Cerpen Pengalaman Pribadi

, , No Comments
Sudah lama iluvtari tidak menayangkan cerpen ya, Gengs. Itu karena menunggu kiriman naskah yang layak untuk dipajang di sini. Dan akhirnya, berikut ini kuposting cerpen pengalaman pribadi dari seorang guru di provinsi yang sama dengan domisiliku.

Contoh pengalaman pribadi yang mengesankan penulis, ia tuangkan dalam sebuah cerpen. Pada cerita ini, ada fakta yang sebenarnya cukup sering kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Tapi nggak klise-klise amat kok.

Lagi pula iluvtari gak nuntut kamu bikin cerita yang bagus-bagus amat. Kalau bagusnya kelewatan, mending kamu kirim ke media lain yang bisa ngasih duit lebih. Ngapain ke sini, ya kan!

Cerpen Pengalaman Pribadi oleh Susilawati Siswoyo

cerpen pengalaman pribadi


07.15

Ups, aku tersentak. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.30. Aku harus melupakan lapar perutku, karena kalau aku tidak berangkat sekarang maka akan telat. Jika telat sedetik saja, percuma aku datang mengajar. Mesin absensi sidik jari itu  diprogram untuk mendeteksi kehadiran sampai 07.15, datang setelah jam itu kami dianggap tidak hadir.
Aku selalu dibuat terbirit-birit oleh kebijakan baru ini, meskipun lebih awal 15 menit dari biasanya. Kedua orang anakku yang masih SD tentu juga harus kusiapkan lebih awal. Sebagai ibu yang juga bekerja, bagiku itu sudah perjuangan yang melelahkan setiap pagi Senin hingga Sabtu. Aku yakin kedua anakku juga merasa stres mendengar ocehan ibunya setiap pagi agar segera bergegas agar tidak telat.
Sering kali aku sampai di sekolah dengan perut kosong, karena aku hanya sempat menyiapkan bekal untuk anak-anakku tapi mengabaikan bekal untukku sendiri. Kebijakan new normal meniadakan kantin sekolah semakin menyiksa perutku yang rentan diserang asam lambung. 07.15 adalah angka yang seakan menjadi momok menakutkan bagiku setiap hari.
Imbas dari kebijakan itu juga tak kalah mengacaukan kehadiran siswaku di sekolah. Masuk pukul 07.15 hanya diisi sebagian kecil siswa, selebihnya tetap datang pukul 07.30. Hal itu hampir setiap hari terjadi. Mendengarkan berbagai alasan keterlambatan mereka membuat darahku melesat ke ubun-ubun kalau tidak dicegah dengan istigfar.
Pagi ini aku dibuat dongkol oleh pengaduan beberapa siswaku tentang teman mereka yang selalu telat dan tak pernah mau piket kelas. Datang ke sekolah pun amat jarang. Rapor semester lalu tak pernah diambil orang tuanya. Ulahnya yang sering mengganggu siswa perempuan, belum lagi banyaknya pengaduan dari guru mata pelajaran yang mengeluhkan ia tak pernah mengerjakan tugas membuat aku pusing tujuh keliling. 
    Sudah tiga kali aku melayangkan surat panggilan untuk orang tuanya, tapi mereka tak pernah datang. Aku tak bisa melaksanakan kunjungan rumah karena data yang tertera di file sekolah tidak lengkap.
Aku berharap hari ini ia datang ke sekolah, kebetulan aku mengajar di jam pertama. Pukul 07.15 aku sudah menunggu di depan pintu kelas dengan senyuman manis andalanku. Aku menunggu Andre agar dapat menceramahinya, hal yang selama ini urung kulakukan karena sulitnya bertemu anak itu. 
       Sudah pukul 07.25, yang kutunggu belum juga datang. Aku mengomel panjang lebar kepada semua siswa untuk menumpahkan kekesalanku. Aku memang ibu mereka di sekolah, karena aku adalah wali kelas.
    “Bukan cuma kalian yang diburu waktu, Ibu juga sama. Ibu malah harus mempersiapkan suami dan anak-anak Ibu yang masih kecil, tapi bisa datang tepat waktu. Masa kalian hanya mempersiapkan diri sendiri masih telat juga. Kalian terlena karena selama ini belajar daring, alasan mau belajar tapi malah keasyikan main game. Tugas jarang dikerjakan. Kalian seharusnya prihatin dengan orang tua kalian yang harus bekerja ekstra untuk membeli paket internet, berharap agar kalian mengerjakan tugas, tapi kalian malah mengambil kesempatan untuk main-main, bla bla bla …,” ocehku bagai burung murai dicabut ekor.
Ocehanku terhenti karena Andre nyelonong tergesa-gesa masuk kelas. Aku melotot ke arah kakinya yang masuk kelas mengenakan sepatu, karena peraturan sekolah tidak membolehkan demikian. 
Ia menyadarinya, dan langsung berbalik untuk meletakkan sepatu pada rak yang tersedia. Setelah Andre duduk, aku mengajaknya ke ruanganku. Aku ingin bicara empat mata dan menyelidiki masalah apa yang dihadapinya selama ini.
Aku menginterogasi Andre dengan berbagai pertanyaan yang didahului omelan. “Jadi, sebenarnya apa yang membuat kamu sulit datang tepat waktu dan selalu mengganggu teman-teman?” tanyaku dengan ambang kesabaran hampir mencapai puncak.
“Bu, aku pagi-pagi bangun jam empat subuh. Masak dulu, kemudian mencuci pakaian aku dan adikku. Subuh ke masjid, habis itu mempersiapkan pakaian dan kelengkapan sekolah adikku. Kemudian aku mengantarnya ke sekolah dengan jalan kaki, barulah aku pergi ke sekolah,” jelasnya sambil berurai air mata.
Lho, orang tua kamu ke mana?” tanyaku heran campur tak percaya.
“Orang tuaku pisah sejak aku kelas dua. Aku tidak pernah ketemu ibuku setelah itu. Ayahku sudah menikah lagi tapi aku tidak tahu tempat tinggalnya. Ia hanya datang sekali menitipkan adikku untuk masuk sekolah, dua tahun yang lalu.”
Aku melongo tak dapat menyembunyikan kekagetanku. Tapi aku masih merasa tak percaya.
“Oh ya … terus bagaimana kalian mencukupi kehidupan sehari-hari? Kalian tinggal di mana?” aku memberondongnya dengan banyak pertanyaan.
“Aku bekerja, Bu. Kami tinggal mengontrak bedeng milik tetangga,” ujarnya sambil mengusap air mata dan menahan isak tangis.
Tapi aku lihat perawakannya tidak seperti orang yang bekerja keras. Aku lalu bertanya kembali. “Kamu kerja apa? Sejak kapan kamu kerja? Memangnya berapa gaji kamu sehari?”
“Dulu aku dititipkan pada tetangga tempat aku ngontrak sekarang, tapi sejak kelas empat aku sudah bekerja sebagai pembimbing ayahnya yang buta untuk meminta-minta. Aku dimintanya untuk membayar sewa rumah. Sejak dua tahun yang lalu, aku dititipi oleh ayah adikku lain ibu untuk sekolah. Jadi semenjak itu, aku membiayai hidup kami berdua. Gajiku tergantung pendapatan datuk yang kubimbing. Paling kecil lima puluh ribu rupiah dan paling besar seratus ribu kalau Datuk dapat penghasilan di atas lima ratus ribu. Aku kadang tidak sekolah karena kami pergi ke luar kota agar dapat banyak.” Kali ini ia mulai agak tenang.
Sebenarnya masih banyak pertanyaan di kepalaku, tapi tak tega untuk kuutarakan. Aku tak menyangka bebannya begitu berat. Kehidupannya yang keras dan penuh perjuangan mengajarkannya banyak hal, kecuali sopan santun. Mungkin ulahnya yang usil di sekolah sebagai cara agar temannya bisa bermain dengannya. 
    Aku mengutuk diriku yang sering mengeluh karena beratnya beban yang kupikul. Aku kalah dari Andre yang ditimpa lebih banyak beban, namun ia tak pernah mengeluh. Aku yakin yang diperlukannya hanya dukungan dan kasih sayang. Aku mengusap kepalanya dan tak kuasa menangis sambil memeluk tubuh mungil anak kelas tujuh itu. Aku hanya mampu menguatkannya disertai permohonan agar ia tak lagi terlambat dan rajin ke sekolah.
Aku tak tahu bagaimana beratnya perjuangan Andre setelah itu, karena yang kutahu ia selalu masuk sekolah dan tak pernah telat dari 07.15. Entah mengapa aku menjadi merasa berdosa karena ikut memenjarakannya pada angka 07.15.

Contoh cerpen pengalaman pribadi singkat yang sudah kamu baca di atas semoga bisa menginspirasimu untuk juga menulis cerpen pengalaman pribadi lainnya yang tak kalah menarik. Gimana caranya? Aku pernah menulis cara menulis cerpen pengalaman pribadi di sini. Silakan disimak!

Kalau kamu punya rencana mengirim cerpen ke iluvtari, cek syarat dan ketentuannya di sini. Jangan khawatir kalau cerpenmu punya tema yang sama, karena setiap orang pasti punya gaya dan cara sendiri saat menuangkan idenya.

Tidak harus berdasarkan pengalaman pribadi, kamu juga bisa mengirim cerpen pengalaman pribadi seseorang. Contoh cerpen pengalaman pribadi orang lain bisa kamu baca di berbagai media, di sini belum ada.

Btw, tidak harus cerpen pengalaman pribadi yang bisa kamu kirim ke iluvtari. Tema apa pun oke, yang penting jangan kelewat absurd, alay, apalagi sampai mengandung erotisme, sadisme, dan semacamnya. Bahkan kalau kamu gak bisa nulis cerpen yang bermanfaat, minimal jangan membawa mudarat.

0 comments:

Post a Comment

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.