Arti Playing Victim dan 8 Cirinya yang Sering Tak Disadari

, , No Comments
Arti Playing Victim


Arti Playing Victim adalah … masih ada yang cari itu di Google? Padahal kalimat ini sudah ramai dipakai sejak zaman SBY. Karena waktu itu presiden kita dianggap punya sikap begitu. Benar atau enggak, aku gak tahu. Dan gak mau tahu.

Kalau diterjemahkan dengan Google Translate, bisa bikin sariawan. Memainkan korban.
Tapi kalau dibumbui sedikit nalar, kita akan tahu bahwa arti playing victim adalah orang yang bertingkah seolah menjadi korban. Padahal dialah sebab dari terjadinya sebuah peristiwa buruk. Lebih kurang begitu.

Kukutip dari Brightside, ada banyak orang yang tidak menyadari bahwa dirinya sebenarnya telah melakukan playing victim. Jadi bukan perbuatan yang terniat, namun tetap hasilnya tidak baik.
Arti playing victim sudah, sekarang kita simak ciri-ciri pelaku playing victim yuk!

Ciri atau Tanda Seseorang Melakukan Playing Victim


#1 Suka mengasihani diri sendiri

Seorang pelaku playing victim merasa dirinya adalah manusia yang lemah, dunia ini terlalu kejam baginya. Tak sampai di situ, ia akan mencitrakan hal ini pada semua orang. Membuat banyak orang yang berinteraksi dengannya setuju, bahwa ia layak dikasihani.

#2 Manipulatif

Seseorang yang selalu butuh simpati orang lain umumnya adalah pelaku playing victim. Mereka bahkan mau berakting seolah sangat tak berdaya saking hausnya akan perhatian orang lain. Tak perlu sok-sok membantu, sebab jika tak sesuai harapannya, kamu malah bisa disalahkan.

#3 Bergantung pada orang lain

Setelah mendapatkan korban yang peduli, maka orang-orang dengan kebiasaan playing victim akan menjadikannya inang. Selalu dimintai pertolongan dan sulit melepaskan diri.

#4 Tidak berusaha berubah

Sesakti apa pun seorang motivator, tidak akan mampu mengubah seseorang kecuali atas tekad yang bersangkutan itu sendiri. Kamu yang telanjur terjerat pada si playing victim tak akan mampu mengubah mereka menjadi lebih mandiri.
Butuh keajaiban besar, sebab mereka tidak pernah berniat berubah. Untuk menyelamatkan diri, yang perlu kamu lakukan hanya meninggalkan mereka. Nasihatmu tidak laku!

💥 8 Gejala Depresi Terselubung yang Tidak Disadari 💥

#5 Tidak mempercayai orang lain

Ada orang yang bisa dipercaya, ada pula yang tidak. Orang yang sangat sulit mempercayai orang lain, pada dasarnya adalah orang yang sulit diberi kepercayaan. Kenapa demikian?
Sebab apa yang ada di kepalanya, ia kira juga ada di kepala orang lain. Orang yang terbiasa bersikap playing victim mengira orang lain juga demikian, sehingga ia tak bisa mempercayai siapa pun.

#6 Selalu menganggap orang lain lebih beruntung

Karena selalu mengasihani diri dan tak mau berubah, orang-orang dengan perilaku playing victim cenderung melihat kehidupan dengan cara mendongak ke atas. Orang lain selalu lebih beruntung darinya.
Sikap demikian tentu saja membuat mereka (atau jangan-jangan kita?) sulit bersyukur dan selalu merasa kekurangan.

#7 Antikritik dan mudah berprasangka buruk

Inilah yang membuat mereka sulit berubah. Jika dinasihati, orang-orang ini (sekali lagi--yang bisa jadi adalah kita) berprasangka orang yang menasihati punya niat buruk terhadapnya.
Sulit bagi mereka untuk introspeksi diri. Yang ada hanya ketidakberdayaan dan hak untuk ditolong terus menerus.

#8 Tidak bertanggung jawab

Orang-orang dengan mentalitas playing victim dipastikan bukan pribadi yang bertanggung jawab. Semua kesalahan adalah milik orang lain. Bukankah untuk dirinya sendiri mereka bergantung pada orang lain?
Untungnya mereka tak mau ambil risiko. Tapi ya itu, jika ada yang salah, itu karena si ini atau si itu. Kecil kemungkinan mereka mengakui kesalahan, apalagi sampai mau bertanggung jawab.

Coba baca baik-baik 8 poin di atas, apakah sikap itu milik orang dekatmu? Atau malah milikmu sendiri? Kalau sulit dinasihati dan tak mau berubah, jadi bagaimana mengobatinya?

Memperbaiki Mental Playing Victim

Meski playing victim secara khusus bukan gangguan mental, dan pastinya bukan kondisi mental yang sehat juga! Malah bisa jadi ketidaknormalan yang kompleks, obat terbaik bagi setiap urusan psikis adalah spiritualitas.

Tahu kan apa itu spiritualitas? Iya, agama. Keyakinan dan kepasrahan pada Tuhan adalah terapi mental terbaik. Cek ke psikolog kenalanmu kalau tak percaya!



sumber

0 komentar:

Post a Comment