Cari di iluvtari

Yakin Kamu Sehat? Cek Dulu Macam-macam Penyakit Mental Ini

Macam-macam Penyakit Mental
Photo by Nick Fewings on Unsplash
Dulu, kalau dengar istilah gangguan mental, gangguan jiwa, atau yang sejenis itu, yang terbayang adalah bapak-bapak gak mandi yang keluyuran dengan pakaian seadanya dan rambut awut-awutan.

Iya, orang gila. Padahal penyakit mental ternyata berbeda dengan penyakit gila. Menurut UU Kesehatan Jiwa No.18 tahun 2014, ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) adalah orang yang mempunyai masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan, dan perkembangan dan atau kualitas hidup sehingga memiliki risiko mengalami gangguan jiwa.

Sementara, ODGJ (orang dengan gangguan jiwa) adalah orang yang mengalami gangguan dalam pikiran, perilaku, dan perasaan yang bermanifestasi dalam bentuk sekumpulan gejala dan atau perubahan perilaku yang bermakna serta dapat menimbulkan penderitaan dan hambatan dalam menjalankan fungsi orang sebagai manusia.

Jadi, bipolar, skizofrenia, dsj itu, termasuk OMDK. Sedangkan yang keluyuran kayak dalam bayangan kita-kita, adalah contoh ODGJ. Kalau ODGJ gampang diketahui, OMDK kadang malah tak disadari oleh penderitanya.

Yang satu jiwanya bermasalah, satu lagi kejiwaannya sudah terganggu. Karena ODGJ sudah biasa kita lihat, jadi gak perlu dibahas lagi ya. Kita fokus ke macam-macam penyakit mental saja, yang kalau tak diobati, penderitanya mungkin bisa pindah kategori jadi ODGJ.

Macam-macam Penyakit Mental

Macam-macam Penyakit Mental
Designed by Freepik
Dari berbagai sumber kudapatkan, ada banyak macam penyakit mental. Dari sekian banyak tersebut, ada 8 macam termasuk ciri-ciri penyakit mental yang akan diulas di bawah.

Semuanya hanya kita pahami sebagai “menuju gila” karena jiwanya bermasalah. Tapi seperti kusebutkan di atas, banyak dari penderita yang tidak menyadari bahwa ada masalah dengan jiwa mereka. Mereka atau kita?

1. Gangguan Suasana Hati (Mood Disorders)

Meski kebanyakan perempuan saat pms mengalami bad mood, bukan berarti kamu termasuk penderita mood disorders. Yang termasuk dalam kategori ini adalah mereka yang mengalami perubahan suasana hati ekstrem dalam waktu yang cepat.

Misalnya dari perasaan sedih mendalam, tiba-tiba merasa sangat bahagia. Tahu gak, ternyata depresi adalah penyakit mental, bersama bipolar, siklotimia (sedikit lebih ringan dari bipolar), dan distimia (persistent depressive disorder), yang merupakan golongan dari gangguan suasana hati.

2. Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorders)

Berbeda dengan kecemasan normal yang hanya berlangsung sesaat dan dengan kadar biasa, kecemasan yang disebabkan anxiety disorders merupakan rasa cemas yang hebat.

Itulah sebabnya efek fisik ketika gangguan ini terjadi bisa nampak jelas, seperti keringat dingin, detak jantung yang kencang, sampai tak bisa tidur. Fobia adalah salah satu contoh gangguan mental kategori ini.

3. Gangguan Psikotik (Psychotic Disorders)

Penyakit mental satu ini tergolong berat. Penderita tak bisa membedakan mana nyata mana halusinasi. Mereka seolah mendengar suara, melihat, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.

Sudah tertebak ya, skizofrenia ada di sini. Bersama parafrenia dan gangguan delusi.

4. Gangguan Makan (Eating Disorders)

Menahan makan secara berlebihan hingga kekurangan gizi, makan terus menerus lalu merasa bersalah tapi tetap tak mampu mengontrol keinginan untuk makan, makan yang bukan makanan, dan gangguan makan lainnya, juga termasuk penyakit mental.

Yang tergolong eating disorders adalah binge eating disorder (makan terus menerus), anoreksia nervosa (diet berlebihan karena selalu merasa gemuk), bulimia nervosa (memuntahkan kembali makanan), gangguan makan pica (makan kapur, pasir, dll, yang bukan makanan).

5. Gangguan Obsesif Kompulsif (Obsessive-Compulsive Disorders)

Covid-19 bisa saja menghasilkan orang dengan gangguan obsesif kompulsif, berawal dari paranoid terhadap virus, akhirnya ia merasa harus berkali-kali mencuci tangan.

Contoh lain misalnya, seseorang terobsesi dengan angka 5, maka ia merasa harus melakukan sesuatu sebanyak lima kali. Entah itu mengetuk pintu, menjentikkan jari, dll.

Orang yang mengalami obsessive compulsive disorders tak mampu menahan diri untuk melakukan obsesinya secara berulang-ulang meski tahu perbuatan itu tak masuk akal.

6. Gangguan Stres Pascatrauma (Post-Traumatic Stress Disorders)

Trauma akan pengalaman buruk di masa lampau, seperti pelecehan seksual, ditinggal wafat orang tercinta, menjadi korban bencana, dsb, dapat mengakibatkan seseorang mengalami PTSD (post trauma stres disorder).

Diawali dengan gejala stres di antaranya mimpi buruk, sulit konsentrasi, mudah marah, dll, selanjutnya seorang penderita PTSD akan menjauh dari orang lain. Menjadi antisosial, tak punya empati, dan cenderung sulit bermasyarakat.

7. Gangguan Kepribadian (Personality Disorders)

Orang dengan personality disorders memiliki cara berpikir yang berbeda dengan orang kebanyakan. Cenderung menyusahkan orang lain dan tak mampu beradaptasi dengan baik, karena kerap melanggar aturan.

Psikopat dan sosiopat adalah penyakit mental golongan ini. Gangguan kepribadian menyebabkan penderitanya mengalami banyak masalah di sekolah atau di masyarakat.

Narsistik dan kepribadian ambang (tak tentu pikiran tentang diri dan orang lain), juga termasuk dalam penyakit mental gangguan kepribadian.

8. Gangguan Identitas Gender (Sexual and Gender Disorders)

Disebut juga dengan disforia gender (gender dysphoria). Ini adalah penyakit mental di mana jenis kelamin seseorang tidak selaras dengan identitas gendernya.

Jenis kelamin biologis adalah kondisi fisik yang kita bawa sejak lahir. Sedangkan gender adalah identitas yang diyakini seseorang atas dirinya. Sudah tahulah ya, contohnya seliweran di depan mata nyaris setiap hari. Di TV, internet, bahkan lewat di depan hidung.

Mereka adalah kaum LGBT yang belakangan sedang naik daun.

Cara Menyembuhkan Penyakit Mental

Macam-macam Penyakit Mental
Designed by Freepik
Dari macam-macam penyakit mental, baik yang 8 di atas maupun yang belum terulas di sini, pada dasarnya memiliki cara pengobatan yang sama.

Pertama, penerimaan bahwa kamu, atau kita, memang mengalami gangguan mental atau masalah kejiwaan. Percaya deh, penolakan hanya akan membuat proses kesembuhan menjadi lama atau bahkan gagal.

Sebab jika merasa sehat-sehat saja, lantas buat apa berobat? Jadi lenyapkan penyangkalan itu ya,Gengs!

Selanjutnya, kamu, eh kita, bisa berkonsultasi pada psikolog, psikiater, dan peruqyah. Jangan ke dukun!

Psikolog akan memberi terapi psikososial untuk mengendalikan perilaku, pikiran, dan emosi. Psikiater itu nama lain dari dokter ahli psikiatri, mereka bisa meresepkan obat, hal yang tidak dapat dilakukan psikolog.

Baik psikolog maupun psikiater seharusnya tidak akan bertolak belakang dengan peruqyah, karena ustaz/ustazah yang meruqyah pasien bukanlah dukun. Ada banyak bukti ilmiah bahwa bacaan Al-Qur’an memang memiliki efek menenangkan dan penyembuhan.

Jangan berpikir ruqyah hanya untuk mengusir jin, apalagi setan. Sebab setan ada yang dari jenis manusia. Kalau ruqyah gunanya untuk mengusir setan, bisa-bisa kamunya yang terusir. Woe!

Pilihlah ruqyah syar’iyyah yang terbukti sesuai sunnah. Minta bantu saudara atau kenalan yang paham hal tersebut. Peruqyah syar’i tidak akan membuat pasien bergantung padanya.

Pada tahap awal, pasien akan dinasihati terlebih dulu, diajak berzikir, dan banyak beramal baik. Selanjutnya dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan bacaan yang baik dan benar. Dari sana akan terlihat apakah penyebab masalah kejiwaan tersebut medis atau bukan.

Beda dengan dukun yang selalu menuding dunia hitam sebagai penyebabnya, ruqyah sangat ilmiah dan logis. Untuk seterusnya, peruqyah tak akan meminta kita untuk berulang datang dan berobat padanya.

Bahkan sebaliknya, pasien dimotivasi untuk dapat “melindungi diri sendiri” lewat amal-amal ikhlas yang dilakukan karena Allah. Dalam banyak referensi, atau boleh kamu buktikan sendiri, bahwa obat terbaik untuk penyakit mental apa pun, adalah spiritual.


Diolah dari berbagai sumber, termasuk alodokter, hellosehat, dan sehatq.

12 comments

  1. apakah semua penyakit itu, bisa memicu org jadi 'gila' ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. berpotensi. sudah disebut di artikel

      Delete
  2. Dulu, aku perna baca di buku psikologi klinis. awal kemunculan penyakit mental dikaitkan sama mistis mulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. samalah dg ruqyah, dikira buat ngusir hantu

      Delete
  3. I luv Tari,
    Keren banget artikelnya euy,

    Lanjutkan mbaaa.

    ReplyDelete
  4. Gangguan psikotik itu umum ditemukan di masyarakat ya Mbak. Yang salahnya itu dibawa ke dukun, padahal pilihannya cuma 2, ke praktisi ruqyah syar'i kalau ternyata memang gangguan jin, atau ke psikiater dan psikolog. Baiknya dibawa ke keduanya biar tau dimana masalahnya

    ReplyDelete
  5. Wah banyak ya jenis-jenis gangguan kesehatan mental...Kadang malah kita gak menyadari kalau kita sedang mengalaminya...

    ReplyDelete
  6. Temen-temen aku lho banyak yang gak paham kalau stres atau depresi gitu bisa berakibat bahaya. Kalau aku ngomongin tengang psikolog yang terbayang itu dokter menangani sakit jiwa alias gila. Ya ampun. Pada akhirnya ya sudahlah, biarkan saja mereka dengan asumsi mereka. Ingin kujejalkan artikel ini ke mereka tapi ah buat apa

    ReplyDelete
  7. Berat juga ya pembahasannya. Setidaknya utk nambah wawasan hehe

    ReplyDelete
  8. Aku yang sering ini Kak mood hahahha ternyata itu penyakit mental ya. Duh. Malah nggak menyadarinya. Kudu mulai hati-hati nih

    ReplyDelete
  9. Seringkali banyak yang gak sadar bahwa dirinya sedang "sakit" Sehingga menolak untuk diobati.
    Aku jadi takut...padahal setiap manusia memiliki "rasa" terhadap dirinya masing-masing.

    ReplyDelete
  10. waah saya baru tau ada banyk sekali jenis gangguan mental
    mungkin pemicu utamanya adanya tekanan
    semoga selalu sehat ya kak

    ReplyDelete