Kenangan Menulis di UC News

, , 14 comments
menulis di uc
Tampilan dashboard UC News

Akhir 2016, aku resign dari kantor setelah 7 tahun nguli di sana. Sejak jadi pengangguran, langsung main dengan laptop lagi. Memutuskan diri hanya akan jadi penulis, seperti mimpiku dulu.

Hampir setahun aku kelayapan di rimba internet, mencari peluang dapat cuan dari rumah. Sempat dapat tawaran kerja di sana sini, tapi aku sedang lelah berurusan dengan banyak manusia. Ternyata stay at home itu enak!

Berkenalan dengan UC

Aku sih sudah punya blog sejak 2007. Tahu sendiri, kebiasaan kaum alay adalah bikin akun berbiji-biji, lalu ditinggal. Terakhir blogku yang kelahiran 2009 kuprivat aja karena banyak cerita yang bisa diremake dan pajang ke platform tertentu. Duit woi duit!

Gak kuterusin juga karena kontennya gak menjual. Kalau iluvtari kan lumayan, kecuali mungkin postingan satu ini. Asli cuma cerita ngalor ngudel. Ngidul! Bodo, suka-suka aku.

Juli atau Agustus 2017 aku nyasar ke UC News. Lupa blas dari mana jalannya, pokoknya akun pertamaku niche-nya lifestyle. Mampus-mampusan cuma untuk posting satu artikel. Rasanya sudah dibuat sesuai ketentuan, tapi tetep aja gak lolos.

Dasar rezeki, tahu-tahu ada info kelas online dari FLP bekerja sama dengan UC. Aku gak ikut sih, tapi pakai jurus orang dalam, tahu-tahu gabung aja di WAG-nya.

Gak usah iri kalau kubilang orang dalam. Aku kan biangnya FLP di Jambi. Huu, sombong! Zaman Mbak Asma Nadia masih gampang ditelepon, aku asyik aja ngobrol dengan sekian banyak mbak-mbak di FLP Pusat. Sekarang ya mana kenal mereka. Bodo amatlah. Apa hebatnya dikenal orang terkenal.

Sebentar, tahu kan UC News? Dulu nempel di UC Browser. Peramban yang enak aja dipakai download, pencekal iklan terbaik. Jadi di masa jayanya, UC Browser adalah musuh para blogger. Nah, aku dulu di pihak sana.

Sekarang aku berkhianat! 

Gak juga sih. Justru aku yang dikhianati, aw aw sedihnya. Nah dari WAG FLP itulah, diselingi wapri ke Kak Koko Nata, akhirnya aku berhasil menerbitkan artikel di UC. Dapat duit? Belum.
Kebiasaan sejak dulu, aku adalah tukang intip di grup. Jarang muncul tapi menyimak. Dari grup FLP, aku diajak gabung ke grup lain oleh Jumardi Salam. Entah siapa itu, aku lupa. Yang jelas anak FLP juga.

Dari dua grup itu, kusimpulkan pembaca UC mayoritas adalah laki-laki, bocah alay, dan kaum yang sebenarnya gak suka baca. Jadi, aku buat akun lagi dengan nama yang sama dengan blog ini. 

Total akun UC-ku ada tiga. Dan akun terlaris adalah iluvtari, yang isinya kebanyakan humor. Sebentar saja iluvtari punya follower puluhan ribu. Sehari bisa ratusan yang follow. Entah orang entah robot tau deh!

Views artikel ratusan ribu tiap hari. Gimana caranya? Sedikit tulisan, banyakin gambar! Ditambah kesabaran kalau dibully. Yang penting dolar ngalir. Sehari bisa puluhan dolar. Asli, bukan hoaks!
menulis di UC
Semoga iluvtari yang ini suatu saat viewsnya bisa segitu, aamiin. 

Jadi pendapatanku waktu itu, 2017-2018, per bulannya lebih kurang sama dengan 3-6 bulan di kantor. Kawan-kawan segrup ada yang beli motor, laptop, bahkan rumah. Ada yang umroh juga, seleb banget dia waktu itu, aku lupa namanya. 

Kurang surga apa coba? Kerja dari rumah. Gak mikirin seragam, gak pakai bensin, gak mikirin bekal atau makan di luar. Nulis sambil selonjor pakai daster yang anginnya dari mana-mana, Tiap bulan dapat transferan dari Payoneer (kayak Paypal gitu). 

Masuk 2019, UC mulai aneh-aneh. Harga iklan turun, proyek-proyek berkurang. Makin selektif, dikit-dikit offline. Tapi aku masih bertahan. Sebulan masih bisa 1-2 juta, tetap lebih nyaman ketimbang ngantor.

Akhir 2019, feelingku mulai tak enak. Akun-akun perorangan makin keras dilarang nulis hard news. Makin lama situs-situs besar menguasai ruang. Yang biasa ambil bahan di brilio, IDN, 1Cak, makin kelimpungan. Wong web sumber malah jadi saingan!

Aku sih masih anteng, kita main luar lah ya! Sama Instagram. Pokoknya iluvtari tak terkalahkan. Walau makin ke ujung, karena bayarannya makin kecil, aku makin asal-asalan bikin artikel. Yang penting terbit.

Watak Asli UC pun Muncul

November 2019, ada program kerja sama UC dengan Lazada. Namanya Shopping 11.11, dilanjutkan pada bulan berikutnya jadi Shopping 12.12. UC dan Lazada kan sama-sama milik Alibaba.

Kreator konten diminta mereview atau sekadar me-link artikel ke halaman belanja Lazada. Nantinya setiap transaksi yang berasal dari artikel kreator, penulis berhak mendapat sekian persen dari keuntungan.

Dalam dua bulan itu, menurut catatan, aku dapat sekira $14 di luar bonus. Kawan-kawan ada yang puluhan. Tapi sampai 2020, bahkan sampai aku nulis artikel ini, angka itu tidak pernah masuk ke saldo di dashboard.

Setiap tanya ke CS, CS yang bahasanya kayak Google Translate nyuruh tanya ke koordinator grup. Charles namanya, yang tiap ditanya ngeles aja kayak bajai. Pokoknya gitu aja terus sampai Covid menyerang.
menulis di uc
Penghentian yang katanya sementara

April 2020, UC geger. Di dashboard ada pengumuman yang sebenarnya sudah kutebak akan terjadi. Penerimaan artikel dihentikan sementara sampai waktu yang tidak ditentukan. Dari sini rasanya sudah ketahuan bahwa kami gak bakal nulis di UC lagi.

Untuk menenangkan pikiran, aku berusaha berpikir positif, walau rasanya sulit. Apa hubungannya virus corona dengan artikel? Wong platform lain masih bisa jalan. 

Okelah, karena virus ini awalnya dari Cina, sekampung dengan Alibaba. Barangkali mereka memang harus tiarap bareng. Solidaritas sesama perantau.

Akhirnya UC Mati Juga

Hari berganti bulan, bulan belum jadi tahun. Masih di 2020, dashboard yang diharap-harap memberi pengumuman “selamat kreator, kalian bisa berkarya lagi!” justru mengucapkan selamat tinggal.
menulis di UC
Surat cinta yang memilukan

Pemilik akun diminta segera menarik saldo dan menyimpan kontennya. Karena per 10 September 2020 nanti, platform tidak akan bisa diakses lagi. Sumpah, sedih banget rasanya!

Setiap buka dashboard itu (yang tadinya berniat memindahkan artikel tapi karena ada 2000 lebih tanpa tombol unduh, jadi gak kuat), rasanya kenangan 2 tahun lebih terus menyertai.

Terkenang candaan kawan-kawan di grup besar dan grup-grup proyek. Mereka yang dulu sering pamer views, para mastah yang sok merendah, keluhan mereka yang artikelnya kena “begal”, dll.
menulis di uc

Saldoku di akun utama $11 (lihat di gambar teratas). Jika tiga akun ditotal sekira $30. Kalaupun bisa digabung, tetap tidak bisa ditarik, karena minimal pay out adalah $50. Untunglah iluvtari sebelum ditangguhkan masih sempat narik 50-an dolar, waktu dolar sedang tinggi-tingginya pula. Jadi gak ngenes-ngenes amat.

Teman sesama kreator humor, Rien Milansi, terakhir saldonya $48. Aku gak berani tanya gimana-gimana, takut malah bikin dia makin sedih. Aditya sekarang main Youtube tapi belum monetasi. 
Bang Mol sudah lama ngeblog dan sempat ngajarin. Sekarang WA-nya gak aktif.

Aku sendiri berakhir ke blog ini, dan Kompasiana yang ternyata lebih dari lumayan asyik untuk jadi tempat nulis. Sambil jalan aku sedang kembangkan blog baru dan mau coba lebih aktif di Kaskus. Cari yang nyaman aja.

Meski perpisahan dengan UC lewat cara yang sebenarnya ngeselin, tapi kalau ada yang bisa disapa untuk ucapkan terima kasih, rasanya pengin juga kulakukan.
Kompasiana Vs Kaskus, Pilih Mana?
Sebab bagaimana pun banyak pengalaman berharga selama berkarya di sana. Algoritma UC bisa dibilang mirip sekali dengan algoritma Google. Hanya Allah yang tahu, bahkan robotnya sendiri bakal geleng-geleng kalau ditanya caranya memilih konten.

Di UC juga aku mengenal dan belajar rewrite artikel tanpa plagiat. Dan meski harus mengikhlaskan $30 lebih itu, anggaplah sedekah karena dulu sering ngerjain CS, ngelecehin Jack Ma (padahal dia gak di Alibaba lagi kan), dan kelakuan jelek lainnya.

Sedekah kok ke UC …. Ya sih, terserah deh apa istilahnya. Yang jelas duitnya gak bisa diambil, biarpun kamu nangis keliling kampung. Jadi ikhlaskanlah, Tar!

Kata salah satu suhu di dunia blogging, hal semacam itu biasa. Itulah dinamika jadi freelancer. Aku jadi ingat vebma, blogku.id, ya gitu juga ya! Malah lebih sadis lagi. Ah sudahlah, makanya nulis di blog sendiri aja!  

14 comments:

  1. Waduh sayang banget ya. Temen2 saya juga banyak Mbak yg nulis di UC. Tapi memang sudah lama ga kedengeran lagi.
    Jadi ngingetin kasusnya Multiply yang dulu ditutup. Sedih juga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya, multiply juga ngenes. tapi emang semua yg di dunia gak ada yg abadi. halah makin jauh bahasannya

      Delete
  2. waa aku baru tau ih soal UC iniii hihihih, tapi sayang banget yaaa, sedih juga niiih, semoga diganti dengan yang lebih besar rjekinya :)

    ReplyDelete
  3. Ho ternyata platform UC ini sekarang udah tutup ya. Dulu saya sempet tertarik pengen daftar juga buat nulis di UC tapi ga jadi hehe. Waktu itu udah sempet denger sedikit selentingan negatif juga sih. Btw mba Tari beruntung lho udah sempet ngerasain dollar dari UC

    ReplyDelete
  4. Wah keren, berhasil meraup dollar dari uc news
    Saya seperakpun belum
    Mungkin saya gak tau triknya ya?

    ReplyDelete
  5. waah keren sempet bisa menarik dollar...sayang nggak bertahan lama ya Mbak?

    ReplyDelete
  6. Aku dulu juga nulis di UC kak, eh tapi belum semakmur kak Tari lah. 2019 sudah mulai sebel dg UC dan ga nulis di sana lagi (seperti kebanyakan orang juga). Lah sekarang baru tahu kalau Uc udah mau tutup (haduh, apa aku kelewatan cek email?). Auto pengen cek saldo dong, eh tapi tadi servernya sibuk.

    ReplyDelete
  7. Saluutt~
    Aku belum pernah nulis di UC taoi denger-denger...temen-temen yang nulis di sana pada sukses.
    Kan pengen juga yaa..

    Eh, kok uda kolabs aja niih..
    Huhhuu~

    ReplyDelete
  8. Wah ada nama saya wkwk..

    ReplyDelete
  9. pantesan saya kemarin mau rencana cari-cari platform yang menerima writer konten. Saya coba UC tapi ga ada pilihan buat daftar baru...saya coba IDN juga kesel karena tulisan-tulisan saya ga ada yang di publish, artikel-artikel yang cuma copy gambar dari google malah banyak masuk...

    Jadi sekarang cuma ngurus blog sama sesekali buat artikel di kaskus....mungkin gara2 pandemi, para pemilik produk lg susah-susahnya jadi mikir2x kalau mau ngiklan di platform2 semacam UC, brillio dan plafform sejenis, jadi berimbas ke kita deh..hehhe

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya juga sih. mudah2an pandemi segera berakhir

      Delete