Perubahan Iklim di Indonesia, Kitalah Penyebabnya

, , No Comments
perubahan iklim di indonesia

Untunglah jembatan itu sudah selesai dibangun. Aku menyebutnya Jembatan Sampah, meski pemerintah setempat telah memberinya nama Jembatan Wali Kota.

Bukan karena jembatannya gak berguna, terus kulabeli sampah. Mana mungkin aku sejahat itu, eaa! Melainkan saat jembatan ini direnovasi, nampaklah aib yang memalukan sekaligus memilukan. Salah satu penyebab perubahan iklim di Indonesia.

perubahan iklim karena sampah plastik

Timbunan Sampah Plastik

Eskavator mengeruk tanah untuk memperlebar jalur air. Hasil kerukannya bikin bergidik! Tumpukan sampah plastik, didominasi kantong belanja, memenuhi tanah galian. Baik tanah yang disingkirkan, maupun yang tertinggal.

Terbayang kan, kalau di satu wilayah saja bisa separah itu tumpukan plastik yang belum terurai, bagaimana pula dengan seluruh Indonesia yang begini luasnya.

sampah plastik sebabkan emisi

Menurut situs Zerowaste Indonesia, Tanah Air kita ternyata adalah penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Artinya, kita sebagai warga negara Indonesia, punya andil menyebabkan perubahan iklim ekstrem yang terjadi saat ini.

Bagaimana bisa, plastik menyebabkan perubahan iklim? Proses pembuatan hingga pemusnahan plastik membutuhkan energi yang sangat besar, dilakukan melalui pembakaran bahan fosil seperti batu bara dan minyak. 

Dari pembakaran tersebut, muncullah emisi gas rumah kaca yang merupakan salah satu dan penyebab terbesar dari perubahan iklim.

perubahan iklim di Indonesia

Kantong Plastik yang Jadi Bumerang

Jika produk plastik memberi efek seburuk itu, kenapa dibuat? Ilmuwan Swedia, Sten Gustaf Thulin, pada 1959 membuat kantong plastik sebagai alternatif pengganti kantong belanja yang terbuat dari kertas.

Kantong kertas, sebagaimana produk kertas lainnya, terbuat dari kayu yang didapatkan dengan menebangi pohon-pohon. Itulah yang dimaksudkan Thulin, ia ingin menyelamatkan hutan dengan menciptakan produk yang lebih awet.

Sebab kantong kertas hanya dapat digunakan sekali pakai, yang artinya akan banyak pohon ditebang untuk menghasilkan kantong kertas yang baru, seiring makin tingginya kebutuhan.

Jika niat baik Thulin dipahami seisi dunia, barangkali itulah yang terjadi. Hutan terjaga, sampah tidak membludak. Sayang, yang terjadi justru sebaliknya.

Hadirnya kantong plastik memang membuat orang beralih dari kantong kertas. Tapi cara kosumen memperlakukan kantong tersebut sama saja. Meski dibuat dari bahan yang awet, tapi jika tidak dipakai ulang, apa jadinya?

Kantong plastik, beserta kemasan dan produk dari plastik lainnya, menjadi limbah yang butuh waktu sangat lama untuk bisa terurai. Alhasil, alih-alih menyelamatkan lingkungan, kini masalah manusia justru bertambah. Ya karena manusia itu sendiri.

sampah plastik lama terurai

Perubahan Iklim di Indonesia dan Peran Para Pemimpin

Raoul Thulin, anak dari Sten Gustaf Thulin, bercerita pada BBC News. Ayahnya hampir seumur hidup selalu membawa lipatan kantong plastik di dalam sakunya. Hal itu dilakukan seperti mimpi besar Thulin sendiri, yakni menyelamatkan hutan.

Karena setiap kita adalah pemimpin, maka segala perubahan besar yang kita harapkan memang sebaiknya diawali dari diri sendiri. Barangkali itulah yang dimaksudkan sang ilmuwan.

Nyatanya, meski sudah dimulai dari diri sendiri, hal besar membutuhkan kekuatan besar. Kita memang bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan perubahan, tapi dunia membutuhkan percepatan karena saat ini waktu seolah berlari. 

Artinya, untuk mengatasi perubahan iklim di Indonesia, dibutuhkan regulasi yang mengikat. Yang tentu saja hanya bisa dibuat oleh para pemangku jabatan di suatu tempat. 

Wali kota di tempatku, misalnya, telah mengeluarkan Peraturan Wali Kota Jambi Nomor 61 tahun 2018 tentang pembatasan penggunaan kantong plastik. Awalnya aturan ini cukup efektif mengurangi sampah plastik yang ada.

Tapi lagi-lagi, masyarakat tak paham maksud adanya aturan tsb. Ketika swalayan dilarang memberi kantong plastik, mereka menyediakan kantong kain yang bisa dibeli oleh konsumen. Niatnya mungkin mirip dengan Thulin, agar konsumen membawa kantong belanja sendiri setiap berbelanja.

Alih-alih membawa kantong sendiri, konsumen justru membeli kantong baru setiap datang berbelanja. Mungkin kantong lama tidak dibuang, tapi tetap saja hal itu membuat kebutuhan akan kantong kain semakin meningkat.

Alhasil, produksi kantong kain juga terus meningkat sesuai permintaan, yang imbasnya ke emisi lagi. Jadi gimana dong? 

Pemahaman dan Kesadaran 

Apakah karena ketidakpahaman itu kita lantas kembali ke kantong kertas? Jangan! Sebab kerusakan hutan justru lebih besar efeknya ketimbang sampah plastik. Lebih dari separuh sebab timbulnya emisi, adalah rusaknya hutan dan ekosistem di dalamnya. 

Menurutku pribadi sih, masalahnya kan sudah ketauan. Ini soal pemahaman dan kesadaran. Jadi sebagai pemimpin diri sendiri, aku berharap lewat blog ini, dan berbagai tulisanku di platform lain terkait lingkungan, orang-orang yang membaca bisa paham betapa pentingnya menjaga lingkungan dan konsisten dalam perilaku tsb.

Karena usiaku masih 30-an, jadi masih terbilang muda ya! Iya ajalah. Maka apa yang kuuraikan di sini bisa dikatakan sebagai peran generasi muda untuk Indonesia lebih baik. Hmm.

Jika suatu saat aku menjadi pemimpin, yang kulakukan adalah membuat orang sadar, baik dengan keterpaksaan di awal ataupun kesediaan sejak awal. Karena tanggung jawab sebagai pemimpin jelas lebih besar daripada orang biasa.

Konkretnya, harus lahir aturan baru yang dipastikan berdampak positif. Aturan tegas dengan reward dan punishment. Misalnya, wilayah dengan tingkat kepatuhan tertinggi akan mendapat penghargaan berupa hadiah yang sampai ke tangan masyarakat langsung.

Sebaliknya, para pelanggar aturan disanksi dengan tegas, tapi tetap menjaga hak-hak mereka sebagai pribadi maupun warga negara. Sebelum aturan dibuat, pastikan sudah dilakukan pendekatan yang sesuai dengan kultur masyarakat.

Orang Indonesia terkenal religius dan berbudaya. Jadi informasi tentang perubahan iklim di Indonesia bisa diadakan lewat kegiatan-kegiatan keagamaan dan aktivitas budaya. Keduanya relevan kok!

Dalam agama, ada aturan agar mencintai lingkungan. Dari sisi budaya, kearifan lokal masyarakat kita pada umumnya sangat berpihak pada alam.  

Perubahan iklim, baik di Indonesia maupun dunia, tidak terelakkan. Pasti terjadi, karena usia Bumi terus menua. Tapi sebagai manusia yang dikarunia akal, idealnya kita bisa meminimalisir dampak buruk perubahan iklim tsb.

0 komentar:

Post a Comment