Cerita Kopi dan Covid

, , 2 comments
torabika creamy latte produk mayora

Pernah dengar kan, kabar kalau orang dengan golongan darah O adalah yang persentasenya paling sedikit kena covid? Ternyata berita tsb valid. 

Tapi tidak berarti orang dengan goldar O lantas kebal covid. Ya ngawur kalau menyimpulkan begitu. Horee, silakan para golongan O gembira sebentar!

Walaupun virus Corona rada pilih kasih, tidak demikian dengan dunia. Allah Maha Adil. Oke kalian punya daya tahan tubuh cukup kuat, kata dunia. Tapi jangan senang dulu, sebab kalian adalah manusia yang paling diminati nyamuk, dan sebagian besar kalian adalah penderita mag!

Ayo ayo, yang golongan darahnya O …. Mulai mengingat-ingat, mulai coba-coba membantah. Silakan saja, bikin artikel di blog sendiri ya!

Aku adalah satu dari sekian manusia bergoldar O. Gak nanyaaa. Dan itulah yang terjadi, sudah pakai baju terang pun, masih dipuja-puja oleh nyamuk. Kabarnya, darah O punya aroma tertentu yang membuat nyamuk tergila-gila.

Alhasil, aku punya malaria. Kalau baca-baca cerita orang yang kena covid, kayaknya mirip deh dengan deritaku awal kena malaria dulu. Badan terasa remuk, mulut pahit, muntah, demam, dll. Bonus kepala sakit sampai rasa melayang dan menggigil hebat, itu malaria. Sumpah, rasanya pengin mati!

Jangan sampai kambuh deh, na’udzubillah. Lama pula sembuhnya itu, aku sampai gak sekolah 9 hari. Kejadiannya waktu kelas 2 SMA, tahun 2001. Tuaaa.

Lain lagi dengan mag. Terdengar remeh tapi sering kambuh dan ngeselin. Ya gimana gak kambuh, kalau tiap hari ngopi. Itulah.

Sudah minum perasan jeruk nipis, lemon, jahe, madu, antacid, kapsul yang bunyi-bunyi (gak inget namanya), dan macam-macam obat. Ternyata cara mengurangi derita mag adalah kurangi kopi.

Bukan referensi dari sana sini, gak pakai gugel-gugelan. Semua kurasakan sendiri. Dulu sehari bisa ngopi 4 gelas, sekarang 2 saja kadang semaput.

torabika creamy latte produk mayora
instagram.com/torabikacreamylatte
Makanya, selain kurangi ngopi, aku juga ganti produk. Kopi hitam kuselingi dengan kopi yang lebih ramah. Favoritku Torabika Creamy Latte. Kopinya lembut, dan manisnya bisa diatur.

Pembaca taulah ya, kenapa bisa diatur. Karena gula dan kopinya terpisah. Kalau sudah menyatu emang susah diatur. Sebab mereka bersatupadu, saling menguatkan hingga tak terpisahkan. Teros terooss!

Percaya gak percaya, suamiku kalau beliin Torabika Creamy Latte, itu langsung 3 renceng! Mungkin karena sayang istri. Tapi yang lebih jelas, dia males bolak-balik belanja. Untuk dia sendiri, biasanya pilih yang Susu Jahe. 

Aku lebih suka menikmati Torabika Creamy Latte tanpa gula sama sekali. Tetap enak kok, gak pahit kayak kehidupan. Gulanya nganggur dong? Nggak, mereka kukasih kerjaan untuk membuat kopi hitam jadi agak manis.

Aku memang tidak suka kopi manis. Karena aku sudah manis. Klasik, tapi anak dan suamiku percaya itu!  

Oh  ya, selama ini aku nggak ngeh kalo berbagai kopi merek Torabika ternyata adalah produk Mayora. Biasanya kalau beli makanan dan minuman, yang dicek itu label halal, tanggal expired, dan bahan-bahan.

Dan pas coba-coba baca info tentang Mayora, ternyata yang selama ini dikonsumsi ya barang-barang mereka juga. Ada Energen, Beng-beng, Choki-choki, Better, Slai O Lai, Kiss, Kopiko, dll. 

Tuh, pada familier kan dengan merek-merek tsb? Ya gitu deh. Aku gak sedang rekomendasiin kopi tertentu yang bikin kamu aman dari mag, malaria, apalagi covid.

Aku cuma mau bilang, kalau tanpa kopi hidup terasa hampa. Syukurnya banyak alternatif yang bisa dipilih. Apakah kopi bikin kreatif? Nggak. Kopi bikin mules dan kembung. Kalau kamu lebay mengonsumsinya.

2 comments:

  1. saya bukan pemilik darah O tapi nyamuk tetep suka sama saya mbak, deket deket terus, ngejar ngejar terus gimana ni

    ReplyDelete
    Replies
    1. kamu punya utang gak? hehe, kidding

      Delete