Cari di iluvtari

Cerpen Anak Kompas

Cerpen anak di Kompas masih ada gak, ya? Dulu aku pernah kirim dan Alhamdulillah dimuat (9 Januari 2011). Tapi waktu dicari jejak digitalnya, gak ketemu. Maka daripada gak berbekas, lebih baik kuposting di sini.

Cerita pendek yang Dimuat di Kompas Anak

Cerpen Kompas Anak

Perkara Pohon Apel, karya Syarifah Lestari

Gunung agak gusar, sejak kemarin ia mendengar suara tangisan, tapi tak tahu dari mana asalnya. Semula Gunung mengira itu suara angin yang bertiup, tapi ketika udara tenang pun, suara itu masih terdengar. Siapa gerangan yang menangis? tanyanya dalam hati.

“Hu ... hu ...,” terdengar lagi.

“Siapa yang menangis?” akhirnya Gunung bertanya, entah pada siapa.

“Hu ... hu ... hu ....”

“Hey, siapa itu? Mungkin aku bisa membantumu,” kata Gunung lagi.

“Kau tidak akan bisa membantuku.” Ada yang menjawab.

“Aku akan berusaha. Tapi siapa yang menangis ini?”

“Aku. Di sebelah sini!” jawab suara itu.

“Katakan saja siapa kau. Aku tidak bisa bergerak untuk mencari.”

“Aku Pohon Apel di sisi kananmu. Itulah kenapa kubilang kau tidak akan bisa membantuku. Kau tidak bisa bergerak, sama seperti aku.”

“Kita memang tidak bisa bergerak, tapi masih bisa berpikir kan? Apa masalahmu? Nanti kita pikirkan bersama bagaimana menyelesaikannya.” Gunung berpendapat.

“Buah pertamaku yang hendak matang dimakan ulat. Hu ... hu ....”

“Memangnya kenapa? Pohon Apel yang lain pun buahnya dimakan ulat.”

“Tapi ini buah pertama. Aku ingin menghadiahkannya pada anak kecil yang suka berteduh di bawahku. Ia lewat hanya dua pekan sekali, aku khawatir ketika ia kemari buahku telah habis dimakan ulat.” 

“Usir saja ulat itu, katakan padanya untuk menunggu buah selanjutnya.”

“Idemu buruk sekali!” Pohon Apel membentak. “Tentu saja itu sudah aku lakukan. Tapi ulat itu bilang bahwa ia lapar. Perutnya sakit jika tidak makan, sedangkan aku tidak kesakitan jika buahku ia makan.”

Gunung diam. Tapi bukan karena marah dibentak, melainkan sedang memikirkan ide lain.

“Huu ....” Pohon Apel menangis lagi.

Suara tangis Pohon Apel terdengar berayun-ayun dan terus menjauh. Itu disebabkan embusan angin yang lewat di antara mereka. 

Tiba-tiba Gunung mendapat ide, “Aku tahu!” serunya.

Pohon Apel tidak menjawab. Ia masih saja menangis.

“Tenagamu akan habis jika terus menangis. Aku akan minta bantuan Angin untuk mendorong awan, lalu awan akan menumpahkan air tepat di atasmu. Dengan demikian ulat akan jatuh dari buah yang ia makan.”

Tangis Pohon Apel sedikit mereda, tapi ia tampak kurang yakin.

“Angin, Angin ... tolong bawa Awan kemari. Aku butuh bantuannya,” Gunung berkata pada Angin. 

Tanpa berkata-kata, Angin segera mendorong segumpal awan menuju puncak Gunung. “Terima kasih,” ujar Gunung padanya.

Pohon Apel hanya menunggu. Ia tak setinggi Gunung, sehingga tak bisa ikut berbincang dengan Awan.

“Teman kita, Pohon Apel, butuh hujan untuk mengusir ulat pada buah pertamanya. Bisakah kau turunkan air tepat di atasnya?” tanya Gunung pada Awan.

“Tentu saja,” kata Awan. “Tapi aku tidak menjamin ulat itu akan pergi. Bisa saja ia berlindung pada daun atau buah yang ia makan. Aku kan hanya bisa menyiram dari atas, tidak bisa menyemprot dari samping seperti yang bisa dilakukan manusia.”

“Betul juga,” kata Gunung.

“Bagaimana Gunung, apa idemu bisa dipakai? Jujur saja, aku tidak yakin padamu, tapi aku cukup menghargai niat baikmu tadi!” terdengar Pohon Apel menyeru.

Gunung cukup sedih. Ia diam dalam kebingungan.

“Baiklah, Kawan. Aku akan tetap menyiram pohon itu. Hasilnya lihat saja nanti.” Awan segera bergerak ke Pohon Apel, dibantu Angin yang tadi mendorongnya. Tak berapa lama, terjadi hujan lokal di atas Pohon Apel. Matahari turut membantu mencairkan sebagian awan agar menjadi air.

“Lihat buah pikiranmu!” Pohon Apel membentak lagi. “Aku basah, tapi ulat itu masih di dalam buah. Ia malah tertidur lelap di sana.”

“Kau hanya menghabiskan energi dengan menangis dan marah. Lihat hasilnya, kau bahkan tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengeluh dan kelelahan. Aku khawatir kau tidak bisa lagi menghasilkan buah yang baru jika terus begini.”

Pohon Apel terdiam. Ia setuju pada Gunung, tapi tak mau mengakui. “Andai anak itu segera datang,” gumamnya.

“Sudahlah, ikhlaskan saja. Memang sudah ketentuan Tuhan, buahmu dimakan ulat. Ulat itu nantinya akan dimakan burung, lalu usia tertentu burung mati dan diuraikan oleh bakteri tanah. Dari tanah itulah pohonmu bisa tumbuh besar seperti sekarang.”

“Hey, apa kau bilang?” Pohon Apel setengah bersorak.

“Maaf.”

“Tidak, tidak. Aku tidak marah. Tadi kau bilang buahku dimakan ulat, dan ulat dimakan burung. Maukah kau memanggilkan burung untuk memakan ulat itu?”

“Tentu saja,” Gunung menjawab cepat.

“Tapi pastikan burung itu tidak memakan buahku, hanya ulatnya saja.”

“Ya, ya. Aku tahu burung yang hanya makan serangga, tapi tidak suka buah. Kita tunggu saja siapa di antara mereka yang lebih dulu lewat.”

Sekitar satu jam kemudian, seekor Burung Raja Udang melintas. Gunung segera berteriak memanggilnya. 

“Ada apa?” tanya Burung.

“Kau suka ulat bukan? Teman kita ingin memberikannya cuma-cuma.”

“Mana mana?” Burung Raja Udang kegirangan.

“Di bawah, ulat itu berada pada buah apel di pohon sebelah kananku.”

Tanpa banyak bicara, Burung Raja Udang segera meluncur ke Pohon Apel. “Sebenarnya aku lebih suka ikan, tapi ulat pun lumayan untuk bekal perjalananku menuju sungai,” katanya pada Pohon Apel. Dan, hap! Ulat sudah berpindah ke paruhnya yang merah.

“Maaf, Ulat. Kata Gunung sudah ketentuannya begitu. Nanti Burung pun akan dimakan tanah, untuk menghidupi aku dan pohon-pohon lain.” Pohon Apel mengucap selamat tinggal.

Burung Raja Udang terbang kembali. Ia pamit pada Gunung, lalu melanjutkan perjalanan menuju sungai. 

Angin kembali bertiup, tapi Gunung tidak mendengar suara tangis Pohon Apel. “Berdoalah agar anak itu segera kemari sebelum ulat lain datang menghabisi buahmu,” saran Gunung pada Pohon Apel.

“Tak masalah, aku akan memintamu memanggil burung untuk memangsanya.” 

Lalu terdengar derai tawa Gunung dan Pohon Apel, suara mereka dibawa angin hingga jauh.

Karya Lainnya

Selain di Kompas Anak, ada juga juga cerita anak-anak karyaku di Balai Bahasa Provinsi Jambi (sampai saat ini ada empat judul) dan satu cerpen anak di buku terbitan Pustaka Ola sebagai pemenang ketiga lomba cerpen anak oleh Majalah Bobo tahun 2012.

Btw, nulis cerita anak itu lebih rumit daripada cerpen umum. Dan karena cerpen umum relatif lebih gampang, aku dkk di Menulis Titik foya-foya bagikan ebook kumcer karya kami untuk diunduh siapa pun secara GRATIS! Ambil di sini, ya.

No comments