Rantai

grayscale photo of man in suit
unsplash.com

Orang-orang menangis, ada yang lambat-lambat ada pula yang histeris. Kendaraan-kendaraan yang ketika jauh nampak kencang, mengurangi kecepatan demi menghormati bendera kuning yang berkibar mengawal di dua sisi gang.
“Dia pahlawan!” Begitu teriak Mak di samping jenazah abang semata wayangku.
Istri almarhum segera mengiyakan. Aku diam saja bersama beberapa pelayat. Pelayat lain mengangguk agak malas. Aku bukan pendendam, tapi ingatanku terlalu kuat untuk melupakan kenangan seatap dengannya.

“Apa kataku, kita dipukuli lagi, kan!” Abang mendorong kepalaku.
Aku diam saja. Ide memalak orang berasal dari kepalanya, ia yang ragu, dan instingnya benar. Tapi kepalaku yang disalahkannya.
“Kau tak punya pikiran sendiri, mengikut saja.” Abang duduk memegangi dahinya. “Harus usaha lagi, kalau tidak, tak tentulah sekolahmu.” Ia menghela napas.
“Tak apalah, aku tak minat lagi.”
“Mau jadi apa kau tanpa sekolah? Nilai-nilaimu bagus, maka kau harus tetap jadi orang berpendidikan. Biar aku menjadi hantu jalanan, aku sudah telanjur rusak. Bodoh, nakal, tak berguna.”
Menangis aku di depannya. Abang terbaikku memaki diri sendiri karena takdir tak menyalaminya dengan baik.
“Jangan menangis. Air mata itu untuk orang yang kalah!”
Dia keliru lagi. Tapi aku diam, menahan sesak di dada. Lalu kutuju kamar kami berdua. Abang tak ikut, ia memikirkan ide lain sambil berjalan-jalan.
Kulanjutkan tangis di petak sumpek itu. Di antara tikar yang telah menyatu dengan tanah dan lemari tak berpintu, kulepas emosi. Dengan menangis, aku menjadi lega. Entah prinsip atau ketiadaan pilihan.
Abang tak pernah menangis. Sekalipun sekujur badannya kerap merah berbekas tangan Mak. Atau seperti tadi, ketika dikeroyok anak-anak sekolah lain, yang adik salah satu dari mereka diperas abangku demi membayar uang bulanan sekolah.
Abang tak akan menangis. Tapi Abang suka berteriak, Mak yang mencontohkannya. Mereka suka memaki, berkerut dahi, dan tak percaya ada orang baik di dunia ini.
Padahal bagiku saat ini, Abang adalah orang terbaik yang kupunya. Tapi tidak di hari-hari ke depan.
“Rupamu mirip Abah,” ujar Abang tiba-tiba. Ia berjongkok di sampingku, kali lain ketika kami terkurung hujan di rumah.
“Aku rindu Abah,” jawabku.
Segera saja teriakan Mak menyambut, “Apa yang kau harap dari bapak bejatmu itu? Tak ada tanggung jawabnya untuk keluarga. Di sini aku yang mengganjal perut kalian, yang menutupi kalian dari telanjang, meski tak sempurna. Mana yang kau panggil Abah itu, Mahmud?”
Aku dan Abang tak ada yang menyahut. Kami memandangi hujan dari pintu yang terbuka. Kami sama tak tahu di mana Abah, dan kenapa ia pergi.
Mak beradu suara dengan hujan, tapi aku dan Abang sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai kemudian terdengar olehku, bahwa Mak tegas-tegas lebih mencintai Abang daripada aku. Karena aku, katanya, tak setegar Abang. Aku gampang menangis, tak punya akal untuk menyambung hidup. Tak bisa diandalkan, sama persis seperti Abah.
Lalu Abang menoleh padaku, tiba-tiba pandangan jijik menutupi keseluruhan mukanya. Dan sejak itu, ia bukan lagi abang terbaikku.

Alunan Yasin masih bersahutan, bacaan dan isak saling desak. Tiga, tujuh, sampai seribu hari ke depan, rumah ini akan terus repot dengan serangkaian seremoni. Kau ditinggal mati, tapi harus pula bersusah payah menghidangkan makanan untuk orang yang datang.
Potongan puzzle di kehidupan lampau datang lagi, saat kulirik Abang yang kaku di tengah ruang.

Ketika lemari kubuka, ada dua botol tipis di antara lipatan pakaianku.
Tahu aku, Bang. Hendak kau fitnah adik sedarahmu ini dengan minuman ahli neraka itu.
Jika Mak lebih dulu menemukan botol itu, pasti lebam hanya untukku. Meski lebih suka diam, tapi aku bukan si dungu yang dianiaya tak berdaya.
Maka, kubuka kedua botol dan menuang separuhnya ke lubang pembuangan—yang terlalu memaksa disebut kloset. Lalu sisa botol maksiat itu kupenuhi dengan isi kandung kemih yang sejak tadi memang mendesak ingin dikeluarkan. Kututup rapi, kulap bersih. Kunikmati seringai mukaku sendiri di cermin.
Dan malamnya, ada orang-orang sok teler di bawah jendela kamar. Lima pemuda yang membuatku terpingkal-pingkal, selagi Mak entah beradu gunjing di rumah tetangga yang mana. Puas sekali malam itu, terbalas kesalku yang terpendam berhari-hari pada abang yang dulu kucintai. Suatu hari Mak pun harus dibalas. Lalu Abah. 
Kata Mak, Abah tak bermoral. Tinggalkan anak istri tanpa penghidupan, senang sendiri menambah-nambah rumah di mana berhenti. Abang senang betul mendengar cerita Mak. Kucoba mengingat-ingat kenanganku dengan Abah. Tidak pernah ada teriakan mampir di telinga saat seduduk atau berbicara dengannya. Tapi tak banyak yang kuingat, karena memang Abah hilang, dan tak ada kiriman SPP atau jajannya sampai kini, bahkan tak juga ketika Abang telah tergeletak dengan luka yang memutuskan napasnya.
Setelah puas ber-Yasin, kenalan Mak menghubungi pengurus masjid untuk memanggil orang-orang, agar salat jenazah beramai-ramai. Aku sendiri tak dipinta Mak melakukan sesuatu, ia dan menantu asik bersedu-sedan menyesali tugas yang dibebankan atasan Abang, yang selama ini telanjur dicap sangat baik oleh keduanya.
“Kenapa anak buah kesayangannya yang ia lempar ke tempat itu!” Mak masih berteriak.
“Sudahlah, Mak.” Hanya kalimat itu yang keluar, karena aku tak bisa merayu. Lagi pula mana bisa tangisan mengembalikan nyawa.
“Kau memang sejak kecil tak menyukainya!” Teriak Mak lagi.
Sejak kecil, syaraf kanak-kanakku memang putus sebagian besarnya karena teriakan orang-orang terdekatku.
“Orang-orang biadab itu membunuh anakku, padahal ia melakukannya untuk negara!” Mak terus berteriak.
Mak tak sadar, di sekitarnya, bahkan orang-orang yang kelihatan menangis itu, tak setuju dengan ungkapannya.
“Ia menggusur atas perintah negara. Nanti aku akan ke kantornya, atau ke dewan saja. Akan kutuntut mereka, kenapa tak mempersenjatai anakku dan kawan-kawannya dengan pistol. Dengan begitu ia bisa membela diri dari orang-orang yang diusir. Tidak jadi mayat seperti sekarang!”
Orang-orang makin tak setuju.
“Jika untuk negara, kenapa setelah daerah kosong, yang hadir justru perusahaan asing? Kenapa tak pernah merazia orang-orang sok modern yang suka menebar budaya amoral di jalanan? Jika tanpa pistol saja sudah begitu beringas, bagaimana pula hendak dipersenjatai?” Seseorang bertanya pada rekannya.
Yang ditanya hanya mengangkat bahu, tapi Mak segera menoleh, “Apa katamu?”
Lalu Mak berteriak lagi, dan dua orang itu segera pamit dengan wajah pucat pasi.
Aku tersenyum menyilakan.

Komentar