Kambing Jantan Ibumu

Naskah ini adalah bagian akhir dari 4 bagian sebelumnya. Cerpen Syarifah Lestari yang ditayangkan di Kompasiana

ilustrasi dari unsplash.com dengan sedikit perubahan

Kambing itu berdiri saat melihatmu. Ia hendak berlari ke arahmu, tapi tali di leher membuat kakinya tak bisa melangkah lebih jauh. Ia mengembik kencang.

“Boleh aku mendekatinya?” tanyamu pada salah satu centeng.

“Kalau kau siap mati,” jawab salah satu dari mereka.

Satu orang mendekati yang tadi bicara, ia seperti bernegosiasi. Kau kenal baik wajah centeng itu, ia warga kampung yang juga mengenalmu.

Centeng itu melambai padamu, menyilakanmu mendekat.

Nur menunggumu antusias, gegas kau mendatanginya.

“Bagaimana kabarmu?” tanyamu pada kambing itu. Tiga centeng tadi tertawa melihat polahmu. Mereka tidak menjauh, mungkin begitu titah majikan mereka.

Nur bergeser sedikit, kau mengikutinya. Demikian pula tiga centeng penjaga.

“Tak perlu kemari, nanti bos mereka mengira benar kau mencuri aku dari sini,” ujarnya berbisik.

Centeng yang mengenalmu mendekat. Dahinya mengernyit.

“Kenapa?” tanyamu pada centeng itu.

Ia tak menjawab, tapi melihat padamu dan pada kambing di depanmu. Bergantian beberapa kali. Lalu ia berdiri perlahan, pandangannya tak lepas dari kepala kambing itu.

Kau memilih diam. Sebab centeng itu tetap bergeming di antara kalian.

“Sampai kapan kau akan di sini?” tanya centeng itu kemudian.

“Boleh aku meminjamnya sebentar?”

“Hah, kau gila? Justru aku dibayar untuk menjaga kambing ini sampai disembelih. Supaya tidak dibawa orang, khususnya kau.”

“Kan selalu aku kembalikan.”

“Berarti benar kau membawanya setiap hari?”

Kau menggeleng. “Baru kali ini aku ingin lakukan.”

Terdengar suara deru mobil. Kau dan centeng menoleh pada asal suara.

“Pak Ali datang, lebih bagus kau pergi!” perintah centeng itu, demi kebaikanmu.

Kau pun mematuhinya. Baru kali ini kambing jantan itu membuatmu iba.

Malamnya kau tak bisa tidur. Tak perlu bangku sekolah untuk menyatukan cerita Kambing Jantan dan ibumu. Kau telah meyakini dengan pasti, kambing itu adalah ayahmu. Satu hal masih belum terpecahkan, bagaimana ayahmu bisa berubah menjadi kambing. Bagaimana pula mengembalikannya menjadi manusia lagi?

Kau harus mencurinya. Kali ini kau benar-benar akan jadi pencuri. Hanya tersisa satu hari untuk menyelamatkan satu-satunya keluarga yang kaupunya.  

Kau terduduk di atas dipan, merencanakan kejahatan pertamamu. Dipan berderit saat kau mulai meninggalkannya. Kau akan membalaskan rindu ibumu pada laki-laki yang terkena kutukannya—itu hanya tebakanmu. Kau akan membawa lari kambing jantan itu sejauh-sejauhnya. Kau sungguh bertekad.

Gelap makin pekat saat kau berada di tengah belukar. Rumah Pak Ali hanya selemparan batu dari tempat kau berdiri. Nampak para centeng bermain remi, perempuan-perempuan muda pembantu rumah masih keluar masuk. Keluarga tuan rumah menghalau anak-anak mereka agar segera tidur. Kau menunggu dengan segala risiko. Tak masalah, karena sejak lahir kau adalah laki-laki penyabar.

Ketika burung hantu mulai meratus, hanya tinggal kau dan para centeng yang terjaga. Kandang kambing temporer yang menempel pada garasi, dijaga ketat oleh setidaknya lima orang laki-laki. Kau berjongkok memperhitungkan kemungkinan.

Dalam menit-menit kesenyapan, dari kejauhan kaulihat pintu kandang terbuka. Jantungmu berdetak cepat, rasanya jalan niatmu terbuka tanpa dinyana. Seperti saat memasuki rumahmu, moncong Nur lebih dulu muncul di balik pintu kandang. Sangat perlahan, badan, kaki, hingga ekornya pun menyusul.

Dengan gembira kau pun maju untuk menyambutnya. Jangan sampai kambing itu datang ke rumahmu yang kosong, dan ia keburu dibawa kembali ke kandang. Kali ini kau akan membawanya lari sejauh mungkin. Sampai semua orang lupa.

Satu centeng meletakkan kepalanya di meja, ia menguap berulang-ulang. Satu lagi berdiri meninggalkan teman-temannya, masuk ke rumah. Sisanya begitu khusyuk dengan kartu di tangan mereka.     

Kau dan kambing itu sama mengendap. Kau merunduk, berjalan nyaris merangkak. Nur berlari pelan setelah melewati sela pagar, kau pun refleks berlari ke arahnya.

Suara tawa tiba-tiba memerangahkan kalian.

“Akhirnya!” seru satu di antara para centeng yang memergoki kalian.

“Jadi begini cara kalian setiap hari bertemu?” centeng yang siang tadi menolongmu berujar.

Dua orang memegangimu. Tubuh mereka terlalu besar untuk kaulawan. Seorang centeng mengangkat Nur yang terus meronta tanpa mengembik. Lima orang itu tertawa senang.

---

Karena rekam jejakmu di kampung tanpa cela, warga sepakat tak ingin kau dibawa ke kantor polisi. Pak Ali sendiri ingin sekali melakukannya, karena para centeng juga tak bersedia memukulimu. Setelah dilakukan rembuk di masjid—karena kambing yang kabarnya hendak kaucuri sudah diniatkan untuk ritual masjid—akhirnya diputuskan kau dikurung di rumahmu sendiri. Dijaga banyak orang, agar tak pergi ke mana pun.

Segala benda tajam dikeluarkan dari rumahmu. Pintu dan jendelamu dipalang dari luar, baru akan dibuka jika hewan kurban telah selesai disembelih.

Demikian pula dengan kambing jantan itu. Di saat kambing lain dibiarkan di luar, diikat pada pohon dan pagar, ia dikurung sendiri dalam kandang. Kandangnya pun dipalang seperti rumahmu.

Kau menangis pasrah. Tenagamu lebih dari cukup untuk menghancurkan pintu berpalang sepuluh sekalipun. Tapi jika kau melakukannya, seluruh warga akan mengantarmu ke kantor polisi. Kau bisa berakhir di penjara atau rumah sakit jiwa, begitu kata Ketua RT yang selama ini selalu baik padamu.

Dari pagi, awal mula kau dikurung, hingga malamnya, kau hanya bisa tafakur.

Suara azan dari masjid selalu bisa terdengar hingga ke rumahmu. Demikian pula suara takbiran esok paginya. Kau termenung sejenak di depan pintu, menghitung kembali untung ruginya melakukan perlawanan.

Orang-orang yang menjaga rumahmu tak lebih dari tiga orang. Kau bisa melawan mereka. Tapi lalu apa? Kau masih bimbang.

Solat Iduladha telah bubar, menurut perkiraanmu. Kau mengumpulkan tenaga. Bersiap dengan segala kemungkinan, yang terburuk sekalipun.

Panitia masjid telah memanggil para penyumbang hewan kurban agar melihat prosesi penyembelihan. Hatimu kian getir.

Dalam hitungan mundur yang panjang, tenagamu terkumpul. Energimu penuh.

Brak! Pintu kaudobrak.

Butuh satu pukulan lagi untuk bisa meloloskan diri. Yang ditugasi menjaga rumahmu seperti tak menyangka kau akan melakukan itu, lama mereka dalam kekagetan.

“Itu Nurman!” Suara teriakan.

Astaghfirullah.”

Innalillah....

Pengeras suara masjid mengirimkan aneka gumam dan teriakan orang-orang di sana. Kau terpaku mendengarnya.

Dari balik pintu yang separuh hancur, kaulihat orang-orang berlarian ke arahmu. Wajah mereka panik dan penuh kengerian.

“Wan, kambing itu ...”

“Wan, ada ayahmu di teras masjid.”

“Wan, kambing itu berubah jadi ayahmu!”

“Tapi ia telanjur disembelih.” 

Komentar

  1. Masih mencoba mencerna clue yang menyebabkan si kambing jadi ayahnya.

    BalasHapus
  2. Bingung karena ini sudah bagian akhir. 1-4 nya di kompasiana, hehe

    BalasHapus
  3. Sungguh bikin pensaran untuk baca bagian-bagian sebelumnya... ^_^

    BalasHapus
  4. Diksinya mantap betul mbak, saya harus berfikir dua kali memahami tiap paragrafnya hehehe

    BalasHapus
  5. penasaran dengan kisah selanjutnya, oh ya aku kira tadi dari judulnya itu bakalan kebayang seperti Kambing Jantan punya Raditya Dika haha

    BalasHapus

Posting Komentar