Pengalaman Melahirkan Caesar

, , 6 comments
Gara-gara lihat blog orang yang bahas operasi sesar, jadi kepikiran untuk menulis pengalaman melahirkan caesar. Yang bener sesar, cesar, atau caesar sih? Masih misteri. Yang jelas rumah sakit pakai istilah sectio caesarea (SC).

Kapan-kapan kalau ketemu yang paling benar, insyaallah artikelnya ku-update. Sebuah janji gak penting, tapi harus tetap dipenuhi. Karena kadung janji. Mulai deh ke mana-mana!

Sebelumnya ada juga curhatan ibu melahirkan caesar, kawanku sendiri. Padahal aku juga kan punya pengalaman operasi caesar dua kali. Kenapa dia curhat ke aku ya?  

Pengalaman Melahirkan Caesar
Photo by Aditya Romansa on Unsplash

Pengalaman Melahirkan Caesar

Katanya melahirkan caesar itu nggak sakit. Kata siapa? Sini kuceritakan. Barangkali melahirkan caesar tanpa sakit itu berlaku bagi artis dan kaum gedongan, yang memilih caesar untuk menyesuaikan tanggal dengan angka favorit mereka.

Selain dokter dan timnya dibayar khusus, obat-obatan dipilih yang terbaik, bahkan kalau perlu (dan bisa) dibuat pingsan aja sampai efek operasi hilang. Kalau kaum menengah ke bawah? Alih-alih memilih caesar, kita yang dipilih nasib untuk melahirkan caesar!

Bagi kaum nyaris cekak dan sedikit di atasnya, ada kondisi yang mengharuskan operasi caesar, bukan kemauan pribadi. Untuk kasusku sendiri, terpaksa melahirkan dengan cara caesar karena si bocah tak kunjung turun ke jalan lahir.

Memasuki pekan HPL, saat jalan pagi, tau-tau seperti ada yang pecah di dalam perut. Kemudian mengalirlah cairan bening yang tidak kutau apa itu.

Tidak ada rasa sakit sama sekali, tidak ada kontraksi. Saat kudatangi bidan langganan, ybs pas sedang berangkat ke Bandung untuk urusan sekolah anaknya. Tapi aku tetap ke klinik yang setiap bulan jadi tempat cek kondisi kehamilan itu.

Bertemulah di sana dengan bidan pengganti. Tadinya aku merasa percaya percaya aja, sayangnya bidan ini karena masih unyu banget, dia diskusi dengan temannya gak jauh dariku.

“Ini ketuban bukan, ya?” katanya sambil memandangi dua jari yang baru saja dipakai mengecek rahimku.

Temannya malah lebih bingung lagi. Bikin aku dan suami hilang kepercayaan. Ya sudah, kami pindah saja ke rumah sakit. Di sana dokternya langsung bilang, “Kamu harus caesar, jangan balik ke bidan!” 

Operasi Caesar Berapa Jam?

Ternyata, ketuban di rahimku sudah tinggal sisa-sisa. Kata dokter, kalau dipaksa normal, dengan induksi misalnya, bayi akan lahir dalam keadaan biru. Paling lama bertahan tiga hari di luar rahim, na’udzubillah.

“Kamu belum pengalaman kontraksi, itu sakitnya luar biasa. Kalau ibunya kesakitan, anaknya bisa stres. Karena ketuban kamu tinggal sedikit, anak bisa ketelan pupnya sendiri. Dia keracunan, biru. Nanti kamu nyesal,” jelas dokter.  

Bayi seharusnya lahir maksimal tujuh jam dari pecah ketuban. Sedangkan ketubanku sudah pecah sejak sekira pukul 6 pagi, dan aku baru ke rumah sakit pukul 7 malam.

Pagi hingga siang kuhabiskan waktu mencari bidan selain yang langganan, sambil menunggu bidan penggantinya datang. Apa daya, tiga bidan yang kudatangi semuanya menolak membantu persalinan. Mereka hanya bilang cairan biasa atau apalah. Lalu diberi vitamin penguat rahim.

Jadi siang hingga sore aku masih santai, ngerjain pesanan cetak piagam dll. Sementara kawanku yang seorang perawat sibuk menyuruh periksa lagi, karena dia yakin yang keluar itu adalah ketuban.

“Kalo bidan bilang aman, pindah ke RS bae, Tar! Itu ketuban, gek anakmu biru,” sarannya.

Sore baru aku ke bidan langganan dan bertemu penggantinya itu. Kemudian ke RS setelah melihat diskusi gak profesional mereka. 

Singkat cerita, aku dioperasi. Memang sebaiknya sebelum hamil kita sudah siapkan dana untuk kemungkinan terburuk. Waktu itu belum ada BPJS, dan aku nggak pakai asuransi. Tapi lumayan jadi pelajaran untuk kehamilan berikutnya.

Pengalaman operasi Caesar
Bocah pertama, masyaallah tabarakallah
Karena setiap periksa semua baik-baik saja, aku dan suami hanya menyiapkan anggaran tiga kali tarif klinik. Nggak nyangka bakal dicaesar kan. Alhasil, untuk operasi pilih rumah sakit pemerintah, biar hemat. 

Tau sendiri, RS pemerintah. Malam aku dirujuk ke sana, masuk UGD nggak diapa-apain. Cuma dilongok, oh hamil. Gitu doang.

Menunggu bidan, nunggu dokter. Gitu-gitu aja sampai pagi. Pukul 9 baru dioperasi. Sudah berapa jam tuh dari pecah ketuban? Alhamdulillah anaknya lahir dalam keadaan selamat.

Gimana dengan waktu operasinya sendiri? Pendek banget, cuma lima belas menit! Mamakku ketawa-ketawa, kayak nyiang ikan, katanya.

Tapi waktu caesar anak kedua, aku dibawa masuk ke ruang operasi hampir pukul 1 siang, keluar sekira pukul 3 lewat. Di RS swasta, yang perawatnya merasa perlu untuk ngajak ngobrol dulu. Dokternya memperkenalkan diri, dan tim ngobrol santai sambil potong perut dan ngeluarin bayi.

Selama operasi (yang kedua), ada perawat yang matanya tak lepas dari melihat mukaku. Awalnya dia ajak ngobrol ringan, pas dengar aku tilawah, ia diam. Bahkan menyimak, sampai dia tau waktu aku merasa asam lambungku naik hebat. Kemudian aku diberi suntikan.

Anak kedua kenapa dicaesar lagi, itu pertimbangan dokter karena jarak dengan kehamilan pertama baru tiga tahun. Risiko robek rahim ketika kontraksi, dan ini terbukti terjadi pada salah seorang temanku. Jadinya jahit rahim juga, jahit jalan lahir juga. Sakit kontraksi dapat, sakit operasi dapat. 

Pesanku pada para calon ibu yang belum kaya, ikutlah asuransi. Ibu hamil sampai anaknya lahir, rawan stres. Sikap orang di sekitar kita (salah satunya terkait layanan RS) mudah sekali memengaruhi suasana hati. Percaya deh!

Efek Operasi Caesar

Baik di kehamilan pertama maupun kedua, ada beberapa orang yang satu kamar denganku. Kejadiannya pun sama. Mereka yang melahirkan normal, sekira 8 jam setelah persalinan bisa jalan ke sana kemari dan ketawa-ketawa lepas.

Yang operasi caesar, terbaring tak berdaya. Mau gerak aja ngeri. Gila Men, ada ratusan jahitan di perutmu, yang kalau batuk, rasanya astaghfirullah. Bukan sakit, sakit banget!

Cuma artis yang kuliat habis caesar gak nangis. Yang dulu pernah bilang orang melahirkan caesar belum perempuan karena gak ngerasain sakitnya melahirkan, pengin kutampol ubun-ubunmu!

Nahasnya lagi, baik setelah melahirkan maupun setelah operasi usus buntu, aku selalu batuk. Dahlah, bayangin aja dosa-dosa jatuh waktu batuk itu. Nyenengin hati di balik sakitnya entakan akibat batuk di jahitan yang masih basah. 

Tips dari dokter waktu aku minta tambah dosis penghilang rasa sakit, “Kamu liat anak kamu, hilanglah rasa sakit itu kalau sudah liat mukanya.” Bener sih. 

Ada pengalaman agak ngeri yang dialami orang lain, tapi aku menjadi saksi (tidak langsung). Waktu itu aku di IGD salah satu RS swasta. Seorang ibu dilarikan ke sana, karena jahitannya mengalami infeksi.

Dari tanya jawab pasien dan perawat, kudapatkan info bahwa si ibu habis operasi caesar. Setelah beberapa hari keluar dari RS, jahitannya membusuk. Dia dioperasi di RS swasta, yang menurut perkiraanku lebih mahal dari yang sekarang didatangi.

Pengalaman Melahirkan sesar
Bocah kedua, masyaallah tabarakallah
“Kato orang sano dak apo-apo,” keluh pasien.

“Nggak apa-apa gimana, ini jahitan Ibu infeksi. Ada nanahnya ini, harus dibuka lagi,” kata dokter yang saat itu praktik, lalu visit ke IGD.

Si pasien menjerit-jerit kesakitan. Aku yang mendengar dari bilik sebelah terasa ngilu sendiri. Sambil menebak-nebak, barangkali pasien tsb tidak menghabiskan antibiotik yang dibawakan RS. 

Memang obat yang kita minum setelah keluar dari RS bukan main jumlahnya. Seabrek-abrek. Ada yang untuk nyeri, ada antibiotik, dan vitamin. Seringnya orang meninggalkan obat setelah merasa tidak sakit lagi, padahal antibiotik harus dihabiskan.

Efek operasi caesar yang kualami sepertinya hanya sebatas itu. Kalau sesekali perut terasa ngilu, aku gak bisa memastikan. Yang sakit bekas jahitan caesar, jahitan appendix (usus buntu), atau stretch mark. Gak usah dipikirin, tar juga hilang sendiri.

Biarpun sakit, banyak hikmah dari proses hamil hingga melahirkan, baik yang normal maupun lewat operasi caesar. Dari situ kita tau, orang tua kita dulu juga susah melahirkan dan merawat kita. Dengan sakit itu, kita lebih sungguh-sungguh mendoakan anak. Biar gak sia-sia gitu, udah sakit-sakit dikeluarin, masa gak ada timbal balik.

Timbal baliknya mereka jadi anak baik, yang doanya kita butuhkan suatu saat nanti ketika kita sudah gak bisa berdoa. Hanya menunggu aliran pahala yang masih bisa mengalir. Baca ini, Nak ….

Dah ah, kok malah jadi mellow. Gitu deh pengalaman melahirkan caesar yang sudah dua kali kualami. Mudah-mudahan bermanfaat, walau kepanjangan.

6 comments:

  1. Jadi tambah pengetahuanku walau aku belum nikah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga tambah saldo tabungan juga, haha

      Delete
  2. Ya Allah membaca pengalaman wanita yang melahirkan secara caesar atau melahirkan secara normal butuh perjuangan semoga anak-anak kita menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya terutama ibunya yang telah melahirkannya dengan susah payah

    ReplyDelete
  3. Serius aku nangis bacanya, kak Tari.
    Inget banget waktu melahirkan. Sungguhan aku gak kuat.

    Terus Ibuku nangis-nangis sambil bilang, "Dek...Ibu maafin semuanya, dek... Cepetan lahir yaa...anakmu."

    Ya Allah~
    Masa-masa persalinan itu...

    Aku yakin si SC lebih sakit. Tapi Allah Maha Pemurah, Maha Kuasa.
    In syaa Allah setiap anak pasti Allah jamin rejekinya.

    Barakallahu fiikum, kak Tari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sakit, tapi pas liat anak2nya sekarang jd bersyukur banget. makasih ya, wafiiki barakallah

      Delete
  4. Sehat2 yaa kak Tarii. Aku sendiri blm pernah pengalaman hamil dan melahirkan. Mau normal ataupun caesar rasanya sama2 jadi ibu dan sakitnya juga sama yaa. Semangaaatt!

    ReplyDelete

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.