Cerpen Singkat, Itu yang Dibutuhkan!

, , 5 comments
cerpen singkat

Tidak sedikit yang mengirim cerpen ke iluvtari untuk dimuat sebagai cerpen pilihan. Syarat dan ketentuan sudah kutulis di sini.

Tapi ada satu hal yang sepertinya luput dari perhatian kawan-kawan pembaca. 1500 kata. Artinya, cerpen singkat saja. Mungkin bisa dibilang cerita mini, atau bahkan flash fiction? Aku bukan ahli soal istilah sastra.

Penulis cerpen yang lebih dulu “beruntung” dimuat di blog ini bertanya, apa cerpen yang dikirim harus serius? Jawabannya jelas enggak. Wong aku aja sering ngelantur di sini!

Baca Cepat Vs Baca Lambat

cerpen singkat
Kamu boleh kirim cerpen romantis, cerpen anak, cerpen bahasa Indonesia, cerpen bahasa Inggris. Pokoknya cerpen apa saja, yang penting memenuhi syarat yang sudah dituliskan pada tautan di atas.

Jumlah kata yang 1500 itu penting, sebab blog ini tidak hanya fokus ke cerpen atau sastra. Jadi, yang datang ke iluvtari tidak selalu untuk urusan baca cerita. Apalagi yang panjang-panjang.

Bahkan kamu sendiri, kalau baca artikel dari HP, sukanya baca judul dan awal-awal paragraf doang kan? Ngaku!

Jadi itu, Gengs! Aku penginnya orang membaca cerpen kita secara utuh. Sebab cerpen itu fiksi, buah imajinasi. Orang harus membuat gambaran di kepalanya untuk memindahkan ide di kepala penulis ke kepala pembaca.

Beda dengan artikel nonfiksi yang mengutamakan data. Kita bisa lompat-lompat. Pembuka, tengah, akhir. Atau judul, awal alinea, sub-sub heading yang tersedia, lalu simpulkan sendiri. Kita membacanya karena butuh info.

Membaca cepat untuk nonfiksi terbilang efektif, karena tujuan mendapatkan info sudah terpenuhi dengan cara melompat begitu. Tak perlu menganalisis kata penghubung, sapaan, menalar alur, dsb.

Berbeda dengan fiksi. Kita membaca karena ingin menikmatinya. Maka diwajibkan membaca lambat untuk mendapatkan rasa itu.

Keengganan orang membaca detail lewat gawai terbentur dengan kekhasan cerita yang panjang (meski dinamai cerpen, alias cerita pendek). Nah, kita berada di antara keduanya. Paham gak sih? Susah ya ngejelasinnya. Pantes aku gak cocok jadi guru.

Banyak kiriman cerpen yang masuk melebihi 1500 kata. Ada beberapa yang kurang dari itu. Tapi … adik-adik sayang (rata-rata mereka lebih muda memang. Bukan, elu yang tua!) lain kali sesuaikan tema cerpenmu dengan visi misi media yang dituju.

Blog ini tuannya seorang jilbaber, masa aku nerbitin cerita pacar-pacaran. Atur dikit deh!

Contohnya Hari Nahas Sutinah milik Herris Isna Alwany, temanya tentang dunia pelacuran tapi dibuat tidak vulgar. Pacaran itu biasa, sama seperti pelacuran. Tapi tugas kita sebagai penulis cerpen, buatlah orang melihat dari sisi lain. Syukur-syukur bisa mengambil hikmah.

Kalau di sekolah, itu masuk ke unsur intrinsik cerpen. Iyap, amanah. Walau secara praktik, menurut aku yang bukan apa-apa, unsur yang entah 6 atau 7 jumlahnya itu, sebenarnya bisa muncul begitu saja setelah cerpen jadi.

Struktur Cerpen Sederhana

cerpen singkat
Ada pula cerpen bertema kemiskinan, cerpen motivasi, cerpen kriminal, dll. Semuanya bagus, tapi kita bisa buat yang unik. Tidak harus standar apalagi lebay kayak sinetron Indosiar.

Untuk kamu yang sudah kirim cerpen tapi belum dimuat, please jangan putus asa ya! Masih banyak blog atau bahkan web lain yang mungkin mau menerima cerpenmu.

Tapi kalau masih bersedia ngirim ke sini (mudah-mudahan!) anggaplah karena penasaran, kamu bisa bikin cerpen yang lebih membuatku tergoda.

Struktur cerpen dibuat sederhana saja, tapi siapkan ending yang tidak biasa. Artikel ini bisa jadi panduan kalau kamu mentok.

Meski cerpen, menurut Edgar Allan Poe, adalah cerita yang habis dibaca sekali duduk, tapi menulisnya tidak begitu. Untuk membuat kue, orang butuh waktu berjam-jam. Sedangkan menikmatinya, kita cuma butuh sekian menit.

Menikmati cerpen mungkin bisa sekali duduk, tapi membuat cerpen butuh puluhan kali jongkok, sekian kali berdiri. Sekian kali rebahan, bahkan boleh dicampur kayang. Kalau bisa.

5 comments:

  1. aku juga suka, apalagi kalo meanrik, neka bnaget mnegisi oksigen di kepala

    ReplyDelete
  2. Setuju, cerpen cukup 1500 kata. Terutama untuk diposting di blog ya. Lebih dari itu, agak kliyengan yang baca.

    ReplyDelete
  3. Dah lama aku gak nulis cerpen 👏 dan mmg org baca cerpen utk terhibur ya kan, trus ngapa harus panjang, 1500 kata udah lumayan banyak itu

    ReplyDelete
  4. 1500 kata udah yg paling mudah dibaca menurutku...

    ReplyDelete
  5. Biasanya cerpen maksimal 6 halaman ya, 1500 kata itu sudah cukup untuk cerpen ya..harus teliti baca persyaratan teknis dulu ya sebelum mengirim naskah untuk lomba dan audisi sayang kalau gagal karena masalah teknis..

    ReplyDelete