9 Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak

, , 7 comments
Kalau kamu tergolong milenial, kamu akan bisa membandingkan bagaimana orang tua mengasuh kita dulu dengan kita sekarang membesarkan anak-anak. Cek deh kesalahan orang tua dalam mendidik anak berikut ini, kita atau ayah/ibu kita dulu kemungkinan besar pernah melakukannya.

kesalahan orang tua dalam mendidik anak

Apakah kalau bukan milenial, lantas tidak bisa membandingkan? Ya nggak gitu. Tapi sebagai manusia Indonesia yang jadi bocah di tahun 90-an, kita adalah orang tua yang dekat dengan teknologi, tumbuh bersamanya, dan merasakan perubahan paling drastis dibanding generasi lainnya.

Lagi-lagi aku mengutip dari brightside, inilah sembilan kesalahan orang tua dalam mendidik anak, yang sebaiknya dihindari. Atau ditinggalkan, jika sudah telanjur kita lakukan.

Disclaimer. Setiap informasi yang kutulis, terutama tentang keluarga (anak dan pasangan) bukan berarti aku sudah mengerjakannya, tapi sedang berusaha. Nulis artikel ini dalam rangka konsisten terhadap ucapan. Jadi kita sama-sama belajar, jangan sampai menjadi orang tua yang gagal mendidik anak. 

Satu lagi. Aku cuma penulis, bukan konselor. Jadi tolong jangan konsultasi.

Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak (Usia Dini Hingga Remaja)

kesalahan orang tua

1. Terlalu Sering Mengkritik

Kita tau tidak ada manusia yang sempurna, tapi sering kali orang tua tanpa sadar memaksa anak agar melakukan sesuatu dengan sempurna. Tulisan harus rapi, nilai harus baik, bahkan kesalahan kecil saja dapat menutup prestasi mereka di mata orang tua. Alih-alih memuji, orang tua sibuk mengkritik hal-hal remeh yang seharusnya bisa dimaklumi.

Percaya deh, gak bakal jadi baik. Bisa-bisa anak mengalami gangguan mental serius karena tuntutan orang tua mereka.  

2. Tidak Kompak di Depan Anak

Biasakan berdebat tidak di depan anak, terutama pada hal yang berkaitan langsung dengan mereka. Misalnya anak minta izin mandi hujan. Kita mengizinkan, tapi kita tau bahwa pasangan biasanya keberatan. Setidaknya minta anak-anak untuk juga meminta izin pada ayah/ibunya.

Alangkah baiknya jika melarang sesuatu disertai dengan alasan, sehingga anak-anak bisa memaklumi. Katakanlah pasanganmu melarang anak-anak mandi hujan, dengan alasan yang sulit diterima. Maka sebaiknya kamu melakukan nego tidak di depan mereka, apalagi sampai ngotot-ngototan.

Anak kecil sekalipun sudah bisa menilai loh. Ini berefek buruk pada karakter mereka. Anak-anak akan memanfaatkan keberpihakan itu di setiap momen. Meminta dukungan pada satu orang tua, sembari membangkang orang tua yang lain.

3. Terlalu Memaksa Menjadi Teman

Menurut Ali karamallahu wajhah, usia yang tepat menjadi sahabat anak adalah ketika mereka berumur 15-21 tahun. Sebelum itu, sebaiknya orang tua tidak memaksakan diri menjadi teman anak-anak mereka.

Sebab teman tidak boleh mengatur teman, kan? Sementara sebelum usia baligh, anak-anak belum mampu memutuskan mana yang terbaik untuk mereka. Anak-anak masih butuh aturan dan pembiasaan, yang nantinya berguna ketika memasuki usia remaja.

Kesalahan orangtua dalam mendidik anak remaja biasanya ada di sini. Masanya jadi sahabat, mereka justru menjadikan anak sebagai tawanan. Salah umur, Pakde!

4. Memberi Terlalu Banyak Pilihan

Bandingkan dua pertanyaan ini; “Kamu mau makan apa?” dengan “Mau sayur bayam atau kangkung?”
Yup, pertanyaan kedua lebih terbatas. Dan itu memudahkan anak serta orang tua. Pilihan yang terlalu luas membuat anak bingung, dan orang tua harus banyak meralat. Jadi seperti tidak konsisten.

Jika pertanyaan pertama dijawab “ayam goreng”, sementara anak seharian tidak makan sayur, akhirnya kita harus menambah sayur di antara pilihannya. Karena tambahan tadi, pilihan di kepala mereka justru semakin luas, sebab bisa jadi akan ada tambahan lagi dan lagi. Karena sejak awal tidak dibatasi. 

5. Tidak Menjadi Teladan yang Baik

Penting untuk mematuhi aturan yang berlaku terutama saat kamu sedang bersama anak-anak. Terkesan sepele, tapi keseharian orang tua adalah pendidikan karakter bagi anak-anak. Kalau kamu suka menerobos lampu merah dengan alasan tak ada polisi, jangan heran anak-anakmu akan mencontek di sekolah dengan alasan tak ada guru yang melihat.

Menurutku pribadi, poin satu ini adalah kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang paling sering terjadi. Dari dulu hingga sekarang, di pelosok desa maupun di kota besar. Coba cek di sekitarmu! Atau mungkin kita sendiri pelakunya …. Tipe orang tua yang merusak masa depan anak, karena seumur hidup menjadi model yang salah.

6. Memerintah Tanpa Alasan

Anak perlu tau kenapa dia harus begini dan atau kenapa diminta melakukan itu. Selain mengasah nalar, alasan yang disampaikan orang tua akan menjadi informasi sejak awal bagi mereka, tentang konsekuensi yang ditanggung jika melanggar.

Misalnya, anak harus menyiapkan perlengkapan sekolah sebelum tidur. Sampaikan pada mereka bahwa kegiatan itu memudahkan mereka beraktivitas esok hari. Jika suatu kali mereka lalai, biarkan mereka menanggung risikonya sebagai pelajaran. 

7. Menyangkal

Kerap terjadi, orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) tidak mengakui keadaan anaknya. Penyangkalan seperti ini mungkin bermanfaat untuk orang tua, tapi jelas tidak baik untuk anak-anak. 

Aku sendiri pernah melihat waktu masih bekerja sebagai tenaga ADM di sekolah alam. Sering datang wali murid dengan anak-anak spesial. Ada yang pindahan dari sekolah negeri maupun swasta, tapi semuanya sekolah umum.

Di sekolah lama, anak-anak tersebut sering mengalami hal tak menyenangkan, bukan hanya dari teman, tapi juga guru. Kebanyakan orang tua ini merasa yakin anak mereka normal, biasa, sama seperti anak lainnya.

Padahal kita tau kok, itu fake. Mereka sedang membohongi diri sendiri dengan mindset yang dipaksakan. Mereka menutupi keistimewaan anaknya untuk melindungi diri, tapi justru merusak anak. Egois.

Kalau memang anak butuh perlakuan khusus, ya sekolahkan saja di sekolah khusus. Penerimaan keadaan membuat anak-anak diterima pula di lingkungannya. Itu justru bagus untuk tumbuh kembang mereka. Akan ada masa mereka bisa membaur dengan anak-anak “normal” lainnya.

8. Menjadi Duta Anak

Pernah nggak kamu menemani anak membeli sesuatu, lalu kamu yang menyebutkan keperluan ke pemilik tokonya? Kalau si anak sudah memasuki usia TK, sebaiknya tinggalkan kebiasaan tersebut agar mereka lebih berani. 

Biarkan anak melakukannya sendiri, di bawah pengawasanmu. Tujuannya untuk melatih keberanian dan membiasakan berinteraksi dengan orang lain. Tapi jangan terlalu dilepas, sebab anak-anak masih butuh “dukungan” orang tua sekadar menemani untuk kepercayaan dirinya, dan tentu saja demi keamanan. 

9. Tertawa Ketika Anak Berbuat Salah

Pernah sekali waktu seorang nenek bercerita. Cucunya mengalami speak delay, sehingga terasa sekali lamanya ia menunggu sang cucu mengucapkan kalimat yang terstruktur. Saking rindunya, sampai-sampai nenek itu berkata, “Dengar dio ngomong k******g be sudah senang awak dengarnyo!”

Dengar dia ngomong k******g (makian kasar) saja sudah senang saya mendengarnya. Sang nenek bicara sambil tertawa. Aku nyesek dengarnya.

Anak-anak belum tau mana yang benar mana salah. Yang mereka tau, jika orang tua tertawa, berarti ia berbuat sesuatu yang bisa menyenangkan orang lain. Karena fitrahnya manusia suka membahagiakan manusia lain, maka anak akan mengulang apa yang ia lakukan, terlepas dari hal itu buruk atau baik.

Jadi kalau anak melakukan hal buruk dan orang dewasa di sekitarnya tertawa, itu jadi semacam persetujuan atas perbuatannya. Maka si anak akan melakukan hal tersebut berulang-ulang, sampai mengira tidak ada yang salah dengan perbuatan itu. Rusak kan?  

Yang Harus Dilakukan Orang Tua dalam Mendidik Anak

kesalahan orang tua mendidik anak

Secara umum ada dua hal yang harus diingat dalam mendidik anak, yakni mendoakan mereka dan banyaklah belajar. Coba cek, sejauh apa kita sudah menjadi orang tua yang baik bagi mereka, di artikel yang ini.

Sebenarnya masih banyak kesalahan orang tua dalam mendidik anak yang pernah atau masih aku sendiri lakukan. Sekali lagi kuulang, artikel ini ditulis bukan untuk mengajari siapa-siapa melainkan untuk mengingatkan diri sendiri.

Suatu saat, anak-anakku akan baca sekian artikelku yang bertaburan di internet (halah sok produktif!). Sekarang aja si kakak sudah mulai membaca, tapi dia ngaku gak ngerti, haha. Ya iyalah, masih kelas 3 SD (waktu dia baca dan bilang begitu).

Bukan gak mungkin mereka akan membaca jejak digital emaknya yang (khawatirnya) terkesan ideal banget, tapi gak sesuai kenyataan. Na’udzubillah, jangan sampai ah anak-anakku sendiri menilai orang tuanya begitu.

Lah ini malah kepanjangan curcol. Dah dulu ya, 9 kesalahan orang tua dalam mendidik anak di atas semoga tidak kita lakukan. Biar generasi yang akan datang jauh lebih baik daripada kita yang sekarang. Aamiin.

7 komentar:

  1. belum punya anak..
    belum punya istri..
    belum punya pacar..

    tapi dicatat deh, buat bekal nanti :D

    BalasHapus
  2. Yap Betul Teladan yang Baik itu Penting karena anak juga Meniru

    BalasHapus
  3. Duh, poin2nya hakjleebbb banget
    karena daku sering melakoni aneka kesalahan itu.
    semogaaa, ALLAH berikan kesempatan supaya daku bisa bertobat

    BalasHapus
  4. baca tulisan ini jadi kerasa banget sulitnya jadi ortu ya?

    dalam banyak hal kita kerap dididik secara salah

    malangnya kita auto meniru gaya ortu dalam emndidik

    BalasHapus
  5. Artikel keren banget sih ini. Aku paling suka poin 6. Sampai sekarang itu yang aku pegang dari orang tua. Setiap tindakan harus ada alasannya. Biar ngerti dan nggak sembarangan.

    BalasHapus
  6. Wah bener semua ini mbak poinnya. Apalagi kalau orang tua gak bisa jadi contoh buat anaknya ya, bahaya bgt ini. Anak pasti akan terus menyepelekan nasihat orng tua

    BalasHapus
  7. wah bisa jadi catatan banget nih buat aku 10 kesalahan ini. menjadi orang tua itu memang harus selalu belajar dan memperbaiki diri yaa

    BalasHapus

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.