Program Sponsor Anak Wahana Visi Indonesia

, , 1 comment
Program Sponsor Anak Wahana Visi Indonesia
Photo by Larm Rmah on Unsplash
Waktu kecil, mainan yang paling kuingat adalah boneka kaku berwarna merah polos yang terbuat dari plastik. Bentuknya seorang anak perempuan berambut pendek. Ia mengenakan rok dan bersepatu. Sayang, baik rok maupun sepatunya tak bisa dilepas. Menyatu padu seperti patung.

Kenapa boneka yang lebih tepat disebut patung itu begitu lekat dalam ingatanku? Karena gadis kaku itulah satu-satunya mainan yang kupunya. Maksudnya, benda yang memang dibuat untuk dijadikan mainan.

Mainan lainnya adalah bekas wadah minyak rambut Abang, bedak Kakak, tempat rokok Bapak, atau benda lain yang didapat tanpa membeli. Untunglah aku dibesarkan dalam rumah yang ramai, dengan lingkungan yang banyak dihuni anak sebayaku. Jadi kesulitan semacam itu tak mengurangi kebahagiaan masa kanak-kanak.

Lagipula, tak sedikit milenial yang pada masa kecilnya juga mengalami apa yang kurasakan. Zaman telah berubah, meski gak kaya-kaya amat, minimal anak-anak kita sekarang tidak semelarat orang tuanya.

Tapi bagaimana anak-anak di luar sana? Apa mereka seberuntung anak kita?

Oktober 2020, Bank Dunia memperkirakan ada 85-115 juta tambahan orang miskin di tahun ini. dan masih akan bertambah hingga 35 juta orang di tahun 2021 (voaindonesia).

Artinya, ada anak-anak yang terancam lebih susah dari kita di masa lalu, padahal kebutuhan hidup sekarang jauh lebih tak terjangkau dibanding 20-30 tahun silam.

Program Sponsor Anak Wahana Visi Indonesia
infografis dari detik
Kantor Berita Amerika Serikat, Associated Press, bahkan memprediksi Indonesia, bersama India dan Nigeria, sebagai negara yang mengalami penambahan jumlah penduduk miskin terbanyak disebabkan pandemi.

Alih-alih memikirkan beli mainan, untuk makan dan pendidikan pun para orang tua harus susah payah memenuhinya. Bahkan bisa jadi, anak-anak kehilangan masa kecil mereka demi membantu orang tua untuk memenuhi kebutuhan primer bersama.

Padahal bermain, dengan atau tanpa mainan, adalah kebutuhan anak-anak. Sama pentingnya dengan sekolah, yang membentuk karakter dan pola pikir mereka hingga dewasa. 

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu mereka, terutama anak-anak, yang belum beruntung itu? Menurut hematku pribadi, setidaknya ada tiga hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan.

1. Sebar Informasi

Dengan memperluas penyebaran informasi, diharapkan ada banyak pihak yang terketuk hatinya untuk turut membantu mereka yang berada di bawah garis kemiskinan.

2. Memberi Donasi

Inilah tindakan konkret yang paling dibutuhkan. Kamu bisa membantu lewat berbagai lembaga donasi, salah satunya dengan mengikuti program sponsor anak yang diselenggarakan oleh Wahana Visi Indonesia.

Program sponsor anak adalah cara yang mudah dan efektif untuk mendukung masa depan anak-anak Indonesia di berbagai wilayah yang paling membutuhkan. Dengan menjadi seorang sponsor, kamu telah berkontribusi terhadap proyek pengembangan jangka panjang untuk membantu anak melalui program pendidikan, kesehatan, perlindungan anak, dan penguatan perekonomian keluarga. Info lengkap mengenai program sponsor anak bisa kamu cek di situs resminya. 

3. Mendoakan

Dengan atau tanpa dua poin sebelumnya, tak ada salahnya kita melakukan poin terakhir ini. Bahkan rasanya rugi sekali kalau melewatkannya. Dapat pahala, sekaligus meringankan beban mereka. Lagipula masa sih hatimu gak terketuk sekadar untuk mendoakan?

Sebelum pandemi, sudah banyak saudara kita yang hidup dalam kemiskinan. Apalagi saat dunia, termasuk negara kita sendiri, tengah melewati badai wabah dan merosotnya ekonomi, seharusnya sebagai anak bangsa kita saling menguatkan.

Anak-anak merupakan aset tak ternilai, baik dalam keluarga, lebih-lebih dalam lingkup bernegara. Merekalah generasi mendatang, yang mana masa kecil mereka saat ini merupakan penentu, bagaimana bangsa kita di masa yang akan datang.

Yuk saling peduli!

1 comment:

  1. aku juga nyaris ga punya mainan sih, tapi kecilnya di kampung kak, jadi banyak teman. kasian juga ya anak2 yg hidup serba kekurangan, informais seperti ini memang perlu disebarluaskan. terima kasih kak

    ReplyDelete