Ngaji, tapi Suka Memfitnah

, , 1 comment

السلام عليكم

Ada yang tanya, mending mana? Berjilbab tapi pacaran (sebelum nikah) atau gak berjilbab tapi gak pacaran. Biasanya dijawab dengan berjilbab tapi gak pacaran. Jawaban yang mungkin lebih adil adalah, mereka sama-sama berproses. Gak usah dibanding-bandingin.

Kalau mau lebih vulgar lagi, masih ada yang celananya cingkrang tapi penjahat kelamin, bercadar tapi mulutnya sadis, sampai yang ngaji tapi doyan fitnah. Ada? Banyak. Tapi apakah semua yang berjilbab pasti pacaran, yang bercadar pasti lisannya jahat, yang ngaji tukang fitnah? Pasti nggak. 

Kalau mau tegas, tegaslah ke diri sendiri. Dengan orang lain sebaiknya banyak maklum. Kita nggak tau kondisi orang lain yang paling dalam. Karakter asli, kejiwaan, lingkungan, faktor keluarga, bahkan model setannya beda dengan setan yang biasa ngerjain kita. Ada semacam personalisasi.

Tampilan vs Pikiran

berjilbab tapi pacaran

Biasanya artikel yang kayak gini aku pajang di Kompasiana. Tapi karena topiknya kelewat seksi, agak sungkan juga. Sebab netijen zaman ajaib ini, kalau baca judul doang. Lalu menyimpulkan sesuai kehendak syahwatnya.

Ide menulis ini berawal dari curhatan seorang teman yang merasa difitnah oleh orang yang secara tampilan, kedudukan, usia, seharusnya lebih baik dari orang kebanyakan. Tapi apa lacur, ybs suka memfitnah.

Konyolnya, bukan hanya temanku yang jadi korban. Bahkan aku sendiri pernah. Dan kalau ditelusuri lagi, orang lain yang tampilannya lebih shalihah juga pernah melakukan yang sama. Yang mengeluhkan bukan aku saja.

Lebih jauh lagi, jangan-jangan kita pun melakukan hal yang sama. Dan dikeluhkan orang lain juga. Hayo! 

Ini dunia nyata, bukan sinetron yang tokoh antagonisnya selalu digambarkan berpenampilan jelek atau minimal menampilkan gestur sebagai penjahat. 

Jadi, sebenarnya yang berpakaian islami itu seharusnya gimana sih? Idealnya ya seislami tampilannya. Tapi kalau mereka tak berhasil, berusahalah untuk tidak memvonis jilbab mereka, cadarnya, cingkrangnya. Sebab bukan mereka yang rugi, tapi kita sendiri.

Contoh, ketika kita beranggapan orang berjilbab kebanyakan tidak menunjukkan akhlak yang baik sebagai jilbaber. Lalu memvonis bahwa kebanyakan jilbaber adalah munafik, misalnya. Berarti kita telah menentang apa yang Allah putuskan.

Pertama bahwa jilbab, gamis, dsb adalah pakaian takwa. Kita sebagai “orang yang apa adanya” sengaja atau tidak, menyelisihi Allah tentang hal ini. Kemudian vonis ini tertanam menjadi mindset, yang akhirnya dari tak berjilbab justru menjadi antijilbab. Anti terhadap perintah Allah. Ngeri.

Ngeri sekaligus konyol. Kita menjadi penentang Allah karena kesalahan orang lain. Dari benci orangnya, jadi benci jilbabnya, lalu ngajinya. Terakhir benci pada agamanya. 

Coba kembalikan cara berpikir kita pada jalur yang tepat. Kalau sudah berpakaian islami saja si tukang fitnah masih begitu, apalagi jika tidak. Mungkin dia buka kursus Cara Jadi Setan Paling Jitu. 

Ada juga yang berpikiran begini, karuan aku biasa-biasa aja, gak salat gak berjilbab tapi nggak ganggu orang. Percayalah, itu bisikan setan yang membuat kita merasa sudah berbuat baik. Orang kafir juga banyak yang baik, mereka tidak salat dan tidak menutup aurat. Mau gabung? Silakan. Muslim sejagat gak rugi kok.

Bukan Cuma Muslim

cadar, jilbab, celana cingkrang

Kalau mau contoh orang yang memanfaatkan penampilan untuk menutupi aib, ayo cek beberapa kasus korupsi dengan tersangka Nunun Nurbaetie, Yulianis, Malinda Dee, dll beberapa tahun silam. Ingat?

Mereka yang sebelumnya tidak berjilbab, bahkan sebagian kerap mengenakan pakaian terbuka, ketika masuk ke persidangan tiba-tiba menjadi lebih islami. Dari sekadar kerudung sampai mengenakan jubah dan cadar. Biadab ya? Eh yang bersumpah pakai Al-Qur’an lalu korupsi juga ada kan? Banyak. Mereka inilah para peleceh agama, yang menjadikan Islam sebagai topeng.  

Di Indonesia pelaku kejahatan kebanyakan adalah muslim. Lah iya, wong negara ini mayoritas penduduknya beragama Islam. Kalau kejahatan di Vatikan, pasti pelakunya kebanyakan Kristen. Di Palestina yang dikuasai Israel, biasanya Yahudi.

Di sebuah lembaga yang isinya rata-rata jilbaber, ratu gosipnya hampir pasti berjilbab. Tak perlu hafal rumus peluang, ini bukan contoh soal cerita. 

Masa di lingkungan pengajian ada biang gosip dan tukang fitnah? Iblis aja pernah tinggal di surga, menganggu Adam sampai terusir. Kalau lingkungan itu masih sedikit jumlah iblisnya, bertahanlah. Sebaliknya, jika lingkungan itu terlalu toksik, pergilah. Daripada belum mati kamu sudah merasa di neraka.

Apa kemudian di lingkungan yang tidak menutup aurat, bahkan tidak seiman akan lebih baik? Kayaknya sih nggak. Bagaimana pun, ayam lebih aman tinggal bersama ayam. Carilah analogi yang lebih tepat kalau ini kelewat ngasal.

Kesimpulan

  • Memvonis orang lain dan mengklaim diri sendiri sama tidak baiknya.
  • Orang dengan tampilan islami tidak selalu baik, tapi setidaknya mereka sudah melakukan kebaikan lewat penampilan. Soal hati dan tabiat, bukan urusan kita.
  • Jangan mau ikut berdosa karena dosa orang lain. 
Daripada sibuk memikirkan jilbab pacaran, cadar mulut jahat, celana cingkrang tukang kawin, mending perbanyak amal baik yang menyenangkan. Makan enak untuk kesehatan, tidur cukup untuk kewarasan, cari duit halal untuk sedekah. Orang orang, kita kita.

1 komentar:

  1. Setuju, aku juga lebih ke nafsi" dan gak ikut campur urusan orang lain

    BalasHapus

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.