4 Fakta Ngenes Muslim Indonesia
harianterbit.com

Ada yang bilang, Islam adalah agama termuda di Indonesia, datang belakangan setelah agama-agama lain di dunia. Tapi ada pula sumber lain yang menyebutkan bahwa Islam sudah sampai di Nusantara bahkan sejak Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam masih hidup.

Kamu percaya yang mana?

Yang wajib kita percaya adalah Islam itu agama yang akan sampai risalahnya hingga ke seluruh dunia. Kapan muncul di Indonesia, sebelum Nabi wafat atau setelah ganti presiden, tidak berpengaruh apa pun pada keyakinan kita terhadap kebenaran Islam.

Meski Indonesia merupakan negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia, bukan berarti umat Islam di negara ini benar-benar bersikap atau diperlakukan layaknya kelompok yang besar (mayoritas). Justru sebaliknya, banyak fakta ngenes yang memang harus kita jalani. Suka atau terpaksa.

Kalau kamu baca list di bawah ini dan bandingkan dengan kenyataan di sekitarmu, apakah kamu setuju? Atau punya pendapat lain? Jangan lupa tinggalkan komentar, ya!

Jumlah Umat Islam Menurun

Iya, kita memang masih mayoritas. Tapi secara persentase, dari keseluruhan penduduk Indonesia, kita tidak lagi berada di angka 90-an% seperti yang pernah terjadi di tahun 1980-an. Tahun 2010, menurut ketua MUI saat itu, jumlah muslim di Indonesia hanya 85,1%.

Kenapa itu terjadi? Ada banyak faktor, di antaranya jumlah anak dari pasangan muslim yang sedikit, permurtadan, dll.

Sedikitnya jumlah anak bisa karena program KB dari pemerintah, keinginan pasangan itu sendiri, atau faktor lain seperti kurang subur, menikah di usia kelewat matang, penyakit, dsb.

Sedangkan pemurtadan menjadi subur karena lemahnya iman disebabkan faktor ekonomi, pernikahan, dll. Sebagian kecil merasa mendapat “hidayah” lewat mimpi.

Meski ngenes, kita tak perlu khawatir dengan jumlah ini. Sebab di Indonesia orang-orang Islam murtad karena mimpi dan mi instan, di luar sana orang-orang kafir menjadi mualaf lewat pemikiran dan penemuan. Anggap saja seleksi.

Menurut Pusat Penelitian Pew di Washington DC, jumlah umat Islam dunia akan meningkat 70% pada 2060. Di Eropa, Islam adalah agama dengan perkembangan yang paling cepat.

Kurang Peduli

Menurutmu, mana yang paling militan; muslim Arab, muslim Palestina, atau muslim Prancis?

Aku punya pendapat sendiri. Bebas ya, mau setuju atau enggak. Muslim Palestina adalah yang paling militan, disusul Prancis, dan Arab pada posisi terakhir. Alasannya, tekanan.

Palestina, terutama Gaza, berada pada kondisi perang. Hal ini menyebabkan mereka lebih bersemangat dalam hal beramal (ibadah dan perjuangan), karena maut terasa dekat. Prancis, meski tidak perang, tapi Islam adalah agama minoritas di sana, bahkan di Eropa. Perlu aksi nyata untuk memperjuangkan keyakinan di antara orang-orang yang tidak sepemikiran dengan kita.

Arab? Tak perlu perjuangan untuk menutup aurat di tempat ini. Malah kaum feminis yang bekerja keras di sana. Jadi, muslim dan muslimah Arab adalah makhluk Tuhan paling santuy.

Faktor Indonesia sebagai negara dengan jumlah muslim terbanyak, menjadikan kita lalai. Padahal hukum di Indonesia tidak berdasarkan agama, sebagaimana Arab. Malah kalau mau diakui, mualaf di negeri ini jauh lebih religius daripada kita yang “kebetulan” lahir sebagai muslim.

Alhasil, kita mengaku muslim tapi meninggalkan cara Islam dari aktivitas sehari-hari sampai ke hal-hal besar. Siapa yang masih minum tangan kiri? Yang masuk rumah tanpa salam? Yang pipis berdiri?

Di antara rekening bank milikmu, ada yang syariah?

Waktu Pemilu pilih partai apa?

Keluhan orang ketika menggunakan sistem syariah (bank, asuransi, dll) adalah faktor tarif yang umumnya memang lebih mahal. Aku pun pernah mengalami dan kecewa berat ketika mencari tahu dan mendapat jawaban, “Namanya juga syariah, ya mahal.”

Itulah jawaban terbodoh yang pernah kudapat dari seorang agen. Seharusnya dia menjelaskan bahwa syariah lebih mahal karena kita harus membayar lebih untuk beberapa ketentuan yang tidak terpenuhi, karena terbatasnya pengguna sistem syariah itu.

Alhasil ketika kita meninggalkan yang versi syariah, maka makin tak tercukupilah persyaratan tersebut. Padahal orang Islamnya banyak, tapi lembaga ekonomi Islam yang kuat tidak ada.

Sayang aku tidak menyimpan halaman penjelasan yang pernah kudapat, jauh lebih ilmiah ketimbang “mahal karena label”, yang justru membuat kaum kapitalis turut bermain di wilayah ini, dan memanfaatkan kaum muslimin yang tak paham.

Solusi gampangnya, pilih yang syariah tapi menginduk ke lembaga Islam atau minimal milik pemerintah. Biar gak dikadalin kapitalis bertopeng islami. Mereka ini yang lebih cocok disebut manipulator agama, daripada kasus mengada-ada yang kerap diembuskan untuk mengalihkan kasus yang lebih besar.

Dalam hal politik, aku juga tidak mengajak ke partai ini itu. Yang penting, pilihlah partai Islam dengan niat karena Allah. Kita tidak pernah tahu pasti mana yang betul-betul berpolitikk karena Allah, jadi serahkan saja kepada-Nya.

Golput? Sudah gak zaman! Ibarat pengin punya Ketua RT yang baik, pas pemilihan malah jalan-jalan sekeluarga. Sementara yang hobi mabuk, judi, dan joget-joget, semangat ikut pemilihan lalu memilih yang setipe dengan mereka.

Terpecah Belah

Inilah penyakit yang sejak Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam wafat, telah menggerogoti kita dan efektif menghancurkan kaum muslimin. Padahal ketika beliau datang ke Madinah, yang beliau lakukan adalah mempersaudarakan orang-orang Madinah dengan orang Mekah.

Beliau juga menyatukan Kaum Aus dan Khazraj yang semula saling bermusuhan turun temurun. Konyolnya, kita tak mampu mengambil hikmah betapa pentingnya persatuan, sedangkan musuh-musuh Islam bisa menyimpulkan, adu domba adalah cara jitu menghancurkan orang Islam.

Contohnya banyak, dari Perang Shiffin, Perang Jamal, Perang Salib, bahkan politik devide et impera yang dulu kita pelajari di sekolah, merupakan cara terbaik bagi Belanda untuk terus menguasai Hindia Belanda.

Cara yang sama digunakan oleh para penjajah modern untuk menguasai mayoritas. Sebab kalau yang banyak itu bersatu, habislah mereka.

Jadi para penjahat yang sedikit tapi licik ini, menyusupkan satu dua tokoh ke dalam kelompok Islam tertentu. Ia akan ditokohkan, dipuja-puja, lalu dianggap tak pernah salah.

Ketika ia keliru, atas nama kelompok, ada ribuan orang yang akan berdiri membelanya. Kita tak lagi membela seseorang karena agama, tapi karena kesamaan AD/ART. Ukuran kita tak lagi Al-Qur’an dan sunnah, tapi tempat kumpul dan kartu anggota.

Menganggap hanya kelompok/bangsanya yang terbaik itu sikap Yahudi. Menganggap dirinya lebih baik dari orang lain, itu sifat Iblis. Mana yang lebih keren?

Tidak Percaya Diri

Disebabkan stigmatisasi oleh kaum kafir dan munafik, umat Islam Indonesia seperti kehilangan identitas. Ada yang mau pakai celana cingkrang, takut dicap teroris. Ada anak yang mau menumbuhkan jenggot, orang tuanya keberatan.

Anak gak pacaran orang tua cemas, anak perempuan pengin pakai jilbab, orang tua ragu. Ikut pengajian dilarang, gara-gara rohis dianggap radikal. Dst dsb. Fakta kan?

Kalau orang-orang yang mengatakan jilbab tidak wajib, zina itu halal, jenggot itu tanda kebodohan, dihadapkan di depan kita, akan terlihat bahwa tampilan mereka pun islami. Yang tidak berpakaian islami, tutur katanya lembut. Serbailmiah, logikanya (seolah) dapet. Membuat kita terpesona dan gamang dengan hal-hal mendasar yang tadinya sudah kita yakini.

Ketidakpedean kita ini, membuat mereka yang membenci Islam semakin merasa gagah. Dan kita sendiri perlahan merasa tidak ada yang salah dengan semua ini. Berulang kali terjadi pelecehan terhadap Islam di Indonesia. Jangankan membela, yang mengaku muslim pun kadang justru membela penghina agamanya.

Efek dari 4 hal di atas, umat Islam Indonesia tidak berdaya. Persis seperti yang pernah disebutkan Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam,
Nyaris orang-orang kafir menyerbu dan membinasakan kalian, seperti halnya orang-orang yang menyerbu makanan di atas piring.” Seseorang berkata, “Apakah karena sedikitnya kami waktu itu?” Beliau bersabda, “Bahkan kalian waktu itu banyak sekali, tetapi kamu seperti buih di atas air. Dan Allah mencabut rasa takut musuh-musuhmu terhadap kalian serta menjangkitkan di dalam hatimu penyakit wahn.” Seseorang bertanya, “Apakah wahn itu?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR Ahmad, Al-Baihaqi, Abu Dawud).

Satu-satunya hal positif yang bisa kita ambil adalah, Nabi Muhammad memang benar-benar seorang nabi. Nyatanya ucapan beliau belasan abad lalu terbukti benar. Kalau cuma manusia biasa, mana mungkin sekian banyak ucapannya terjadi semua?

Alangkah ngenesnya kita. Sudah dikasih tahu, dikabari jauh-jauh hari, tapi gak ngerti-ngerti. Untungnya yang ngenes itu muslim, bukan Islam-nya.

Islam dijamin akan selalu ada, pasti dimenangkan. Yang gak dijamin itu, kita matinya sebagai muslim atau bukan? Astaghfirullah!

ashraf sinclair
liputan6.com

Kita semua pasti kaget dan turut berduka atas wafatnya pesinetron Ashraf Sinclair, pada Selasa (18/2/20) kemarin.

Di usia muda, tanpa berita sakit apa pun, tahu-tahu Ashraf dinyatakan wafat karena serangan jantung. Tak pelak beragam informasi dan analisis pun seliweran di internet. Apa penyebab pasti kematian suami dari Bunga Citra Lestari itu?

Berikut dua hal yang pernah dicurigai sebagai penyebab berpulangnya Ashraf:

GERD (gastroesofagheal reflux disease)



penyebab kematian ashraf sinclair
kompas.com

Ramai beredar info tentang GERD yang disebut sebagai penyebab kematian Ashraf. Beredar dari Facebook ke WhatsApp, dari satu WAG ke WAG lain. Cepat sekali!

Begini isi pesan beraroma hoaks tersebut:

Suami BCL katanya meninggal karena serangan jantung, dalam usia 40 tahun. Ada teman dokter yang bilang kemungkinan karena GERD yang menekan jantung hingga tidak berfungsi.

•••Kenapa orang bisa meninggal karena asam lambung•••???

#GERD atau MAAG

#Apa itu Gerd?
(Gastroesofagal Refluks)

#Hati hati....
Orang meninggal mendadak akibat GERD

#Mau tahu akibat dari Gerd..?

#Jika Asam Lambung itu naik ke daerah Dada maka kelak di seputar Dada akan terasa panas seperti terbakar..

… dst (panjang Men, hampir 1000 kata!)

Di akhir pesan terniat itu, nama “dr. Penisuketi, Spkl” tertulis sebagai penanda. Ketika dicari di Google, nama itu tidak dikenal.

Dokter spesialis penyakit dalam, Prof. DR. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, menanggapi pesan tersebut dengan tegas membantah.

Dikutip dari kompas.com (20/2/20), menurut Ari, GERD adalah penyakit asam lambung kronis yang tidak mengarah ke jantung, apalagi kematian mendadak.

Bahwa GERD berbahaya, benar adanya. Tapi tak ada urusan dengan jantung, Bujang!

Aku pribadi pernah mengalami GERD, waktu hamil anak kedua. Sejak SMA aku memang menderita mag, penyakit umum orang berdarah O.

Ketika hamil besar, karena tekanan janin, mag menjadi kronis. Kadang saat sedang tidur, tahu-tahu terbangun karena dada terasa panas. Bahkan tak hanya dada, asam lambung terasa hingga kerongkongan bahkan telinga!

Pantas kan kalau anak durhaka itu terkutuk? Hamilnya aja susah, belum nguliahin dan biaya nikah.

Olahraga Crossfit


penyebab kematian ashraf sinclair
pixabay

Ada pula yang mengira-ngira Ashraf meninggal karena crossfit. Jenis olahraga yang dibuat oleh Greg Glassman, seorang mantan pesenam.

Crossfit sendiri sudah ditekuni Ashraf sejak tujuh tahun silam. Inilah yang membuat istruktur crossfit Asraf, Oka Tripambudi, menolak tudingan crossfit sebagai penyebab kematian artis tersebut.

Crossfit menggabungkan berbagai gerakan olahraga, fungsinya untuk meningkatkan kebugaran dan membantu agar mampu bergerak lebih baik.

Tapi dari berbagai sumber, kudapati bahwa crossfit memang memacu jantung bekerja lebih keras. Ditambah terapi emsculpt, yang alatnya sempat diendors almarhum Ashraf dalam postingan Instagramnya, bisa jadi tubuh artis ini mengalami kelelahan.

Tapi tetap saja, belum ada kepastian apakah crossfit atau emsculpt yang menjadi sebab kematian Ashraf Sinclair.

BCL sendiri tidak tertarik mencari tahu. Setidaknya begitu kesimpulanku saat ini, dilihat dari berbagai berita yang wara-wiri di Chrome maupun UC Browser.

Setelah membaca berbagai artikel, menonton berbagai video, dan analisis remeh seorang makhluk biasa, kusimpulkan bukan GERD, bukan pula crossfit dan emsculpt, inilah sebab paling pasti kematian Ashraf Sinclair.

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS. Al-Araf: 34)

Yup, ajal. Semua orang pasti sepakat.

Jangan bilang tidak ilmiah, tapi sunnatullah-nya belum ketemu. Masalahnya, seberapa penting mengetahui sebab kematian seseorang kalau tidak ada tersangka yang bisa disalahkan?

Hematku sih tak usah diperdebatkan, apalagi tuding sana sini. Biarkan Asraf Sinclair beristirahat dengan tenang. Doakan saja almarhum mendapat tempat terbaik, keluarganya tabah, dan masyarakat mampu mengambil hikmah.
السلام عليكم
Weis, ada kemajuan sekarang. Pakai salam!

Gara-gara di salah satu platform tempatku nulis, tahu-tahu artikel berkali-kali ditolak dengan alasan yang bikin pusing.

“Ada kata/gambar/ilustrasi vulgar”. Sudah dihapus beberapa gambar, masih ditolak. Ilustrasi gak ada. Kata vulgar? Kubaca ulang seluruh kalimat. Enggak ada ah!

Eh pas kuhapus salamnya, langsung terbit! Kurang ajar gak sih? Banget. Begitulah, makanya bikin platform sendiri. Itu risiko nebeng rezeki di tempat orang.

Ya sudahlah, itu hak mereka. Yang penting di blog pribadi masih aman. Bisa jadi itu juga teguran dari Allah, karena selalu lupa nulis salam di blog sendiri.

Oke, kita beralih ke pokok permasalahan. Ini adalah artikel rewrite, yang mungkin aku adalah orang kesekian yang menulis ulangnya. Karena menurutku menarik!

Meski rewrite, insyaallah bukan plagiat dan lolos check plagiarism. Kok yakin? Karena aku (sepertinya) enggak pernah menyalin-tempel kalimat orang lain. Tulis ulang versiku adalah baca artikel yang sudah ada, pahami, lalu tulis dengan bahasa sendiri. Seperti yang berikut ini!

Awas Tertipu! 10 Benda Ini Tidak Bisa Dimakan

Teknologi terkini kian memanjakan kita. Hal-hal yang dulu rasanya tak masuk akal, sekarang bisa dilakukan dengan mudah.

Salah satunya mengambil gambar di kejauhan, dari tempat yang tak terjangkau, semua bisa dilakukan dengan drone. Penggunaan drone bahkan tidak lagi dimonopoli kalangan tertentu.

Tapi kita bukan sedang membahas drone ya, Guys! Melainkan foto tangkapannya yang bikin bergidik. Dikutip dari intisari.grid.id (16/2/20), inilah 5 di antara sekian banyak foto mengerikan yang berhasil diabadikan dengan drone.
1. Buaya raksasa di Papua Nugini ini layak disebut monster, bandingkan ukurannya dengan babi yang ada di mulutnya itu!
foto kamera drone


2. Seorang pilot drone yang ingin mengabadikan keseruannya bermain selancar justru mendapati saudaranya berada terlalu dekat dengan hiu.
foto kamera drone

3. Inilah penampakan Auschwitz dari atas. Auschwitz adalah kamp konsentrasi NAZI yang paling terkenal, letaknya di Polandia.
foto kamera drone

4. Gambar ini ditangkap tanpa sengaja oleh Bo Bridges, seorang fotografer olahraga, saat merekam temannya yang sedang bermain seluncur.
foto kamera drone


5. Diabadikan oleh salah satu kelompok ISIS ketika mereka mengeksekusi seseorang yang dianggap menghina Tuhan.
foto kamera drone

sumber foto dan berita: therichest.com

virus corona di indonesia
shutterstock

Tak kenal maka tak sayang, ini pepatah lama. Tak kenal maka ta’aruf, yang ini hasil modifikasi.
Tak tahu maka tak tertular, ini kerjaanku aja. Terkait virus yang namanya cantik tapi kelakuannya kurang ajar. Gak usah main tebak-tebakan, satu bumi tahu jawabannya: Corona.

Wabah dari Wuhan ini sudah meluas ke berbagai negara, Alhamdulillah belum ada laporan kasus Corona di Indonesia. Tapi, menurut banyak pihak di luar sana (peneliti, media, dan netijen pastinya!) virus itu sudah ada di Indonesia, tapi orang Indonesia yang enggak ngerti.
Itu analisis atau harapan sih?

Masih menurut pihak luar sana, Indonesia belum punya alat yang bisa mendeteksi virus tersebut. Apalagi melihat hubungan Indonesia-Cina yang semesra sahabat bagai kedondong, gak mungkin virus itu gak kebawa. Wong jumlah warga Cina di Indonesia meluber begini.

Menteri kesehatan jelas membantah, dengan aneka dalih yang negara punya. Media cari mana yang ramai dan menghasilkan traffic bagus. Kalau perlu panas-panasi tross, biar rating naik.

Yang paling kreatif itu warganet. Pakai celoteh lah, meme lah, pokoknya dibikin asik! Tentunya dengan sentuhan dark humor. Salah satunya seperti gambar di bawah ini.

virus corona di indonesia

Sedikit (banget) Tentang Corona

Nama panjangnya Novel Coronavirus, dikasih kode cantik 2019-nCoV. Kata para ahli ditularkan oleh ular, mirip dengan SARS di tahun 2002/2003, yang ditularkan oleh musang.

Baik ular maupun musang, dapat virus itu dari kelelawar yang mereka makan. Ya maklum kalau ular atau musang makan kelelawar. Lah manusia? Tapi yang lebih hebatnya lagi, kelelawarnya justru sehat walafiat. Mungkin banyak begadang.

Itu kelelawar … manusia gak boleh. Kalau kelelawar siang gelantungan, malam cari makan. Kalau manusia siang makan nasi, malam minum susu.

Begadang itu sesuai dengan kelelawar karena tubuh mereka sudah didesain sedemikian rupa untuk jadi makhluk nokturnal. Kalau manusia ikut begadang, maka dia sudah menyalahi sunatullah yang ada di dalam Al-Qur’an; malam istirahat siang mencari nafkah (28: 73, 6: 60, 6: 96, 25: 47, 30:23, 27: 86, 10:67, 40:61)

Itu angka apa, Mak? Al-Qur’an surah sekian ayat sekian. Supaya kamu buka mushaf untuk baca langsung. Gak usah manja!

Kalau sunatullah dilanggar, pasti ada efek buruknya. Begitu pula dengan larangan yang ada di Al-Qur’an, misalnya terkait makanan. Dan gak perlu dibahas juga tentang keharaman kelelawar.

Nanti ngeles, di Al-Qur’an gak ada kelelawar. Anjing aja enggak ada. Bahkan laptop gak ada ditulis di Al-Qur’an, jadi boleh kamu kunyah semampunya!

Beda Gejala Corona dengan Flu Biasa

Kalau badan sedang letih, biasanya kita mengalami flu ringan (pilek). Gejalanya sakit tenggorokan, hidung tersumbat, batuk, demam ringan, kadang kepala dan badan terasa sakit-sakit.

Tapi dalam lima sampai tujuh hari, bahkan beberapa orang malah lebih cepat, keadaan sudah membaik.

Beda dengan influenza yang lumayan berat. Gejala flu diikuti dengan panas tinggi, diare, menggigil, mata kering, dll. Jika tidak segera diobati, bisa memburuk jadi pneumonia.

Infeksi virus Corona menghasilkan gejala pernapasan yang umum, mirip dengan pilek dan influenza. Tapi sampai empat belas hari, gejala ini masih ada. Tak hanya memburuk jadi pneumonia, virus Corona juga bisa mengakibatkan gagal ginjal hingga kematian.

Jadi, Apa Corona Ada di Indonesia?

Aku sih menebaknya ada. Karena kalau dipikir-pikir, bener juga kata para bule. Di Singapura, Malaysia, dan beberapa negara Asia sudah ada laporan pasien Corona. Padahal iklim mereka gak jauh beda dengan kita.

Sama seperti tebakanku, pernyataan para peneliti tersebut sebenarnya bukan tuduhan (ini opini pribadi ya, kan nulisnya juga di blog pribadi. Beli domain pakai duitku sendiri).

Pernyataan mereka lebih kepada kekhawatiran (plus bumbu kritik), mengingat banyaknya jumlah warga Cina di Indonesia dan lemahnya pemerintah Indonesia terhadap tekanan Cina.

Misalnya ketika pemerintah Cina menganggap Indonesia lebay, pemerintah kita lewat jubir presiden justru buru-buru merilis pernyataan bahwa Indonesia tetap mengimpor barang-barang dari Cina kecuali hewan hidup.

virus corona di indonesia


Belum lagi pernyataan salah satu pakar HI yang bilang pemerintah melanggar HAM jika menolak WN Cina masuk Indonesia. Wah, ini sedang melamar jadi anggota BPIP sepertinya.

Meski punya dugaan begitu, aku sih berharapnya Indonesia memang betul-betul bersih dari Corona. Minimal karena kasih sayang Allah.

Sudahlah miskin, banyak penyakit, banyak bencana, sering ditipu. Masa dikasih wabah lagi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mencegah Corona?

Pertama, banyak istighfar (mohon ampun pada Allah). Karena istighfar yang diiringi dengan khauf dan raja’ (takut ditolak tapi berharap diterima) dapat menggugurkan dosa.

Berkurangnya dosa tentu membuka jalan bagi makbulnya doa. Salah satunya doa agar selalu sehat. Masuk angin dikit gak apalah, supaya tahu enaknya sehat, jadi lebih bersyukur.

Setelah doa, tentu usaha. Nah, dikutip dari berbagai sumber, berikut ini hal-hal yang bisa dilakukan dalam rangka mencegah tertular flu Wuhan tersebut.
  1. Biasakan cuci tangan menggunakan sabun. Paling tidak butuh 20 detik untuk menggosok tangan, jadi bukan asal kena air.
  2. Jika bersin atau batuk, tutup mulut dan hidung dengan tisu. Buang tisu tersebut ke tempat sampah yang tertutup.
  3. Pada situasi dan kondisi yang memerlukan penggunaan masker, pakailah masker bedah. Bukan masker N95 yang lebih tepat dipakai saat terjadi kabut asap.
  4. Menjaga daya tahan tubuh. Banyak minum air putih, makan sayur, buah, dan makanan yang halal serta baik (tidak lupa basmalah). Jangan begadang kecuali terpaksa untuk hal superpenting.
  5. Jangan bepergian ke negara yang sedang terjangkit Corona. Bukan hanya Cina, 2019-nCoV juga sudah mewabah di Jepang, Korsel, Taiwan, Amerika, India dll. Serta terkonfirmasi ada di Thailand, Filipina, dan negara-negara Asia lainnya.


Semoga artikel ini bermanfaat ya, Guys!

update: 2019-nCoV diganti oleh WHO menjadi Covid-19


Siapa yang Membakar Masjid?
oleh Syarifah Lestari

cerpen syarifah lestari
Photo by nurhan on Unsplash

Langit merah. Terang di mana-mana, aroma khas dan panas yang menjalar tak membuat orang-orang itu berteriak. Hanya sebagian kecil dari mereka yang sibuk dengan upaya tak seberapa. Subuh itu tidak ada azan.
Pemadam kebakaran datang setelah Masjid Istimewa tuntas jadi puing. Para petugas tertegun menatapi ekspresi datar warga sekitar. Tidak ada yang berhasil menyelamatkan barang sejumput pun harta masjid. Sepertinya memang tidak ada yang mengupayakan itu.

Seorang pensiunan mengumpat-umpat. Telunjuknya menuding ke beberapa muka, tapi orang-orang yang ia tuding tak merespons. Mereka pulang begitu saja. Menutup pintu, sebagian tidur lagi. Sebagian berdangdut ria.
***
Pagi datang seperti biasa, sampai kemudian kerumunan pengguna jalan memadati sisa-sisa Masjid Istimewa. Warga setempat justru tak nampak. Hanya Pak Badru seorang, yang pada subuh tadi meneriaki siapa saja yang ia jumpai. Pak Badru tengah mendampingi polisi yang memasang garis kuning guna menghalau orang-orang yang penasaran. Ternyata ialah imam masjid yang terbakar itu.
Masjid Istimewa terletak di jalur alternatif antara dua jalan raya. Lokasinya strategis, berada di tengah kota yang sepanjang hari dilalui kendaraan bermotor dan pejalan kaki.
“Kapan terjadinya?”
“Apa sebabnya?”
“Ada korban jiwa tidak?”
Pertanyaan-pertanyaan terlontar entah dari mulut yang mana. Terlalu banyak yang bertanya, tapi tak satu pun yang menjawab. Demikian pula dengan Pak Badru.
Seorang polisi yang datang kemudian, setelah berhasil menembus ratusan orang dan kendaraan yang menutupi tempat kejadian perkara, menggandeng Pak Badru menuju mobilnya.
“Itu yang mana warga, mana orang luar, Pak?” tanya Pak Polisi yang di dadanya tertulis Sarman.
“Orang lewat semua, tidak ada warga sini.”
Dahi Sarman mengernyit. Pintu mobil terpaksa ia tutup, beberapa orang malah mengikuti mereka.
Sebelum kembali mengumpulkan informasi, Sarman memanggil rekannya, mungkin lebih tepat bawahannya, karena jelas sekali ia memberi perintah kepada yang dipanggil. Inti dari instruksi Sarman adalah membubarkan massa yang mengerubungi TKP.
“Jadi waktu kebakaran Bapak ada di mana?” Sarman kembali pada Pak Badru.
“Ya di masjid, Pak. Saya yang bolak-balik ambil air untuk menyiram,” terbersit kebanggaan pada nada bicaranya.
“Dari awal terbakar Bapak sudah di sana?”
Wajah Pak Badru seketika memerah, seperti saat ia memaki para tetangganya subuh tadi. “Saya datang terlambat. Api sudah kadung besar, makanya usaha saya sia-sia.” Ia kesal sekali.
Seseorang mengetuk kaca mobil. Sarman menjeda pembicaraan. “Tim penyidik sebentar lagi sampai, nanti akan disimpulkan, kebakaran ini apa karena korsleting listrik, atau hal lain.”
“Tidak perlu, Pak. Saya tahu siapa pelakunya. Masjid ini sengaja dibakar!” kali ini Pak Badru berapi-api.
Sarman yang semula hendak membuka pintu mobil, memilih menunda niatnya. “Bapak yakin?” Sarman menatap Pak Badru.
Yang ditanya mengangguk mantap.
***
Lalu dibekuklah Febrian malam itu. Tadinya polisi agak ragu, penampilan anak muda itu begitu religius. Bercelana cingkrang, berwajah bersih, dengan janggut yang lebat. Setelah Pak Badru dan beberapa rekannya meyakinkan, barulah mereka dengan sigap menjemput Febrian dari rumah orang tuanya.
Ayah dan Ibu Febrian tidak tinggal diam, mereka memanggil para tetangga untuk melindungi anak laki-laki semata wayang itu. Adu argumentasi terjadi, tapi tak sampai adu jotos. Berakhir dengan dibawanya Febrian, dan janji warga untuk mengembalikan anak itu hidup-hidup pada keluarganya.
Pak Badru dan kelompoknya menang sesaat. Ia tak lagi menuding-nuding, tapi belum tampak kepuasan dari rona parasnya.
Seperginya polisi, warga dan keluarga besar Febrian berembuk. Mereka berencana menggalang dana untuk membayar pengacara terbaik di kota. Beberapa orang yang sepertinya agak berpihak pada Pak Badru, diusir menjauh.
Berhari-hari koran lokal memberitakan tentang kebakaran di Masjid Istimewa, titik terang belum juga ditemukan. Karena dianggap kasus yang sensitif, polisi berinisiatif mengajak warga untuk menyelesaikan kasus tersebut secara kekeluargaan.
Apalagi masjid bukan milik perorangan, membuat kasus itu kian runyam. Ketika Pak Badru memosisikan diri sebagai pelapor, orang-orang tak mengakui ia sebagai perwakilan dari warga sekitar masjid. Ditambah tabiat Pak Badru yang meledak-ledak, berbanding terbalik dengan Febrian yang tenang.
“Kita diamkan sajalah kasus ini, nanti lama-lama orang juga lupa,” kata Sarman pada rekannya.
Hampir semua mereka setuju, kecuali beberapa yang khawatir menambah buruk nama kepolisian, yang makin hari kian tak positif.
“Aku sudah mencari saksi, tidak ada warga yang mau. Malah yang lebih konyol lagi, ada di antara mereka yang bilang tak tahu ada masjid di situ. Sinting semua!” ujar Sarman kesal.
Kali ini semua rekan Sarman tertawa.
“Coba kita kumpulkan saja pihak-pihak yang sehaluan dengan Pak Badru. Barangkali bisa kita gali dari mereka.” Seseorang mengusul, Sarman yang sepertinya setuju, segera menghubungi Pak Badru.
***
“Saya ulang ya, Pak.” Seorang teman Sarman menyiapkan ketikan di depan Pak Badru dan rombongannya. “Kebakaran terjadi saat salat Subuh.”
Rombongan itu diam saja.
“Benar, Bapak-Bapak?” tanya juru ketik.
Yang ditanya saling pandang.
“Sepertinya bukan Subuh, Pak,” jawab Pak Badru. “Mungkin sebelum itu.”
“Kemarin katanya subuh hari.” Polisi itu menghapus ketikannya. Suasana hatinya sejak semula sudah tak enak, mendengar cerita rekan-rekannya yang turun ke lapangan.
Ng ... kalau subuh biasanya si Febrian sudah salat, dong. Kemarin saya lihat dia masih di rumah.”
“Lalu kenapa Febrian yang Bapak tuduh membakar? Untung keluarganya tidak menuntut balik.”
“Saya yakin dia, polisi saja yang buru-buru mengeluarkannya.” Pak Badru mendengus.
“Kasus ini disorot banyak orang, Pak. Sampai-sampai Kapolda turun melihat langsung ke TKP. Kami meneruskan kasus ini bukan karena Bapak!” tegas polisi itu.
“Febrian itu tidak suka pada kami, orang-orang tua ini.” Ucapan Pak Badru diamini teman-temannya yang segera mengangguk-angguk setuju.
“Jadi perkiraan Bapak jam berapa kejadiannya?” Polisi itu memotong.
“Kalau tidak subuh, ya malam.” Pak Badru menjawab asal, mukanya jelas sebal.
“Waktu salat Isya ada yang mencurigakan tidak?”
“Mana saya tahu,” ketus Pak Badru.
“Katanya Bapak imam masjid!” nyaris berteriak polisi itu.
“Karena saya imam masjid, makanya saya malam itu jadi pemimpin tahlil. Itu sebabnya saya tidak salat di masjid,suara Pak Badru tak kalah keras.
“Di rumah siapa tahlilnya?”
“Ini, rumah Bapak ini!” Pak Badru menunjuk salah satu temannya.
Yang ditunjuk mengangguk sekali.
“Ada azan malam itu?”
“Febrian yang azan,” jawab salah seorang teman Pak Badru langsung.
“Yang salat siapa saja?”
Tidak ada yang menjawab.
“Yang salat cuma Febrian,” lanjut polisi sekenanya. Sambil mengetik satu dua kalimat.
“Mungkin ada Soleh, Nek Sumi, atau datuk yang di ujung sana itu,teman Pak Badru yang lain mengira-ngira.
“Sudah, bilang saja tidak tahu. Yang jelas ada ya si Febrian,” yang lain menimpali.
“Yang azan Magrib Febrian juga, Pak?” tanya polisi lagi.
“Bukan! Saya yang azan,” jawab pemilik rumah tempat tahlilan, cepat.
“Tapi Febrian juga salat,” seorang lain menjawab.
Polisi itu diam. Jarinya menjauh dari papan ketik. Ia menghela napas sambil memandangi satu per satu wajah tua di depannya.
“Jangan-jangan Bapak-Bapak ini menuduh Febrian sebagai pelaku, karena dia rajin ke masjid.”
Orang-orang tua itu saling berbisik.
“Iya, Pak?”
“Bukan begitu, Nak.” Salah seorang yang paling tua maju. Agak lebih lunak dari teman-temannya. Posisi duduknya menggantikan Pak Badru. “Kami ini sudah lama jadi pengurus masjid, kami lakukan apa saja untuk membuat masjid itu nyaman didatangi. Kami ini pemakmur masjid. Kami menggalang dana dari mana-mana untuk membangun sampai masjid itu jadi yang paling megah di wilayah sana.”
Dua orang polisi yang kebetulan melintas, sengaja berhenti untuk ikut menyimak.
“Kami ini sudah tua, kami butuh penerus. Kami senang Febrian rajin ke masjid. Jadi kami minta dia jadi pengurus, sudah lama kami tak punya remaja masjid. Tapi anak itu tidak mau. Dia mau mengajar anak-anak kecil mengaji tapi minta digaji, padahal dana masjid sudah kami pakai membangun. Orang-orang yang mampir kan ingin kamar mandi yang bersih, ruangan yang sejuk, jadi infak mereka kami jadikan fasilitas. Begitu pun caleg-caleg yang datang, sumbangannya ya untuk keindahan masjid itu.”

cerpen Syarifah Lestari lainnya

Polisi yang datang bertambah.
“Si Febrian kami suruh ajak kawan-kawannya ke masjid, dia minta dana lagi. Katanya untuk para pengangguran dan orang miskin. Apa hubungannya dengan masjid? Kalau mereka kami beri uang, ya pasti makin malas. Sebagai bentuk kecewa kami padanya, Febrian tak kami beri kesempatan untuk azan, apalagi imam, selama di antara kami ada yang datang. Hanya setiap malam Jumat, waktu Isya dia bisa jadi imam, karena kami tahlilan semua. Hanya waktu Zuhur dan Asar dia bisa azan, karena biasanya di antara kami sedang tak sempat ke masjid. Itulah barangkali sebab ia nekat membakar masjid, lantaran sakit hati.”
Enam orang polisi itu tertawa-tawa mendengar penjelasan teman Pak Badru.
“Terima kasih, Bapak-Bapak. Pengakuan Bapak yang barusan ini sudah saya rekam.” Juru ketik itu menunjukkan ponsel pintar di tangannya. “Nanti kalau ada kesempatan biar saya ketik dan lapor ke atasan. Ini sepertinya kasus balas dendam yang berujung pembakaran.” Senyum kecut polisi itu menutup pertemuan.
Baik teman-teman Pak Badru maupun teman-teman Sarman sama tertawa senang.
***
“Kapan puing-puing itu dibereskan? Aku sudah tidak sabar main bola di sana.” Febrian dan teman-temannya duduk melingkar, tak jauh dari sisa Masjid Istimewa.
“Kita mengaku saja semua, biar kasusnya selesai, jadi garis polisi itu bisa cepat disingkirkan,saran salah seorang dari mereka, disambut derai tawa yang lain.
“Kalau dibangun masjid yang serupa lagi, bagaimana?” tanya Febrian.
“Bakar lagi!” lima remaja lain menjawab serentak. Lalu tawa lagi dan lagi.
Tawa mereka baru berhenti ketika seorang pegawai kelurahan datang membawa beberapa helai surat. Tadinya ia hendak menugaskan enam laki-laki muda itu membagikan surat yang ia bawa ke beberapa rumah di sekitar puing Masjid Istimewa. Tapi pegawai kelurahan itu membatalkan niatnya. Ini surat ketiga yang ia buat, dua sebelumnya tak diindahkan. Para warga mendadak berkepala batu.
Surat itu berisi undangan dari Pak Lurah dan polisi yang hendak mengumpulkan warga di aula kantor lurah nanti malam. Sama dengan dua surat sebelumnya, hanya diganti tanggal pelaksanaan.
Selagi pegawai itu menyambangi satu per satu rumah, seseorang dengan kalung pers di lehernya mendatangi Febrian dan teman-temannya.
“Mas mau wawancara tentang kebakaran masjid?” Febrian segera menyambut.
“Iya, saya wartawan dari Harian Ramai.”
“Mari, ikut kami!” ajak Febrian pada wartawan itu.
Bersama teman-temannya, Febrian membawa wartawan itu ke halaman sebuah rumah, tepat di depan lapangan bulu tangkis, sekira dua ratus meter dari Masjid Istimewa. Warga yang tadinya menutup pintu  karena malas didatangi pegawai kantor lurah pembawa surat, kini malah mendatangi Febrian dan wartawan yang bersamanya.
Wartawan Harian Ramai segera mewawancarai para warga. Mereka antusias menjawab, kadang bersamaan, kadang berebutan. Hal yang tidak terjadi saat penyidik dari kepolisian menanyai mereka. Kian bertambah menit, kian ramai yang mendekat pada wartawan.
Sampailah Wartawan Harian Ramai pada puncak pertanyaan. “Menurut Bapak dan Ibu, siapa yang membakar Masjid Istimewa?”
Kompak tangan-tangan di depan wartawan itu menunjuk ke satu arah. Rumah terbesar yang menghalangi pandangan mereka ke puing Masjid Istimewa.
“Siapa yang tinggal di sana?”
Belum lagi pertanyaan wartawan itu dijawab. Pak Badru membuka pintu rumahnya karena mendengar keramaian. Pandangannya berserobok dengan tatapan Wartawan Harian Ramai.
Merasa ada yang janggal, Pak Badru mendekat pada wartawan itu. Sebelum ia sampai, perlahan tapi pasti, satu per satu warga yang berkumpul pergi meninggalkan sang wartawan, sambil berbisik dan bergumam memberi petunjuk.
“Dia yang imam, yang azan, yang urusi uang, yang undang khatib. Kami mana tahu apa-apa.”
“Cuma masjid dan rumahnya yang layak pandang di sini, pasti dia yang bakar.”
“Saya bahkan belum pernah masuk masjid itu, takut kotor.”
“Si Badru itu yang tiap hari koar-koar dari toa masjid. Dia yang punya, kami tidak punya masjid.”
“Anak kami belajar mengaji di tempat lain, suami kami bosan dengan ayatnya yang itu-itu saja. Sampai-sampai kami lupa ada masjid di sini. Pasti dia yang bakar, untuk mencari perhatian.”
Pak Badru makin dekat, orang-orang makin jauh. Febrian yang terakhir meninggalkan wartawan bingung itu.