cerpen milenial
unsplash.com


Sejak dirukiah, Widodo menjadi agak tenang. Walau menurut beberapa orang, pengobatan dengan rukiah tidak nyambung untuk Widodo.

Ia bukan kena sihir, tidak ada urusan dengan jin. Tapi suka nyeleneh saat berhadapan dengan orang lain. Hobinya mendebat. Kalau tidak berhasil menguasai forum, dia akan menggebrak-gebrak meja. Jadi saudara-saudaranya memutuskan untuk merukiah Widodo, terserah apa pun alasannya.

Kata ustaz yang merukiah, Widodo harus bisa mengobati dirinya secara mandiri. Ustaz bukan dukun, dokter pun bukan. Sedangkan Al-Qur'an memang obat, tapi harus dibaca sendiri oleh yang bersangkutan. Ustaz bersedia mengajarinya, atau orang lain yang lebih dia percaya, begitu pesan Ustaz Karim.

Widodo memilih belajar agama dari rumah, berguru pada Google dan Youtube. Ibu dan saudara-saudaranya senang, Widodo lebih suka di dalam rumah, tidak lagi membuat keonaran. Ia rutin menyimak beragam kajian dan membaca aneka artikel di internet.

Ketika Ustaz Karim bertandang untuk silaturahmi, beliau kaget. Widodo sedang mengetik sebuah opini yang ditujukan kepada seorang pejabat. Disisipi gambar tak elok yang dijamin akan membuat postingannya viral.

“Hati-hati main media sosial, Akhi! Nanti kena Undang-Undang ITE,” saran Ustaz Karim. 

“Menteri brengsek ini sudah lebih dulu melanggar UUD, Ustaz! Kurang ajar betul dia dengan kebijakannya.” Widodo masih asyik mengetik dengan laptopnya.

Ustaz Karim menyimak tulisan Widodo yang kebanyakan huruf kapital dan tanda seru berganda. Kemudian sang ustaz melihat lampu-lampu kecil berkedip di dinding dekat ia berdiri. Ide di kepalanya langsung muncul. 

“Anjay! Mau di-post malah gangguan!” teriak Widodo sembari menggebrak meja laptop.

Salah satu abangnya yang sedang menjawab obrolan WAG terlompat kaget. “Dia kambuh ya, Taz?” melihat pada Ustaz Karim.

“Umurmu berapa, Do?” Bukannya menjawab pertanyaan Abang Widodo, Ustaz Karim malah bertanya pada Widodo.

“Dua empat, Taz!” Widodo menjawab tanpa menoleh.

“Itu pertolongan Allah. Kalau internetnya tidak gangguan, kemudian postingan-mu viral. Kamu masuk penjara, ibumu nangis-nangis. Kakak-kakakmu pasti repot semua.

"Keluar dari penjara, siapa yang sudi kamu nikahi? Akhwat-akhwat dari yang jilbab sorong sampai yang cadaran gak bakal mau sama mantan narapidana!”

Widodo langsung menghentikan aktivitasnya. Perlahan menoleh pada Ustaz Karim.

Yang ditoleh pasang ekspresi meyakinkan. “Siapa yang bersedia dinikahi orang yang pernah dipenjara?” ulangnya lebih dekat ke wajah Widodo.

“Saya enggak pernah ganggu Ustaz. Sebisa mungkin patuh pada Ustaz. Tapi jangan senggol modem saya!” balas Widodo berteriak.

Abang Widodo menepuk kepala adiknya, lalu minta maaf pada sang ustaz. Dan secara halus meminta Ustaz Karim pamit saja.

Widodo aktif di media sosial. Hari ini merundung, besok dirundung warganet lain. Dia sudah biasa saling maki di rimba internet. Kebas. 

“Kamu itu mbokya ngaji yang bener, Do! Jangan bikin ribut. Ibu bisa sakit kalau mikirin kamu terus!” tegur salah satu kakak perempuan Widodo.

Ada lebih dari satu keluarga di rumah itu. Saudara Widodo yang sudah menikah masih tinggal di sana, karena rumah itu cukup besar. Widodo sendiri adalah yang ketujuh dari tujuh bersaudara. Bungsu kesayangan keluarga.

“Mager ah! Enakan ngaji dari rumah. Bebas pilih guru yang mana saja.”

“Takutnya kamu malah terpengaruh aliran sesat. Ikut-ikutan ngebom.” Kakaknya mengeluh.

Widodo justru tertawa. “Bukannya kalau sering keluar nanti aku malah ikut demo. Terus digebukin polisi, mati muda.”

“Hus! Jangan sembarangan ngomong. Bisa jadi doa!”

“Keluar salah, di rumah salah.” Widodo geleng-geleng.

“Ya ambil tengah-tengah. Keluar untuk yang baik-baik, kalau tidak ada manfaat biar di rumah saja. Main sama keponakan!”

“Cari kerja!” salah satu abang Widodo yang kebetulan lewat, nyeletuk.

“Ini aku lagi kerja.”

Kakak Widodo melongok ke layar laptop.

“Sedang edit video. Doakan saja banyak yang nonton, nanti aku dibayar dolar sama Youtube. Sekarang zamannya kerja dari rumah.”

Kakak perempuan Widodo ngeloyor keluar dari kamar. Tak berminat menyimak. Widodo pun tak ambil pusing, dia memang lebih suka dibiarkan sendirian.

Cerbung: Kambing Jantan Ibumu

Satu tahun asyik dengan internet, Widodo tidak pernah kena ‘ciduk’. Meski terkesan cuek, ternyata dipakainya juga nasihat Ustaz Karim dan saudara-saudaranya. Ia kurangi ngomel di media sosial. Sebab postingannya bisa mempengaruhi minat orang terhadap konten videonya.

Widodo belajar dari banyak sumber. Ia memilih konten netral agar banyak peminat videonya. Mem-branding diri di sana sini, menghapus banyak postingan yang sebelumnya sempat memancing keributan.

Berkat kesabarannya, Widodo akhirnya berhasil mencicipi dolar yang biasa dipamerkan teman-teman satu minatnya di grup. Perlahan, pundi-pundi uangnya pun menunjukkan hasil. Widodo bisa membayar tagihan wifi-nya sendiri. Bahkan ia mampu membeli satu unit sepeda motor secara kes!

Keluarganya senang. Ternyata benar kata orang-orang, bukan rukiah yang bisa menyembuhkan Widodo, tapi pekerjaan yang menghasilkan kemapanan.

Tapi tetangga Widodo mulai resah. Ia jarang keluar rumah, tapi uangnya banyak. Desas-desus beredar. Kalau bukan jaringan narkoba, Widodo pastilah terpapar radikalisme. Ibu-ibu pengajian menebak-nebak uang yang Widodo dapat, dari jual sabu atau kiriman ISIS?

Ustaz Karim yang mendengar obrolan mereka segera menyambangi rumah Widodo. 

“Assalamu’alaikum, Akhi!”

Widodo menyambut dengan suka cita. Membuktikan, bahwa uang tak membuatnya sombong, malah justru ramah.

“Kenapa jarang keluar rumah?” Ustaz Karim langsung pada pokok pembicaraan.

“Faktor pekerjaanlah, Taz!”

“Masa sampai salat pun tidak ke masjid. Katanya kemarin ngaji di Youtube.”

“Belok, Taz. Jadinya sekarang cari uang di situ. Kan pekerjaan milenial!” Widodo tertawa bangga.
Ustaz Karim manggut-manggut. Ia membenarkan, “Memang zamannya, ya. Tapi ibu-ibu itu tidak paham.”

“Kenapa ibu-ibu, Taz?”

“Enggak ada apa-apa. Sudah mapan gak mikir nikah?” Tahu-tahu Ustaz Karim nyeplos ke topik yang sebelumnya tidak direncanakan. Ia hanya ingin menjauhkan Widodo dari membahas prasangka ibu-ibu pengajian. 

“Nah itu, Taz. Ibu sama abang dan kakakku juga bilang begitu. Ustaz punya calon?”

“Oh banyak!” Ustaz Karim antusias mendengar pertanyaan Widodo. Banyak perempuan baik yang masih menunggu jodoh. Daftar itu ada di tangan istrinya. “Kamu buat saja proposal menikahnya, nanti saya diskusikan dengan istri, mana yang cocok buatmu.”

“Yang cantik ya, Taz. Putih, tinggi, masih muda. Kalau bisa ASN!”

Ustaz Karim menelan ludah. Dalam hati ia ingin mengumpat, tapi yang keluar dari mulutnya hanya istigfar.

“Kenapa, Taz? Ada yang salah?” Widodo mengejar Ustaz Karim yang hendak pamit.

“Biasanya yang cantik itu boros.”

“Duitku kan banyak!” Widodo semringah.

“Kalau dia mau sama kamu karena duit, begitu duitmu habis, cintanya juga habis.”

“Duitku banyak Taz. Kuinvestasikan ke usaha lain, bukan cuma …”

“Terserah padamulah! Buat saja proposalnya. Nanti ada ustaz lain yang memberi tausiah tentang pernikahan.”

“Enggak jadi ah! Aku mau cari pacar di Instagram saja!” Widodo tertawa kegirangan, berhasil mempermainkan Ustaz Karim.

Sejak hari itu, Ustaz Karim tidak pernah lagi bertandang ke rumah Widodo. Bahkan ketika Widodo menikah, ia hanya datang sebagai tamu undangan. Padahal ustaz yang sekaligus imam masjid itu, diminta keluarga Widodo untuk menjadi penasihat pengantin.

Meski masih jengkel dengan sikap Widodo, Ustaz Karim tetap mencarikan penceramah yang menurutnya paling pas untuk menyampaikan tausiah.

Maka hadirlah di sana Ustaz Banu. Seorang motivator sekaligus pemilik akun media sosial yang ramai pengikutnya. Tak hanya menasihati pengantin, Ustaz Banu juga sukses mengajak orang-orang untuk berhijrah. 

Terbukti banyak yang tertarik pada profil dan kiriman-kiriman di media sosialnya.

Begitu pula dengan Widodo. Ia yang dulu pernah dirukiah Ustaz Karim dan banyak mendapat nasihatnya, justru merasa tak cocok dengan ustaz itu. Inilah jalan pilihannya! Widodo menetapkan pilihan. 

Menjadi muslim yang gaul, Widodo sukses dengan kanal Youtube-nya. Di antara semua anak ibunya, hanya Widodo yang memutuskan keluar dari rumah besar keluarga itu. Hidup bersama istri dan bayi mereka di sebuah rumah sederhana, hasil jerih payahnya di internet.

Kehidupan Widodo terbilang gemilang. Ia menjadi inspirasi banyak orang, terutama anak-anak muda. Widodo diundang ke sana kemari untuk memotivasi pasangan-pasangan muda bersama Ustaz Banu.

Kemudian ujian itu datang. Anak Widodo yang ketiga wafat, ketika baru saja dilahirkan. Kata dokter yang menangani istrinya, perempuan cantik yang bekerja sebagai ASN itu kelelahan. Kandungannya tak kuat lagi menahan tekanan hidup sang ibu.

Widodo kemudian menyadari, kesibukannya membuat ia abai akan kebutuhan istri terhadapnya. Juga kebutuhan dua anaknya terhadap kehadiran ayah mereka. Widodo insaf!

Ia kembali pada Ustaz Karim yang masih menjadi imam masjid. Hidupnya masih sesederhana dulu, sudah melupakan sikap Widodo padanya. Tapi tak banyak yang bisa disampaikan Ustaz Karim pada Widodo. Ia hanya memberi nomor kontak yang bisa dihubungi Widodo untuk belajar tentang pentingnya keluarga.

Mengingat Ustaz Karim pernah mempertemukannya dengan Ustaz Banu, kali ini Widodo khawatir ia akan tergelincir untuk kedua kalinya. Widodo betul-betul ingin mengubah hidupnya. Dunia sudah tak menarik perhatiannya lagi. Ia kaya raya! Saat ini yang kosong adalah jiwanya. Ia butuh penuntun yang paripurna.

Maka Widodo menemukan sosok itu pada Muhammad bin Abdullah, manusia terbaik yang pernah ada. Setelah berkonsultasi pada Google, Widodo bergabung pada kelompok pengajian yang menurutnya lebih serius daripada Ustaz Karim maupun Ustaz Banu.

Nomor kontak yang diberikan Ustaz Karim ia simpan saja, jika nanti pilihannya ini tidak tepat. Widodo ingin mendalami agama melebihi ustaz-ustaz yang pernah menjadi gurunya. Ia ingin seperti Rasulullah!

Terjadi banyak perubahan pada hidup Widodo. Ia jauh lebih religius. Internet dan podium tak lagi menjadi ajang eksistensinya, meski tak sepenuhnya ia tinggalkan. Widodo lebih sering di rumah membantu istri dan bermain dengan anak-anaknya.

Sekarang Widodo bukan hanya teladan di media sosial, ia juga sosok paling membanggakan di keluarga besarnya. Ustaz Karim yang sempat kecewa karena diabaikan pun, turut bahagia melihat perkembangan Widodo.

“Saya dulu pernah salah mengidolakan,” Widodo membuka tausiahnya di hadapan para pemuda seusia dia waktu masih melajang. “Saya ngefans sama ustaz itu, senang sama ustaz ini. Padahal ada yang lebih hebat dari mereka semua.”

Widodo mengenang-ngenang masa jahiliyahnya. Memuji-muji kelompok tempat ia dan para jamaah itu duduk saat ini. Mereka berada di dalam sebuah masjid kecil, dengan kamera kualitas terbaik di dua sudut belakang. 

“Kalau saja saya masih di sana. Belajar Islam asal-asalan, jelas akhirat saya tidak selamat. Hanya dengan mengikuti Al-Qur'an dan mempraktikkan sunah, kita bisa menjalani hidup ini lebih tenang.

Dengan adanya internet, kita yang hidup di zaman ini mendapat kemudahan untuk belajar agama. Tak perlu ustaz ini itu. Bahkan saya sekarang dipanggil ustaz. Terima saja, namanya orang punya mulut, ya terserah mereka mau panggil saya apa.”

Jemaah tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara perempuan dari pintu masjid. Jemaah yang semuanya laki-laki menoleh.

“Mas, pulang! Ada perempuan mencarimu di rumah. Katanya dia istrimu juga, sudah dua bulan belum dapat transferan!” Istri Widodo bergegas pergi setelah menyampaikan berita ke suaminya.

Kamera yang tadi berpindah fokus ke pintu masjid, dimatikan paksa oleh Widodo. Ia buru-buru pulang. 

Dalam satu bulan kemudian, nama Widodo menjadi topik yang viral di berbagai portal berita dan media sosial. Sunah poligaminya menghasilkan banyak pahala, karena jutaan orang menghujatnya di dunia maya. 


Blog ini dikelola oleh Syarifah Lestari, penulis sekaligus editor lepas yang artikelnya bisa kamu temukan di UC News/UC Browser, Kompasiana, Kaskus, dll.

Buku editan Syarifah Lestari dapat dilacak di ISBN Perpustakaan Nasional. Buku pribadinya sendiri adalah Novel Kehidupan Jemput Aku ke Pelaminan dan Kumpulan Cerpen Pangeran dengan Dua Bekas Sujud.

Buku antologi bersama hasil seleksi lomba dan semacamnya lumayan banyak, tapi rada males diingat-ingat 😪

Satu dari lima penulis naskah anak terbaik Kantor Bahasa Jambi 2019
Juara 2 A.A. Navis Award 2016
Juara 2 Sayembara Cerpen Kebhinekaan KBPJ 2015
Juara 3 Lomba Cerpen Anak Majalah Bobo 2012
Juara tunggal esai tentang Rohis oleh Islamedia 2011
Juara 1 esai kepemudaan IKAPI 2009
dll.

Request topik artikel? Boleh banget! Kirim surel ke iluvtari2019@gmail.com

Mamak bilang, waktu kecil aku diberi susu merek Andsapi. Belum pernah dengar kan merek itu? Karena itu hanya penamaan olehku, semacam “panggil saja Bunga”.

Tapi yang kuingat hanya gambar cewek bule memanggul sesuatu di kepalanya. Susu kaleng yang tiap pagi dan sore kuminum sambil ditungguin Mamak. Kupikir, susu itulah yang membuatku gak keluar-keluar dari ranking 10 besar selama SD-SMP.
Kukira nona yang enggak ada capeknya itulah yang membuat aku, ehm, pintar. Iya, ini klaim. Jangan diambil hati!
Naskah ini adalah bagian akhir dari 4 bagian sebelumnya. Cerpen Syarifah Lestari yang ditayangkan di Kompasiana
Cara Menulis Cerpen untuk Pemula
Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash

Judulnya jelas dan lugas ya! Jadi kalau kamu sudah berpengalaman, gak usah sok-sok merendah dengan masuk ke artikel ini. Apalagi kamu yang gak niat nulis cerpen. Ngapain mengklik artikel berjudul cara menulis cerpen untuk pemula?

Menulis cerpen yang baik dan benar sudah gak musim lagi. Karena kata baik dan benar, itu terlalu mengikat. Seolah ada SOP yang tegas mengatur seluruh manusia di Bumi agar mematuhi aturan percerpenan. Padahal, sekarang orang lebih tertarik cerpen yang kreatif dibanding yang baik dan benar. Sebab yang baik belum tentu kaya. Yang benar belum tentu ganteng.
hukum cadar menurut 4 madzhab
instagram.com/aifahtama

Jadi kebiasaan sekarang, setiap menulis satu topik, dipecah jadi beberapa. Tapi majangnya di banyak tempat, dasar gak fokus! Kali ini hebohnya soal cadar, yang kabarnya bakal dibuat peraturan khusus. Lebih spesifik tentang hukum cadar, yang dalam pencarian kata kuncinya bikin agak geli.

Menurut ilmu yang ditularkan para mastah blogger, nulis itu selain suka-suka juga harus ada yang baca. Syarat dibaca, ya ada yang nyari. Tau deh ini artikel ada yang nyari atau nggak. Pokoe tetap nulis yang kita suka. Hidup egois!
Di Jambi ada toko buku bekas yang sudah berdiri sejak aku kecil. Kalau ditanya toko buku murah, hampir pasti orang akan merekomendasikan toko ini. Bukan karena lengkap, tapi mungkin dia satu-satunya yang masih bertahan. Bahkan sejak kita belum mengenal e-book/bukel (buku elektronik).
Dulu, kalau kita bertamu ke rumah orang, hampir pasti di bawah meja atau di pojok ruangannya ada tumpukan buku, koran, atau bahan bacaan lain. Sekarang, sekadar album foto pun sudah tidak ada.

Album foto tidak tersedia sih tak masalah. Kita tahu di mana sekarang kenangan itu tersimpan, ada gawai dan penyimpanan awan yang sekarang lebih besar muatannya dibanding album yang terbatas.
Tapi bukunya di mana? Oh ya, kan ada e-book alias buku elektronik (bukel). Karena sekarang hampir semua orang punya ponsel pintar, yang kecanggihannya telah menggusur banyak barang, termasuk buku.

Pada 22 Oktober 2019 kemarin, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi menggelar rangkaian acara terkait literasi, sekaligus launching iPustaka Jambi.
 
risiko download ebook

Aplikasi iPustaka Jambi sudah lama sekali ada di ponselku. Rasanya sudah lebih satu tahun, menyusul iPusnas yang lebih dulu kupasang. Senang sekali dengan adanya aplikasi ini, bisa jadi alternatif daripada mengoleksi bukel. Lah, memang apa salahnya?

risiko download ebook

Percaya gak percaya, meski banyak yang mengunduh e-book, hanya sedikit yang benar-benar membacanya. Dengan adanya “perpustakaan digital”, kita jadi menghemat ruang penyimpanan gawai, sekaligus menghemat dosa.

Tidak sedikit yang menyadari bahwa kebanyakan bukel yang seliweran di internet sebenarnya tidak legal. Sekadar mengunduh tanpa membagikannya pun bisa dianggap pembajakan. Kecuali jika bukel tersebut diunggah langsung oleh penulisnya atau lembaga yang telah memegang hak cipta, semisal Kemdikbud dan semacamnya.

risiko download ebook
hukumonline.com

Selain melanggar hukum, mengunduh e-book sembarangan juga berbahaya untuk ponsel atau komputer/laptopmu. Kamu pikir para pembajak mau begitu saja membagikan hasil bajakan mereka secara cuma-cuma?

Sering kan, kamu mengklik sebuah tombol untuk mengunduh tapi akhirnya malah diarahkan ke halaman yang gak jelas? Atau malah salah unduh, tahu-tahu terpasang aplikasi gak penting, yang malah membuat gawaimu berat?

Itu karena pemilik laman tempat kamu dijanjikan dapat buku gratisan telah bekerja sama dengan pengembang aplikasi. Atau bekerja sama dengan penerbit iklan yang menginginkan kamu mengklik iklan mereka. Sudah membajak, menipu lagi!

Solusinya? Gak ada yang spesial sih. Ya beli buku aja. Yang asli. Membaca buku, bagaimana pun lebih nyaman daripada membaca dari gawai. Membeli yang asli berarti menghargai karya orang lain. Toh beli bajakan pun kamu tetap keluar uang, kan?
Review novel bagus, kamu wajib punya!
Sederhananya, apa yang kita buat, pasti kembali ke kita lagi. Aku sebagai penulis tahu banget rasanya karya tidak dihargai. Tapi soal rezeki sudah ada yang mengatur. Orang zalim itu tidak merugikan kecuali dirinya sendiri.

Nah, dalam rangka bulan bahasa, biasanya ada banyak penerbit yang menjual buku dengan harga lebih murah. Hunting promo atau buku bekas sekalian, lebih berintegritas daripada kamu membeli buku bajakan atau sekadar mengunduh bukel.

Tapi karena ekonomi sekarang memang sedang lesu, tak ada ruginya main ke perpustakaan, taman baca masyarakat, atau seperti saranku di atas; unduh aplikasi iPusnas. Legal dan mudah! 
menulis di kompasiana
19 Oktober 2011, 8 tahun lalu


Mana ada yang ketipu kalau pemilik blog ini usianya masih 8 tahun. Impossible! Jadi berapa? Silakan tebak, gak ada hadiahnya!

Tak terasa sudah 8 tahun aku di Kompasiana. Ya iyalah gak terasa, wong gak aktif. Buat akun tahun 2011, sampai sekarang baru punya 30-an artikel. Karena memang dulu itu buat akunnya dengan alasan yang absurd, tapi entah apa. Yang jelas belum begitu karuan mau ke mana. Wajar dong, kalau belum kepala tiga, kabarnya manusia memang belum dewasa, belum mantap.

Jadi clue itu, delapan tahun lalu usiaku belum 30. Jadi berapakah usiaku sekarang? Nggak ada hadiahnya.

Kompasiana Adalah …

Sebenarnya terlalu mengecilkan pembaca kalau kujelaskan apa itu Kompasiana. Tapi gak ada salahnya kuketik saja. Siapa tahu memang ada yang belum kenal, hitung-hitung menghemat kuota ybs. Daripada dia harus buka-buka Google atau Wikipedia lagi kan.

Kompasiana tadinya adalah blog untuk para jurnalis Kompas. Akibat tren jurnalisme warga yang mewabah di hampir seluruh dunia, Kompasiana kemudian bertransformasi menjadi blog terbuka untuk siapa saja.

Kompasiana secara resmi diluncurkan sebagai social blog pada tanggal 22 Oktober 2008. Waktu itu aku belum nikah. Jadi berapa usiaku? Jangan tanya hadiah.

Sekarang Kompasiana sudah berusia 11 tahun. Berarti waktu aku gabung dulu usianya masih 3 tahun, pantes kutinggal. Nggak ding! Waktu itu sibuk ngantor. Ciee, baca kata “ngantor” itu kesannya wah banget ya. Mau disebut nguli nanti malah terlalu kejam. Intinya kerjalah. Gaji biasa, kesibukan luar biasa. Tapi ilmunya juga banyak, Alhamdulillah.

Tahun 2016 aku resign dan kembali menjejaki dunia literasi. Di tahun ini aku sadar sepenuhnya bahwa passionku adalah menulis. Sudahlah, gak usah sok-sok ngomongin passion. Bilang aja nganggur!

menulis di kompasiana
amunisi terpenting saat nulis

Dalam tiga tahun menganggur ini aku kelayapan di dunia menulis online. Main di platform sana sini. Masyaallah, enak banget! Kerja dari rumah gak usah mikirin seragam, apalagi berangkat pagi pulang sore.

Tapi pas orang lelap sampai ngiler ngorok, aku masih sibuk mikirin berita viral apa yang bisa diolah. Dunia itu adil, Teman!

Sebab Sayang, Kami Balikan

Beberapa kali sempat CLBK dengan Kompasiana. Dan sepertinya di #11TahunKompasiana ini pengin balikan beneran. Sebab ternyata banyak hal yang bisa membuatku makin sayang pada platform satu ini.

Pertama, menulis di Kompasiana gak usah repot share ke medsos atau blog walking untuk meninggalkan jejak. Tinggal tulis aja, dan biarkan orang mampir. Masa sih di antara jutaan pengunjung semuanya tega mengabaikan artikelmu. Meski bersaing dengan ribuan artikel lain, insyaallah hampir pasti ada yang baca. Sedikit banyaknya tergantung tulisan kita menarik atau tidak. Lebih objektif daripada maksa-maksa penghuni WAG untuk mampir (yang kadang malah milih keluar grup).

Kedua, menurutku Kompasiana itu platform bergengsi. Sebab yang datang ke sana bukan orang gabut. Pantas kalau mereka membuat slogan #BeyondBlogging. Bukan sekadar menulis, bahkan banyak tulisan yang kubaca di sana juga bukan pelepasan unek-unek (walaupun itu bagus), tapi lebih kepada menyampaikan pemikiran.

Ketiga, dan ini yang paling hebat. Masih berkaitan dengan poin kedua, di Kompasiana nyaris tidak ada yang merundung (bully). Sepertinya para Kompasianer paham bahwa tulisan kita, sekadar komentar pun menunjukkan isi kepala (atau malah juga isi hati?)
Meskipun di platform lain aku terlatih betul dengan bullying. Hampir tiap hari disebut admin koplak, artikelnya jelek, bahkan difitnah sebagai om-om. Aku woles aja, emang sudah zamannya manusia kalah pintar sama robot. Wayahe.
Baca juga 👉 Peluang Bisnis Menulis di Internet
Ketiga hal di atas untuk saat ini membuatku memutuskan akan terus menambah artikel di Kompasiana. Anggaplah ini janji pada diri sendiri. Selain alasan di Kompasiana sekarang makin banyak event yang siapa tahu, bisa menambah saldo tabunganku.

Tapi serius kok, menulis di Kompasiana membuatku terus berlatih mengasah kemampuan. Rasanya seperti balik ke masa awal-awal berhasil menuntaskan tulisan. Dibaca banyak orang saja sudah senang, meski sekadar diberi nilai “bermanfaat”, “menarik”, atau lainnya. Apalagi kalau nanti bisa jadi headline. Halah, gak usah muluk-muluk. Dapat kiriman ke gopay aja lumayan. Sami mawon.  

gejala depresi terselubung
pixabay
Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan yang serius. Acap kali orang terdekat, atau malah kita sendiri, mengalami gejala depresi terselubung.

Orang yang mengalami depresi seharusnya mendapatkan perawatan medis, tapi kebanyakan kita tidak menyadari bahwa kita tengah mengalami kondisi depresi. Kalaupun tahu, sering juga malu untuk mengakui. Padahal penyangkalan itu penghalang kesembuhan loh!

Untuk memastikan apakah kamu sehat atau sedang terjangkit depresi, coba cek 8 cirinya di bawah ini.

1. Tidak selera makan, atau makan lebih banyak dari biasanya
Depresi menarik kita dari dunia luar, bikin lupa banyak hal, termasuk makan. Atau bisa pula sebaliknya, makanan menjadi pelarian orang yang pikirannya sedang kacau.

2. Kurang atau kebanyakan tidur
Banyak pikiran, sedih, cemas, putus asa, dsb, membuat kita kehabisan energi. Salah satu efeknya adalah sering mengantuk, tapi bangun dalam keadaan tidak segar. Selain kehabisan energi, gejala depresi terselubung juga membuat orang mengalami gangguan tidur lainnya, seperti sulit terpejam atau mudah terbangun.

3. Mudah marah
Orang terdekatmu gampang marah dan mudah tersinggung? Jangan terpancing, bisa jadi dia sedang depresi. Sebagai bentuk cinta, tolongin dong! Bukan dijauhi, apalagi diumbar ke medsos.

4. Tidak menikmati hobi
Ini yang paling gampang terdeteksi, karena hobi adalah hal yang selalu ingin kita lakukan. Bayangkan jika hal itu jadi tak lagi menarik, pasti ada yang salah dong!

Pernah Dengar Eccedentesiast? Jangan-Jangan Kamu Mengidapnya!

5. Susah konsentrasi
Sulit mengingat sesuatu, tidak bisa mengerjakan tugas dengan baik, bahkan lupa apa yang akan dikerjakan. Singkatnya, linglung.

6. Merasa tak berharga
Makin kamu berpikir seperti ini, makin dalam depresimu dan makin berbahaya efeknya. Orang yang bahagia adalah mereka yang mencintai dirinya sebelum hal-hal lain. (Kita berusaha mematuhi aturan agama karena sayangi diri kan?)

7. Cemas gak jelas
Kamu merasa panik tanpa alasan. Bahkan jika diminta menjelaskan apa yang membuat cemas, kamu bingung memulai dari mana, dan akhirnya gak tahu mau ngomong apa.

8. Ingin mati
Dalam keadaan normal, kita berpikir alangkah konyolnya orang yang membunuh dirinya sendiri. Bahkan di luar faktor spiritual, banyak yang menganggap pelaku bunuh diri telah menyia-nyiakan kesempatan hidup di dunia yang menyenangkan ini.
Memang sampai kapan pun bunuh diri bukan solusi. Tapi pada orang tertentu yang merasa terjebak dalam kehidupan yang kacau dan tanpa jalan keluar, bunuh diri dianggap portal instan untuk lepas dari apa yang sedang ia alami.
itulah puncak dan risiko tertinggi dari depresi. Kalau kamu belum sampai pada tahap ini, percayalah jika tak segera mencari solusi, kamu pun akan sampai pada titik ini.
Depresi dalam tiap tahapnya dapat berefek lebih buruk dari yang kita duga. Baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Dapat mengakibatkan penyakit fisik pada diri sendiri, atau kerusakan dalam tatanan sosial.

Setelah mengetahui 8 gejala depresi terselubung di atas, jangan tunda untuk mendatangi psikiater atau psikolog jika kamu mengalaminya. Jangan lupa memperbaiki kualitas ibadah. Bisa jadi ada satu kebutuhan yang tak terpenuhi, yaitu kebutuhan spiritual yang umumnya diabaikan di zaman modern ini.
Tips tambahan untuk kamu yang Muslim; paksa dirimu membaca sedikitnya 30 ayat Alquran sekali duduk. Ditambah membaca al ma’tsurah pagi dan sore. Kalau pusing dan panas, teruskan! Al ma’tsurah itu apa? Tunggu postingannya!

OWARI
Cerpen Syarifah Lestari

Cerpen Berlatar Jambi pada Masa Penjajahan Jepang
pixabay
Aku tenggelam dalam pelukan Bang Sani. Kubenamkan kepalaku pada dadanya, berharap kehangatan ini akan kurasakan kembali suatu saat nanti.
Bang Sani membelai kepalaku. “Jago Mamak[1],” pesannya.
Aku mengangguk.
Entah kenapa ia yang akan bergabung dengan PETA di Jawa mengaku pergi berjuang. Padahal setahuku PETA––seperti juga Giyugun di Jambi––adalah tentara bentukan Jepang. Berjuang untuk siapa? Bukankah Bapak kami tewas di tiang gantungan depan rumah karena beliau tidak mau menurunkan bendera merah putih dari tiang itu, sebagaimana yang diperintahkan Taico[2]? Bang Sani pun pernah diarak dalam keadaan telanjang oleh Keitsatsuco[3] karena ‘mencuri’ di kebun kami sendiri yang telah mereka rebut dengan alasan untuk kepentingan negara. Negara yang mana?
Tapi aku tak banyak bertanya pada Bang Sani perihal kepergiannya, karena aku percaya ia pemuda yang jujur dan cerdas. Tak mungkin ia membohongiku, dan tak mungkin pula ia mau membela Jepang sementara keluarganya melarat karena orang-orang bermata sipit itu.
Bang Sani berangkat bersama Pakwo[4] yang baru saja ditinggal wafat istrinya. Mamak tak kuasa melepas kepergian anak sulungnya itu hingga memilih tetap di rumah.
Di kejauhan, kulihat Owari mengintip Bang Sani dari balik semak-semak. Dulu kami adalah teman yang akrab, ia sangat baik dan kerap mengajari aku dan Bang Sani bahasa Jepang secara lisan. Tapi sejak Jepang membuka topengnya, tahulah kami apa maksud kedatangan mereka ke sini. Sebelum aku dan Bang Sani menjauhinya, Owari lebih dulu menjaga jarak. Lalu, sejak Bapakku dieksekusi, ia menghilang.
Owari datang ke Jambi sebagai anak seorang pedagang, ayahnya ramah, dagangannya murah, membuat orang-orang simpati. Paman Owari bekerja sebagai tukang potret keliling. Seringkali aku dan Bang Sani difoto gratis. Tapi kemudian, setelah Belanda angkat kaki dan Jepang menggantikan, baru kami sadar, kami semua tertipu.
Ayah Owari ternyata bukan pedagang biasa, ia adalah tentara Jepang yang ditugasi membangun kesan baik orang-orang Jepang di mata bangsa Indonesia pada masa pendudukan Belanda, salah satunya dengan dagangannya yang murah. Paman Owari, dengan foto-fotonya berhasil memetakan Jambi hingga ke pelosok-pelosok. Siapa sangka, mereka yang dulunya ramah itu kini tak punya hati? Aku pernah melihat ayah Owari memukul seorang pribumi sambil membentak-bentak, “Bagero nah![5]”. Lain waktu, aku dan Bang Sani membantu Nyai[6] Supik yang luka-luka karena ditabrak Paman Owari dengan sepeda motor, bukannya menolong, orang putih pendek itu malah memaki Nyai Supik.
Aku ingin meminta penjelasan Owari, kenapa mereka sejahat itu pada kami, tak ada harganyakah kebahagiaan kami ketika Jepang menang atas Sekutu? Tapi Owari tak pernah muncul, entah dia takut, tak enak, atau tak sudi. Kurasa yang terakhir ini bukan, ia sering kedapatan mengintip aku dan Bang Sani. Hanya mengintip, tak pernah menampakkan diri.
● ● ●
Mamak pulang dari sungai dengan tangan kosong, beliau tampak lesu. Bisa kutebak apa yang terjadi, gadung kami dicuri orang. Di zaman kelaparan seperti ini, orang tak kenal apa itu dosa, yang penting kenyang. Kasihan Mamak, susah payah beliau mengolah gadung itu, dari mengupas, mengiris, merendam dengan ambung[7] di air mengalir, setiap pagi beliau aduk agar zat racunnya hilang. Kini, pada hari kelima yang mana gadung siap dimasak, makanan itu malah hilang.
Untunglah Pakdo[8] dan kawan-kawannya kemarin berhasil menipu tentara Jepang. Mereka membawa keranda ke pemakaman untuk dikuburkan. Orang Jepang punya satu kesamaan dengan orang Indonesia, suka tahayul. Begitu iring-iringan jenazah lewat, tentara Jepang yang berada di pos penjagaan segera menunduk sebagai sikap hormat kepada jenazah sampai iring-iringan tadi telah jauh dari tempat mereka berdiri. Penjajah itu lebih menghargai orang mati daripada yang hidup.
Malamnya, diam-diam kuburan yang baru digali dibongkar kembali oleh Pakdo dan kawan-kawannya yang lain lagi. Mereka bukan hendak mencuri mayat, tapi mengambil bahan makanan yang mereka beli siang hari. Barang-barang itu dibungkus tikar usang––karena kafan sukar didapat––menyerupai jenazah, lalu diperlakukan layaknya orang yang telah meninggal dunia. Begitulah, orang-orang harus menyerempet bahaya karena bertransaksi sepengetahuan Jepang cukup sulit, bahan-bahan makanan tersebut dibatasi jumlahnya, sedangkan harga tak pula murah sebagai imbas mahalnya biaya perang Jepang melawan Sekutu.
Mamak termenung, mungkin memikirkan keadaan Bang Sani, atau teringat kejadian yang menimpa Bapak. Keduanya sama menyedihkan. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bang Sani dan Pakdo selalu mengingatkanku agar lebih betah di rumah karena keadaan di luar tidak aman untuk anak perempuan berumur 17 tahun sepertiku. Orang-orang Jepang kebal hukum, apa pun perbuatan mereka tidak akan mengakibatkannya terkurung di penjara. Bahkan sebaliknya, korban tabrakan, perkosaan, penganiyaan, atau apa pun itu yang mengadu, malah mendapat hukuman dengan tuduhan memfitnah dan sebagainya.
Yuk...[9]” Bang Nurdin, teman Pakdo, tergopoh-gopoh menaiki tangga rumah panggung kami.
Mamak seketika menoleh.
Ayuk tenang, yo, ini ado duit samo beras dari Zen, dio dibawak yungsa[10] ke Palembang.”
Kulihat mata Mamak memerah, seorang lagi keluarga kami dibunuh Jepang. Pakdo memang masih hidup saat ini, tapi ia akan dijadikan romusha untuk menimbun sungai Tengkuruk di Palembang. Selama ini, romusha yang dibawa yungsa ke Palembang, Padang, Medan, atau daerah di luar Jambi lainnya hanya sedikit yang berhasil pulang. Dari yang sedikit itu pun, sudah tak bisa dikenali lagi oleh sanak famili karena fisiknya sudah tidak menyerupai manusia. Kurus, lusuh, bahkan ada yang gila!
Sepamit Bang Nurdin, aku dan Mamak berisakkan. Habis sudah laki-laki di rumah ini.
Biaklah[11], asal jangan Allah be[12] yang ninggalin kito,” di sela tangisnya Mamak menghiburku.
Owari muncul dari balik semak samping rumahku, wajahnya berempati, tapi aku tak percaya. Orang-orang Jepang seperti pemain sandiwara yang pandai berubah-ubah perangai. Dengan geram kulempar sebuah tempurung kering ke arah Owari. Gadis itu terkejut, lalu pergi.       
● ● ●
Tiga tahun sudah Bang Sani, Pakwo, dan Pakdo meninggalkan aku dan Mamak. Sampai usiaku berkepala dua ini, tak juga ada kabar dari ketiganya. Rindu sudah terkikis, harapan pun nyaris habis. Rasanya tiga orang terdekat itu sudah tinggal kenangan saja. Mamak makin hari makin kurus, tapi beliau terlihat tetap bersemangat menyongsong subuh, seperti ketika keluarga ini masih lengkap. Mamak sedang berupaya melupakan masa silam yang suram itu, aku pun demikian. Dan sekarang ini, aku harus lebih berani meninggalkan rumah untuk beradu cepat dengan babi dalam mendapatkan gadung, mencari damar untuk dibuat menjadi tunam[13], dan berupaya mendapatkan harga tinggi dari barang-barang isi rumah yang kujual demi menyambung hidup.
Setelah tiga tahun ini, Owari makin berani mendekatiku walau tanpa bicara. Mamak selalu menegur jika aku bermaksud mengasarinya. Di antara kepedihannya, Mamak masih menyimpan kasih sayang pada sesama, sekalipun pada gadis bangsa penjajah itu.  
“Desi....”
Aku seperti mengenal suara itu.
Ojama desu ka[14]?”
Benar saja, telah lebih tiga tahun aku tak mengobrol lagi dengan pemilik suara ini. Owari.
“Berani kau ketemu aku?” langsung kuperlihatkan wajah tak suka demi melihat kehadirannya.
Isoide imasu[15],” ujarnya memelas.
Apo?” aku menjawab ketus.
“Saya butuh bantuan kalian.” Owari tertunduk.
Aku menyeringai, “Dari dulu kalian tu memang la butuh kami, nak dijadikan sapi perah, mesin perang...”
“Cukup. Bukan itu yang saya maksud,” Owari memotong ucapanku.
“Owari!”
Gadis sebayaku itu terkesiap. Segera ia berlari meninggalkan rumahku. “Besok saya kemari lagi,” pamitnya.
Ayah Owari terlihat berkacak pinggang di sebelah rumpun bambu pinggir jalan. Sesampainya Owari di sana, tangan laki-laki itu segera saja melayang ke kepalanya. Aku takjub, pantas saja penjahat itu begitu buas terhadap kami, dengan anaknya sendiri saja ia kejam. Ah, peduli apa aku dengan keluarga itu.
“Besok kau jangan kasar lagi samo dio, mungkin memang ado yang penting nak disampaikannyo.” Ternyata Mamak sedari tadi memperhatikanku dari dalam.
Dak usahlah kito percayo orang tu. Nak mati pun, matilah sano!
“Desi, dak pernah Bapak dan Mamak kau ni ngajarin kasar kayak gitu!
Aku terdiam. Memang, keluarga ini terlalu lembut, bangsa ini terlalu lembut. Pun kepada para penjajah.
● ● ●
Pagi ini, Mamak terlihat cerah karena semalam kami kedatangan seseorang. Tadinya aku tak mengenali orang itu, tapi setelah kuperhatikan baik-baik barulah ingatanku kembali. Yang datang malam itu Pakdo, adik Mamak yang sudah tiga tahun jadi romusha di Palembang. Aku sujud syukur, Pakdo masih hidup meski tinggal tulang berbalut kulit. Ia juga masih sehat ingatannya, tidak gila seperti dugaanku.
Hingga memasuki waktu dhuha, Pakdo masih tak banyak bersuara. Ia kelelahan setelah berjalan kaki berhari-hari dari Bayung Lencir ke Olak Kemang menyusuri hutan dan Sungai Batanghari. 
“Desi.” Suara itu lagi. Kulihat Owari berjongkok di bawah panggung rumahku.
Ado apo?” kali ini aku bertanya baik-baik, mematuhi pesan Mamak kemarin.
Setelah kami berdua naik ke teras rumah, Owari menyerahkan selembar kertas padaku. Langsung saja kertas itu kukembalikan, “Aku dak biso baco.”
“Ini nama-nama pemuda PETA yang...” Owari menghentikan ucapannya.
“Yang apo?”
“Yang...” ia tampak ragu. “Yang dihukum mati karena memberontak.”
Aku lunglai tapi pasrah, sejak kepergiannya pun aku sudah punya firasat bahwa Bang Sani takkan kembali lagi. Berarti itulah yang dimaksud abangku dengan pergi berjuang, ternyata ia dan teman-temannya telah merencanakan pemberontakan sejak lama.
Tak kuduga, mata Owari berkaca-kaca, lalu bening-bening itu bergulir dari sudut kedua matanya.
Ngapo kau yang nangis?”
“Dari dulu saya berharap, Sani bisa menyelamatkan saya.”
Dahiku berkerut tak mengerti.
“Saya ingin keluar dari rumah itu.”
“Rumah kau?”
Owari mengangguk.
“Owari, ehotto kide kudasai[16]!” paman Owari tiba-tiba sudah berdiri di dekat anak tangga rumah.
Gomen nasai[17],” Owari membungkuk di depan pamannya, lalu berpamitan padaku.
Aku masuk ke dalam rumah. Kertas dari Owari tadi dibawanya kembali. Lebih baik kabar itu kubiarkan saja menguap bersama zaman, tak tega kuhempas kebahagiaan Mamak hari ini. 
Saat melintasi jendela, tak sengaja kutoleh jalan setapak yang dilewati Owari dan pamannya. Kulihat ia dihajar lagi oleh keluarganya itu.
Di dalam rumah, Mamak dengan sabar mengurusi adiknya, menyuapkan makanan untuk mengisi badan kurus itu, dan sesekali melap air dan makanan tak terkunyah di sekitar mulut Pakdo yang giginya sudah tak utuh dengan bibir yang pecah-pecah, membuatnya sulit mencerna makanan.
Sekali lagi kutoleh jendela, akhirnya tumbuh juga rasa kasihanku pada Owari. Adakah dia juga kasihan pada nasib keluargaku? Lebih dari itu, nasib bangsaku?
● ● ●
 “Assalamu’alaikum,” ada yang berbisik dari bawah kolong rumahku.
Mamak yang baru saja selesai salat malam mendekati asal suara, “Wa’alaikum salam,” jawab beliau dengan berbisik pula.
Entah apa yang diucapkan orang itu, Mamak kemudian membuka sedikit pintu belakang dengan perlahan agar tak mengeluarkan suara. Dua kantong besar berisi beras, garam, dan gula berpindah ke dapurku. Sehelai kertas terselip di sana.
Pintu kembali ditutup, sosok yang mengantarkan makanan pergi begitu saja menembus kepekatan malam.
Siapo, Mak?” tanyaku. Mamak mengangkat kedua bahunya.
Kuambil kertas di atas beras. Mamak hanya melihat, tak berkeinginan mencari tahu apa isinya. Kami berdua memang sama-sama buta huruf, tunggu pagi saja, mudah-mudahan besok Pakdo sudah pulih benar. Hanya dia dan almarhum Bang Sani yang bisa membaca.
● ● ●
Dari Owari Hisamura.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jawablah salam saya karena saya adalah seorang muslimah. Seperti yang pernah saya bilang, saya berharap Sani yang dulu mengenalkan Islam pada saya suatu saat bisa membantu saya keluar dari tempat ini. Kertas yang kemarin saya bawa berisikan nama-nama orang yang dihukum mati. Nama Pakwo Desi tertulis di sana––saya turut menyesal. Tapi Sani tidak, ia selamat!
Saya akan pergi menyusul Sani di Jawa, sekalian mengabarkan keadaan kalian padanya. Suatu saat nanti, insya Allah ia akan kembali ke Jambi. Untuk sekarang tentu saja sulit, karena Sani berstatus buron.
Tahukah kamu, Desi. Dua laki-laki yang dulu saya akui sebagai ayah dan paman saya adalah bohong belaka. Mereka bukan keluarga saya, saya hanya dipakai untuk memperalat penduduk. Itulah sebab mengapa saya sangat ingin keluar dari rumah itu. Empat tahun lamanya saya harus menyembunyikan keislaman saya, bertahan satu rumah dengan dua laki-laki yang bukan mahram, membendung keinginan saya untuk mengenakan kerudung, tak berpuasa selama dua kali Ramadhan.... Sungguh, itu semua menyiksa saya.
Jepang takkan lama bertahan, Sekutu terlalu berat bagi gabungan negara-negara kecil di pihak Jepang. Jika saya masih hidup di saat kalian merdeka, saya berjanji akan kembali menemui kalian. Karena bagaimana pun, saya tidak menyukai perlakuan Jepang terhadap Indonesia, dan kecintaan saya pada Islam jauh lebih besar daripada cinta saya pada Jepang. Sebab, ikatan persaudaraan dari persamaan keyakinan lebih kuat dibanding persamaan suku, bangsa, atau apa pun.
Sampai bertemu di hari yang lain.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pakdo melipat kembali surat yang baru bisa dibacakannya setelah tersimpan selama sepekan. Mamak menyeka airmata haru, sedang aku kebingungan bagaimana harus bereaksi. Bahagia, khawatir, sedih, gembira... semuanya bercampur aduk!
● ● ●
Kubuka kembali kertas kusam di tanganku. Bertahun-tahun surat dari Owari itu kusimpan. Jepang terpaksa pulang kampung karena Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak dijatuhi bom atom oleh Amerika, sebagai balasan atas hancurnya Pearl Harbour. Sukarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan negara yang sedang vakum ini, kemerdekaan yang tanpa sengaja.
Berbulan-bulan kusaksikan matahari naik turun membentuk bayangan nisan Mamak, tapi Bang Sani dan Owari tak kunjung datang, padahal Pakdo tak jemu-jemu mengirimi mereka surat. Bisa jadi, ia hanya pura-pura mengirimkan surat itu untuk menghibur hatiku, dari mana ia tahu alamat mereka? Dan, aku yang buta huruf ini tak mengerti apa yang tertulis di amplop surat itu. Entah alamat, entah nama, atau... sudahlah! Kesendirian adalah bagian tak terpisahkan dari hidupku. Toh aku dilahirkan sendiri, dan akan ‘pergi’ sendiri pula.


Cerpen ini adalah satu dari 11 cerpen yang ada di Kumpulan Epik Bidadari dari Bajau. Versi cetaknya sudah terjual habis, tapi ebooknya bisa kamu beli di Play Store (bagian buku/books) atau unduh gratis sebagian isinya di Play Buku.

selain cerpen berlatar Jambi pada masa penjajahan Jepang, juga ada cerpen Jambi berlatar penjajahan Belanda, cerpen dengan tokoh Belanda, dll. Tapi semuanya adalah cerpen bertema Jambi.

Eh, mampir juga ke Cerpen Bertema Milenial, gak kalah seru!


[1] ibu
[2] komandan batalion Jepang 
[3] perwira polisi Jepang di kewedanan
[4] kakak laki-laki ibu/ayah
[5] kamu kurang ajar/binatang!
[6] nenek
[7] keranjang
[8] adik laki-laki ibu/ayah
[9] ayuk/yuk=panggilan untuk perempuan yang lebih tua
[10] anggota polisi
[11] biarlah
[12] saja
[13] penerang rumah dari damar dan bambu
[14] apakah saya mengganggu?
[15] ini penting
[16] kemari
[17] maafkan