Rumah Adat Jambi dan Sejarah Angso Duo

rumah adat yang ada di area gubernuran

Ada yang tau, kenapa rumah adat Jambi disebut Kajang Lako? Yang benar Kajang Lako atau Kajang Leko? Bukannya Kajang Lako itu nama perahu?
Ada yang tau?
Aku beneran nanya ini! Bukan kalimat pembuka kayak orang-orang.

Sebagai keturunan perantau yang gak ngerti asal usulku dari mana, akhirnya kuputuskan untuk mencari sejarah Jambi. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa yang gak ada hubunganya dengan artikel ini.

Konon, Orang Kayo Hitam, anak Raja Jambi, diperintahkan oleh mertuanya untuk menyusuri Sungai Batanghari dengan perahu kajang lako. Bukan dalam rangka honey moon, tapi mereka akan membuat kerajaan atau pusat pemerintahan baru.

Pada versi lain, yang menyusuri Batang Hari dengan kajang lako adalah Putri Pinang Masak, putri Pagaruyung yang dilamar Tan Talanai. Kayak lagu Malaysia, Tan Talanai yang jauh dari ganteng gak sebanding dengan Putri Pinang Masak. Ditolak lah. Apa lagi!

Belum lagi kalau Tan Talanai dibandingkan dengan cowok Turki bernama Ahmad Barus, versi lain menyebut Ahmad Salim. Yang konon lagi, adalah saudagar, dan versi lain lagi, menyebut keturunan kerajaan Turki. Tapi kabarnya, klaim bahwa dia dari Turki belum pernah terbukti. Jangan-jangan si Ahmad cuma anak Sebrang yang kearab-araban!

Eh gak bisa gitu! Suku Melayu Jambi yang sekarang kebanyakan di Seberang—Jambi Kota Seberang, sebagian lagi menyebut Seberang Kota Jambi atau Sekoja. Intinya mereka ada di kota tradisional, utara Sungai Batanghari. Tempat yang sama dengan Gentala Arasy. Kalau yang sebelah selatan itu disebut kota modern, satu daratan dengan Angso Duo, Masjid Seribu Tiang, dll—tampangnya agak Arab itu justru karena keturunan Wak Ahmad tadi.

Kita tahunya Ahmad Barus atau Ahmad Salim kelak diberi gelar Datuk Paduko Berhalo atau Berhala biar lebih Indonesia. Yang mungkin gara-gara gak pake O, trus sekarang Pulau Berhala lepas jadi milik Kepri.

Menurut sumber lain, yang disebut Datuk Paduko Berhalo adalah Adityawarman. Karena dia dibuatkan patung. Yang oleh orang Islam kemudian disebut berhala. Patung, berhala. Masuk akal ya!
Lah itu Adityawarman siapa lagi?

Dia raja yang menaklukkan Kerajaan Melayu, dan Putri Pinang Masak adalah salah satu keturunannya. Dan ini adalah versi yang berbeda kenapa sebelumnya Jambi dipegang Tan Talanai kok tau-tau muncul Putri Pinang Masak sebagai Raja Jambi. Mumet? Baca sambil ngemil makanya!

Rumah Adat Kota Jambi

Orang Kayo Hitam adalah anak ketiga dari Putri Pinang Masak dan Ahmad Barus/Ahmad Salim. Ahmad Barus datang ke Nusantara untuk mendakwahkan Islam, dan ia terdampar di Pulau Berhala (mungkin dulu namanya Pulau Hanif).

Bahwa pangeran tampan itu jodohnya putri cantik, ternyata bukan dongeng. Sebab Ahmad Barus dan Putri Pinang Masak adalah kisah nyata. Berani bilang ini fiksi? Ada 500 ribuan loh warga Kota Jambi yang siap menoyormu!

Entah emaknya atau anaknya yang menyusuri Batang Hari dan menemukan Tanah Pilih Pusako Betuah, yang jelas menurut kisah yang beredar, mereka menaiki Kajang Lako. Apa hal yang membuat kajang lako kemudian menjadi nama rumah adat Jambi? Ada yang lebih mengejutkan. Ternyata rumah adat Kota Jambi adalah Rumah Panggung!
rumah warga di Jambi Seberang Kota


Jadi yang 12 tahun kupelajari di sekolah itu apaaaa!

Kisah Dua Angsa dan Sejarah Angso Duo

Orang Kayo Hitam atas titah Tumenggung Merah Mato atau ibunya entah atas perintah siapa, dikisahkan menyusuri Sungai Batanghari dipandu sepasang angsa. Atau mungkin mengikuti sepasang angsa yang kebetulan lewat, entahlah.

“Di mano duo angso tu mupur, di situlah kalian membuka lahan!” Kira-kira begitu pesan yang memerintah. Kata mupur kudapat dari laman kemdikbud, kucari artinya di mana-mana gak ketemu, bahkan orang Melayu pun kutanya gak ngerti. Anggaplah maksudnya menepi, main-main, atau apalah kegiatan angsa yang membuatnya keluar dari air.

Alhasil, tempat yang dipilih sepasang angsa itu kemudian disebut Tanah Pilih. Dan jadilah dua angsa sebagai ikon Kota Jambi, plus pasar tradisional yang sekarang berada tak jauh dari tempat mupur angsa itu diberi nama Angso Duo.

Nah, kemudian. Sebagai orang yang lahir dan besar di sini puluhan tahun, aku mulai bingung. Kapan aku pernah lihat angsa dua-duaan di sungai? Mungkin mainku kurang jauh ya. Karena yang kulihat sehari-hari adalah soang yang teriak-teriak gaje dan nguber-nguber orang. Sok kuasa banget.
Angsa menurut berbagai referensi, banyak ditemukan di Inggris, Jerman, Italia, dan beberapa wilayah beriklim sedang. Jadi yang romantis-romantisan di kolam itu sepertinya angsa versi Eropa. Jahat bener kalau sampai terpikir sejarawan kita terpengaruh Walt Disney.

Aku tetap bisa tidur meski sampai sekarang belum ketemu soang berduaan di air. Tapi aku tetap harus belajar, dan lebih banyak membaca, jangan sampai misteri ini tidak terpecahkan!

Komentar

  1. Saya pernah membaca cerita rakyat tentang kecantikan Sang Putri. Ternyata ga cuma wajahnya yang cantik, tapi sejarahnya pun unik. Jangan bosan cerita ya, Mbak heheheh

    BalasHapus
  2. Bagus tulisannya, saya orang Jombang jadi pengen lebih banyak tahu lagi tentang Jambi. Kota J yang menarik!

    BalasHapus
  3. Lanjutkan penasaranmu kak, siapa tau mengungkap sejarah yang tidak tercatat. 😀

    BalasHapus
  4. Pernah main ke Jambi, tapi nggak sampai lihat2 rumah adatnya. Itu dari kayu apa kok kehitaman?

    BalasHapus
    Balasan
    1. cat aja keknya. itu contoh aja di gubernuran. rumah penduduk asli yg gambar bawah2, biasa warnanya

      Hapus

Posting Komentar