Cari di iluvtari

Cerpen Terinspirasi Mimpi

Jangan tanya-tanya lagi, iluvtari masih terima cerpen atau gak! Pokoknya kamu kirim aja kalau melihat blog ini masih tayang. Doakan adminnya punya rezeki melimpah biar bisa terus mengapresiasi karya penulis, ya.

Inilah karya Tika Maya Sari. Entah penulis dari mana, sebab aku gak tanya-tanya. Yang penting dia mau revisi naskahnya dan mengirimkan surat pernyataan orisinal. Sesimpel itu ngirim naskah ke iluvtari. Oke, ini dia cerpen yang katanya terinspirasi dari mimpi: Sebelum Aku Terbangun.

Cerpen Sebelum Aku Terbangun karya Tika Maya Sari


cerpen karya Tika Maya Sari

“Gadis cantik, sudah punya pacar?”

Aku tersenyum malas pada seorang lelaki botak bertampang preman cabul yang bersisian denganku di lampu merah perempatan sepulang bekerja. Dari gerak-geriknya, dia sedang mabuk.

“Ikut aku saja bagaimana? Kita mampir ke Alun-Alun Bandungan?”

Kuabaikan ocehan telernya dan memilih langsung tancap gas. Kala menengok spion, lelaki tadi rupanya mengejar dengan kecepatan tinggi. Ah sial, kenapa jalanan desa sepi sekali sih?

Kutambah kecepatan motor tanpa peduli. Persetan dengan polisi tidur, preman cabul di belakang terus menambah laju motor. Karena kurang waspada, alhasil aku terperosok ke dalam sungai dekat pertigaan.

“Kebanyakan nonton drama sih ini,” gumamku pelan.

Aku menggeleng sebelum meraih ransel berat, tas jinjing, dan ponsel di tanah. Kucoba menyalakan fitur GPS guna memberitahu lokasiku sekarang. Tidak ada sinyal sama sekali. 

Kendati demikian, rasanya agak familier. Hutan heterogen, anak sungai dengan air jernih bergemericik, dan jalan setapak yang rasanya pernah kulewati. Jadilah aku berjalan sambil berusaha mengingat-ingat. Mencoba keluar dari tempat ini, atau minimal bertemu seseorang yang bisa membantu mencari jalan keluar.

Jalan raya? Seketika aku sadar bahwa lanskap ini adalah lanskap baru yang belum pernah kulihat. “Sejak kapan ada jalan raya di sini?”

Jalan ini terlalu besar, layaknya jalan raya antarprovinsi. Kemudian terdapat beberapa bangunan, riuh keramaian, dan orang-orang yang beraktivitas. Namun, kakiku justru terus berjalan menjauh hingga mencapai sebuah terminal bus.

Suasana yang semula terang tiba-tiba menjadi gelap pekat seperti malam hari. Lalu lalang bus dan penumpang silih berganti, bersisian dengan pedagang asongan yang menawarkan cangcimen. Lapak-lapak penjual juga tengah melayani para pembeli.

“Gadis cantik hendak ke mana?”

Aku menoleh, hanya untuk mendapati lelaki bertampang sangar sedang duduk di kursi tunggu. Penampilannya acak-acakan ala preman. Rambut dan kumisnya tebal, bertindik banyak di kepala dan bibir, serta ekspresi cabul di wajahnya. Hah, dia mirip dengan sosok pengganggu tadi.

“Kalau ditanya itu menjawablah, Gadis Cantik. Mau kuantarkan?” tawarnya.

Aku tersenyum paksa sambil menggeleng. Cepat-cepat menjauh dari preman itu. Namun, orang-orang sejenisnya justru kian banyak. Gerombolannya ada lebih dari puluhan orang.

“Oh, ada gadis cantik, ya. Mau nongkrong sebentar dengan kami?” tanya seorang berjaket Levi's. “Kutraktir, mau?”

Aku mencoba menjauh, tetapi gerombolan lelaki tersebut justru mengepung membentuk lingkaran. Penampilan mereka hampir serupa, entah dari pakaian, tindik, bahkan ada yang tampak teler dan beraroma alkohol. Salah satu dari mereka mencoba menyentuh tanganku, tetapi kuhempaskan.

“Ayo kita cari tempat hangat! Nanti kubelikan makanan enak.”

“Denganku saja, aku yang paling tampan.”

Masalahnya, perhatian mereka terpusat pada ponsel yang kupegang dan juga beberapa titik tubuhku. Bukankah motif mereka sudah jelas?

“Kalau kamu tidak mau denganku, dengan kami saja.” Satu orang bertubuh kerempeng dengan rambut pendek cenderung botak kemudian mendekat dan mencengkeram lenganku. Dia mencoba melakukan tindakan tidak senonoh, sebelum kutarik tangannya dan kubanting tubuhnya ke tanah. 

Semua orang terkesiap dan tampak mundur beberapa langkah.

“Aku cuma mau pulang. Aku tidak mau ikut denganmu!” pekikku keras.

Lelaki ini masih berusaha bangkit dan mencoba menyergapku. Namun, dia lagi-lagi jatuh setelah mendapatkan pukulan dan tendanganku. Dia kupukuli di depan puluhan preman yang mengepung kami.

“Masa bodoh dengan tempat hangat. Kau kubikin mati sajalah!”

“A ... ampun ....”

“Persetan dengan makanan! Aku benci melihatmu, preman nggak berguna! Bisanya cuma melecehkan perempuan saja! Manusia nggak bermutu!”

Entah sumpah serapah atau bahasa hewan apa saja yang keluar dari mulutku. Biarlah, toh ini hanya dunia fiksi. Aku juga tidak mengenal mereka yang ada di sini.

“A ... ampun,” mohonnya yang sudah babak belur.

Aku masih tidak puas. Tubuhnya kuhunjam dengan tinjuan, pukulan, tendangan, sampai hantaman dari botol kaca kosong di dekatku. “Mampus sana!”

Kuedarkan pandangan. Situasi terkesan normal tanpa gangguan, kecuali ekspresi tegang para preman yang masih mengepung. Jadi, kulampiaskan saja kekesalan, emosi, stres, dan kebencian pada sosok yang sudah babak belur itu.

“Dikira kau sudah paling keren apa, hah? Masih tampan Adrian ke mana-mana!” Tanpa berpikir dua kali, aku berani menyebut nama Adrian, nama yang terpendam cukup lama, bahkan meludahi sosok yang sudah sekarat penuh luka tersebut. Kemudian, aku melangkah pergi meninggalkan lokasi itu sejak para preman akhirnya mundur kian jauh.

Kutatap orang-orang tadi dengan sengit, seolah cosplay villain paling jahat dalam komik sebelum melanjutkan perjalanan. Menunda rencana untuk naik bus, jadilah aku berjalan kaki menyusuri jalan raya ini.

“Betulan mimpi yang aneh. Macam-macam saja kejadiannya,” kataku miris. 

“Mbak.”

Rasanya seperti ada yang menepuk pundakku dari belakang. Kala berbalik badan, ternyata ada banyak sekali orang yang mengerubungiku yang sedang rebahan bersama motor di sungai. Ada darah yang mengucur dari dahi, yang mengotori baju.

“Di mana preman itu?” tanyaku spontan. “Tadi saya dikejar orang mabuk.”

Seorang bapak lantas menggendongku keluar dari sungai. Dan beberapa orang mengevakuasi motorku yang cedera. 

“Dia mati menabrak tiang listrik.”

Seketika aku lega, tapi rasa nyeri menerjang badanku tanpa ampun. Duh, sudahlah badan cedera, motor pun terancam harus servis. Apeslah!

Kirim Naskah ke iluvtari


Kamu mau ngirim naskah ke iluvtari juga? Jangan! Honornya kecil. Kalau gak percaya, baca aja ketentuannya di sini!

Baca juga cerpen-cerpen lain di blog ini:


No comments