diulang.

orang tua yang baik

Sebab sebagai manusia, kita rentan lupa. Padahal memahami kehidupan sebagai orang tua adalah bekal penting sebelum kita menikah, bahkan hingga cucu kita punya anak. Kalau masih ada umur sih.

Oke, berapa pun umurmu, punya anak atau punya cucu, mari kita belajar menjadi orang tua yang baik. Baik secara ideal, bukan menurut anak saja (karena mereka belum paham), apalagi menurut kita sendiri (itu namanya klaim!)

Dan inilah enam tanda bahwa kamu sudah menjadi orang tua yang baik, kalau kamu menerapkannya (poin-poin utama diambil dari Brightside).  

1. Membiasakan komunikasi dua arah

Seringnya kan kita ngomong sambil lalu, mewarisi kebiasaan ortu jadul yang ngomong dengan anak sambil baca koran. Itu sih di TV!
Orangtua yang Baik
Kalau kamu terbiasa ngajak anak ngobrol dengan memandang mata mereka, artinya kamu sudah punya modal untuk disebut orang tua yang baik. Sebab dengan menatap mata, anak merasa disimak. Respons mereka dinanti, bukan cuma disuruh mendengarkan. 

2. Mau meminta maaf

Sst, jangan sampaikan ini ke orang tuamu ya! Sebab ortu jadul biasanya enggan meminta maaf pada anak-anak mereka. Kitanya nggak dong! Ortu kekinian harus lebih baik dari generasi lampau.

Meminta maaf tidak akan menjatuhkan harga diri sebagai orang tua, justru sebaliknya, kita sudah memberi contoh yang baik. Anak-anak pun tak akan sungkan meminta maaf saat mereka berbuat salah, karena melihat teladan dari orang tua. 

Ingat tiga kata sakti? Tolong, maaf, dan terima kasih. Membiasakan ketiganya membuat orang punya persepsi baik terhadap kita. Jika di mata orang lain kita merasa perlu untuk baik, masa sih di mata anak sendiri nggak.  

3. Mendukung potensi anak

Seorang dokter biasanya pengin punya anak yang kelak jadi dokter juga. Polisi berharap anaknya jadi polisi, guru mau anaknya jadi guru (masih? Kabarnya guru sekarang gak bakal jadi PNS). Tapi tau kan, kalau setiap manusia itu unik.

Gak selalu anak harus jadi kayak mak bapaknya. Mereka punya minat bakat sendiri, yang bisa sama, mirip, atau beda jauh dengan orang tuanya. Ortu yang baik adalah ortu yang selalu mendukung potensi anak, meski berbeda dengan mereka. Potensi positif tentunya. 

Kalaupun dianggap kurang positif, sebagai orang tua, hal yang gak boleh dilupakan adalah mendoakan mereka. Doakan saja yang baik-baik, Allah paling tau kok yang baik untuk anak-anak, walau nampaknya gak bagus di mata orang tua. 

4. Punya jadwal teratur

Pola asuh orang tua yang baik sangat memengaruhi karakter anak, bahkan hingga mereka dewasa. Jujur, ini yang paling berat. Dan aku sendiri belum lolos kriteria orang tua baik, menurut enam ciri yang ada di artikel ini. Namanya juga masih belajar kan!

Fyi, jadwal yang teratur di rumah ternyata sangat berpengaruh baik untuk kedisplinan anak. Terutama waktu makan yang sebaiknya terjadwal rutin dan dilakukan bersama. Makan sambil ngobrol boleh kok, alih-alih pegang HP!

Tau nggak kenapa ada penyakit yang tidak menular, tapi menurun dari orang tua ke anak? Ternyata itu disebabkan pola asuh, pola makan, pola pikir, dst dalam keluarga, yang berujung pada gaya hidup.

5. Menjadi sekolah pertama

“Ibu adalah sekolah pertama”, kalimat ini populer di mana-mana dengan bahasa Arabnya, sampai-sampai dikira hadits. Tau kan, sebelum dimasukkan ke rahim ibu, kita adalah bagian dari ayah?
cara jadi orang tua yang baik

Jadi menurutku sih lebih tepat kalau dikatakan orang tua adalah sekolah pertama. Anggaplah bapaknya kepsek, emaknya walkes. Kamu tukang bersih-bersih sekolah. Hiah!

Maksudnya, orang tua adalah sumber ilmu pertama. Entah itu ayah atau ibu, kan anaknya milik bersama. Contoh konkretnya, di masa pandemi ini seharusnya orang tua nggak keberatan jadi guru di rumah. Biarlah repot, yang penting anak sehat, dan bonding kita kian rekat.

6. Paham kapan waktunya hadir

Kasihan anak pertama, mereka sering jadi korban ortu yang baru belajar. Biasanya anak sulung adalah yang pertama merasakan orang tua overprotective, atau malah orang tua gak pedulian

Biarlah itu jadi kesalahan ortu jadul atau ortu di rumah tetangga, kitanya jangan. Jadilah kaum tengah-tengah yang nggak lebay ke sana maupun ke sini. Kita paham kapan waktunya mendukung anak, kapan mengawasi, kapan membebaskan.

Ingat konsep pengasuhan anak yang diajarkan Ali bin Abi Thalib:
  • 0-7 tahun anak adalah raja.
  • 8-14 tahun anak adalah tawanan.
  • 15-21 tahun, anak merupakan sahabat orang tua. 
Setelah lewat usia itu? Anak yang sudah bisa punya anak kali ya! Alias calon orang tua yang baik, karena mereka sudah dibesarkan oleh orang tua yang baik juga.

Nah, dari enam tanda di atas, kamunya termasuk nggak? Aku sih kayaknya belum. Tapi sampai kapan pun nggak ada kata terlambat untuk belajar menjadi orang tua yang baik. Kecuali kalau umurnya memang sudah habis. Jadi, lakukan sebelum itu terjadi yuk!