Siapa yang Membakar Masjid?

, , 9 comments
cerpen syarifah lestari
Photo by nurhan on Unsplash

Langit merah. Terang di mana-mana, aroma khas dan panas yang menjalar tak membuat orang-orang itu berteriak. Hanya sebagian kecil dari mereka yang sibuk dengan upaya tak seberapa. Subuh itu tidak ada azan.
Pemadam kebakaran datang setelah Masjid Istimewa tuntas jadi puing. Para petugas tertegun menatapi ekspresi datar warga sekitar. Tidak ada yang berhasil menyelamatkan barang sejumput pun harta masjid. Sepertinya memang tidak ada yang mengupayakan itu.

Seorang pensiunan mengumpat-umpat. Telunjuknya menuding ke beberapa muka, tapi orang-orang yang ia tuding tak merespons. Mereka pulang begitu saja. Menutup pintu, sebagian tidur lagi. Sebagian berdangdut ria.
***
Pagi datang seperti biasa, sampai kemudian kerumunan pengguna jalan memadati sisa-sisa Masjid Istimewa. Warga setempat justru tak nampak. Hanya Pak Badru seorang, yang pada subuh tadi meneriaki siapa saja yang ia jumpai. Pak Badru tengah mendampingi polisi yang memasang garis kuning guna menghalau orang-orang yang penasaran. Ternyata ialah imam masjid yang terbakar itu.
Masjid Istimewa terletak di jalur alternatif antara dua jalan raya. Lokasinya strategis, berada di tengah kota yang sepanjang hari dilalui kendaraan bermotor dan pejalan kaki.
“Kapan terjadinya?”
“Apa sebabnya?”
“Ada korban jiwa tidak?”
Pertanyaan-pertanyaan terlontar entah dari mulut yang mana. Terlalu banyak yang bertanya, tapi tak satu pun yang menjawab. Demikian pula dengan Pak Badru.
Seorang polisi yang datang kemudian, setelah berhasil menembus ratusan orang dan kendaraan yang menutupi tempat kejadian perkara, menggandeng Pak Badru menuju mobilnya.
“Itu yang mana warga, mana orang luar, Pak?” tanya Pak Polisi yang di dadanya tertulis Sarman.
“Orang lewat semua, tidak ada warga sini.”
Dahi Sarman mengernyit. Pintu mobil terpaksa ia tutup, beberapa orang malah mengikuti mereka.
Sebelum kembali mengumpulkan informasi, Sarman memanggil rekannya, mungkin lebih tepat bawahannya, karena jelas sekali ia memberi perintah kepada yang dipanggil. Inti dari instruksi Sarman adalah membubarkan massa yang mengerubungi TKP.
“Jadi waktu kebakaran Bapak ada di mana?” Sarman kembali pada Pak Badru.
“Ya di masjid, Pak. Saya yang bolak-balik ambil air untuk menyiram,” terbersit kebanggaan pada nada bicaranya.
“Dari awal terbakar Bapak sudah di sana?”
Wajah Pak Badru seketika memerah, seperti saat ia memaki para tetangganya subuh tadi. “Saya datang terlambat. Api sudah kadung besar, makanya usaha saya sia-sia.” Ia kesal sekali.
Seseorang mengetuk kaca mobil. Sarman menjeda pembicaraan. “Tim penyidik sebentar lagi sampai, nanti akan disimpulkan, kebakaran ini apa karena korsleting listrik, atau hal lain.”
“Tidak perlu, Pak. Saya tahu siapa pelakunya. Masjid ini sengaja dibakar!” kali ini Pak Badru berapi-api.
Sarman yang semula hendak membuka pintu mobil, memilih menunda niatnya. “Bapak yakin?” Sarman menatap Pak Badru.
Yang ditanya mengangguk mantap.
***
Lalu dibekuklah Febrian malam itu. Tadinya polisi agak ragu, penampilan anak muda itu begitu religius. Bercelana cingkrang, berwajah bersih, dengan janggut yang lebat. Setelah Pak Badru dan beberapa rekannya meyakinkan, barulah mereka dengan sigap menjemput Febrian dari rumah orang tuanya.
Ayah dan Ibu Febrian tidak tinggal diam, mereka memanggil para tetangga untuk melindungi anak laki-laki semata wayang itu. Adu argumentasi terjadi, tapi tak sampai adu jotos. Berakhir dengan dibawanya Febrian, dan janji warga untuk mengembalikan anak itu hidup-hidup pada keluarganya.
Pak Badru dan kelompoknya menang sesaat. Ia tak lagi menuding-nuding, tapi belum tampak kepuasan dari rona parasnya.
Seperginya polisi, warga dan keluarga besar Febrian berembuk. Mereka berencana menggalang dana untuk membayar pengacara terbaik di kota. Beberapa orang yang sepertinya agak berpihak pada Pak Badru, diusir menjauh.
Berhari-hari koran lokal memberitakan tentang kebakaran di Masjid Istimewa, titik terang belum juga ditemukan. Karena dianggap kasus yang sensitif, polisi berinisiatif mengajak warga untuk menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan.
Apalagi masjid bukan milik perorangan, membuat kasus itu kian runyam. Ketika Pak Badru memosisikan diri sebagai pelapor, orang-orang tak mengakui ia sebagai perwakilan dari warga sekitar masjid. Ditambah tabiat Pak Badru yang meledak-ledak, berbanding terbalik dengan Febrian yang tenang.
“Kita diamkan sajalah kasus ini, nanti lama-lama orang juga lupa,” kata Sarman pada rekannya.
Hampir semua mereka setuju, kecuali beberapa yang khawatir menambah buruk nama kepolisian, yang makin hari kian tak positif.
“Aku sudah mencari saksi, tidak ada warga yang mau. Malah yang lebih konyol lagi, ada di antara mereka yang bilang tak tahu ada masjid di situ. Sinting semua!” ujar Sarman kesal.
Kali ini semua rekan Sarman tertawa.
“Coba kita kumpulkan saja pihak-pihak yang sehaluan dengan Pak Badru. Barangkali bisa kita gali dari mereka.” Seseorang mengusul, Sarman yang sepertinya setuju, segera menghubungi Pak Badru.
***
“Saya ulang ya, Pak.” Seorang teman Sarman menyiapkan ketikan di depan Pak Badru dan rombongannya. “Kebakaran terjadi saat salat Subuh.”
Rombongan itu diam saja.
“Benar, Bapak-Bapak?” tanya juru ketik.
Yang ditanya saling pandang.
“Sepertinya bukan Subuh, Pak,” jawab Pak Badru. “Mungkin sebelum itu.”
“Kemarin katanya subuh hari.” Polisi itu menghapus ketikannya. Suasana hatinya sejak semula sudah tak enak, mendengar cerita rekan-rekannya yang turun ke lapangan.
Ng ... kalau subuh biasanya si Febrian sudah salat, dong. Kemarin saya lihat dia masih di rumah.”
“Lalu kenapa Febrian yang Bapak tuduh membakar? Untung keluarganya tidak menuntut balik.”
“Saya yakin dia, polisi saja yang buru-buru mengeluarkannya.” Pak Badru mendengus.
“Kasus ini disorot banyak orang, Pak. Sampai-sampai Kapolda turun melihat langsung ke TKP. Kami meneruskan kasus ini bukan karena Bapak!” tegas polisi itu.
“Febrian itu tidak suka pada kami, orang-orang tua ini.” Ucapan Pak Badru diamini teman-temannya yang segera mengangguk-angguk setuju.
“Jadi perkiraan Bapak jam berapa kejadiannya?” Polisi itu memotong.
“Kalau tidak subuh, ya malam.” Pak Badru menjawab asal, mukanya jelas sebal.
“Waktu salat Isya ada yang mencurigakan tidak?”
“Mana saya tahu,” ketus Pak Badru.
“Katanya Bapak imam masjid!” nyaris berteriak polisi itu.
“Karena saya imam masjid, makanya saya malam itu jadi pemimpin tahlil. Itu sebabnya saya tidak salat di masjid,suara Pak Badru tak kalah keras.
“Di rumah siapa tahlilnya?”
“Ini, rumah Bapak ini!” Pak Badru menunjuk salah satu temannya.
Yang ditunjuk mengangguk sekali.
“Ada azan malam itu?”
“Febrian yang azan,” jawab salah seorang teman Pak Badru langsung.
“Yang salat siapa saja?”
Tidak ada yang menjawab.
“Yang salat cuma Febrian,” lanjut polisi sekenanya. Sambil mengetik satu dua kalimat.
“Mungkin ada Soleh, Nek Sumi, atau datuk yang di ujung sana itu,teman Pak Badru yang lain mengira-ngira.
“Sudah, bilang saja tidak tahu. Yang jelas ada ya si Febrian,” yang lain menimpali.
“Yang azan Magrib Febrian juga, Pak?” tanya polisi lagi.
“Bukan! Saya yang azan,” jawab pemilik rumah tempat tahlilan, cepat.
“Tapi Febrian juga salat,” seorang lain menjawab.
Polisi itu diam. Jarinya menjauh dari papan ketik. Ia menghela napas sambil memandangi satu per satu wajah tua di depannya.
“Jangan-jangan Bapak-Bapak ini menuduh Febrian sebagai pelaku, karena dia rajin ke masjid.”
Orang-orang tua itu saling berbisik.
“Iya, Pak?”
“Bukan begitu, Nak.” Salah seorang yang paling tua maju. Agak lebih lunak dari teman-temannya. Posisi duduknya menggantikan Pak Badru. “Kami ini sudah lama jadi pengurus masjid, kami lakukan apa saja untuk membuat masjid itu nyaman didatangi. Kami ini pemakmur masjid. Kami menggalang dana dari mana-mana untuk membangun sampai masjid itu jadi yang paling megah di wilayah sana.”
Dua orang polisi yang kebetulan melintas, sengaja berhenti untuk ikut menyimak.
“Kami ini sudah tua, kami butuh penerus. Kami senang Febrian rajin ke masjid. Jadi kami minta dia jadi pengurus, sudah lama kami tak punya remaja masjid. Tapi anak itu tidak mau. Dia mau mengajar anak-anak kecil mengaji tapi minta digaji, padahal dana masjid sudah kami pakai membangun. Orang-orang yang mampir kan ingin kamar mandi yang bersih, ruangan yang sejuk, jadi infak mereka kami jadikan fasilitas. Begitu pun caleg-caleg yang datang, sumbangannya ya untuk keindahan masjid itu.”

cerpen Syarifah Lestari lainnya

Polisi yang datang bertambah.
“Si Febrian kami suruh ajak kawan-kawannya ke masjid, dia minta dana lagi. Katanya untuk para pengangguran dan orang miskin. Apa hubungannya dengan masjid? Kalau mereka kami beri uang, ya pasti makin malas. Sebagai bentuk kecewa kami padanya, Febrian tak kami beri kesempatan untuk azan, apalagi imam, selama di antara kami ada yang datang. Hanya setiap malam Jumat, waktu Isya dia bisa jadi imam, karena kami tahlilan semua. Hanya waktu Zuhur dan Asar dia bisa azan, karena biasanya di antara kami sedang tak sempat ke masjid. Itulah barangkali sebab ia nekat membakar masjid, lantaran sakit hati.”
Enam orang polisi itu tertawa-tawa mendengar penjelasan teman Pak Badru.
“Terima kasih, Bapak-Bapak. Pengakuan Bapak yang barusan ini sudah saya rekam.” Juru ketik itu menunjukkan ponsel pintar di tangannya. “Nanti kalau ada kesempatan biar saya ketik dan lapor ke atasan. Ini sepertinya kasus balas dendam yang berujung pembakaran.” Senyum kecut polisi itu menutup pertemuan.
Baik teman-teman Pak Badru maupun teman-teman Sarman sama tertawa senang.
***
“Kapan puing-puing itu dibereskan? Aku sudah tidak sabar main bola di sana.” Febrian dan teman-temannya duduk melingkar, tak jauh dari sisa Masjid Istimewa.
“Kita mengaku saja semua, biar kasusnya selesai, jadi garis polisi itu bisa cepat disingkirkan,saran salah seorang dari mereka, disambut derai tawa yang lain.
“Kalau dibangun masjid yang serupa lagi, bagaimana?” tanya Febrian.
“Bakar lagi!” lima remaja lain menjawab serentak. Lalu tawa lagi dan lagi.
Tawa mereka baru berhenti ketika seorang pegawai kelurahan datang membawa beberapa helai surat. Tadinya ia hendak menugaskan enam laki-laki muda itu membagikan surat yang ia bawa ke beberapa rumah di sekitar puing Masjid Istimewa. Tapi pegawai kelurahan itu membatalkan niatnya. Ini surat ketiga yang ia buat, dua sebelumnya tak diindahkan. Para warga mendadak berkepala batu.
Surat itu berisi undangan dari Pak Lurah dan polisi yang hendak mengumpulkan warga di aula kantor lurah nanti malam. Sama dengan dua surat sebelumnya, hanya diganti tanggal pelaksanaan.
Selagi pegawai itu menyambangi satu per satu rumah, seseorang dengan kalung pers di lehernya mendatangi Febrian dan teman-temannya.
“Mas mau wawancara tentang kebakaran masjid?” Febrian segera menyambut.
“Iya, saya wartawan dari Harian Ramai.”
“Mari, ikut kami!” ajak Febrian pada wartawan itu.
Bersama teman-temannya, Febrian membawa wartawan itu ke halaman sebuah rumah, tepat di depan lapangan bulu tangkis, sekira dua ratus meter dari Masjid Istimewa. Warga yang tadinya menutup pintu  karena malas didatangi pegawai kantor lurah pembawa surat, kini malah mendatangi Febrian dan wartawan yang bersamanya.
Wartawan Harian Ramai segera mewawancarai para warga. Mereka antusias menjawab, kadang bersamaan, kadang berebutan. Hal yang tidak terjadi saat penyidik dari kepolisian menanyai mereka. Kian bertambah menit, kian ramai yang mendekat pada wartawan.
Sampailah Wartawan Harian Ramai pada puncak pertanyaan. “Menurut Bapak dan Ibu, siapa yang membakar Masjid Istimewa?”
Kompak tangan-tangan di depan wartawan itu menunjuk ke satu arah. Rumah terbesar yang menghalangi pandangan mereka ke puing Masjid Istimewa.
“Siapa yang tinggal di sana?”
Belum lagi pertanyaan wartawan itu dijawab. Pak Badru membuka pintu rumahnya karena mendengar keramaian. Pandangannya berserobok dengan tatapan Wartawan Harian Ramai.
Merasa ada yang janggal, Pak Badru mendekat pada wartawan itu. Sebelum ia sampai, perlahan tapi pasti, satu per satu warga yang berkumpul pergi meninggalkan sang wartawan, sambil berbisik dan bergumam memberi petunjuk.
“Dia yang imam, yang azan, yang urusi uang, yang undang khatib. Kami mana tahu apa-apa.”
“Cuma masjid dan rumahnya yang layak pandang di sini, pasti dia yang bakar.”
“Saya bahkan belum pernah masuk masjid itu, takut kotor.”
“Si Badru itu yang tiap hari koar-koar dari toa masjid. Dia yang punya, kami tidak punya masjid.”
“Anak kami belajar mengaji di tempat lain, suami kami bosan dengan ayatnya yang itu-itu saja. Sampai-sampai kami lupa ada masjid di sini. Pasti dia yang bakar, untuk mencari perhatian.”
Pak Badru makin dekat, orang-orang makin jauh. Febrian yang terakhir meninggalkan wartawan bingung itu.

9 comments:

  1. Lama nggak baca cerpen..
    Jadi ingat jaman dulu blog isinya cerpen heheh..
    Salam kenal mb..

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal kembali, terima kasih kunjungannya

      Delete
  2. Wah enak dibaca cerpennya. Bikin lagi dong mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, beneran dibaca tapi ya

      Delete
  3. Ayo coba dikirim ke media say, iya masjidnya semakin indah tapi kalau tak ada jamaahnya buat apa ya, malah menakutkan..masjid seharusnya tempat ibadah dan berkumpul, bukan tempat eksklusif..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdh kok mbak, sebagian cerpen yg ada di sini lepehan media 😂

      Delete
  4. Kadang para tetua masjid seringkali berlaku sombong ya, persis seperti yang dicerpen ini

    ReplyDelete
  5. Langkah yang dipilih Febrian dan kawan-kawan tidak bisa dibenarkan. Tapi untunglah ini hanya fiksi, yang memuat sindiran. Semoga pembaca bisa bijak memahaminya

    ReplyDelete
  6. Cerpennya unik dan endingnya menggantung. Idenya tidak biasa. Masjid yang terbakar itu kalau terjadi nyata pasti viral sekali. Tipe2 Pak Badru ini memang ada di kehidupan nyata.

    ReplyDelete