Kamu pernah lihat iklan Warung Umat? Tertarik banget kan untuk gabung? Kalau aku sih yes! Padahal sudah pengalaman duit rontok gaje untuk investasi di platform yang mirip. Jadi inget dulu, ada coach bisnis yang bilang, kalau invest itu ibarat buang duit. Harus siap!

pengalaman warung umat

Pengalaman Warung Umat

Ini bukan review berbayar, Gengs. Untuk menjatuhkan juga nggak, cuma mau curhat. Aku juga gak bakal share cara gabung Warung Umat. Selain lupa dan malas buka-buka lagi, aku juga belum dapat apa-apa selain emosi.  

Bulan Maret lalu, aku nemu iklan Warung Umat di blog Fun. Setelah klik, langsung deh masuk ke webnya. Bukan iming-iming keuntungan yang bikin aku semangat bergabung, tapi kata-kata Islam, ekonomi umat, ukhuwah, dsb, itu yang membuat iman yang secuil ini terketuk. 

Maka setelah mengisi data ini itu dan melakukan pembayaran, jadilah toko online milikku sendiri. Keren, ya? Sayangnya hidup gak sesimpel itu.

Menjelang toko jadi, bergabunglah aku ke dalam grup WA yang berisi anggota Warung Umat. Awal-awal, admin selalu menyapa, mengingatkan untuk bergabung dalam webinar atau menyimak video di kanal Youtube mereka.

Kalau tak salah ada dua grup waktu itu, tapi aku tak ingat bedanya. Yang jelas di kedua grup ini, admin hanya berinteraksi satu arah. Walau chat tidak dikunci, tapi ia terus memberi pengumuman tanpa menanggapi pertanyaan anggota.

Keuntungan Warung Umat

Sampai detik ini, kalau memang masih ada pahala setelah aku ngedumel, barangkali itulah satu-satunya keuntungan bergabung dengan Warung Umat. Atau tambah pengalaman, jadi tau rasanya dikacangin pihak yang sebelumnya merayu untuk gabung. Habis manis sepah dilepeh.

login warung umat

Kekurangan Warung Umat

Belakangan iklan Warung Umat sudah tak terlihat lagi. Waktu iseng kuketik kata “warung umat” di kolom pencarian Google, salah satu saran dari mesin pencari malah kata “penipu”. Artinya tidak sedikit orang yang mencari “warung umat penipu”. Berarti bukan cuma aku yang dibuat gondok oleh platform satu ini.

Kalau dilist, inilah kekurangan Warung Umat berdasarkan pengalamanku bergabung sejak beberapa bulan lalu:

Produk yang Dijual Sangat Sedikit

Awalnya aku berencana membuat banner yang akan dipajang di blog ini. Tapi sejak toko iluvtari.yukberkah itu jadi hingga artikel ini diposting, itu-itu sajalah barang dagangannya. Alih-alih nawarin orang, aku aja gak pengin.

Tidak Ada Pendampingan

Waktu aku bergabung ke platform penerbit iklan dan program affiliate, sejak approve sampai sekarang selalu ada menghubungi untuk menanyakan kesulitan-kesulitan yang dialami. Contohnya involve, itu daftarnya free, tapi layanannya maksimal.

Pinterest aja yang ikut andil ngasih traffic ke iluvtari, rajin ngasih pelatihan dan menyediakan ruang untuk diskusi. Warung Umat? Sekalipun gak pernah nanya, begitu bayaran diterima. Yang penting dah bayar, abis itu serah lu mau jualan apa nggak! Gitu kali.   

Respons Admin Superburuk

Inilah yang paling fatal. Sudah habis kesabaranku menghubungi admin Warung Umat yang somse gak ketulungan. Entah yang chat itu manusia atau bot, pokoknya suka-suka dia aja. Aku chat pertama, dia jawab lusa.

Terus kutanya lagi, gak dijawab. Entah nunggu Imam Mahdi datang atau Nabi Isa turun. Baik chat di grup maupun wapri, gak ada respons. Di grup saja admin sibuk mengirim amunisi promo tanpa peduli anggota nanya ini itu.

Kesimpulan Review Warung Umat

Niat kita ingin berkontribusi untuk kebangkitan umat, tapi semangat ini kerap dimanfaatkan kaum kapitalis dengan modal slogan syariah, sunnah, halal, berkah, dsb. Aku gak bilang Warung Umat penipu atau semacamnya, hanya saja sampai hari ini aku merasa diabaikan seabai-abainya. Kemitraan macam apa ini?

Ya sih duit yang keluar gak sampai 100, hanya 96 atau 98 ribu. Tapi coba hitung, ada berapa pengguna internet di Indonesia. Ada pasar Muslim yang besar di sini! Sejuta orang saja yang tertarik, sudah hampir 100 juta mereka dapat.

Hebatnya orang Indonesia itu murah hati. Ah, duit segitu ikhlasin ajalah. Mudah-mudahan dapat pahala niat. Yang nipu pasti dapat balasan. Baik itu Warung Umat atau platform lain, atau sekian banyak pihak yang kerap memanfaatkan semangat beragama masyarakat Muslim Indonesia. 
Yes! Terjaring lagi cerpen pilihan untuk dipajang di iluvtari. Kali ini cerpen tentang jomblo. Protes dong hoi! Yang benar itu jomlo, bukan jomblo. Kalau sudah tau, bagus! Kalau belum, ya jadi tau.

Cerpen Tentang Jomblo

Cerpen tentang jodoh (tepatnya, bertema kesendirian) ini dikirim oleh Zai JeeLea. Gak taulah, itu nama asli, nama pena, atau cuma username email. Soalnya aku gak minta foto KK sebagai syarat mengirim cerpen ke blog ini. Tolong jangan tanya-tanya lagi, masih nerima cerpen nggak? Pokoknya selama info ini masih dipajang, berarti masih terbuka peluang untuk kamu mengirim naskah ke iluvtari.

Info terbarunya. Sekarang honor yang receh itu gak cuma dikirim dalam bentuk pulsa, tapi lebih diutamakan berupa saldo Gopay atau LinkAja. Nggak usah tanya alasannya, simak aja cerpen tentang jomlo berikut ini!

Cerpen Tentang Jomblo

Pelaminan yang berwarna merah keemasan itu tampak sangat mewah bagi Laksmi. Warna merah, putih, kuning, dan jingga dari bunga juga turut memperindah pelaminan. Membuat takjub semua orang. 

Musik dangdut menjadi pelengkap acara, tentu saja dengan salon yang memekakkan telinga sekaligus membuat jantung seperti ingin melompat keluar.

Laksmi duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan pelaminan. Sambil menyantap makanan, ia pandangi dua orang yang sedang berbahagia di depannya. Dua sejoli itu saling melempar senyum, sesaat kemudian tertawa. Lalu saling cubit. senggol-senggol mesra. Jujur Laksmi iri sekali. Jika bukan temannya yang menikah ini, tentu saja ia tidak akan datang. 

Dari sembilan puluh sembilan jumlah teman kuliahnya, tujuh puluh tiga sudah menikah. Sisanya sedang taarufan. Sementara Laksmi hanya bisa gigit jari. Belum menikah. Tidak sedang menjalani proses taaruf. Pun juga tidak punya pacar.

Padahal usianya sudah sangat matang, 36 tahun. Jujur, Laksmi sangat ingin dipinang. Teman-temannya kerap bertanya kapan dia akan menikah, pacarnya siapa, dan taarufan dengan orang mana. Mendapati pertanyaan seperti itu, dia hanya bisa tersenyum lalu menjawab, “Aku jomlo.”

Namun teman-teman yang kurang ajar itu bukannya memberikan doa dan semangat, malah saling pamer. Memamerkan kehidupan pernikahan yang digadang-gadang manisnya melebihi gula.

“Loh, kamu belum nikah, ya? Aku malah sudah beranak dua,”

“Anakku sudah kelas lima SD. Yang tengah kelas dua SD, yang kecil masih TK. Ini satu lagi akan lahir ke dunia.”

“Kalau aku sekarang ini belum mau punya anak. Masih ingin berduaan dengan suami.”

“Aku sudah dua kali menikah.”

“Kalau aku sudah punya dua istri.”

“Istriku hamil anak kembar.”

“Sampai kapan kamu mau membujang, Mi?”

“Nggak tahu,” jawab Laksmi datar. Memang siapa yang tahu tentang perkara jodoh selain Tuhan?

“Dicarilah, Mi! Kamu nggak mau kan jadi bujang selamanya.”

“Iya, ini juga sedang dicari,” kata Laksmi nggak bertenaga.

Kalau teman-temannya sudah saling pamer begitu, maka Laksmi akan segera undur diri. Berbekal alasan kucingnya yang belum diberi makan sejak pagi, ia meninggalkan pesta meriah itu, dan juga para tukang pamer. 

Setiap habis datang ke acara pernikahan, Laksmi selalu melamun. Tambak ikan nila di samping rumahnya menjadi saksi, betapa galaunya hati perempuan lajang itu. Bagi Laksmi perkara jodoh memang susah sekali. Ia tak pernah berpacaran sepanjang hidupnya sampai sekarang, tak kenal dengan yang namanya cinta monyet. Tapi sangat sering mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. 

Laksmi sering jatuh cinta dengan teman lelakinya. Terkadang dua sampai tiga orang sekaligus bisa ia cinta. Hanya saja Laksmi tidak punya nyali mengakui, sehingga perempuan lain yang akhirnya menjadi pacar lelaki tercintanya.

“Kamu nggak boleh pacaran, Nak!” kata ibunya dulu, saat ia masih berumur sepuluh tahun.

“Kenapa? Kak Ido dan Kak Irin saja pacaran.”

“Mereka kan laki-laki. Sedangkan kamu perempuan, kalau kebablasan gimana? Pokoknya jangan buat malu Ibu dan Bapak!”

Begitulah, untuk menghormati nasihat ibunya tercinta, Laksmi memilih tidak menjalin hubungan dengan teman laki-laki sejak umur sepuluh tahun sampai ia lulus SMA. Saat awal-awal kuliah, Laksmi memberanikan diri mendekati kakak-kakak tingkat yang tampan. Tapi, Laksmi hanya bisa menelan ludah pahit karena mereka sudah punya tambatan hati. Ia kecewa, tentu saja.

Pernah juga teman seangkatan yang ia dekati, lagi-lagi pil pahit yang harus ditelannya. Teman seangkatannya itu ternyata suka pada sahabatnya sendiri. Berpacaranlah mereka. Laksmi merana. Lalu berpikir ia akan menyerah saja. Dan ia memang benar-benar menyerah. Selama empat tahun kuliah, tak pernah lagi memikirkan mencari pacar. Ia hanya fokus pada pekerjaannya, mengkhayal. Mengkhayal tentang lelaki tampan di drama Korea favoritnya. Laksmi senang sekali saat membayangkan itu.

Namun kecanduan menonton drama Korea tak baik juga. Laksmi jadi sering galau sendiri. Setiap berjalan seorang diri di koridor kampus, terbayang Kim Soo Hyun berjalan di sampingnya. Setiap makan di kantin, terbayang Hyun Bin makan mi ayam di depannya. Apalagi saat naik motor, terbayang Lee Min Ho yang memboncengnya. Ketika ia sedang tiduran di kasur, terbayang Lee Jong Suk tidur di sampingnya. Kalau sudah begitu, Laksmi jadi merindukan kehadiran belahan jiwa. 

Maka dengan perasaan menggebu, ia bertekad nikah muda. Menikah setelah lulus kuliah, titik! Itulah harapan terbesarnya. Namun, setelah acara kelulusan, lelaki tak kunjung meminangnya. Sampai sekarang.

Laksmi memang tidak cantik, tidak juga jelek. Wajahnya biasa-biasa saja. Tetapi tubuhnya tinggi semampai. Padat berisi. Lekuk tubuhnya lumayan aduhai. Apalagi kalau sudah pakai bikini, pasti banyak lelaki yang akan menggoda Laksmi. 

Pernah terbesit beberapa kali di pikirannya untuk menjadi pelakor. Menggoda suami tampan dan kaya yang lemah imannya untuk berselingkuh. Tapi itu tak pernah dilakukannya. Laksmi takut memikirkan akibatnya. 

Pernah juga berbesit ingin jadi istri kedua dari pengusaha kaya raya. Ah, istri pertama wataknya tidaklah sebaik yang sering muncul di sinema TV, katanya. Alhasil dikuburnya lagi keinginan itu.

Hari ini adalah pernikahan ke-98 yang ia datangi. Bernuansakan putih, acara pernikahan hari ini elegan sekali. Ia selalu mengambil tempat duduk yang berhadapan langsung dengan pelaminan. Setidaknya ia ingin merasakan sedikit kebahagiaan jadi pengantin, sekalipun rasa itu samar.

Teman-teman kurang ajar itu datang lagi, duduk semeja dengan Laksmi. Bertanya lagi. Pamer lagi. 

“Sisa kamu yang belum nikah loh, Mi.”

“Dian juga belum,” kata Laksmi membela diri.

“Aku minggu depan, Mi. Nih, datang ya! Wajib.” Teman Laksmi yang dipanggil Dian itu menyerahkan undangan ke Laksmi. 

“Iya, diusahakan,” jawab Laksmi, buru-buru memasukkan undangan ke dalam tasnya.

“Minggu depannya lagi kamu ya, Mi,” kata teman lelakinya yang punya dua istri, bernada menyuruh.

“Kalau ada jodohnya,” jawab Laksmi.

“Jodoh jangan ditunggu. Tapi dicari.”

“Iya, iya. Nanti dicari,” kata Laksmi tak acuh.

“Nikah jangan ditunda. Kalau ditunda terus, keduluan aku punya cicit baru kamu nikah.”

“Kalau ada yang ngajak nikah, langsung terima aja!”

“Benar, Mi. Siapa pun orangnya, langsung terima aja.”

“Antaran nggak penting. Yang penting tidur tidak sendiri lagi.”

Karena tak tahan terus dipojokkan, Laksmi buru-buru menghabiskan minumannya lalu berkata, “Ikan nilaku belum diberi makan. Aku pulang dulu, ya!”  Laksmi pun bergegas pulang meninggalkan teman-temannya.

Selepas mengganti gaun merahnya dengan daster, Laksmi duduk di tepi kolam ikannya. Sudah pasti ikan nila yang belum diberi makan hanya alasan untuk menyudahi sakit telinga dan sakit hatinya.

“Jadi cuma aku yang belum nikah?” tanyanya pada diri sendiri.

“Kamu nggak jadi ke kondangan, Mi?” tanya Ibu yang datang dari pasar.

“Baru saja pulang,” jawabnya.

“Cepat banget.”

“Ngapain lama-lama?”

“Ya sudah, bantu Ibu masak!” 

Laksmi segera bangkit, mengekor ibunya ke dapur.

“Semenjak Ayah kamu meninggal, Ibu jadi kesepian. Nggak mungkin rasanya nikah lagi di usia Ibu yang hampir kepala enam. Ibu mau cucu saja.”

Laksmi menarik napas panjang, sambil mengurut dada. Ingin rasanya ia menangis, meraung di hadapan Ibu. Tapi ia takut ibunya terkena serangan jantung.

“Kamu sudah tiga puluh enam tahun. Ibu saja dulu nikah umur dua puluh tahun. Kamu sudah ketuaan. Makin tua takutnya makin layu.”

Sabar … sabar, dia ibumu! Kalau bukan, bolehlah kamu maki-maki, katanya dalam hati.

“Ibu, doakanlah anakmu ini supaya dapat jodoh!”

“Mendoakanmu dapat jodoh? Lebih baik Ibu berdoa semoga Ibu saja yang dapat jodoh.”

Laksmi tak tahan lagi, ia segera berlari ke kamarnya setelah membanting sayur bayam yang sedari tadi ia pegang. Ibunya hanya menatap punggungnya sambil menggelengkan kepala.

Hari ini adalah pernikahan ke-100 yang dihadiri Laksmi. Ia bersumpah tidak akan datang ke pernikahan siapa pun juga setelah ini. Cukup sampai angka seratus saja, tidak lebih tidak kurang. Pas. 

Di pernikahan yang keseratus ini, hatinya semakin berwarna kelabu. Hampir menghitam. Air mata memang tidak pernah keluar, tapi sinar matanya menyiratkan kepedihan. Apalagi hari ini, ia memakai gaun kelabu juga. Duduk di kursi di depan pelaminan sambil memandangi kedua mempelai yang saling cubit dan senggol mesra. 

Ah, tenang saja. Teman-teman kurang ajarnya tidak akan datang, karena mereka tidak diundang. Meskipun begitu, sakit hatinya malah bertambah. Bukan apa-apa. Ia hanya harus lapang dada, karena pernikahan kali ini adalah pernikahan ibunya.

Jangan lupa dibagikan, Gengs, kalau menurutmu cerpen tentang jomblo di atas tergolong menarik! Untuk ikut mengirim cerpen ke sini, pastikan kamu sudah mematuhi syarat-syaratnya. Oh ya satu lagi, jangan angkat kisah cinta menye-menye. Aku kurang sreg, hehe. 

Cerpen-cerpen yang Muat di iluvtari

Masih banyak cerpen lainnya, sila cek di Label Cerpen.
Usia melahirkan ideal itu berapa sih? Kamu mungkin pernah bertanya-tanya begitu, setelah sebelumnya mikirin kapan usia yang tepat untuk menikah. True?

Ideal gak ideal, masalahnya nikah dan hamil itu ada yang menentukan. Bukan semata bersandar pada usaha kita. Tapi tetap boleh direncanakan dong, kan usaha dulu baru tawakal. Nikah dulu baru melahirkan. Salah! Nikah, hamil, baru punya bayi.

Kita semua sudah mafhum, kalau zaman dulu kebanyakan orang-orang tua kita melahirkan anak sulung mereka di usia yang bahkan jauh dari 20. Sementara sekarang, terutama di barat sana, orang-orang lebih suka melahirkan setelah usia 30. Jadi sebenarnya kapan usia melahirkan yang baik? Usia melahirkan bagi kaum ibu terbaik pada … kita bahas satu per satu!

usia melahirkan ideal

Melahirkan di Usia 20-an

Setidaknya menurut orang-orang yang seangkatan denganku, usia 24-27 adalah umur yang tepat bagi cewek untuk menikah. Sudah selesai kuliah, sempat kerja (entah setelah menikah akan lanjut kerja atau pilih di rumah), dan siap jadi ibu muda. 

Tapi apakah umur 20-an otomatis jadi usia melahirkan ideal? Nggak juga. Pada usia ini tingkat kesuburan perempuan memang lebih tinggi. Jumlah sel telur yang ada di rahim masih sangat banyak. Kita membawa sekira 1 juta sel telur ketika dilahirkan, dan akan terus berkurang seiring bertambahnya usia. 

Kelebihan Melahirkan pada Usia 20-an

Karena berbagai faktor yang menguntungkan terkait hamil pada usia muda (bukan usia dini), sedikitnya ada dua keunggulan jika kamu hamil dan melahirkan di usia 20 tahunan.

#1 Risiko keguguran lebih kecil.

Selain kesehatan ibu sebagai pemilik rahim, kualitas sel telur dan sperma juga memengaruhi kondisi janin yang terbentuk nantinya. Di usia 20an, bisa dikatakan kita (baik laki-laki maupu perempuan) berada pada kondisi paling prima. Sehingga peluang melahirkan “tanpa masalah” seperti keguguran dsb, jadi lebih besar.

#2 Kesempatan bertualang bersama anak.

Kalau kamu melahirkan di usia 20an, ketika anakmu 17 tahun, maka usiamu masih awal 40-an dong. Masih bisa disebut mama muda, padahal anaknya sudah remaja. Kalian bisa traveling bareng (sebenarnya yang 60 tahun juga bisa sih, asal ada duitnya!) atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan kekuatan fisik bersama-sama. Dengan asumsi kamu gak mageran.

Kelemahan Melahirkan pada Usia 20-an

Meski banyak yang merasa keren saat menikah muda (yang kemudian jadi orang tua padahal masih sangat muda), itu tidak membuatku menjadikannya poin kelebihan. Sebab tanpa ilmu yang memadai, kebanggaan nikah muda hanyalah pameran konyol.

#1 Lebih melelahkan secara psikis.

Kalau nikah itu sepele, tentu dia bukan amalan separuh agama. Anak, yang seharusnya jadi pelipur lara, justru akan membuat drama rumah tangga semakin melelahkan jika tanpa pemahaman yang memadai. Ingat Gengs, seberat apa pun ujianmu, jangan sia-siakan anak. Tanpa kasih sayang orang tua, mereka bisa jadi pribadi yang buruk di masa depan nanti.

#2 Sakit yang lebih terasa.

Menurut penelitian, melahirkan sebelum usia 30 berisiko menghasilkan nyeri yang lebih kuat. Sevalid apa hasil penelitian itu, kamu cek sendiri aja (terlampir di kata yang ditebalkan). Yang aku tau, namanya melahirkan ya sakit. Yang enak itu baca buku sambil ngemil, terus dikasih duit. 

usia ideal melahirkan

Melahirkan di Usia 30-an

Saat pubertas, jumlah sel telur perempuan diperkirakan sebanyak 300 ribu. Memasuki usia 37, tersisa sekira 25 ribu saja. Ketika persediaan telur sudah habis (mendekati usia 60), indung telur tak lagi melepaskan sel telur, sehingga kita tidak lagi haid. Yup, menopause! Jadi batas usia melahirkan bukan 40, 50, atau lebih. Tapi masih punya telur nggak?

Entah karena sengaja memilih hamil di usia 30-an atau setelah menikah tidak segera dikaruniai anak, akhirnya jumlah sel telur calon ibu jadi jauh lebih sedikit. Artinya, peluang hamil relatif lebih kecil. Kemungkinan kecil itu masih berkemungkinan, bukan mustahil. Dan sama dengan usia yang lebih muda, melahirkan di usia 30an juga memiliki keunggulan dan kelemahan.   

Kelebihan Melahirkan pada Usia 30-an

Bagi kebanyakan masyarakat barat modern, umur 30 adalah usia melahirkan ideal. Tapi mereka sudah ngeseks jauh sebelum usia 20, hiks! Dengan asumsi perempuan usia 30-an jauh lebih siap menjadi ibu, berikut kelebihannya:

#1 Lebih siap secara finansial.

Meski sekarang sedang tren punya ratusan juta di usia 25, tapi berapa persen dari populasi kita yang mencapai tren itu? Sebagian besar pasangan, meski sudah bekerja, belum berada pada posisi yang aman di bawah usia 30.

Sementara memasuki usia 30-an, rata-rata kita memiliki pengalaman kerja yang memadai. Jika sudah memulai usaha sejak awal 20 atau malah sebelumnya, di usia ini kemungkinan kita sudah memetik hasil. Artinya, ibu yang melahirkan pada usia 30-an psikisnya relatif lebih tenang dan bisa mencukupi kebutuhan buah hati lebih baik dari ibu yang lebih muda. 

#2 Berpeluang melahirkan bayi kembar.

Untungnya walaupun sel telur kita terus berkurang, namun jumlah perlepasannya dalam siklus jadi lebih banyak seiring bertambahnya usia. Sehingga sperma dapat membuahi lebih dari satu telur, dan akhirnya membentuk janin kembar.

Kalau boleh disebut “telat hamil” tapi keterlambatan itu terbayar, karena melahirkan langsung dua atau tiga. Tapi ya … repot sih! Namun dengan asumsi si ibu lebih siap, melahirkan anak kembar adalah anugerah kan! 

#3 Panjang umur. 

Menurut penelitian yang dirilis NCBI, perempuan yang melahirkan di atas usia 33 tahun memiliki umur yang lebih panjang, bahkan hingga lewat 90 tahun! Tolong jangan bantah penelitian dengan opini, Gengs! Gak apple to apple. 

Bahwa ajal di tangan Allah, kita sudah tau. Tapi kalau kamu merasa penelitian itu gak cocok dengan pikiranmu, buatlah penelitian yang selevel. Jangan pakai perasaan. Ibarat tukang bangunan. Untuk bikin sekadar kandang ayam pun, harus diukur. Bukan diramal.

Para senturian/centenarian (orang yang berusia 100 tahun lebih) umumnya masih melahirkan saat usia mereka “masih” kepala empat dulunya.

#4 Anak berpeluang lebih cerdas dan lebih tinggi.

Tinggi tubuh seseorang selain dipengaruhi faktor gen, juga bergantung asupan gizi masa kecilnya. Karena ibu usia 30+ umumnya lebih matang secara finansial, mereka lebih mampu melengkapi kebutuhan gizi anak-anak. Itulah sebab anak yang lahir dari ibu “lebih tua” cenderung lebih tinggi dan lebih cerdas

Tapi balik-balik ke mindset mamaknya juga, ya. Kalau sudah berumur tapi masih belum paham ilmu tumbuh kembang anak, yang dia kejar mungkin bukan gizi. Tapi gaya. 

Kelemahan Melahirkan pada Usia 30-an

Melihat berbagai kelebihan di atas, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa 30 adalah usia melahirkan ideal. Masih ada kelemahan yang perlu dipertimbangkan jika melahirkan anak setelah lewat usia 30 tahun.

#1 Risiko melahirkan caesar.

Iyyap! Kamu langsung membantah. Aku pun termasuk yang harus melahirkan secara caesar, padahal waktu itu usiaku baru 26 tahun. Jadi tidak ada batas usia melahirkan normal. Kalau yang 20an saja berisiko, apalagi yang lebih tua. Caesar maupun normal, sama-sama sakit cuy!

#2 Risiko bayi mengalami komplikasi.

Memasuki usia 30, kamu mungkin merasakan sendiri bahwa fisik kita tidak sebaik sebelumnya. Alergi menjadi-jadi, gampang lelah, dsb. Gaya hidup, pola makan, dll, yang kita jalani hingga menjelang usia 30 mulai dirasakan efeknya pada usia ini. 

Di umur 30-an juga hasil cek medis kita menunjukkan informasi mengagetkan; diabetes, hipertensi, berbagai gejala ini itu yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Jika sedang hamil, jelas semua itu berisiko pada janin, lahir prematur atau bahkan keguguran.

Tak sampai di situ, kromosom calon ayah dan calon ibu telah mengalami berbagai kerusakan. Semakin tua calon orangtua, semakin mereka berisiko melahirkan anak berkebutuhan khusus. Kebanyakan anak down syndrome lahir dari pasangan yang berusia mendekati 40 tahun atau lebih.
usia melahirkan yang baik
Jadi kapan usia melahirkan ideal itu? Jawabnya, tidak ada usia sempurna untuk seseorang melahirkan. Hidup bukan lomba, dulu-duluan, gaya-gayaan. Kalau mau menunda kehamilan, bersiaplah dengan segala risikonya. Pun demikian yang memilih start lebih dulu. Lagi pula sekeras apa pun usaha, hasil tetap di tangan Allah juga. Jalani sajalah!
Membahas pernikahan, jika dihubungkan dengan kisah masa kenabian, orang biasanya mengenang kisah Nabi-Khadijah, Nabi-Aisyah, Ali-Fatimah, ataupun kisah-kisah populer romantis lainnya. Ada yang terinspirasi kisah Asma binti Abu Bakar?

Aku sih cukup terinspirasi nulisnya aja, ngikutin kisahnya jangan. Asli ini perempuan benar-benar luar biasa. Untung bukan nabi, ya kan nabi gak ada yang perempuan. Kalau dia nabi dan kita kita disuruh ngikutin, mampus!

Asma kadang ditulis Asma’ radhiyallahu ‘anha, adalah muslimah cerdas dan tangguh. Ia juga meriwayatkan banyak hadits seperti saudaranya, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Selanjutnya kutulis Asma saja ya, gak pakai ‘, karena rada ribet.

Keutamaan Asma binti Abu Bakar

asma binti abu bakar

Awal ngaji dulu, guruku cerita. Ketika Abu Bakar hijrah bersama Nabi ke Madinah, kakek/neneknya (aku lupa), sambil ngomel-ngomel nanya ke Asma. 

“Bapak lu nekat pergi sama Muhammad, ninggalin apa buat kalian?” kira-kira gitu pertanyaannya.

“Ini,” kata Asma. Ia menggoncang-goncang wadah koin ke dekat telinga orang tua yang sudah tak bisa melihat itu.

Maka kakek/nenek itu merasa tenang. Padahal yang digoncang Asma adalah kumpulan batu yang ketika saling adu, suaranya mirip gemerincing dinar atau dirham.

Itulah awal mula aku jatuh cinta pada sosok ini. Dia gak bilang kan kalau yang ada di tangannya itu duit? Jadi Asma gak bohong, melainkan bersiasat dengan cara cerdas. Artinya Abu Bakar gak ninggalin apa-apa, kecuali iman.

Aku kagum pada Asma-nya, bukan pada Abu Bakar. Walaupun jelas keteladanan Asma binti Abu Bakar didapat dari bapaknya. Sebab Abu Bakar Ash-Shiddiq yang nama aslinya adalah Abdullah bin Abu Quhafah itu, tergolong Assabiqunal Awwalun (orang-orang yang paling awal masuk Islam). 

Lebih realistis Umar, yang kalau memberi masih nyisihin untuk keluarga. Abu Bakar jelas lebih baik, karena Nabi kerap menyebut beliau lebih dulu. Ini kan aku, gpp kali beda. Minimal masih ngefans Umar bin Khattab, bukan Eminem.

Abu Bakar berani begitu karena tau keluarganya sudah siap. Ikhwan sekarang kalau mau begitu pastikan keluarga siap dulu, jangan (sok) saleh sendirian, nanti jadi bumerang. Nah loh, mulai ke mana-mana.

Keistimewaan Asma binti Abu Bakar lainnya sangat banyak. Aku sedang malas cari-cari referensi lagi. Kutulis yang kuingat ajalah, ya! Kalau ada yang keliru, di bawah ada kolom komentar. Ngomong, jangan diem-diem bae!

Mengutamakan Rasulullah daripada Ibunya

Ketika Abu Bakar masuk Islam, istrinya masih musyrik, sehingga diceraikan. Sewaktu terjadi Perjanjian Hudaibiyah, Qutaylah, ibu Asma binti Abu Bakar, datang ke Makkah untuk menjenguk putrinya. 

Yang namanya anak lama gak ketemu ibu, pasti rindu bukan main kan! Begitu pula Asma. Tapi dia tidak langsung menemui ibunya, melainkan bertanya dulu ke Rasulullah. Hadiah yang dibawa ibunya diminta Asma pada adiknya, Aisyah, agar jangan diterima dulu.

Syukurnya Rasulullah memberi izin, beliau justru memerintahkan Asma agar menyambung tali silaturahmi dengan ibunya meski ybs masih musyrik. Dari sini kita bisa ambil pelajaran bahwa ikatan nasab tidak boleh diputuskan meski beda keyakinan.

Dzatin Nithaqain 

Asma binti Abu Bakar mendapat gelar dzatin nithaqain (pemilik dua ikat pinggang) karena inisiatifnya membelah satu ikat pinggang menjadi dua, yang digunakan untuk keperluan Nabi dan ayahnya saat hijrah. Satu potongan diisi bekal makanan, satu lagi untuk ia membawa qirbah (tempat air minum).

Ketika Abu Bakar dan Nabi bersembunyi di gua, Asma sengaja menggembalakan hewannya di sekitar tempat yang dilalui keduanya, untuk menghapus jejak kaki mereka. Asma kemudian juga turut hijrah, ia menjadi salah satu perempuan yang berbaiat pada Nabi.

Ibu dari Muslim Pertama

Kamu mungkin sudah tau bahwa agama Islam sudah ada bahkan sebelum Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam lahir. Yang dibawa beliau ketika diangkat menjadi rasul adalah syariat baru yang menyempurnakan syariat rasul-rasul lain sebelum beliau.

Orang pertama yang lahir dalam keadaan muslim (dengan syariat Muhammad saw) adalah Abdullah bin Zubair. Ia adalah putra dari Asma binti Abu Bakar. Dah ketauan aja nama bapaknya, Zubair. Ya jelas. Zubair bin Awwam menikahi Asma binti Abu Bakar karena tau bahwa Asma menaruh hati padanya, dan kisah cinta mereka gak bakal masuk ke logika kita. Maksudnya aku.  

Hadits Tentang Aurat Perempuan

“Asma binti Abu Bakar pernah menemui Rasulullah shallallahu‘alayhi wa sallam dengan memakai pakaian yang tipis. Maka Rasulullah pun berpaling darinya dan bersabda, ‘Wahai Asma, sesungguhnya seorang wanita itu jika sudah haid (sudah baligh), tidak boleh terlihat dari dirinya, kecuali ini dan ini.’ Beliau menunjuk wajah dan kedua telapak tangannya.” (HR Abu Daud). 

Selain menjadi “pengantar” turunnya aturan batas-batas aurat, Asma juga pernah ikut berperang. Ia terkenal sangat dermawan padahal bukan orang kaya. Bapaknya kaya, tapi suaminya kismin.

Mendidik Anaknya Menjadi Pemberani

Asma binti Abu Bakar tergolong shahabiyah yang berumur panjang. Kalau dikisahkan dari awal pasti panjang banget. Kamu harus baca sendiri kisahnya ya, dijamin nangis!

Jadi setelah kematian Utsman bin Affan, kaum muslimin mulai terbelah antara pendukung Ali dan pendukung Muawiyah. Abdullah bin Zubair termasuk pendukung Ali, yang ketika Husein dibantai di Karbala, ia masih berada di Makkah.

Setelah melalui berbagai konflik dan peperangan, Abdullah mengadu pada ibunya, bahwa ia terdesak dan hanya dikelilingi orang yang lemah serta goyah imannya. Alih-alih menyarankan sembunyi, Asma justru memerintahkan anaknya untuk menghadapi Hajjaj (pemimpin perang kekhalifahan Umayyah) yang terkenal suka membunuh, jika yakin berada dalam kebenaran.

Singkat cerita, Abdullah bin Zubair dikalahkan. Jasadnya disalib, namanya dirusak oleh Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi yang menyebutkan ke orang-orang bahwa Abdullah adalah seorang munafik, musuh Allah yang bengis.

Abdullah bin Umar (anak Umar bin Khattab) mendatangi jasad Abdullah bin Zubair yang masih disalib. Ia seolah berbicara pada jasad tersebut, dengan suara keras agar orang-orang mendengar. Yang inti ucapannya adalah membantah isu yang diembuskan Hajjaj.

“… demi Allah yang aku tau tentang engkau wahai Abdullah bin Zubair, kau adalah orang yang senantiasa puasa, salat malam, dan menyambung tali silaturahmi. Demi Allah seandainya ada satu umat, yang engkau adalah orang terburuk di antara mereka, itu umat terbaik.”

Ucapan Abdullah bin Umar ini sampai ke telinga Hajjaj, lalu ia turunkan jasad Abdullah bin Zubair dari tiang salib. Untuk dikubur? Bukan, tapi ia lempar ke kerumunan Yahudi di Mekah. Segitunya menghinakan orang.

Kemudian Hajjaj mengutus orang untuk memanggil Asma agar datang padanya. Asma menolak, hingga utusan itu datang kembali dengan membawa pesan ancaman dari Hajjaj yang akan menyeretnya. Asma tetap tak mau mendatangi Hajjaj. 

Akhirnya Hajjaj yang datang pada Asma, dan berkata, “Bagaimana menurutmu yang kulakukan pada musuh Allah, anakmu?”

“Menurutku kau telah merusak dunia putraku. Kau bunuh dia, maka selesai. Tapi anakku telah merusak akhiratmu. Kau bunuh dia, masalahmu besar di akhirat. … (disambung ucapan lain)

“Ketahuilah wahai Hajjaj, sesungguhnya Rasulullah telah menyampaikan hadits kepada kami, 'Sesungguhnya dari Bani Tsaqif akan muncul dua orang, satunya pendusta dan satunya adalah orang yang bengis dan pembunuh.' Adapun pendusta kami telah lihat dan telah muncul, yaitu Mukhtar ats-Tsaqafi yang mengaku sebagai nabi. Adapun orang yang bengis dan pembunuh, menurutku engkaulah orangnya.”

Hajjaj tidak membantah, dia berdiri dan pergi meninggalkan Asma. 

Sementara jasad Abdullah bin Zubair dibawa kepada ibunya, tanpa kepala. Karena kepala Ibnu Zubair itu dihadiahkan Hajjaj pada Khalifah Abdul Malik bin Marwan di Damaskus. 

Asma binti Abu Bakar berdoa, “Ya Allah jangan engkau matikan aku sampai kuambil jasad anakku dan menguburkannya."

Kurang lebih sepuluh hari setelah Asma menguburkan anaknya di Madinah, ia pun wafat. Kisah barusan selain berdasarkan ingatan dari yang pernah kubaca, kukonfirmasi lagi pada isi kajian Ustaz Firanda.

Kisah Cinta Asma binti Abu Bakar

asma' binti abu bakar

Meski Asma binti Abu Bakar adalah tokoh idolaku selain Umar, aku belum pernah menceritakan kisahnya ke anak-anak. Tau kenapa? Khawatir nangis! Apalagi si adek kalau liat emaknya keluar air mata, dia bisa lebih kenceng lagi nangisnya. 

Barangkali ketegaran Asma berkat latihan berpuluh-puluh tahun. Hatinya kayak udah kebas dengan sedih-sedihan. Termasuk kisah cinta berikut ini, yang bikin keperempuanan kita meronta-ronta.

Menikah dengan Zubair bin Awwam

Dikisahkan bahwa Asma sudah lama naksir teman mainnya, Zubair bin Awwam. Oleh Abu Bakar, Asma ditawarkan pada Zubair yang langsung diterima untuk dinikahi. Zubair gak punya apa-apa, sehingga Asma harus kerja keras untuk kehidupan mereka.

Di antara harta mereka adalah tanah pemberian Rasulullah pada Zubair, yang jaraknya sekira 4 km dari rumah Asma. Suatu kali, dengan biji-bijian di atas kepala yang ia bawa dari tanah tersebut, Asma bertemu Rasulullah dan rombongan.

Nabi menawarkan tumpangan pada Asma, dan saat itu Asma pun sebenarnya kelelahan. Namun ia menolak tumpangan tersebut karena ingat suaminya sangat pencemburu. 

Begitu besar cinta Asma pada Zubair. Mau diajak susah (ingat kan, Abu Bakar adalah seorang saudagar?), menjaga perasaan suami padahal Nabi hanya memberi tumpangan dan ia pun sebenarnya butuh, serta banyak lagi pengorbanan Asma untuk suami yang ia sayangi.

Bercerai dan Setia dalam Penantian

Kamu gak usah kaget liat artis romantis-romantisan di medsos, nikah tiga bulan langsung cerai. Asma binti Abu Bakar nikah 28 tahun dengan segala pengorbanannya, dicerai! Dua puluh delapan tahun, dengan tujuh anak!

Jangan mencela Zubair, dia masuk dalam daftar sahabat Nabi yang dijamin masuk surga. Galau kan lu?
Para ulama berbeda pendapat mengenai alasan kenapa Zubair bin Awwam menceraikan Asma. Salah satunya disebabkan pertengkaran, yang karena emosi, Zubair lalu memukul Asma.

Asma berteriak, sehingga Abdullah datang hendak menolongnya. Oleh Zubair dikatakan, jika Abdullah masuk maka Asma akan ditalak. Dan karena Abdullah datang ke tempat mereka, maka talak pun jatuh. Sejak saat itu Asma hidup bersama anaknya, Abdullah bin Zubair.

Alasan lain yang pernah kubaca adalah Zubair punya cinta lain yang lebih besar kadarnya. Jujur, kalau aku bukan muslimah, aku bakal punya pikiran aneh-aneh kayak sinetron Indosiar. Coba deh kamu simak, seberapa iblisnya kita?

Adalah Atikah binti Zaid, seorang muslimah cuantik yang dinikahi Abdullah bin Abu Bakar. Ya ampun orang Arab, ngasih nama anak kok itu-itu aja ya! Atikah ini, saking cantiknya, bikin laki-laki yang pernah menjadi suaminya jadi posesif. 

Salah satu yang pernah menikahi Atikah adalah Umar. Laki-laki tegas ini pun tak luput dari kebiasaan para mantan Atikah, mengikuti istrinya saat keluar rumah agar tidak diganggu orang. Subhanallah!

Oleh Abu Bakar, Abdullah disuruh menceraikan istrinya karena menurut sang bapak, Abdullah jadi lalai karena punya istri kelewat cantik. Tidak salat berjamaah, ketinggalan perang, dll. Sahabat ada juga yang gitu, ya! Manusia ….

Setelah bercerai, bukannya baik, malah makin parah. Akhirnya mereka rujuk lagi hingga Abdullah bin Abu Bakar syahid dalam Perang Thaif. Setelah menjanda, Atikah dilamar oleh Umar. Kemudian Umar pun wafat.

Sepeninggal Umar, Atikah dilamar oleh Zubair bin Awwam. Yup, jadi sebelumnya iparan, sekarang suami-istri. Bagi Asma, Atikah adalah mantan ipar yang jadi madu. Mungkin karena orang Islam masih sedikit, jadi itu-itu aja ketemunya.

Nyesek? Pastilah! Apalagi Zubair sama seperti suami-suami Atikah yang lain. Perhatiannya lebay, membuat Asma cemburu hingga menghasilkan sebuah syair yang terkenal.

Az-Zubair, kau memberi segalanya padaku.
Menanamkan benih-benih hebat pejuang tauhid. 
Kau mengokohkanku dengan kisah-kisah pengorbanan tulus dalam setiap desahmu.
Kau memberiku segalanya, kecuali cinta yang bergelora. 
Az Zubair, suamiku, jenis cinta apakah yang kau miliki untukku?  

Gara-gara syair itu, Asma dicerai. Gara-gara puisi, Men! Dahlah, gak usah baper. Mungkin Zubair takut gak adil. Asma sendiri kemudian menemui bapaknya. Oleh Abu Bakar, perempuan supertangguh ini diberi kabar “gembira”. (Kukasih kutip karena ekspresiku pas baca ini entahlah banget).

“Wahai putriku,” kata Abu Bakar, “sabarlah engkau terhadap suamimu. Sesungguhnya seorang wanita yang memiliki suami saleh, kemudian suaminya meninggal sementara wanita itu tidak menikah lagi, maka mereka berdua akan dikumpulkan oleh Allah di surga.”

Karena ucapan Abu Bakar tersebut, Asma tidak menikah lagi sepeninggal Zubair bin Awwam. Sejak hari diceraikan, hingga wafat pada usia 100 tahun, Asma binti Abu Bakar hidup sebagai janda. 

Hikmah Kisah Asma binti Abu Bakar

asma binti abu bakar

Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah Asma binti Abu Bakar? Banyak. Dari kecerdasan, ketangguhan, ketabahan, dan masih segambreng lagi sifat yang rasanya gak bakal ditemukan pada perempuan kekinian.

Kepahlawanan Asma sejak belia hingga lansia mungkin hanya tertandingi Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, dan para shahabiyah terkemuka saja. Keteguhan hatinya menghadapi Hajjaj, melihat dan membawa jasad anak kandung tanpa kepala, apa lagi yang lebih dari semua itu? 

Sementara dari sisi pernikahan, hikmah yang bisa kutulis (tapi gak bisa kupraktikkan) adalah keluasan hati Asma menerima keputusan Zubair. Jadi gak usah baper liat istri para ustaz yang dimadu tapi pada tabah. Jauh sebelum mereka, ada perempuan dahsyat yang sudah mengalami lebih dulu. 

Alih-alih patah hati, depresi, buka hijab, Asma malah menantikan pujaan hatinya di surga. Seperti itu kali ya cinta suci. Cintanya mungkin buta, tapi diterangi iman. Asma gak ngelabrak Atikah, apalagi mencap pelakor. Toh sebelum Zubair, saudara Asma sendiri kan keranjingan cinta dengan Atikah.

Atikah binti Zaid juga bukan perempuan buruk. Ia digelari istri para syuhada karena menikah dengan para sahabat yang dekat dengan Rasulullah. Sepertinya gak ada cinta mehek-mehek di masa Nabi. Berkat didikan beliau, para sahabat dan shahabiyah meletakkan agama di atas kepentingan lainnya.

Atikah, meski cantiknya lebay, gak pernah minta macam-macam pada suaminya. Kecuali syarat diizinkan tetap ke masjid ketika ada yang hendak melamarnya. Jadi dalam kisah cinta Asma binti Abu Bakar, yang di sana juga ada sahabat dan shahabiyah lain, tidak ada tokoh antagonisnya.

Semua mereka adalah orang baik, yang kita disuruh mengambil pelajaran dari kisah bersejarah tersebut. Di antara kebingunganmu menentukan sikap dan perasaan, paling tidak masih ada yang bisa disyukuri. Untung Asma binti Abu Bakar bukan nabi. Sudah disebut tadi oi!
“Enak yo kalo sudah jadi ibu-ibu. Pas halangan dak salat dak puaso,” celoteh si kakak sekira dua tahun lalu.  Saat Ramadan.

“Halangan enak?” retoris. “Perut kram, kadang sampe demam. Dak puaso bulan Ramadan tapi abis lebaran, pas orang-orang dak puaso, awak puaso dewekan.”

“Kok gitu?” terkaget-kagetlah si kakak dan adiknya sekalian.

Akhirnya kujelaskan tentang kewajiban “membayar utang” puasa, kemudian dilanjutkan informasi terkait haid yang nantinya insyaallah akan mereka alami pula.

Waktu yang Tepat Menjelaskan Tentang Haid pada Anak

Tanggal 27 Mei lalu, diadakan webinar “Sehat dan Bersih Saat Menstruasi” dalam rangka menyambut Hari Kebersihan Menstruasi. Webinar ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Obstetri & Ginekologi Indonesia (POGI), Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, dan Mundipharma Indonesia. “Dihadiri” oleh seribu perempuan Indonesia, aku salah satunya.

Pada sesi awal dibahas seputar bagaimana menginformasikan hal-hal seputar haid kepada anak-anak. Materi ini disampaikan oleh Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog. Menurut beliau, waktu paling tepat untuk memberitahu anak-anak mengenai haid adalah ketika tanda-tanda pubertas mulai terlihat.

Anakku sih belum memasuki usia itu waktu kujelaskan dulu. Syukurnya menurut Bu Anna, hal itu tak mengapa. Yang penting jangan sampai anak-anak belum siap ketika waktunya tiba.

Kapan Waktu yang Tepat Membahas Menstruasi dengan Anak?

Poin penting lainnya mengenai penyampaian informasi tentang haid pada anak adalah:
  • Ibu adalah sosok utama dan yang paling diharapkan anak-anak untuk menyampaikan info penting seputar datang bulan.
  • Membicarakan menstruasi bukanlah hal tabu, bahkan ilmu superpenting yang dibutuhkan semua anak.
  • Berikan informasi secara berulang, jangan hanya sekali saja.
  • Bersikap positif saat menyampaikan.
  • Perbanyak diskusi dua arah. Jangan hanya memberi informasi, apalagi melulu instruksi.
  • Jelaskan secara konkret, gunakan media yang ada. Misalnya, membuka langsung pembalut (yang bersih tentunya), dan tunjukkan bagaimana menggunakan serta cara membuangnya.
  • Sampaikan juga ke anak laki-laki. Tujuannya agar mereka lebih memahami perempuan dan mencegah perundungan.
Tak hanya soal kesiapan, menginformasikan berbagai hal terkait menstruasi pada anak-anak ternyata memberi dampak yang baik. Kukutip dari materi, di antaranya kesehatan reproduksi remaja lebih baik, menunda hubungan seksual pertama, mengurangi risiko masalah kesehatan mental terkait seksualitas, dan relasi ibu-remaja lebih dekat. 

Menjaga Kebersihan Saat Menstruasi

Tau gak, 1 dari 2 anak perempuan tidak tau harus melakukan apa saat mereka menstruasi untuk pertama kali. Hanya 5 dari 10 anak perempuan yang mengganti pembalut setiap 4-8 jam sekali (idealnya paling lama setiap 4 jam). Sisanya mengganti hanya dua kali sehari!

Cuma 5 dari 10 anak perempuan yang mencuci tangan sebelum mengganti pembalut. Ups! Sebentar. Jangan-jangan kamu termasuk? Padahal bukan anak-anak atau remaja lagi. Kalau ya, barangkali itulah hikmahnya pandemi ini. Supaya orang makin sadar akan pentingnya kebersihan tangan. 

manajemen kebersihan menstruasi

Kebersihan yang tidak terjaga selama menstruasi berisiko menimbulkan berbagai penyakit bagi perempuan, antara lain infeksi saluran reproduksi, infeksi saluran kemih, infeksi jamur, dan peningkatan risiko kanker serviks.

Salah satu gangguan yang kerap dialami perempuan saat mens adalah keputihan. Rasa gatal yang diakibatkan jamur dan atau bakteri dapat diatasi menggunakan berbagai produk dari Betadine. Menurut Adi Prabowo, perwakilan Mundipharma Indonesia, BETADINE® Feminine Care aman digunakan sehari-hari.

BETADINE® Feminine Care

Untuk mendapatkan produk di atas, kamu dapat menemukannya di Shopee dan Tokopedia. Informasi lengkap mengenai berbagai produk tersebut bisa kamu lihat di laman Betadine. Selamat mencoba, Gengs! Jaga kesehatan, jaga kebersihan.