Sayang Keluarga? Hindari 7 Kebiasaan Pakai HP Begini!

, , 2 comments


kebiasaan buruk pakai hp

Kalau kamu sedang kurang kerjaan, coba deh keliling kampung untuk cari orang yang enggak punya HP. Ketemu berapa?

HP memang jadi kebutuhan penting saat ini. Tapi itu hanya bagi sebagian orang. Bagi sebagian lain, HP adalah bagian dari eksistensi. Seperti gak diakui dunia kalau gak punya HP, akun medsos, dan kuota. Dhaif bangetlah!

Tapi tahu gak sih, HP juga punya efek negatif. Tahuuu! Alah malah kayak jualan. Tau, maksudnya.
Tapi gak peduli kan? Padahal efeknya gak bisa dianggap remeh. Aku ketemu artikel tentang efek buruk penggunaan HP dalam hubungan asmara. Menurutku penting banget, jadi kubawa kemari. Bukan diterjemahkan, tapi lebih disesuaikan dengan pembaca Indonesia. Lebih Timur.

Ini menyangkut perasaan keluarga dan pasangan kalau kamu lebih tertarik meladeni HP ketimbang manusia. Aku pribadi sering interaksi dengan HP di keramaian. Alih-alih ngobrol dengan orang di kanan-kiri. Tapi berani sumpah, itu kulakukan karena belum kenal atau justru kiri kananku yang mengabaikan kehadiranku. Hiks, kasihan amat!

Sebelum HP jadi barang murah (atau punyaku yang murahan), aku biasa bawa buku untuk dibaca atau dicorat-coret saat menghadiri sebuah acara yang tidak semua pesertanya kukenal. Jadi baik HP maupun buku adalah benda pelarian. Daripada ketahuan gak bisa ngomong!

Dan inilah beberapa kebiasaan terkait HP yang bisa berakibat buruk untuk hubunganmu dengan pasangan, bahkan keluarga:

  • Senyum sendiri dan mengabaikan keingintahuan orang.

Kalau kamu sedang duduk berdua pasanganmu, kemudian ada yang lucu di layar HP, berbagilah dengannya. Terkesan remeh, tapi jangan abaikan tumpukan prasangka. Pasanganmu bisa mengira kamu tengah berinteraksi dengan lawan jenis. 

Apalagi jika kamu menolak keinginan pasangan untuk tahu apa yang membuatmu tersenyum atau bahkan tertawa saat melihat HP. Penelitian menunjukkan, pasangan yang sering tertawa bersama umumnya memiliki hubungan yang lebih langgeng daripada yang tidak. 

Jadi ingat Squidward yang ngomong ke Spongebob, “Mereka menertawaimu, bukan tertawa bersamamu!” kira-kira begitulah kata setan saat kamu memilih tertawa sendiri saat melihat HP.

  • Membawa HP ke mana pun.

Nonton TV pegang HP, tidur bawa HP, sampai makan pun ada HP di samping piring. Enggak usah lihat siapa-siapa, itu penyakit kita semua! 

Ternyata, hal ini bisa membuat pasangan curiga, ada apa sebenarnya di HP itu. Seolah ada rahasia besar yang kita gak mau itu terbongkar disebabkan HP yang tercecer. Ini bukan prasangkaku ya, malah ketika dipikir-pikir, betul juga. 

Lagi pula membawa HP ke mana pun membuat kita otomatis terpaku pada notifikasi. Baru duduk, HP bunyi. Follower IG nambah, seseorang menyebutmu di Twitter, dll. Padahal di saat lengang, tanpa ada orang, hal itu masih bisa kita ketahui. Bukan saat pasangan atau anak mau berbagi cerita.

5 Hal Berbahaya yang Dilakukan Pengguna HP

  • Phubbing.

Di salah satu acara Natgeo, aku lihat social experiment tentang phubbing (phone snubbing). Eh, sudah tahu phubbing kan? Kalau tidak salah dipadankan dengan “mabuk gawai” (tapi ketika dicek ke KBBI belum dikenal). Ya intinya begitu, asyik dengan HP dan mengabaikan orang lain. 

Ketika pada beberapa pertemuan diberlakukan aturan simpan HP, sebagai konsekuensi manusia adalah makhluk sosial, otomatis satu dengan lain orang saling bicara dan terjadilah obrolan hangat. Alhasil, selesai acara, tampak kebahagiaan yang terpancar dari seluruh peserta. Mereka merasa seolah baru saja menjadi manusia seutuhnya. Bisa ngobrol langsung! 

Di sisi lain, penelitian menunjukkan 46,3% dari 453 koresponden mengeluhkan pasangan yang phubbing. Dan 22,6% di antaranya mengaku hubungan mereka dalam masalah, gara-gara para phubber itu.

  • Sering mengecek notifikasi.

Banyak momen penting yang terlewat hanya karena meladeni pemberitahuan dari HP. Cerita anak-anak, nasihat orang tua, dll. Padahal semua notifikasi itu dapat dilihat pada satu waktu, dan bisa ditindaklanjuti pada waktu yang disediakan ketika tidak sedang bersama keluarga. 

Hanya karena ingin melihat siapa yang mengirimkan permintaan pertemanan, keluh kesah anak tentang PR dan sikap temannya jadi terlewatkan. Dan itu pasti punya efek untuk masa depannya. Tua besok, kalau dicuekin anak jangan ngeluh ya!

  • Mengurusi pekerjaan di luar jam kerja.

HP tidak hanya memudahkan urusan, tapi juga menambahnya. Pernah coba matikan data selama akhir pekan? Aku juga belum. Tos yuk! Tapi pengin. 

Dengan begitu akan ada lebih banyak waktu untuk meladeni suami/istri dan anak-anak. Pekerjaan itu penting, tapi keluarga jauh lebih penting kan? Memangnya cari duit untuk apa?

  • Pegang HP saat makan bersama.

Di kehidupan modern, makan bersama adalah momen langka. Orang-orang tua kita dulu keliru dalam menetapkan etika makan bersama. Dianggap makan yang sopan itu dengan diam dan fokus menghabiskan makanan. 

Padahal para ulama justru menganjurkan bicara saat makan untuk memunculkan keakraban. Karena momen makan adalah waktunya rileks. Beruntunglah kita yang muslim masih punya Ramadan, ada waktu sahur dan buka yang biasa dilakukan bersama keluarga. 

Tapi jika pada momen tahunan ini pun kita masih mendahulukan HP, maka bersiaplah hidup bersama orang asing di bawah atap yang sama.

  • Terlalu sering memakai emoji.


Emoji atau emotion icon berguna untuk mengekspresikan perasaan kita yang dituangkan bersanding dengan teks. Tapi kalau dipikir baik-baik, apa sih susahnya memunculkan emot ketawa waktu kita sedang nangis?

Atau sebaliknya, pilih emot menangis padahal hati kita sedang gembira. Semua itu mudah! Hanya modal jari, tanpa hati. 

Jika kita terlalu sering mengekspresikan perasaan, asli maupun palsu dengan emoji, seolah kita sedang melatih untuk memunculkan hal yang tidak selalu ada di dalam hati. Bagaimana pun, senyum dan sentuhan langsung tidak akan pernah tergantikan oleh perangkat digital mana pun. 

Raih Pahala Lewat Ponsel

Aku setuju banget kalau sekarang bermunculan imbauan berupa stiker atau apa pun dengan tulisan yang berbunyi, “ngobrollah dengan orang di samping Anda.” Bagiku pemilik kafe yang tidak menyediakan wifi, dan malah memberi imbauan begitu, lebih cerdas ketimbang yang menyediakan wifi gratis untuk menarik pelanggan. 

Tulisan ini dibuat bukan untuk siapa-siapa, tapi untuk diriku sendiri. Nanti-nanti kalau di antara pembaca iluvtari ada yang lihat pemilik blog ini asyik sendiri dengan gawainya, tolong sentil dengan tulisan ini ya! 

Kalau bisa dengan HP yang lain, bukan yang biasa dipakai berkunjung ke sini. Biar ip address-nya beda, jadi terhitung organik oleh Google. Jadi pengunjung blognya rame, jobnya banyak, iklannya laku. Penulisnya semangat, jadi makin rajin main HP! Kya kyaaaa.


Dinukil dari brightside.me dan baylor.edu dengan seabrek-abrek tambahan.

2 comments:

  1. dulu saya termasuk orang yang kecanduan sama hp mbak, sampai saya sering dengar suara nada dering yang padahal ga ada sama sekali. kan aneh ya sampe di level itu.

    kalau sekarang udah dikurangi. kalau malam, say no to kerjaan yg biasanya dikirim lewat wa. malam bukan scroll sosmed tapi baca buku

    ReplyDelete