Sebuah Janji di Pulau Kecil, Novel Kehidupan Pasangan Kampung nan Bersahaja

, , 5 comments
Novel Sebuah Janji di Pulau Kecil

Kamu tahu, pekerjaan yang paling menyenangkan adalah menjadi editor! Salah satunya, karena bisa baca buku gratis sekaligus mengkritisi penulisnya secara langsung.

Sebuah Janji di Pulau Kecil entah novel keberapa yang kuedit. Dalam beberapa hal, mengerjakannya lumayan enak. Aliran cerita novel ini diawali dengan deskripsi yang menarik. Tentang sebuah daerah yang jauh dari hiruk pikuk kota, tentang kesederhanaan. Dan pembaca akan terjebak jika hanya berhenti pada bab awal pembukanya.


Sebuah Janji di Pulau Kecil berkisah tentang Farabi, pemuda tamatan madrasah dari Kabupaten Indragiri, Riau, tepatnya Desa Pulau Kecil, yang berhasil menaklukkan ego cintanya pada seorang gadis kota nan cantik dan penuh prestasi.

Perjodohan di Suku Bugis

Sekelumit kisah cinta Farabi dimulai sejak ia remaja. Besar bersama sepupu yang memiliki pemikiran sama, membuat Farabi yang semula dinamai Yasin oleh penulisnya, jatuh cinta pada Hafshah.

Di hati Farabi, Hafshah bukan sekadar sepupu. Ia sahabat dan kekasih sekaligus. Mereka sama-sama menyembunyikan perasaannya meski sama-sama mengetahui perasaan yang lain. Khas remaja desa dalam gambaran di benak kita.

Aku cukup bersyukur penulis tidak muluk-muluk dalam mengumbar sisi religiositas dalam interaksi antara Farabi dan Hafshah. Sebab meski mereka adalah siswa madrasah, tertarik pada lawan jenis adalah hal yang normal. Bahkan khas pada usia remaja.

Bahwa Farabi dan Hafshah adalah anak desa, itu tidak masuk hitungan. Centil ya centil aja!

Artinya, meski novel ini jelas adalah novel religius, tapi bisa dinikmati semua kalangan dan cukup sesuai dengan realitas dalam kehidupan.

Farabi dan Hafshah pada akhirnya dijodohkan, sebagaimana adat kebiasaan dalam Suku Bugis, mayoritas penduduk dalam latar tempat novel tersebut. Sayang, penulis tidak mengangkat lebih jauh tentang adat Bugis lainnya. Atau kebiasaan yang banyak diketahui orang luar suku ini, tapi tidak dipahami alasannya.

Misalnya, kenapa Orang Bugis menganggap naik haji adalah prestise. Kenapa banyak dari mereka menyimpan emas di gigi, mengapa perempuan Bugis dihargai mahal? Dan banyak pertanyaan yang jempalitan di kepalaku. Yang kupikir juga ada di kepala non-Bugis lainnya.

Atau bongkar sedikit alasan orang Bugis suka menikah antarsepupu. Apakah alasannya sama dengan Suku Kerinci, para Habib, bahkan Kaum Yahudi. Ah, itu sih maunya editor!

Farabi dan Hafshah dijodohkan bukan karena alasan suku, bahkan ayah Hafshah sepertinya tidak setuju dengan kebiasaan itu. Tapi penulis tidak menjabarkan alasan yang lebih luas. Misalnya tentang pendapat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha yang tidak menganjurkan menikahi sepupu dengan alasan kesehatan.

Si Doel Versi Sumatra

Sebagai milenial yang menikmati indahnya tahun 90-an, otomatis saja aku terkenang sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” saat membaca kisah Farabi bertemu Sahara. Farabi adalah Doel versi Sumatra (karena selain Riau, penulis juga memakai Jambi sebagai latar). Dan entah faktor inspirasi yang sama, atau hanya kebetulan, Sahara punya nama yang mirip dengan Sarah pada sinetron Betawi yang melegenda itu.

Sebagaimana Doel yang saleh, cerdas, dan tampan, Farabi pun demikian. Farabi dihadapkan pada dua pilihan; gadis kota yang cantik dan modern atau gadis desa yang lembut dan sederhana. Seperti Sarah dan Zainab, kan?

Kalaupun memang terinspirasi oleh sinetron itu, ya tak masalah. Yang jadi masalah (menurutku) adalah betapa sempurnanya seorang Farabi. Saking sempurnanya, gadis mana pun yang sempat berinteraksi dengannya, akan jatuh cinta. Apakah faktor alis tebalnya yang sering bertaut itu? Entahlah, standar ganteng setiap orang itu berbeda.

Jadi teringat pula dengan Fahri-nya Kang Abik yang bak malaikat. Tahu kan betapa banyak caci maki yang didapat Habiburrahman El-Shirazy saat "Ayat-Ayat Cinta" mengguncang dunia perbukuan, hingga merambah ke layar lebar?

Meski banyak yang mengkritik dengan syahwat—karena sakit sekali hatinya, sastra Islami bisa selaris itu—tapi aku cukup setuju pada poin kesempurnaan seorang Fahri. Begitu pun Farabi.

Bisa jadi, bukan faktor tampang yang membuat Farabi laris manis. Barangkali sikapnya yang ramah dan tuturnya yang baik. Nah, kesimpulan ini harus kubuat sendiri, tanpa ada penjelasan dari penulis (atau terlewat dari mataku, ya?)

Belum lagi adegan Sahara mengejar-ngejar cinta Farabi yang bak FTV. Sebagai perempuan, jengkel aku membacanya. Tapi siapa tahu, perempuan lain memang begitu. Toh penulisnya juga perempuan, tentulah dia sudah melakukan riset walau kecil-kecilan.

Ternyata Anggota FLP 

Awal 2000-an, buku kumcer (kumpulan cerita pendek) membanjiri pasar. Bisa dibilang, separuhnya berlabel logo FLP (Forum Lingkar Pnea). Awalnya itu merupakan sebuah kebanggaan, sampai kemudian, euforia sastra Islami mengalami titik balik.

Setiap melihat logo FLP pada buku kumcer, orang akan mengembalikannya ke rak. Tidak jadi membeli, atau bahkan sekadar meminjam di perpustakaan. Apa pasal? Kebanyakan anggota FLP menghasilkan karya yang keasmanadia-asmanadiaan atau kehelvy-helvyan. Bahkan ada semacam cemooh, isi cerpen anak FLP dari Sabang sampai Merauke, ya begitu-begitulah!

Semua menjadikan Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa sebagai panutan, bahkan standar dalam segala hal. Untunglah kemudian ada Alimuddin dari Aceh, Ragdi F. Daye Sumbar, Azwar, Benny Arnas, dll, yang mampu lepas dari bayang-bayang para pendiri FLP itu.

Eh, jangan bilang tak kenal FLP, ya? Itu komunitas penulis terbesar di Indonesia loh! Dan aku adalah salah satu pendirinya untuk wilayah Jambi, sihiiy!

Novel Sebuah Janji di Pulau Kecil ternyata adalah karya salah satu dari penulis FLP. Tidak seperti dulu, yang mana gaya bahasa dan alur ceritanya gampang tertebak milik penulis FLP, novel ini tidak sedemikian gamblang. Tapi bahwa penulisnya berada dalam gerbong “ikhwan-akhwat komunitas hijrah”, jelas terasa.

Yang paling penting adalah, nilai-nilai Islam yang dibawa penulis ini tidak terkesan dipaksakan. Bukan asal tempel, seperti yang kadang dilakukan oleh beberapa penulis pemula. Dan yang lebih menggembirakan adalah, pilihan kata yang digunakan ternyata banyak yang sesuai dengan EBI (Ejaan Bahasa Indonesia)—dulu disebut EYD (Ejaan yang Disempurnakan). Sepertinya penulis terbiasa membuka KBBI.

Alhasil, kerjaku tak terlalu keras untuk memperbaiki agar sesuai PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia). Hanya sedikit saltik dan kalimat rancu akibat perubahan nama dengan cara instan lewat menu replace. By the way, kamu kenal penulisnya?

Sejak bukunya ada di tanganmu nanti, jangan pernah lupa pada Ilma Wahid. Penulis asal Riau yang mengenalkanmu pada Farabi, si Daeng Pujaan. Farabi adalah cowok panutan masa kini yang berhasil memenangkan cinta halal di atas syahwat, yang sebenarnya mudah saja diperturutkan.

Setelah naik turun emosi menyimak kisah cinta, bisnis, dan usaha Farabi memajukan madrasahnya, kamu akan dipaksa membuka kembali halaman awal, begitu melihat bagaimana Ilma menuntaskan kisah ini. Kamu pikir Farabi akhirnya menikah dengan Hafshah? Atau Sahara? Dijamin kamu salah menebak!

Jangan pula mengira Farabi jadi homo, atau memilih jadi jomlo sampai lansia. Cek saja ketersediaan novelnya di Penerbit Salim Media Indonesia!

5 comments:

  1. Jujur banget ulasannya.
    Suka aku tuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. pencitraan udah abis di 2019 kak, kena banjir

      Delete
  2. Thanks kak...
    Harus banyak belajar lg. Semoga esok ilma bisa ciptakan Farabi 2 yg lebih tidak bermasalah 😅
    Btw,ilma suka gaya bahasa kakak, santuy tapi keren... Hm

    ReplyDelete
  3. nah dia muncul! semoga segera punya blog, dan makin produktif. aamiin

    ReplyDelete
  4. Haha...
    Jadi malu ilma. Kmren sempat punya blog tapi lupa di urus. Maafkeun.
    Aamiin, semoga kita sama2 sukses...

    ReplyDelete