unsplash.com

Sejak dirukiah, Widodo menjadi agak tenang. Walau menurut beberapa orang, pengobatan dengan rukiah tidak nyambung untuk Widodo.
Ia bukan kena sihir, tidak ada urusan dengan jin. Tapi suka nyeleneh saat berhadapan dengan orang lain. Hobinya mendebat. Kalau tidak berhasil menguasai forum, dia akan menggebrak-gebrak meja. Jadi saudara-saudaranya memutuskan untuk merukiah Widodo, terserah apa pun alasannya.
iluvtari.com adalah blog personal yang dikelola oleh Syarifah Lestari, penulis sekaligus editor lepas yang artikelnya bisa kamu temukan di UC News/UC Browser, Kompasiana, Kaskus, dll.

Mamak bilang, waktu kecil aku diberi susu merek Andsapi. Belum pernah dengar kan merek itu? Karena itu hanya penamaan olehku, semacam “panggil saja Bunga”.

Tapi yang kuingat hanya gambar cewek bule memanggul sesuatu di kepalanya. Susu kaleng yang tiap pagi dan sore kuminum sambil ditungguin Mamak. Kupikir, susu itulah yang membuatku gak keluar-keluar dari ranking 10 besar selama SD-SMP.
Kukira nona yang enggak ada capeknya itulah yang membuat aku, ehm, pintar. Iya, ini klaim. Jangan diambil hati!
Naskah ini adalah bagian akhir dari 4 bagian sebelumnya. Cerpen Syarifah Lestari yang ditayangkan di Kompasiana
Photo by Glenn Carstens-Peters on Unsplash

Judulnya jelas dan lugas ya! Jadi kalau kamu sudah berpengalaman, gak usah sok-sok merendah dengan masuk ke artikel ini. Apalagi kamu yang gak niat nulis cerpen. Ngapain mengklik artikel berjudul cara menulis cerpen untuk pemula?

Menulis cerpen yang baik dan benar sudah gak musim lagi. Karena kata baik dan benar, itu terlalu mengikat. Seolah ada SOP yang tegas mengatur seluruh manusia di Bumi agar mematuhi aturan percerpenan. Padahal, sekarang orang lebih tertarik cerpen yang kreatif dibanding yang baik dan benar. Sebab yang baik belum tentu kaya. Yang benar belum tentu ganteng.
hukum cadar menurut 4 madzhab
instagram.com/aifahtama

Jadi kebiasaan sekarang, setiap menulis satu topik, dipecah jadi beberapa. Tapi majangnya di banyak tempat, dasar gak fokus! Kali ini hebohnya soal cadar, yang kabarnya bakal dibuat peraturan khusus. Lebih spesifik tentang hukum cadar, yang dalam pencarian kata kuncinya bikin agak geli.

Menurut ilmu yang ditularkan para mastah blogger, nulis itu selain suka-suka juga harus ada yang baca. Syarat dibaca, ya ada yang nyari. Tau deh ini artikel ada yang nyari atau nggak. Pokoe tetap nulis yang kita suka. Hidup egois!
Di Jambi ada toko buku bekas yang sudah berdiri sejak aku kecil. Kalau ditanya toko buku murah, hampir pasti orang akan merekomendasikan toko ini. Bukan karena lengkap, tapi mungkin dia satu-satunya yang masih bertahan. Bahkan sejak kita belum mengenal e-book/bukel (buku elektronik).
Dulu, kalau kita bertamu ke rumah orang, hampir pasti di bawah meja atau di pojok ruangannya ada tumpukan buku, koran, atau bahan bacaan lain. Sekarang, sekadar album foto pun sudah tidak ada.

Album foto tidak tersedia sih tak masalah. Kita tahu di mana sekarang kenangan itu tersimpan, ada gawai dan penyimpanan awan yang sekarang lebih besar muatannya dibanding album yang terbatas.
Tapi bukunya di mana? Oh ya, kan ada e-book alias buku elektronik (bukel). Karena sekarang hampir semua orang punya ponsel pintar, yang kecanggihannya telah menggusur banyak barang, termasuk buku.

Pada 22 Oktober 2019 kemarin, Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Jambi menggelar rangkaian acara terkait literasi, sekaligus launching iPustaka Jambi.
 

Aplikasi iPustaka Jambi sudah lama sekali ada di ponselku. Rasanya sudah lebih satu tahun, menyusul iPusnas yang lebih dulu kupasang. Senang sekali dengan adanya aplikasi ini, bisa jadi alternatif daripada mengoleksi bukel. Lah, memang apa salahnya?


Percaya gak percaya, meski banyak yang mengunduh e-book, hanya sedikit yang benar-benar membacanya. Dengan adanya “perpustakaan digital”, kita jadi menghemat ruang penyimpanan gawai, sekaligus menghemat dosa.

Tidak sedikit yang menyadari bahwa kebanyakan bukel yang seliweran di internet sebenarnya tidak legal. Sekadar mengunduh tanpa membagikannya pun bisa dianggap pembajakan. Kecuali jika bukel tersebut diunggah langsung oleh penulisnya atau lembaga yang telah memegang hak cipta, semisal Kemdikbud dan semacamnya.

hukumonline.com

Selain melanggar hukum, mengunduh e-book sembarangan juga berbahaya untuk ponsel atau komputer/laptopmu. Kamu pikir para pembajak mau begitu saja membagikan hasil bajakan mereka secara cuma-cuma?

Sering kan, kamu mengklik sebuah tombol untuk mengunduh tapi akhirnya malah diarahkan ke halaman yang gak jelas? Atau malah salah unduh, tahu-tahu terpasang aplikasi gak penting, yang malah membuat gawaimu berat?

Itu karena pemilik laman tempat kamu dijanjikan dapat buku gratisan telah bekerja sama dengan pengembang aplikasi. Atau bekerja sama dengan penerbit iklan yang menginginkan kamu mengklik iklan mereka. Sudah membajak, menipu lagi!

Solusinya? Gak ada yang spesial sih. Ya beli buku aja. Yang asli. Membaca buku, bagaimana pun lebih nyaman daripada membaca dari gawai. Membeli yang asli berarti menghargai karya orang lain. Toh beli bajakan pun kamu tetap keluar uang, kan?

Sederhananya, apa yang kita buat, pasti kembali ke kita lagi. Aku sebagai penulis tahu banget rasanya karya tidak dihargai. Tapi soal rezeki sudah ada yang mengatur. Orang zalim itu tidak merugikan kecuali dirinya sendiri.

Nah, dalam rangka bulan bahasa, biasanya ada banyak penerbit yang menjual buku dengan harga lebih murah. Hunting promo atau buku bekas sekalian, lebih berintegritas daripada kamu membeli buku bajakan atau sekadar mengunduh bukel.

Tapi karena ekonomi sekarang memang sedang lesu, tak ada ruginya main ke perpustakaan, taman baca masyarakat, atau seperti saranku di atas; unduh aplikasi iPusnas. Legal dan mudah! 
19 Oktober 2011, 8 tahun lalu


Mana ada yang ketipu kalau pemilik blog ini usianya masih 8 tahun. Impossible! Jadi berapa? Silakan tebak, gak ada hadiahnya!

Tak terasa sudah 8 tahun aku di Kompasiana. Ya iyalah gak terasa, wong gak aktif. Buat akun tahun 2011, sampai sekarang baru punya 30-an artikel. Karena memang dulu itu buat akunnya dengan alasan yang absurd, tapi entah apa. Yang jelas belum begitu karuan mau ke mana. Wajar dong, kalau belum kepala tiga, kabarnya manusia memang belum dewasa, belum mantap.

Jadi clue itu, delapan tahun lalu usiaku belum 30. Jadi berapakah usiaku sekarang? Nggak ada hadiahnya.

Kompasiana Adalah …

Sebenarnya terlalu mengecilkan pembaca kalau kujelaskan apa itu Kompasiana. Tapi gak ada salahnya kuketik saja. Siapa tahu memang ada yang belum kenal, hitung-hitung menghemat kuota ybs. Daripada dia harus buka-buka Google atau Wikipedia lagi kan.

Kompasiana tadinya adalah blog untuk para jurnalis Kompas. Akibat tren jurnalisme warga yang mewabah di hampir seluruh dunia, Kompasiana kemudian bertransformasi menjadi blog terbuka untuk siapa saja.

Kompasiana secara resmi diluncurkan sebagai social blog pada tanggal 22 Oktober 2008. Waktu itu aku belum nikah. Jadi berapa usiaku? Jangan tanya hadiah.

Sekarang Kompasiana sudah berusia 11 tahun. Berarti waktu aku gabung dulu usianya masih 3 tahun, pantes kutinggal. Nggak ding! Waktu itu sibuk ngantor. Ciee, baca kata “ngantor” itu kesannya wah banget ya. Mau disebut nguli nanti malah terlalu kejam. Intinya kerjalah. Gaji biasa, kesibukan luar biasa. Tapi ilmunya juga banyak, Alhamdulillah.

Tahun 2016 aku resign dan kembali menjejaki dunia literasi. Di tahun ini aku sadar sepenuhnya bahwa passionku adalah menulis. Sudahlah, gak usah sok-sok ngomongin passion. Bilang aja nganggur!

amunisi terpenting saat nulis

Dalam tiga tahun menganggur ini aku kelayapan di dunia menulis online. Main di platform sana sini. Masyaallah, enak banget! Kerja dari rumah gak usah mikirin seragam, apalagi berangkat pagi pulang sore.

Tapi pas orang lelap sampai ngiler ngorok, aku masih sibuk mikirin berita viral apa yang bisa diolah. Dunia itu adil, Teman!

Sebab Sayang, Kami Balikan

Beberapa kali sempat CLBK dengan Kompasiana. Dan sepertinya di #11TahunKompasiana ini pengin balikan beneran. Sebab ternyata banyak hal yang bisa membuatku makin sayang pada platform satu ini.

Pertama, menulis di Kompasiana gak usah repot share ke medsos atau blog walking untuk meninggalkan jejak. Tinggal tulis aja, dan biarkan orang mampir. Masa sih di antara jutaan pengunjung semuanya tega mengabaikan artikelmu. Meski bersaing dengan ribuan artikel lain, insyaallah hampir pasti ada yang baca. Sedikit banyaknya tergantung tulisan kita menarik atau tidak. Lebih objektif daripada maksa-maksa penghuni WAG untuk mampir (yang kadang malah milih keluar grup).

Kedua, menurutku Kompasiana itu platform bergengsi. Sebab yang datang ke sana bukan orang gabut. Pantas kalau mereka membuat slogan #BeyondBlogging. Bukan sekadar menulis, bahkan banyak tulisan yang kubaca di sana juga bukan pelepasan unek-unek (walaupun itu bagus), tapi lebih kepada menyampaikan pemikiran.

Ketiga, dan ini yang paling hebat. Masih berkaitan dengan poin kedua, di Kompasiana nyaris tidak ada yang merundung (bully). Sepertinya para Kompasianer paham bahwa tulisan kita, sekadar komentar pun menunjukkan isi kepala (atau malah juga isi hati?)
Meskipun di platform lain aku terlatih betul dengan bullying. Hampir tiap hari disebut admin koplak, artikelnya jelek, bahkan difitnah sebagai om-om. Aku woles aja, emang sudah zamannya manusia kalah pintar sama robot. Wayahe.

Ketiga hal di atas untuk saat ini membuatku memutuskan akan terus menambah artikel di Kompasiana. Anggaplah ini janji pada diri sendiri. Selain alasan di Kompasiana sekarang makin banyak event yang siapa tahu, bisa menambah saldo tabunganku.

Tapi serius kok, menulis di Kompasiana membuatku terus berlatih mengasah kemampuan. Rasanya seperti balik ke masa awal-awal berhasil menuntaskan tulisan. Dibaca banyak orang saja sudah senang, meski sekadar diberi nilai “bermanfaat”, “menarik”, atau lainnya. Apalagi kalau nanti bisa jadi headline. Halah, gak usah muluk-muluk. Dapat kiriman ke gopay aja lumayan. Sami mawon.  

gejala depresi terselubung
pixabay
Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan yang serius. Acap kali orang terdekat, atau malah kita sendiri, mengalami gejala depresi terselubung.

Orang yang mengalami depresi seharusnya mendapatkan perawatan medis, tapi kebanyakan kita tidak menyadari bahwa kita tengah mengalami kondisi depresi. Kalaupun tahu, sering juga malu untuk mengakui. Padahal penyangkalan itu penghalang kesembuhan loh!


OWARI
Cerpen Syarifah Lestari

Perang, Pengungsi, Anak, Tolong
pixabay
Aku tenggelam dalam pelukan Bang Sani. Kubenamkan kepalaku pada dadanya, berharap kehangatan ini akan kurasakan kembali suatu saat nanti.
Bang Sani membelai kepalaku. “Jago Mamak[1],” pesannya.
Aku mengangguk.
Entah kenapa ia yang akan bergabung dengan PETA di Jawa mengaku pergi berjuang. Padahal setahuku PETA––seperti juga Giyugun di Jambi––adalah tentara bentukan Jepang. Berjuang untuk siapa? Bukankah Bapak kami tewas di tiang gantungan depan rumah karena beliau tidak mau menurunkan bendera merah putih dari tiang itu, sebagaimana yang diperintahkan Taico[2]? Bang Sani pun pernah diarak dalam keadaan telanjang oleh Keitsatsuco[3] karena ‘mencuri’ di kebun kami sendiri yang telah mereka rebut dengan alasan untuk kepentingan negara. Negara yang mana?
Tapi aku tak banyak bertanya pada Bang Sani perihal kepergiannya, karena aku percaya ia pemuda yang jujur dan cerdas. Tak mungkin ia membohongiku, dan tak mungkin pula ia mau membela Jepang sementara keluarganya melarat karena orang-orang bermata sipit itu.
Bang Sani berangkat bersama Pakwo[4] yang baru saja ditinggal wafat istrinya. Mamak tak kuasa melepas kepergian anak sulungnya itu hingga memilih tetap di rumah.
Di kejauhan, kulihat Owari mengintip Bang Sani dari balik semak-semak. Dulu kami adalah teman yang akrab, ia sangat baik dan kerap mengajari aku dan Bang Sani bahasa Jepang secara lisan. Tapi sejak Jepang membuka topengnya, tahulah kami apa maksud kedatangan mereka ke sini. Sebelum aku dan Bang Sani menjauhinya, Owari lebih dulu menjaga jarak. Lalu, sejak Bapakku dieksekusi, ia menghilang.
Owari datang ke Jambi sebagai anak seorang pedagang, ayahnya ramah, dagangannya murah, membuat orang-orang simpati. Paman Owari bekerja sebagai tukang potret keliling. Seringkali aku dan Bang Sani difoto gratis. Tapi kemudian, setelah Belanda angkat kaki dan Jepang menggantikan, baru kami sadar, kami semua tertipu.
Ayah Owari ternyata bukan pedagang biasa, ia adalah tentara Jepang yang ditugasi membangun kesan baik orang-orang Jepang di mata bangsa Indonesia pada masa pendudukan Belanda, salah satunya dengan dagangannya yang murah. Paman Owari, dengan foto-fotonya berhasil memetakan Jambi hingga ke pelosok-pelosok. Siapa sangka, mereka yang dulunya ramah itu kini tak punya hati? Aku pernah melihat ayah Owari memukul seorang pribumi sambil membentak-bentak, “Bagero nah![5]”. Lain waktu, aku dan Bang Sani membantu Nyai[6] Supik yang luka-luka karena ditabrak Paman Owari dengan sepeda motor, bukannya menolong, orang putih pendek itu malah memaki Nyai Supik.
Aku ingin meminta penjelasan Owari, kenapa mereka sejahat itu pada kami, tak ada harganyakah kebahagiaan kami ketika Jepang menang atas Sekutu? Tapi Owari tak pernah muncul, entah dia takut, tak enak, atau tak sudi. Kurasa yang terakhir ini bukan, ia sering kedapatan mengintip aku dan Bang Sani. Hanya mengintip, tak pernah menampakkan diri.
● ● ●
Mamak pulang dari sungai dengan tangan kosong, beliau tampak lesu. Bisa kutebak apa yang terjadi, gadung kami dicuri orang. Di zaman kelaparan seperti ini, orang tak kenal apa itu dosa, yang penting kenyang. Kasihan Mamak, susah payah beliau mengolah gadung itu, dari mengupas, mengiris, merendam dengan ambung[7] di air mengalir, setiap pagi beliau aduk agar zat racunnya hilang. Kini, pada hari kelima yang mana gadung siap dimasak, makanan itu malah hilang.
Untunglah Pakdo[8] dan kawan-kawannya kemarin berhasil menipu tentara Jepang. Mereka membawa keranda ke pemakaman untuk dikuburkan. Orang Jepang punya satu kesamaan dengan orang Indonesia, suka tahayul. Begitu iring-iringan jenazah lewat, tentara Jepang yang berada di pos penjagaan segera menunduk sebagai sikap hormat kepada jenazah sampai iring-iringan tadi telah jauh dari tempat mereka berdiri. Penjajah itu lebih menghargai orang mati daripada yang hidup.
Malamnya, diam-diam kuburan yang baru digali dibongkar kembali oleh Pakdo dan kawan-kawannya yang lain lagi. Mereka bukan hendak mencuri mayat, tapi mengambil bahan makanan yang mereka beli siang hari. Barang-barang itu dibungkus tikar usang––karena kafan sukar didapat––menyerupai jenazah, lalu diperlakukan layaknya orang yang telah meninggal dunia. Begitulah, orang-orang harus menyerempet bahaya karena bertransaksi sepengetahuan Jepang cukup sulit, bahan-bahan makanan tersebut dibatasi jumlahnya, sedangkan harga tak pula murah sebagai imbas mahalnya biaya perang Jepang melawan Sekutu.
Mamak termenung, mungkin memikirkan keadaan Bang Sani, atau teringat kejadian yang menimpa Bapak. Keduanya sama menyedihkan. Aku tak tahu harus berbuat apa. Bang Sani dan Pakdo selalu mengingatkanku agar lebih betah di rumah karena keadaan di luar tidak aman untuk anak perempuan berumur 17 tahun sepertiku. Orang-orang Jepang kebal hukum, apa pun perbuatan mereka tidak akan mengakibatkannya terkurung di penjara. Bahkan sebaliknya, korban tabrakan, perkosaan, penganiyaan, atau apa pun itu yang mengadu, malah mendapat hukuman dengan tuduhan memfitnah dan sebagainya.
Yuk...[9]” Bang Nurdin, teman Pakdo, tergopoh-gopoh menaiki tangga rumah panggung kami.
Mamak seketika menoleh.
Ayuk tenang, yo, ini ado duit samo beras dari Zen, dio dibawak yungsa[10] ke Palembang.”
Kulihat mata Mamak memerah, seorang lagi keluarga kami dibunuh Jepang. Pakdo memang masih hidup saat ini, tapi ia akan dijadikan romusha untuk menimbun sungai Tengkuruk di Palembang. Selama ini, romusha yang dibawa yungsa ke Palembang, Padang, Medan, atau daerah di luar Jambi lainnya hanya sedikit yang berhasil pulang. Dari yang sedikit itu pun, sudah tak bisa dikenali lagi oleh sanak famili karena fisiknya sudah tidak menyerupai manusia. Kurus, lusuh, bahkan ada yang gila!
Sepamit Bang Nurdin, aku dan Mamak berisakkan. Habis sudah laki-laki di rumah ini.
Biaklah[11], asal jangan Allah be[12] yang ninggalin kito,” di sela tangisnya Mamak menghiburku.
Owari muncul dari balik semak samping rumahku, wajahnya berempati, tapi aku tak percaya. Orang-orang Jepang seperti pemain sandiwara yang pandai berubah-ubah perangai. Dengan geram kulempar sebuah tempurung kering ke arah Owari. Gadis itu terkejut, lalu pergi.       
● ● ●
Tiga tahun sudah Bang Sani, Pakwo, dan Pakdo meninggalkan aku dan Mamak. Sampai usiaku berkepala dua ini, tak juga ada kabar dari ketiganya. Rindu sudah terkikis, harapan pun nyaris habis. Rasanya tiga orang terdekat itu sudah tinggal kenangan saja. Mamak makin hari makin kurus, tapi beliau terlihat tetap bersemangat menyongsong subuh, seperti ketika keluarga ini masih lengkap. Mamak sedang berupaya melupakan masa silam yang suram itu, aku pun demikian. Dan sekarang ini, aku harus lebih berani meninggalkan rumah untuk beradu cepat dengan babi dalam mendapatkan gadung, mencari damar untuk dibuat menjadi tunam[13], dan berupaya mendapatkan harga tinggi dari barang-barang isi rumah yang kujual demi menyambung hidup.
Setelah tiga tahun ini, Owari makin berani mendekatiku walau tanpa bicara. Mamak selalu menegur jika aku bermaksud mengasarinya. Di antara kepedihannya, Mamak masih menyimpan kasih sayang pada sesama, sekalipun pada gadis bangsa penjajah itu.  
“Desi....”
Aku seperti mengenal suara itu.
Ojama desu ka[14]?”
Benar saja, telah lebih tiga tahun aku tak mengobrol lagi dengan pemilik suara ini. Owari.
“Berani kau ketemu aku?” langsung kuperlihatkan wajah tak suka demi melihat kehadirannya.
Isoide imasu[15],” ujarnya memelas.
Apo?” aku menjawab ketus.
“Saya butuh bantuan kalian.” Owari tertunduk.
Aku menyeringai, “Dari dulu kalian tu memang la butuh kami, nak dijadikan sapi perah, mesin perang...”
“Cukup. Bukan itu yang saya maksud,” Owari memotong ucapanku.
“Owari!”
Gadis sebayaku itu terkesiap. Segera ia berlari meninggalkan rumahku. “Besok saya kemari lagi,” pamitnya.
Ayah Owari terlihat berkacak pinggang di sebelah rumpun bambu pinggir jalan. Sesampainya Owari di sana, tangan laki-laki itu segera saja melayang ke kepalanya. Aku takjub, pantas saja penjahat itu begitu buas terhadap kami, dengan anaknya sendiri saja ia kejam. Ah, peduli apa aku dengan keluarga itu.
“Besok kau jangan kasar lagi samo dio, mungkin memang ado yang penting nak disampaikannyo.” Ternyata Mamak sedari tadi memperhatikanku dari dalam.
Dak usahlah kito percayo orang tu. Nak mati pun, matilah sano!
“Desi, dak pernah Bapak dan Mamak kau ni ngajarin kasar kayak gitu!
Aku terdiam. Memang, keluarga ini terlalu lembut, bangsa ini terlalu lembut. Pun kepada para penjajah.
● ● ●
Pagi ini, Mamak terlihat cerah karena semalam kami kedatangan seseorang. Tadinya aku tak mengenali orang itu, tapi setelah kuperhatikan baik-baik barulah ingatanku kembali. Yang datang malam itu Pakdo, adik Mamak yang sudah tiga tahun jadi romusha di Palembang. Aku sujud syukur, Pakdo masih hidup meski tinggal tulang berbalut kulit. Ia juga masih sehat ingatannya, tidak gila seperti dugaanku.
Hingga memasuki waktu dhuha, Pakdo masih tak banyak bersuara. Ia kelelahan setelah berjalan kaki berhari-hari dari Bayung Lencir ke Olak Kemang menyusuri hutan dan Sungai Batanghari. 
“Desi.” Suara itu lagi. Kulihat Owari berjongkok di bawah panggung rumahku.
Ado apo?” kali ini aku bertanya baik-baik, mematuhi pesan Mamak kemarin.
Setelah kami berdua naik ke teras rumah, Owari menyerahkan selembar kertas padaku. Langsung saja kertas itu kukembalikan, “Aku dak biso baco.”
“Ini nama-nama pemuda PETA yang...” Owari menghentikan ucapannya.
“Yang apo?”
“Yang...” ia tampak ragu. “Yang dihukum mati karena memberontak.”
Aku lunglai tapi pasrah, sejak kepergiannya pun aku sudah punya firasat bahwa Bang Sani takkan kembali lagi. Berarti itulah yang dimaksud abangku dengan pergi berjuang, ternyata ia dan teman-temannya telah merencanakan pemberontakan sejak lama.
Tak kuduga, mata Owari berkaca-kaca, lalu bening-bening itu bergulir dari sudut kedua matanya.
Ngapo kau yang nangis?”
“Dari dulu saya berharap, Sani bisa menyelamatkan saya.”
Dahiku berkerut tak mengerti.
“Saya ingin keluar dari rumah itu.”
“Rumah kau?”
Owari mengangguk.
“Owari, ehotto kide kudasai[16]!” paman Owari tiba-tiba sudah berdiri di dekat anak tangga rumah.
Gomen nasai[17],” Owari membungkuk di depan pamannya, lalu berpamitan padaku.
Aku masuk ke dalam rumah. Kertas dari Owari tadi dibawanya kembali. Lebih baik kabar itu kubiarkan saja menguap bersama zaman, tak tega kuhempas kebahagiaan Mamak hari ini. 
Saat melintasi jendela, tak sengaja kutoleh jalan setapak yang dilewati Owari dan pamannya. Kulihat ia dihajar lagi oleh keluarganya itu.
Di dalam rumah, Mamak dengan sabar mengurusi adiknya, menyuapkan makanan untuk mengisi badan kurus itu, dan sesekali melap air dan makanan tak terkunyah di sekitar mulut Pakdo yang giginya sudah tak utuh dengan bibir yang pecah-pecah, membuatnya sulit mencerna makanan.
Sekali lagi kutoleh jendela, akhirnya tumbuh juga rasa kasihanku pada Owari. Adakah dia juga kasihan pada nasib keluargaku? Lebih dari itu, nasib bangsaku?
● ● ●
 “Assalamu’alaikum,” ada yang berbisik dari bawah kolong rumahku.
Mamak yang baru saja selesai salat malam mendekati asal suara, “Wa’alaikum salam,” jawab beliau dengan berbisik pula.
Entah apa yang diucapkan orang itu, Mamak kemudian membuka sedikit pintu belakang dengan perlahan agar tak mengeluarkan suara. Dua kantong besar berisi beras, garam, dan gula berpindah ke dapurku. Sehelai kertas terselip di sana.
Pintu kembali ditutup, sosok yang mengantarkan makanan pergi begitu saja menembus kepekatan malam.
Siapo, Mak?” tanyaku. Mamak mengangkat kedua bahunya.
Kuambil kertas di atas beras. Mamak hanya melihat, tak berkeinginan mencari tahu apa isinya. Kami berdua memang sama-sama buta huruf, tunggu pagi saja, mudah-mudahan besok Pakdo sudah pulih benar. Hanya dia dan almarhum Bang Sani yang bisa membaca.
● ● ●
Dari Owari Hisamura.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Jawablah salam saya karena saya adalah seorang muslimah. Seperti yang pernah saya bilang, saya berharap Sani yang dulu mengenalkan Islam pada saya suatu saat bisa membantu saya keluar dari tempat ini. Kertas yang kemarin saya bawa berisikan nama-nama orang yang dihukum mati. Nama Pakwo Desi tertulis di sana––saya turut menyesal. Tapi Sani tidak, ia selamat!
Saya akan pergi menyusul Sani di Jawa, sekalian mengabarkan keadaan kalian padanya. Suatu saat nanti, insya Allah ia akan kembali ke Jambi. Untuk sekarang tentu saja sulit, karena Sani berstatus buron.
Tahukah kamu, Desi. Dua laki-laki yang dulu saya akui sebagai ayah dan paman saya adalah bohong belaka. Mereka bukan keluarga saya, saya hanya dipakai untuk memperalat penduduk. Itulah sebab mengapa saya sangat ingin keluar dari rumah itu. Empat tahun lamanya saya harus menyembunyikan keislaman saya, bertahan satu rumah dengan dua laki-laki yang bukan mahram, membendung keinginan saya untuk mengenakan kerudung, tak berpuasa selama dua kali Ramadhan.... Sungguh, itu semua menyiksa saya.
Jepang takkan lama bertahan, Sekutu terlalu berat bagi gabungan negara-negara kecil di pihak Jepang. Jika saya masih hidup di saat kalian merdeka, saya berjanji akan kembali menemui kalian. Karena bagaimana pun, saya tidak menyukai perlakuan Jepang terhadap Indonesia, dan kecintaan saya pada Islam jauh lebih besar daripada cinta saya pada Jepang. Sebab, ikatan persaudaraan dari persamaan keyakinan lebih kuat dibanding persamaan suku, bangsa, atau apa pun.
Sampai bertemu di hari yang lain.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pakdo melipat kembali surat yang baru bisa dibacakannya setelah tersimpan selama sepekan. Mamak menyeka airmata haru, sedang aku kebingungan bagaimana harus bereaksi. Bahagia, khawatir, sedih, gembira... semuanya bercampur aduk!
● ● ●
Kubuka kembali kertas kusam di tanganku. Bertahun-tahun surat dari Owari itu kusimpan. Jepang terpaksa pulang kampung karena Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak dijatuhi bom atom oleh Amerika, sebagai balasan atas hancurnya Pearl Harbour. Sukarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan negara yang sedang vakum ini, kemerdekaan yang tanpa sengaja.
Berbulan-bulan kusaksikan matahari naik turun membentuk bayangan nisan Mamak, tapi Bang Sani dan Owari tak kunjung datang, padahal Pakdo tak jemu-jemu mengirimi mereka surat. Bisa jadi, ia hanya pura-pura mengirimkan surat itu untuk menghibur hatiku, dari mana ia tahu alamat mereka? Dan, aku yang buta huruf ini tak mengerti apa yang tertulis di amplop surat itu. Entah alamat, entah nama, atau... sudahlah! Kesendirian adalah bagian tak terpisahkan dari hidupku. Toh aku dilahirkan sendiri, dan akan ‘pergi’ sendiri pula.


Cerpen ini adalah satu dari 11 cerpen yang ada di Kumpulan Epik Bidadari dari Bajau. Versi cetaknya sudah terjual habis, tapi ebooknya bisa kamu beli di Play Store (bagian buku/books) atau unduh gratis sebagian isinya di Play Buku.

selain cerpen berlatar Jambi pada masa penjajahan Jepang, juga ada cerpen Jambi berlatar penjajahan Belanda, cerpen dengan tokoh Belanda, dll. Tapi semuanya adalah cerpen bertema Jambi.


[1] ibu
[2] komandan batalion Jepang 
[3] perwira polisi Jepang di kewedanan
[4] kakak laki-laki ibu/ayah
[5] kamu kurang ajar/binatang!
[6] nenek
[7] keranjang
[8] adik laki-laki ibu/ayah
[9] ayuk/yuk=panggilan untuk perempuan yang lebih tua
[10] anggota polisi
[11] biarlah
[12] saja
[13] penerang rumah dari damar dan bambu
[14] apakah saya mengganggu?
[15] ini penting
[16] kemari
[17] maafkan

Ada banyak ide di kepala. Makin dekat ke keuzuran, makin serius hidup. Makin sadar, harusnya dari kecil sudah bisa menghasilkan duit dari menulis! Lihat di sekitar, banyak orang gak bisa nulis.
Iya di sekitarmu. Di tempat lain banyak!

Setelah sadar passion, aku memutuskan gak akan ke mana-mana. Tetaplah jadi penulis. Apalagi zaman sekarang kabarnya peluang bisnis menulis di internet semakin besar. Wow!

Lewat internet juga, aku banyak ketemu teman-teman sesama penulis Jambi yang mereka tak terendus keberadaannya, oleh instansi semisal kantor bahasa. Jadi yang namanya prestasi, gak harus dengan sertifikat. Bisa terlihat dari saldo paypal, payoneer atau bank lokallah.

Dan, ketemulah aku dengan salah satu pawang blog, yang ternyata dulunya kita satu organisasi. Aku sibuk ngajar komputer dan hitung-hitung duit orang, dia melesat jauh dengan tulisan dan internet.

Sayang dong, ketemu mastah tapi gak ambil ilmunya. Jadi yang semula ada rencana ngumpulin emak-emak untuk nulis, akhirnya kumpulkan siapa aja yang “katanya” mau serius belajar dalam satu grup, dan minta suhu blogger untuk share ilmunya ke kita.

Akhirnya kita vidcall conference pakai Google Hangout. Dan terjadilah kekacauan, karena pada kagok pakai aplikasi ini. Sibuk dengan mic, noise, sinyal, dll. Dengan hasil yang sudah bisa diduga. Belajarnya mentok.

Dan untuk memenuhi kebutuhan “mengikat ilmu” jadi kutulis aja ke sini. Dengan risiko, persaingan bisnis menulis ini akan menjadi lebih ketat. Yakin? Tanya mas master (panggilan macam apa ini!) waktu kutanya boleh ditulis di blog?

Yakin gak yakin sih. Yang penting nulis. Karena dengan menulis, aku jadi bahagia. Klise tapi nyata.

Materi dari mas master ada 2; peluang bisnis menulis di internet dan SEO sederhana. Karena isinya rata-rata penulis, jadi didulukan yang pertama. SEO sederhana menyusul setelah yang pertama tadi benar-benar paham. Dan entah kapan itu terjadi.

Syarat untuk mendapatkan peluang ini adalah penulis yang berminat harus mudah beradaptasi, terbiasa dengan komputer, update terhadap berita-berita terbaru (bisa disesuaikan dengan minat ybs).

Pertama, kita mampir dulu ke ads.id. Laman komunitas publisher Indonesia. Bagiku ini semacam pasar atau bahkan kota di dunia maya, yang isinya adalah orang-orang yang mencangkul rezeki dari internet. Kalau mengais kesannya receh.


Di sini ada ruang diskusi, jual beli, dan macam-macam hal terkait bisnis internet. Memang harus luangkan waktu untuk mengelilingi laman ini. Cara gabungnya mudah, cukup klik registrasi, isi data, dan cek verifikasi di email yang didaftarkan.

Karena topik kita adalah peluang bisnis menulis di internet, maka mas master mengarahkan ke lama Forum >> Bisnis >> Trade >> Service. Dan taraa! beneran kayak pasar kan?


Silakan klik salah satu tawaran, nanti kita bakal tahu gimana cara orang menawarkan jasa menulis artikel. Atau kitanya tertarik beli? Ya ayo aja. Tapi ngapain gabung ke grup penulis, Bambank!

Nah maksud pemateri adalah, aku, kamu, atau kita di suatu hari nanti, halah, bisa bekerja sendiri atau jadi satu tim untuk membuka jasa penyedia artikel. Konon bisnis ini akan terus diperlukan oleh blogger yang gak punya kemampuan nulis atau pengasuh laman tertentu. Yang tak kalah penting, mengasah kemampuan menulis dan insting mencari kata kunci pencarian google.

Untuk menawarkan tulisan, atau bisa juga membuka lelang, kita harus memastikan tulisan yang dibuat sesuai dengan kebutuhan. Misalnya SEO friendly (materi ini nyusul), no copas, dll. Supaya daganganmu laris, ini pesan pak mastah (lah lain lagi panggilannya!)


Sampai sini ada pertanyaan? Banyak!
rumah adat yang ada di area gubernuran

Ada yang tau, kenapa rumah adat Jambi disebut Kajang Lako? Yang benar Kajang Lako atau Kajang Leko? Bukannya Kajang Lako itu nama perahu?
Ada yang tau?
Aku beneran nanya ini! Bukan kalimat pembuka kayak orang-orang.

Sebagai keturunan perantau yang gak ngerti asal usulku dari mana, akhirnya kuputuskan untuk mencari sejarah Jambi. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peribahasa yang gak ada hubunganya dengan artikel ini.

Konon, Orang Kayo Hitam, anak Raja Jambi, diperintahkan oleh mertuanya untuk menyusuri Sungai Batanghari dengan perahu kajang lako. Bukan dalam rangka honey moon, tapi mereka akan membuat kerajaan atau pusat pemerintahan baru.

Pada versi lain, yang menyusuri Batang Hari dengan kajang lako adalah Putri Pinang Masak, putri Pagaruyung yang dilamar Tan Talanai. Kayak lagu Malaysia, Tan Talanai yang jauh dari ganteng gak sebanding dengan Putri Pinang Masak. Ditolak lah. Apa lagi!

Belum lagi kalau Tan Talanai dibandingkan dengan cowok Turki bernama Ahmad Barus, versi lain menyebut Ahmad Salim. Yang konon lagi, adalah saudagar, dan versi lain lagi, menyebut keturunan kerajaan Turki. Tapi kabarnya, klaim bahwa dia dari Turki belum pernah terbukti. Jangan-jangan si Ahmad cuma anak Sebrang yang kearab-araban!

Eh gak bisa gitu! Suku Melayu Jambi yang sekarang kebanyakan di Seberang—Jambi Kota Seberang, sebagian lagi menyebut Seberang Kota Jambi atau Sekoja. Intinya mereka ada di kota tradisional, utara Sungai Batanghari. Tempat yang sama dengan Gentala Arasy. Kalau yang sebelah selatan itu disebut kota modern, satu daratan dengan Angso Duo, Masjid Seribu Tiang, dll—tampangnya agak Arab itu justru karena keturunan Wak Ahmad tadi.

Kita tahunya Ahmad Barus atau Ahmad Salim kelak diberi gelar Datuk Paduko Berhalo atau Berhala biar lebih Indonesia. Yang mungkin gara-gara gak pake O, trus sekarang Pulau Berhala lepas jadi milik Kepri.

Menurut sumber lain, yang disebut Datuk Paduko Berhalo adalah Adityawarman. Karena dia dibuatkan patung. Yang oleh orang Islam kemudian disebut berhala. Patung, berhala. Masuk akal ya!
Lah itu Adityawarman siapa lagi?

Dia raja yang menaklukkan Kerajaan Melayu, dan Putri Pinang Masak adalah salah satu keturunannya. Dan ini adalah versi yang berbeda kenapa sebelumnya Jambi dipegang Tan Talanai kok tau-tau muncul Putri Pinang Masak sebagai Raja Jambi. Mumet? Baca sambil ngemil makanya!

Rumah Adat Kota Jambi

Orang Kayo Hitam adalah anak ketiga dari Putri Pinang Masak dan Ahmad Barus/Ahmad Salim. Ahmad Barus datang ke Nusantara untuk mendakwahkan Islam, dan ia terdampar di Pulau Berhala (mungkin dulu namanya Pulau Hanif).

Bahwa pangeran tampan itu jodohnya putri cantik, ternyata bukan dongeng. Sebab Ahmad Barus dan Putri Pinang Masak adalah kisah nyata. Berani bilang ini fiksi? Ada 500 ribuan loh warga Kota Jambi yang siap menoyormu!

Entah emaknya atau anaknya yang menyusuri Batang Hari dan menemukan Tanah Pilih Pusako Betuah, yang jelas menurut kisah yang beredar, mereka menaiki Kajang Lako. Apa hal yang membuat kajang lako kemudian menjadi nama rumah adat Jambi? Ada yang lebih mengejutkan. Ternyata rumah adat Kota Jambi adalah Rumah Panggung!
rumah warga di Jambi Seberang Kota


Jadi yang 12 tahun kupelajari di sekolah itu apaaaa!

Kisah Dua Angsa dan Sejarah Angso Duo

Orang Kayo Hitam atas titah Tumenggung Merah Mato atau ibunya entah atas perintah siapa, dikisahkan menyusuri Sungai Batanghari dipandu sepasang angsa. Atau mungkin mengikuti sepasang angsa yang kebetulan lewat, entahlah.

“Di mano duo angso tu mupur, di situlah kalian membuka lahan!” Kira-kira begitu pesan yang memerintah. Kata mupur kudapat dari laman kemdikbud, kucari artinya di mana-mana gak ketemu, bahkan orang Melayu pun kutanya gak ngerti. Anggaplah maksudnya menepi, main-main, atau apalah kegiatan angsa yang membuatnya keluar dari air.

Alhasil, tempat yang dipilih sepasang angsa itu kemudian disebut Tanah Pilih. Dan jadilah dua angsa sebagai ikon Kota Jambi, plus pasar tradisional yang sekarang berada tak jauh dari tempat mupur angsa itu diberi nama Angso Duo.

Nah, kemudian. Sebagai orang yang lahir dan besar di sini puluhan tahun, aku mulai bingung. Kapan aku pernah lihat angsa dua-duaan di sungai? Mungkin mainku kurang jauh ya. Karena yang kulihat sehari-hari adalah soang yang teriak-teriak gaje dan nguber-nguber orang. Sok kuasa banget.
Angsa menurut berbagai referensi, banyak ditemukan di Inggris, Jerman, Italia, dan beberapa wilayah beriklim sedang. Jadi yang romantis-romantisan di kolam itu sepertinya angsa versi Eropa. Jahat bener kalau sampai terpikir sejarawan kita terpengaruh Walt Disney.

Aku tetap bisa tidur meski sampai sekarang belum ketemu soang berduaan di air. Tapi aku tetap harus belajar, dan lebih banyak membaca, jangan sampai misteri ini tidak terpecahkan!
Tanpa perlu diajari, semua orang tahu fungsi mainan adalah untuk menghibur. Lebih dari itu, beberapa mainan bahkan dibuat sebagai alat edukasi. Mengajak anak belajar sambil bermain.
Siapa sangka, ternyata bukan hanya TV yang sering menyesatkan anak-anak. Mainan juga bisa! Gak nyangka kan? 11 mainan di bawah ini adalah sebagian di antara benda ngawur itu.
Photo by Alan Tang on Unsplash

Alhamdulillah, setelah BAGIAN 1 dan BAGIAN 2, akhirnya kita masuk ke bagian akhir. Semoga. Karena lumayan juga ngetik dari 26 sampai 60. Bayangkan pahalanya biar semangat!

Sebelum gulir ke bawah, perlu admin ulang bahwa tulisan ini disarikan dari Kitab 
٦٠ باباً من أبواب الأجر وكفارات الخطايا - دار الوطن 
yang diterjemahkan oleh Abdurrauf Amak, Lc. Jadi bukan pinter-pinteran yang punya blog! 

Kemudian, kalau kamu merasa aneh dengan kata "salat, wudu, istikamah, fardu", dsb di blog ini, jangan buru-buru naik tensi. Itu adalah upaya admin menyesuaikan dengan KBBI, walau banyak juga bertebaran kata-kata tidak baku di sini. Gak konsisten dong! Iya memang. So?

Oke kita kita lanjut! Amalan pelebur dosa yang ke ...
26. MEMBANGUN MASJID
"Barangsiapa membangun masjid karena mengharapkan keridaan Allah, maka dibangunkan baginya yang serupa di surga." HR. Bukhari, No. 450.

27. BERSIWAK
"Seandainya tidak mempersulit umatku, niscaya saya perintahkan mereka untuk bersiwak pada setiap salat." HR. Bukhari II/No. 331 dan HR. Muslim, No. 252.

28. BERANGKAT KE MASJID
"Barangsiapa berangkat ke masjid pada waktu pagi atau sore, niscaya Allah mempersiapkan baginya tempat persinggahan di surga setiap kali ia berangkat pada waktu pagi atau sore." HR. Bukhari, Juz. II/No. 124 dan HR. Muslim, No. 669.

29. SALAT LIMA WAKTU
"Tiada seorang muslim kedatangan waktu salat fardu kemudian ia memperbagus wudunya, kekhusyukkannya dan rukuknya kecuali hal itu menjadi pelebur dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya selama ia tidak melakukan suatu dosa besar. Dan yang demikian itu berlaku sepanjang masa." HR. Muslim, No. 228.

30. SALAT SUBUH DAN ASAR
"Barangsiapa salat pada dua waktu pagi dan sore (Subuh dan Asar) maka ia masuk surga." HR. Bukhari, Juz. II/No. 43.

31. SALAT JUMAT 
"Barangsiapa berwudu lalu memperindahnya, kemudian ia menghadiri salat Jumat, mendengar dan menyimak (khutbah) maka diampuni dosanya yang terjadi antara Jumat pada hari itu dengan Jumat yang lain dan ditambah lagi tiga hari." HR. Muslim, 857.

32. SAAT DIKABULKANNYA PERMOHONAN PADA HARI JUMAT
"Pada hari ini terdapat suatu saat bilamana seorang hamba muslim bertepatan dengannya sedangkan ia berdiri salat seraya bermohon kepada Allah sesuatu, tiada lain akan dikabulkan permohonannya."
HR. Bukhari, Juz. II/No. 344 dan HR. Muslim, No. 852.

33. MENGIRINGI SALAT FARDU DENGAN SALAT SUNAH RAWATIB
"Tiada seorang hamba muslim salat karena Allah setiap hari 12 rakaat sebagai salat sunah selain salat fardu, kecuali Allah membangunkan baginya rumah di surga." HR. Muslim, No. 728.

34. SALAT DUA RAKAAT SETELAH MELAKUKAN DOSA
"Tiada seorang hamba yang melakukan dosa, lalu ia berwudu dengan sempurna kemudian berdiri melakukan salat dua rakaat, lalu memohon ampunan Allah, melainkan Allah mengampuninya." HR. Abu Daud, No.1521.

35. SALAT MALAM
"Salat yang paling afdal setelah salat fardu adalah salat malam."
HR. Muslim, No. 1163.

36. SALAT DUHA
"Setiap persendian dari salah seorang di antara kalian pada setiap paginya memiliki kewajiban sedekah, sedangkan setiap tasbih itu sedekah, setiap tahmid itu sedekah, setiap tahlil itu sedekah, setiap takbir itu sedekah, memerintahkan kepada yang makruf itu sedekah dan mencegah dari yang mungkar itu sedekah, tetapi semuanya itu dapat terpenuhi dengan melakukan salat dua rakaat duha." HR. Muslim, No. 720.

37. SELAWAT KEPADA NABI
"Barangsiapa berselawat kepadaku satu kali, maka Allah membalas selawatnya itu sebanyak sepuluh kali." HR. Muslim, No. 384.

38. PUASA
"Tiada seorang hamba berpuasa satu hari di jalan Allah melainkan Allah menjauhkannya karena puasa itu, dari neraka selama tujuh puluh tahun." HR. Bukhari, Juz. VI/No. 35.

39. PUASA TIGA HARI PADA SETIAP BULAN
"Puasa tiga hari pada setiap bulan merupakan puasa sepanjang masa."
HR. Bukhari, Juz. IV/No. 192 dan HR. Muslim, No. 1159.
40. PUASA ENAM HARI BULAN SYAWAL
"Barangsiapa melakukan puasa Ramadan, lalu ia mengiringinya dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka hal itu seperti puasa sepanjang masa."
HR. Muslim, 1164.

41. PUASA ARAFAH
"Puasa pada hari Arafah (9 Zulhijah) dapat melebur (dosa-dosa) tahun yang lalu dan yang akan datang." HR. Muslim, No. 1162.

42. PUASA ASYURA
"Dan dengan puasa hari Asyura (10 Muharam) saya berharap kepada Allah dapat melebur dosa-dosa setahun sebelumnya." HR. Muslim,No. 1162.

43. MEMBERI HIDANGAN BERBUKA BAGI ORANG YANG BERPUASA
"Barangsiapa yang memberi hidangan berbuka bagi orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti pahala orang berpuasa itu, dengan tidak mengurangi pahalanya sedikit pun." HR. Tirmidzi, No. 807.

44. SALAT DI MALAM LAILATUL QADR
"Barangsiapa mendirikan salat di (malam) Lailatul Qadr karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."
HR. Bukhari Juz. IV/No. 221 dan HR. Muslim, No. 1165.

45. SEDEKAH
"Sedekah itu menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api."
HR. Tirmidzi, No. 2616.

46. HAJI DAN UMRAH
"Dari umrah ke umrah berikutnya merupakan kafarat (penebus dosa) yang terjadi di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." HR. Muslim, No. 1349.

47. BERAMAL SALEH PADA 10 HARI BULAN ZULHIJAH
"Tiada hari-hari, beramal saleh pada saat itu lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu 10 hari pada bulan Zulhijah. Para sahabat bertanya, 'Dan tidak (pula) jihad di jalan Allah?' Beliau bersabda, 'Tidak (pula) jihad di jalan Allah, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya kemudian ia tidak kembali lagi dengan membawa sesuatu apa pun.'"
HR. Bukhari, Juz. II/No. 381.

48. JIHAD DI JALAN ALLAH
"Bersiap siaga satu hari di jalan Allah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya, dan tempat pecut salah seorang kalian di surga adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya." HR. Bukhari, Juz. VI/No. 11.

49. INFAK DI JALAN ALLAH
"Barangsiapa membantu persiapan orang yang berperang maka ia (termasuk) ikut berperang, dan barangsiapa membantu mengurusi keluarga orang yang berperang, maka ia pun (juga) termasuk ikut berperang." HR. Bukhari, Juz.VI/No. 37 dan HR. Muslim, No. 1895.

50. MENSALATI MAYIT DAN MENGIRINGI JENAZAH
"Barangsiapa ikut menyaksikan jenazah sampai disalatkan maka ia memperoleh pahala satu qirat, dan barangsiapa yang menyaksikannya sampai di kubur maka baginya pahala dua qirat. Lalu dikatakan, 'Apakah dua qirat itu? Beliau saw menjawab, 'Seperti dua gunung besar.'" HR. Bukhari, Juz. III/No. 158.

51. MENJAGA LIDAH DAN KEMALUAN
"Siapa yang menjamin bagiku sesuatu antara dua dagunya dan dua selangkangannya, maka aku jamin baginya surga."
HR. Bukhari, Juz. II/No. 264 dan HR. Muslim, No. 265.

52. KEUTAMAAN MENGUCAPKAN LAA ILAHA ILLALLAH DAN SUBHANALLAH WA BI HAMDIH
"Barangsiapa mengucapkan:
((لاَ إلهَ إلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ)) sehari 100 kali, maka baginya seperti memerdekakan 10 budak, dan dicatat baginya 100 kebaikan,dan dihapus darinya 100 kesalahan, serta doanya ini menjadi perisai baginya dari setan pada hari itu sampai sore. Dan tak seorang pun yang mampu menyamai hal itu, kecuali seseorang yang melakukannya lebih banyak darinya." Dan beliau bersabda: "Barangsiapa mengucapkan: (( سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ )) satu hari 100 kali, maka dihapuskan dosa-dosanya sekalipun seperti buih di lautan."
HR. Bukhari, Juz. II/No. 168 dan HR. Muslim, No. 2691.

53. MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN
"Saya telah melihat seseorang bergelimang di dalam kenikmatan surga dikarenakan ia memotong pohon dari tengah-tengah jalan yang mengganggu orang-orang." HR. Muslim.


54. MENDIDIK DAN MENGAYOMI ANAK PEREMPUAN
"Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, di mana ia melindungi, menyayangi, dan menanggung beban kehidupannya, maka ia pasti akan mendapatkan surga." HR. Ahmad dengan sanad yang baik.

55. BERBUAT BAIK KEPADA HEWAN
"Ada seseorang melihat seekor anjing yang menjilat-jilat debu karena kehausan, maka orang itu mengambil sepatunya dan memenuhinya dengan air kemudian meminumkannya pada anjing tersebut, maka Allah berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga." HR. Bukhari.

57. MENINGGALKAN PERDEBATAN
"Aku adalah pemimpin rumah di tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan padahal ia dapat memenangkannya." HR. Abu Daud.

58. MENGUNJUNGI SAUDARA-SAUDARA SEIMAN
"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang para penghuni surga? Mereka berkata, "Tentu, wahai Rasulullah." Maka beliau bersabda, "Nabi itu di surga, orang yang jujur di surga, dan orang yang mengunjungi saudaranya yang sangat jauh dan dia tidak mengunjunginya kecuali karena Allah, maka ia di surga." Hadits hasan, riwayat At-Thabrani.

59. KETAATAN SEORANG ISTRI TERHADAP SUAMINYA
"Apabila seorang perempuan menjaga salatnya yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadan, dan menjaga kemaluannya serta menaati suaminya, maka ia akan masuk surga melalui pintu mana saja yang ia kehendaki." HR. Ibnu Hibban, hadits shahih.

60. TIDAK MEMINTA-MINTA KEPADA ORANG LAIN
"Barangsiapa yang menjamin dirinya kepadaku untuk tidak meminta-minta apa pun kepada manusia maka aku akan jamin ia masuk surga."
Hadits shahih, riwayat Ahlus Sunan.


 Jangan lupa dibagikan ke orang-orang tersayang ya, Teman ....