Mata Ayah

instagram.com/viarinzeani


Cerpen ini dimuat di buku antologi The Secret Admirer. Masih karya Syarifah Lestari. Dibukukan bersama cerpen karya Via Rinzeani, 
Oqiesy, dan Sugih. Kalau ada yang mau baca cerpen lainnya, silakan mampir ke Rumah Belajar Pertamina, Kota Jambi.
Kalau gak mau ya sudah! Nonton trending Youtube aja biar hedon. Isy apaan sih!
Selamat membaca!
---  


Tempat ini mungkin tak nampak seperti pelabuhan, tak layak disebut pelabuhan, atau memang ia bukan pelabuhan. Hanya sepotong ruangan menyerupai pos ronda, satu sisi menghadap pasar, tiga lainnya melulu air.
Aku duduk menampung angin, tak menunggu siapa pun layaknya orang-orang yang berada di sebuah tempat berlabuh. Kata pelabuhan sudah total tak bisa disandingkan pada pos ini sekarang. Pasar sudah mati, lebih dari separuh penduduk dusun pergi meninggalkan tanah tak berpenghasilan ini. Pos yang semula kuanggap pelabuhan, kini pantas disangka jamban.
Sejak krisis tahun 1998, pabrik kayu yang semula menjadi sandaran hidup masyarakat, bangkrut. Semua karyawan di-PHK. Semua, tanpa sisa. Akibatnya, tanah dusun kini mengambang karena lebih dari separuh manusia yang semula memberatinya, pergi jauh ke kota, bahkan menyeberangi pulau untuk penghidupan yang lebih memungkinkan. Tanjung Jabung hanya berisi tanah gambut.  Di mana-mana rawa, tak bisa ditanam apa pun, bahkan jenazah sekalipun harus dipeti dan diberi pemberat. Tanah tak bisa diandalkan, di sini air menjadi raja.

Di muka pos, kulihat Ayah melambai. Perahu yang membawanya menjauh, tapi gambar matanya yang memerah, masih tinggal di hatiku. Ayah pergi menyelamatkan kelakiannya, meninggalkan hukuman pada perempuan yang dulu ia kasihi.
Kelak jika kau sudah mengerti, susul Ayah. Atau Ayah akan menjemputmu, pesannya sepuluh tahun lalu.
Ayah tak pergi tersebab ambruknya pabrik sawmil. Ia memang karyawan pabrik, tapi ia punya keahlian lain yang tanpa pabrik itu, ia masih mampu menghidupi kami seperti sebelumnya. Maka Ibu adalah manusia paling terkutuk atas ketidaksyukurannya pada nasib.

Angin laut membelai permukaan sungai, menyapaku sembari menerjang debu-debu halus di Pos Labuh. Lalu keluar membawa pandanganku pada sisa-sisa pasar yang mati. Kulihat seorang bujang kecil beradu lari dengan bapaknya, diakhiri lompat indah dari titian ke muka sungai. Itulah aku dan Ayah lebih dari sepuluh tahun silam.
Kala itu tidak ada rumah reyot yang tak berpenghuni. Tidak ada tanah lapang dengan puing-puing sisa bangunan. Semua kediaman berbau khas, aroma cat baru, wangi deterjen, masakan yang menguar. Layaknya sebuah kampung, ada sekolah, pasar, tempat bermain.
Jika mendapat tugas malam, Ayah berangkat ke pabrik segera setelah salat Magrib. Menjelang subuh, kudengar langkahnya meniti tangga rumah panggung kami. Rumahku hingga tetangga terjauh semuanya berupa panggung, maka jika seekor kucing saja berjinjit, penghuni rumah dari ujung ke ujung akan mengetahuinya. Tapi tak ada yang mampu mengira dengan pasti, di mana tepatnya posisi kucing itu.
Setelah langkah Ayah menjauh, ada langkah lain yang menggoyang panggung. Besoknya, sebelum kaki ayah menaiki anak tangga, ada langkah kaki lain menuruni tangga itu. Semua tahu, tapi tak ada yang tahu pasti, di mana langkah itu, dan siapa pemiliknya.
Aku bisa pastikan itu bukan langkah ayahku. Ayah selalu menemuiku setiap kali hendak keluar atau baru masuk ke rumah. Tapi aku tak tahu siapa. Aku juga tahu langkah itu berjinjit di rumahku, tapi Ibu melarang aku melihatnya.  
Jika Ayah bertugas siang, langkah misterius itu berganti lompatan. Aku merasakan hentakan dari kolong bawah rumah. Di kamar Ayah memang terdapat lubang yang menghubungkannya dengan ruangan di bawah rumah. Ruang itu hanya berisi tumpukan kayu untuk memasak. Semua sisi berpagar bilah-bilah papan yang dijarangkan. Orang dewasa berbadan pipih bisa melewati pagar itu, dan selain ayahku sangat berotot, tak ada alasan baginya menemui ibuku melalui ruang itu.

Kuluruskan punggung, lalu selonjor di bangku panjang yang renta. Arus sungai menerbitkan halusinasi, seolah Pos Labuh tengah berlayar melawan alirannya. Kutoleh lagi pasar untuk mengembalikan kesadaran. Tampak seorang bapak menggendong anaknya di pundak. Mereka baru saja pulang memancing, memamerkan hasil kesabarannya pada pedagang ikan di pasar. Itulah aku dan Ayah.
Kemudian Ibu hamil. Dan akulah yang paling bahagia, sebab sejak lama kupinta adik pada Ayah. Kuusap perut Ibu, tapi perempuan cantik itu tidak tersenyum. Ayah juga tak nampak gembira. Orang dewasa punya keanehan yang tak akan kupahami hingga aku sendiri menginjak usia itu, suatu saat nanti.
“Aku akan menjagamu!” Janjiku pada adik di perut Ibu. Kata orang, ketika perut Ibu kian membuncit, saudaraku berjenis kelamin perempuan. Karena Ibu suka berdandan, agak pemalas, dan gerakan adik lebih banyak di sebelah kiri. Terserah soal kelogisan, bahkan soal laki-laki atau perempuan. Aku hanya punya naluri seorang abang yang ingin melindungi.
Suatu malam, saat hendak ke jamban di belakang rumah, kulihat sesosok bayangan berkelebat di kamar Ibu. PLN tak sampai ke dusun kami, hanya lampu teplok setengah menyala menggantung di samping pintu kamar.
“Ayah,” panggilku, karena kudengar bayangan itu berdehem, suara laki-laki.
Tidak ada jawaban.
“Ibu,” kucoba lagi.
“Hmm, tidurlah! Sudah malam.” Suara Ibu.
“Ada orang lain di kamar Ibu?”
“Tidak.”
“Boleh aku tidur di sana?” Tanyaku.
“Tidak.”
Aku urung ke jamban, ingat janji pada adikku untuk menjaganya. Sebelum Ibu hamil, aku tak ambil pusing ketika kurasa ada yang keluar-masuk kamarnya, karena aku yakin Ibu bisa menjaga diri. Kini saudara perempuanku terancam, maka aku berjaga semalaman itu.
Menjelang subuh, ada yang melompat turun dari kamar Ibu. Aku rasakan hentakan badannya. Kuintip dari sela lantai kayu, seorang laki-laki kurus tinggi berjalan pelan melewati tumpukan kayu bakar, keluar melalui bilah papan, lalu hilang ditelan gelap.
Tak lama kemudian, langkah Ayah menghiburku. Ia membuka pintu perlahan, lalu menuju kamarku.
Ayah terkejut melihat aku terjaga.
“Ayah besok tak usah kerja,” kataku padanya.
Ayah tak terlihat heran dengan permintaanku.
“Ada orang masuk kamar Ayah, aku khawatir ia mengganggu perut Ibu.” Kutunjukkan betapa aku sungguh-sungguh meminta.
Ayah memandangi lantai di sekitar kakinya, matanya mengerjap berulang-ulang seperti orang salah tingkah.
“Ayah percaya aku?”
“Sangat. Ayah tadi bertemu dengan orang itu.”
Sekarang aku terperangah.
“Tak apa, ia tidak berbahaya. Kalau kau takut, ikut Ayah saja ke pabrik.”
“Aku ingin menjaga adik!” Seruku.
“Dia bukan adikmu.” Ayah berpaling.
“Ayah,” Ibu memanggil dari kamarnya.
“Ayah harus bekerja untukmu.” Ayah meninggalkanku. Ia menuju dapur, bukan ke kamar.

Kulirik jam tangan, pukul 5. Selalu pukul 5 sejak tiga tahun lalu. Jamku rusak. Benda kanak-kanak di pergelangan tangan kiriku itu adalah benda kesayanganku seumur hidup. Ayah membelikannya setelah menerima gaji, terlambat 10 hari dari ulang tahunku yang ketujuh. Benda itu kujaga sebaik-baiknya, tak akan kupakai kecuali pada hari-hari istimewa. Setiap melihat jam tangan itu, kulihat pula mata Ayah yang memerah. Begitu dalamnya ingatanku pada matanya, karena Ayahku tak pernah menangis sebelumnya.
Dan di Pos Labuh ini, lambaian Ayah melengkapi kerinduanku padanya.
Aku tertunduk, sekitar mataku kram. Bahuku naik turun. Aku terisak mengenang ayah yang kupuja. Dan basahlah lantai berdebu di bawahku. “Ayah …,” kupanggil ia.
Hari ini seharusnya istimewa, karena bertepatan dengan tanggal dan bulan kelahiranku. Maka aku berada di sini, mengenang berjalannya usiaku. Dan aku mengenakan jam tangan pemberian Ayah, lalu duduk di Pos Labuh untuk kembali mengenangnya.
Matahari turun, kemilaunya melukis bayanganku. Saatnya pulang. Tapi guncangan kecil menggoyang Pos Labuh, pertanda ada kapal yang datang. Kutoleh hamparan air yang terbingkai pepohonan tak beraturan, benar saja, sebuah tongkang mendekat.
Aku tak ambil peduli. Harus segera pulang untuk memenuhi janji.

Sembilan bulan lebih dua pekan, baru Ibu melahirkan. Ibu dan Ayah sejak lama tak banyak saling bicara, nyaris tak pernah. Ayah tetap riang jika bersamaku, tapi ia memang bukan orang yang banyak bicara. Ibu pun demikian.
Ibu memilih dukun kampung, tapi Ayah berkeras menjemput bidan di dusun sebelah. Dukun beranak dan bidan saling bantu hari itu, aku melihat kerja sama yang baik antara manusia medis modern dengan manusia tradisional. Ayah membayar keduanya sama besar, padahal saat itu krisis tengah memuncak. Aku tak kenal Jakarta, baru tahu berita reformasi setelah bertahun-tahun kemudian. Tapi imbas kerusuhan telah sampai di dusun, bahkan masuk ke dalam rumah kami.
Ayah membersihkan sepetak tanah di belakang rumah. Tanah yang benar-benar tanah, bukan rawa. Ia tanam bermacam sayuran, lalu memagari tanah kecil itu dengan pohon-pohon singkong.
Ayah giat sekali. Setiap hari ia bersepeda entah ke mana, pulang membawa beras, buah, kopi, gula, … apa saja. Begitu terus selama satu bulan.
Lalu, di pagi buta. Ayah memasukkan semua pakaiannya ke dalam satu-satunya tas yang ia punya. Pakaian Ayah memang tak banyak, hingga ransel hitam pudar itu mampu menampung semuanya.
“Ayah pergi sepagi ini?” Tanyaku keberatan.
“Ya. Kau juga,” katanya  mengejutkanku.
“Aku harus menjaga adik.” Aku menolak.
Ayah menggeleng. “Dia bukan adikmu.”
“Ayah ….” Terdengar suara Ibu, memanggil Ayah dengan sangat lembut. Kupikir Ibu mendengar percakapan kami.
“Kelak jika kau sudah mengerti, susul Ayah. Atau Ayah akan menjemputmu,” pesan Ayah kemudian.
Ia lalu memunggungiku, lantas berjalan keluar dengan langkah-langkah lebar. Bertahun-tahun berikutnya baru kusadari, Ayah tak pernah masuk ke kamar Ibu kecuali saat Ibu melahirkan. Dan ia tidak pernah menggendong adikku, satu kali pun!
Kukejar Ayah, sambil memanggil-manggilnya. Ayah tetap tak menoleh. Tak ada orang sepagi itu, apalagi pabrik sawmil telah setahun bangkrut. Hampir semua orang meninggalkan dusun terpencil ini.
Ayah melompat ke pelabuhan, sebuah perahu telah menantinya. Tanpa basa-basi, Ayah menaiki perahu itu dan berdiri di buritan. Matanya bersitatap dengan mataku, merah dan basah. Seseorang duduk di tengah perahu, mendayung. Langit keunguan saat perahu itu kian mengecil di pandanganku. Ayah melambaikan tangannya dari kejauhan.

Ini ulang tahunku yang kedelapan belas. Aku tak berharap apa-apa, kecuali sedikit keramaian. Karena ternyata waktu tak mampu menghapus kenangan yang sama sekali tak ingin kukenang.
“Azhar!” Seseorang memanggilku. Suaranya membuat darahku berdesir.
Aku tak hanya menoleh, tapi juga berlari. Ini kado terindah yang pernah kudapat. Ayahku di tongkang, Ayahku datang! Aku berteriak sekencang-kencangnya dalam hati.
Tongkang merapat, Ayah meniti pinggiran geladak, lalu dengan sigap melompat ke Pos Labuh.
“Kau masih mengenal Ayah?” Ia mendekapku.
“Pasti.” Aku menangis haru.
“Mana pakaianmu?” Ayah melepaskan pelukannya dan memberiku pertanyaan yang membingungkan.
“Kau tak membawa apa-apa?” Tanyanya lagi, membuatku semakin bingung.
“Apa maksud Ayah?”
“Kau belum paham, Nak, apa yang terjadi dengan rumah kita sepuluh tahun silam?”
“Sangat mengerti, Ayah.”
“Dan pesan Ayah? Kau susul, atau Ayah jemput.”
Aku mengangguk pelan.
Ayahku mematung.
“Kupahami kau tak pulang dengan membawa maaf untuk Ibu. Tapi ampuni aku.” Kucium tangan Ayah. “Aku akan tetap memegang janji untuk menjaga adikku.”
“Ada yang lebih pantas bertanggung jawab atas mereka,” balas Ayah.
“Bayangan yang kulihat semasa kecil itu, tak pernah lagi ke rumah. Adikku panas tinggi saat belum dua tahun, sekarang ia tak normal.”
“Masih ada ibunya.”
“Ibunya terlalu larut dalam penyesalan, entah di mana kesadarannya sekarang.”
Ayah terdiam.
Pelan, aku beranjak. Melangkah meninggalkan Pos Labuh, menuju rumah yang kutinggali sejak belasan tahun lalu. Ayah mengikuti langkahku.
Satu-satunya rumah panggung yang masih berdiri menanti kami di kejauhan. Beberapa anak tangga sudah kuperbaiki, bilah-bilah papan yang rusak di bawah kubiarkan saja demikian. Aku dan Ayah berjalan dalam keheningan. Pasti ribuan kenangan menghujani memori kepalanya. Dan hatinya berdarah lagi.
Anak tangga pertama kunaiki, Ayah ragu untuk menyusul. Kubiarkan ia termangu di bawah. Sampai di atas, kubuka pintu perlahan. Rumah panggung bergoyang saat Ayah akhirnya menyusulku.
Seorang perempuan yang tak muda lagi duduk tepat di balik pintu yang terbuka. Rambutnya kusut, matanya sayu dan selalu bengkak. Ia sudah tak mampu bicara, kecuali ceracau tak jelas yang intinya adalah kemarahan pada diri sendiri. Tak ada reaksi berarti saat ia lihat aku datang. Ibuku memang lama tak berdiri, entah tak mampu atau tak mau. Ia ke sana kemari dengan merangkak serupa bayi, demikian pula adikku.
Kemudian Ayah menyusul muncul di muka pintu. Terjadi begitu saja, Ibu meraung-raung mendekatinya. Ia merangkak cepat meraih kaki Ayah. Menyungkur jatuh, menciumi dua kaki tua Ayah. Terus menangis sejadi-jadinya.
Adikku muncul dari dapur dengan wajah keheranan. Kugendong ia mendekati Ibu.
Ayah bersimpuh, wajahnya lebih dekat pada kami. Kulihat kerutan di dahinya jauh lebih banyak dari sepuluh tahun lalu. Matanya perlahan memerah, basah. Dan ia masih Ayahku yang dulu.

ini gambar bukunya lagi. sama sih, biar seru aja!
doc by rumbai jambi


Komentar

  1. Dari awal hingga akhir, suka dengan permainan alurnya yang seolah memberikan kesan bahwa membaca cerpen ini seperti mendengar orang berbicara. Sederhana, tetapi cukup menyentuh.
    Saran saja, mungkin perbaikan penggunaan dialog tag dan beberapa kata tak baku. Dan sebenarnya, tokohnya jadi tikat tergambar dengan kuat. Mungkin karena kurang panjang, hehhe.

    BalasHapus
  2. terima kasih masukannya

    BalasHapus
  3. Aku aneh baca awalnya. Kayak menceritakan karya orang lain. Hihihi. Karena ku tau namamu makanya ya aku tahu

    BalasHapus
    Balasan
    1. gara2 pengantar yg tak berguna itu ya! wkwk

      Hapus
  4. Penulisannya mengalir sekali. Pilihan diksinya juga beragam dan menarik. Cuma saya agak pusing sedikit dengan alurnya.

    Terima kasih atas bacaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. bawa tidur aja biar gak pusing

      Hapus
  5. Awallnya bikin bingung, lalu mengalir dan aku nyaman baca ceritanya kak 😊

    BalasHapus

Posting Komentar