Contoh Cerpen Anak Singkat, Kodok dan Katak

, , 3 comments
Bikin judul kok nggak banget ya, Contoh Cerpen Anak Singkat, Kodok dan Katak. Maksudnya Gengs, aku mau kasih lihat contoh cerita pendek untuk anak-anak. Tokohnya kodok dan katak, berkisah tentang persahabatan.

Cerpen anak ini pernah kumuat di Kompasiana. Tapi dipikir-pikir lagi, kayaknya iluvtari lebih butuh. Jadi yang di sana kuhapus, pindah ke sini.

Boleh gitu artikel sudah dimuat dihapus lagi? Ya boleh aja, hak cipta kan tetap di tangan penulis. Tindakan ini legal dan sudah kukonfirmasi ke adminnya. Sah!

Tomi Katak dan Riko Kodok

cerpen anak singkat

Di sebuah sungai di pinggir hutan, seperti biasanya, Tomi Katak dan Riko Kodok sedang bercengkerama. Mereka saling menceritakan kejadian yang mereka alami kemarin dan yang mungkin terjadi nanti malam atau besoknya.

Keduanya telah menjalin persahabatan sejak dulu. Tomi tinggal di dekat sungai, sedang Riko lebih dekat dengan jalan setapak keluar hutan.

“Halo, sss!” 

Tiba-tiba Mino si ular muncul dari kedalaman hutan. Tomi dan Riko yang kaget segera mengeluarkan cairan beracun di punggung mereka.

“Hoho, aku tidak berminat memakan kalian. Aku hanya penasaran,” begitu kata Mino ketika melihat Tomi dan Riko bersiap kabur.

“Penasaran tentang apa?” Tomi masih waspada.

“Jangan terlalu percaya pada seekor ular,” bisik Riko pada sahabatnya.

“Aku kira kalian ini sama, ternyata berbeda,” jawab Mino sembari melingkarkan tubuhnya sendiri.

“Tentu saja kami berbeda, aku seekor katak sedangkan Riko adalah kodok,” balas Tomi.

“Oh begitu. Selama ini aku menganggap kalian sama-sama katak atau sama-sama kodok,” Mino terkekeh sendiri. “Ternyata kodok dan katak berbeda.”

Sambil berkata begitu, Mino melihat pada Riko dan Tomi bergantian, memperhatikan keduanya baik-baik. Membuat dua sahabat itu antara cemas dan takut, meski tetap berusaha tenang.

“Bolehkah aku tetap di sini untuk lebih mengenal kalian?” Mino berusaha mendekat, tapi Riko dan Tomi cepat menghindar.

Mereka tahu ular adalah pemangsa, tidak boleh lalai menghadapi hewan jenis ini.

“Kami mau pulang, sudah terlalu lama kami bermain.” Riko berdalih, dan Tomi langsung memahaminya.

Tanpa menunggu balasan Mino, dua sahabat itu segera menjauh dan memisahkan diri. Tomi melompat ke sungai, sedangkan Riko berjalan di antara batu dan semak-semak.

Tanpa sepengetahuan Mino, Riko dan Tomi bertemu kembali di seberang sungai di dalam hutan. Menurut perkiraan mereka, Mino sedang beristirahat di tempat pertama mereka bertemu.

Sebab sudah tabiat Mino, kalau tidak mengejar, berarti ia sedang kenyang dan hanya akan beristirahat sampai ia lapar kembali.

“Kita tidak usah ke sana lagi!” saran Tomi.

“Tapi aku suka tempat itu.” Riko mengeluh.

“Tapi kamu tidak percaya, kan, kalau Mino hanya penasaran? Dia pasti sedang mengincar kita untuk dijadikan mangsanya.”

“Betul,” jawab Tomi. “Aku yakin dia sudah tahu sejak dulu kalau kakiku lebih panjang, karena aku harus berenang dan melompat di air.”

“Kulitku kasar karena lebih banyak di darat,” sambung Riko.

“Tapi kita tetap bisa berteman.” Ucapan Tomi dibalas tawa oleh Riko.

Akhirnya mereka bercengkerama kembali, sedangkan Mino tidur pulas di bagian pinggir sungai yang lain.

Beberapa hari kemudian, Riko dan Tomi sama-sama merasa rindu pada tempat mereka semula. Di sana ada aneka tanaman yang sudah mereka kenal, tapi Mino sepertinya masih berada di tempat itu. Bahkan sudah bangun dari tidurnya.

Setelah berpikir cukup lama, Tomi akhirnya menemukan ide.

“Apa yang akan kamu lakukan?” Riko penasaran.

“Kamu jalan saja ke sana dulu, nanti aku susul,” jawab Tomi.

“Kamu yakin aman? Bagaimana kalau Mino melihatku?”

“Kamu tenang saja, tapi tetap hati-hati. Aku akan memberikan kejutan pada Mino.” Tomi meyakinkan sahabatnya.

Akhirnya Riko berjalan dan sesekali melompat pendek ke tempat mereka biasa bermain. Tomi akan menyusul nanti melewati sungai. Menurut perkiraan, Tomi bisa sampai di sana lebih cepat jika mereka berangkat bersamaan.

Sesampainya Riko di tempat yang dimaksud, ia melihat Mino sedang merayap pelan di sekitar sungai. Riko langsung waspada, ia bersembunyi di balik sebuah batu besar.

Ternyata kedatangan Riko diketahui oleh Mino, tapi ia pura-pura tak melihat. Dengan rute memutar, Mino merayap pelan menuju ke balik batu. Ia tahu ada Riko di sana.

Sedikit lagi. Mulut Mino menganga, siap menangkap tubuh Riko yang menggugah selera makannya. Dan … ups!

Mino kebingungan. Tubuhnya malah melayang, naik ke atas tanah. Cakar seekor elang kuat mencengkeram tubuhnya. Mino berusaha berontak, tapi ia makin tinggi, bahkan makin jauh dari tempat Riko berada.

Tomi senang bertemu kembali dengan Riko. Ia baru saja sampai, setelah berhasil meyakinkan Boni si elang, agar ikut dengannya.

“Untung kamu segera datang, hampir saja aku dimangsa oleh Mino.” Riko melonjak girang.

“Boni yang lebih dulu datang! Aku katakan padanya bahwa ada makanan lezat sedang menantinya di sini. Kita tidak mungkin bisa melawan Mino, hewan pemangsa memang akan dimangsa oleh pemangsa lainnya!” seru Tomi.

“Itu namanya rantai makanan,” balas Riko tak kalah semangat.

Keduanya tertawa senang. Riko dan Tomi bisa bermain di tempat favorit mereka lagi.
contoh cerita pendek
Cerpen anak di atas cocoknya untuk anak TK atau SD ya? Yang Jelas Tomi Katak dan Riko Kodok merupakan cerita fabel untuk siswa kelas rendah atau PAUD sekalian. Tinggal baca sendiri atau dibacakan.

Apakah juga termasuk cerpen anak yang baik? Aku nggak tau juga. Yang jelas Tomi Katak dan Riko Kodok adalah contoh cerita pendek, cerpen anak yang singkat dan kalah lomba. Yaaa, ketauan!

3 komentar:

  1. Ternyata tubuh Mino melayang karena disambar sama si Elang. Pemangsa yang dimangsa.

    BalasHapus
  2. Makasih kak cerpennya, aku sering cari cerpen buat di baca sebelum tidur, karna adiku masih kecil jadi kalo di ceritain seneng

    BalasHapus

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.