Cari di iluvtari

Pembalut Wanita, Dicuci atau Langsung Buang?

Sudah lama banget pengin nulis ini. Bahkan sejak aku belum aktif menulis. Dulu sekali—khas orang tua, dikit-dikit ngomong dulu—aku pernah sedang di kamar mandi. Entah kawanku iseng atau gimana, dia melongok ke dalam.

Lupa sih persisnya gimana, yang jelas waktu itu dia melihat pembalutku. Emang gila, tapi biarlah. Anak orang ini!

Di hari yang sama, dia cerita ke kawan yang lain. Aku di situ dan aku dengar dengan jelas. “Hebat teuing si Tari mah, ngumbah soptek nepi ka bodas!” Kagum mereka. 

Padahal itu pembalut emang gak ada isinya. Ngapain barang sekali pakai aku cuci. Yakali aku serajin itu. Eh, tunggu! Bukan rajin sih kalau mencuci pembalut sekali pakai. Ada tuh istilahnya!

Perlukah mencuci pembalut wanita?

Kenapa Banyak Orang Mencuci Pembalut Sebelum Dibuang?

Kebiasaan mencuci pembalut sebelum dibuang biasanya lahir dari dua hal: ajaran orang tua dan rasa tidak enak hati.

Kebanyakan orang jadul mengajarkan bahwa pembalut harus dicuci dengan berbagai alasan. Tapi ada satu yang betul-betul gak masuk akal: biar gak dimakan jin!

Kalau betul jin makan pembalut berdarah, aku sih rela-rela aja. Kurang juga sampah di Bumi. Ambil aja, ambil! Makan yang banyak!

Mengapa aku baru nulis sekarang, baru aku ingat. Aku lupa terus nyari dalilnya. Ya daripada keliru kan, siapa tau memang ada hadis yang menyebut bahwa jin suka makan darah haid. Kadang imajinasiku gak tertahan ngebayangin ada makhluk jilat-jilat pembalut, jieeeh!

Nyatanya, dalil itu gak ada

Ulama memang menyebut bahwa setan menyukai tempat-tempat kotor, berdasarkan hadis tentang doa masuk kamar mandi dan larangan buang air di tempat tertentu. Namun, itu bukan berarti jin secara spesifik memakan darah haid. 

Juga, perkara jimat yang yang diisi darah haid. Aku yakin banget darah itu diberi sukarela oleh pemiliknya. Bukan dukun ngoret-ngoret pembalut di tempat sampah. Hai haaii.

“Dalil” paling mantep yang kita punya itu biasanya: orang-orang tua dulu juga begitu. Nah ini, gak boleh ngikut-ngikut tanpa ilmu. Masa orang tua kita keliru, kita ikutin juga.

Kadang orang tua itu memberi nasihat lewat mitos. Mungkin mereka males menjelaskan, atau ya memang mereka sendiri juga dibohongi orang tuanya lagi. Maksud hati biar anaknya bersih dan menjaga “aib” darah haid, tapi biar simpel bilang aja, kalau gak dicuci nanti dimakan hantu! 

Secara Medis, Perlukah Pembalut Dicuci?

Jawabannya: tidak perlu. Pembalut sekali pakai memang dirancang untuk langsung dibuang setelah digunakan. Bahannya terdiri dari lapisan penyerap, plastik pelindung, dan perekat. Gak dibuat untuk dicuci.

Buat kamu yang merasa gak enak hati membuang pembalut …. Pertama, kamu perlu tau kalau orang buang sampah gak mikirin itu sampah isinya apa. Mereka gak mandang-mandangin apa yang dibuang orang. Sampahmu gak spesial!

Kedua, kalaupun ada pemulung yang membongkar sampah, mereka sudah siap dengan temuan-temuan yang terlihat. Karena mereka/keluarganya juga pakai! Mereka tau itu sampah. Gak bakal mereka jilat kok! Hiaaah.

Dan buat kamu yang superrajin plus kebanyakan waktu sampai nyuci pembalut, nih faktanya:
  • Air bekas cucian jadi mengandung darah dan bakteri, mengalir ke mana-mana.
  • Tanganmu juga kena bakteri. Iya, tinggal cuci tangan, tapi jadi boros air. 
  • Kalau kamu cuci tangan pakai sabun batang, kamu sedang berbagi bakteri ke orang lain. Duh, dermawannyaaa. 
  • Bisa menyumbat saluran jika rusak dan isinya terbuang bersama air.
  • Tidak membuatnya bisa dipakai kembali.
  • Tetap menjadi limbah setelah itu.

Darah menstruasi bukan zat beracun, Gengs. Itu adalah jaringan dinding rahim dan darah biasa. Jadi tidak ada kewajiban medis untuk mencucinya sebelum dibuang. Yang penting adalah cara membuangnya harus benar.

Cara Membuang Pembalut yang Benar dan Higienis

Fyi, bukan sok pinter. Tapi ini sepertinya sudah jadi insting perempuan. Percaya gak percaya, begitu aku kenal pembalut, aku langsung tau gimana cara buangnya. Dan ternyata, caraku selama ini sudah benar:
  1. Gulung pembalut bekas dengan rapi.
  2. Bungkus dengan plastik, kertas, atau kemasan pembalut yang baru.
  3. Buang ke tempat sampah tertutup.
  4. Jangan dibuang ke kloset.
Sesimpel itu!

Yang penting bukan dicuci, tapi dibungkus biar gak keliatan. Terus buang deh ke tempat sampah!

Bagaimana dengan Pembalut Kain?

cara mencuci pembalut kain

Nah, ini beda cerita. Pembalut kain memang dirancang untuk dicuci dan digunakan kembali. Biasanya terbuat dari katun atau bahan penyerap khusus yang bisa dibersihkan.

Pembalut kain memang lebih ramah lingkungan karena tidak langsung menjadi sampah setiap bulan. Tapi, tolong tau diri. Barang ini butuh perawatan ekstra!

Dari hasil baca sana-sini, kalau kamu pakai pembalut kain, begini cara mencucinya:
  1. Bilas dengan air dingin lebih dulu
  2. Cuci dengan sabun lembut, manual.
  3. Keringkan di bawah sinar matahari
  4. Pastikan benar-benar kering sebelum disimpan
Repot nggak? Nggak, ya?

Btw kalau kamu masih gak percaya dengan apa yang kupaparkan di atas, silakan cek ke Google, AI, atau apa pun tools yang kamu percaya. Aku juga nulisnya pakai referensi, cuma sedang malas aja menulis daftarnya di sini.

No comments