10 Tanda Kamu Harus Resign dari Pekerjaan

, , 1 comment
Sekira enam tahun lalu, aku berhenti dari pekerjaan yang sudah kutekuni kurang lebih selama 7 tahun. Makin ke sini, makin kusadari bahwa itu adalah hal terbaik yang pernah kulakukan seumur hidup. Karena banyak tanda harus resign yang sebenarnya sudah bertubi-tubi terjadi, yang akhirnya baru kuputuskan di tahun 2016 silam.

Padahal sejak tiga tahun sebelumnya sudah kurasakan ketidakberesan dalam banyak hal. Tapi dasar akunya yang pelupa. Sudah dibikin gondok, lupa. Dan akhirnya kejengkelan itu menumpuk sampai tiga tahun. Ya ampun … kalau anak orang, itu sudah bisa masuk playgroup! 

tanda harus resign

Resign atau Bertahan?

Punya teman kerja yang toksik aja sudah makan ati, makan apa lagi kalau yang toksik itu atasanmu? Aku pernah baca quote, entah punya siapa. Tidak ada karyawan yang resign karena gaji, tapi mereka resign karena atasannya. Kutipan yang menurutku pas banget.

Banyak di antara teman-temanku yang kerap curhat tentang pekerjaannya. Dan memang, mereka lebih banyak mengeluhkan sikap atasan ketimbang gaji atau teman kerja. Ada yang atasannya perfeksionis, penuntut, pemarah, playing victim, pokoknya macam-macam. Nantinya, baru mereka mempertimbangkan gaji.

Iya kalau gajinya bisa menutupi kekurangan atasan. Malah ada yang bosnya amit-amit, gajinya pun tak kalah mengenaskan. Namun tetap, kebanyakan mereka resign karena sikap atasan, bukan karena minimnya gaji. Bahkan yang gajinya oke pun, lebih memilih keluar ketimbang tiap hari makan ati sak ampela-ampelanya.

Sebaliknya, tidak sedikit yang memilih bertahan walau minim penghasilan, karena merasakan kepuasan batin saat melakukan pekerjaan. Tentu saja didukung dengan perasaan dihargai, bukan bekerja semata karena materi. Saking bahagianya, karyawan yang begini gak bakal kepikiran kapan harus resign.

Jadi gitu, Bos! Kalau mau punya karyawan yang anteng, jadilah atasan yang manusiawi. Dan kalau kamu bukan PNS yang atasanmu bakalan pindah atau berganti-ganti, pikir baik-baiklah kalau mau terus bertahan sementara kamu punya alasan yang masuk akal untuk resign.

10 Tanda Kamu Harus Keluar dari Pekerjaan

Aku bukan mau memprovokasi kamu untuk berhenti kerja, ya. Tapi membantu menjaga kewarasan. Di saat pandemi begini, memang ada baiknya kamu pikir tenang-tenang sebelum keburu memutuskan diri off dari periuk nasimu.

Dalam buku Tambahkan Cinta Kurangi Benci, aku dapat sebuah kalimat yang lebih kurang berbunyi, Bahkan kalau ada cicak di kantor yang kerap muncul di ruang kerjamu, itu bisa jadi alasanmu untuk bertahan.

Aku menjadikan wifi kantor sebagai alasanku untuk bertahan waktu itu. Padahal aku tinggal di kota, yang sinyal simcard apa pun relatif stabil, dan harga kuota internet gak mahal-mahal amat.

Alhamdulillah, setelah resign aku malah menikmati wifi setiap hari, bisa lebih produktif menulis, lebih banyak baca buku, dan berbagai keuntungan yang gak pernah terpikir akan kudapat waktu masih bekerja. 

Eits nanti dulu, kondisi setiap orang berbeda-beda. Kamu cek keadaan di tempat kerjamu! Jika yang sepuluh di bawah ini kamu rasakan, berarti itu memang tanda bahwa kamu harus resign!

1. Birokrasi Lebay

Kalau dalam jam kerja kamu masih bisa keluar masuk kantor, beruntunglah! Ada banyak orang yang sekadar cari makan siang aja butuh izin atasannya. Iya, ada! Di perusahaan-perusahaan besar biasanya ini terkait dengan cuti. Kamu harus mendapat restu dari bagian ini dulu, izin dari bagian lainnya lagi, sampai sekadar berpikir untuk mendatangi mereka satu per satu pun males. Saking banyaknya.

2. Banyak yang Tidak Boleh Dibahas

Kalau kinerjamu bagus, jarang absen, sudah lama jadi karyawan di sana, tapi sekadar mencoba minta kenaikan gaji aja gak berani, berarti ada yang salah di tempat kerjamu. Ini bukan perkara keinginanmu diterima atau tidak, tapi peluang untuk diskusi itu terbuka atau tertutup?

Menurut para ahli, jika segala hal memungkinkan untuk gajimu naik, tapi atasan tidak memberikannya, berarti tak ada harapan di tempat itu. Apalagi kalau kamu tidak merasa berpeluang menyampaikannya, entah perkara gaji atau apa pun. Alih-alih jenjang karier, kamu bahkan tidak dianggap berharga.  

3. Kerja Malah Keluar Duit

Salah satu “dosa” yang pernah aku lakukan di kantor dulu adalah manipulasi data pembelian pulpen. Gengs, untuk beli pena standar dua ribu perak pun harus izin atasan! Jadilah aku masukkan ke kwitansi fotokopi. Entah kamu bos, suami, atau ibu ke anak, kalau pelitmu kelewatan, itu hanya akan bikin  “bawahanmu” bersiasat.

Aku juga pernah bekerja sebagai kasir bakeri, di situ mas-mas tukang panggang biasa beli korek api sendiri untuk memantik gas. Alasan ibunya bos, yang suka nongkrong di situ, korek api kan murah. 

Logikanya, kalau murah ya langsung beli banyak, siapin di situ! Bedanya, si mas ini tetap kerja di sana waktu aku mundur karena gak sanggup urusan sama nenek-nenek superhemat.

4. Bos Suka Menyalahkan

Entah kapan memberi tugas, tau-tau bos marah-marah karena pekerjaanmu dianggap gak beres. Hm, ini sering kejadian kalau kita kerja dengan orang yang gak bisa misahin urusan rumah dengan urusan kantor. Gak profesional.

Apalagi kalau kamu merasa ada sesuatu yang salah. Hal kecil jadi besar, jika orang lain salah tak masalah tapi kalau kamu keliru bos langsung menyudutkan. Sudah deh, rezeki di tangan Allah. Jangan takut resign! 

5. Ghosting

Pacaran di-ghosting aja gak enak, apalagi kerjaan. Kamu ditugaskan melakukan sebuah pekerjaan, waktu kamu butuh petunjuk, yang ngasih kerjaan gak respons. Mangkel banget pasti! Kalau hal seperti itu berulang-ulang, artinya kamu harus berpikir untuk cari tempat lain yang lebih menyenangkan.

6. Janji Palsu

Kalau orang lain mendengar kata ansor terkenang penduduk Madinah, aku malah teringat salah satu kakakku. Menurutnya, ansor itu singkatan dari angin sorga, artinya janji indah yang diulang-ulang tapi tak pernah dibuktikan.

Kamu pernah diperlakukan begitu oleh petinggi di tempat kerjamu? Kalau masih hitungan bulan sih oke, tapi kalau bertahun-tahun, sebaiknya minta kepastian dan tunjukkan ketegasan. 

7. Kekeluargaan Palsu

Sebagai makhluk sosial, kebanyakan kita mudah tersentuh dengan keramahan orang lain. Itulah celah yang digunakan bos licik untuk mendapatkan tenaga gratis. Coba ingat baik-baik, seberapa banyak pekerjaan yang dibebankan padamu yang itu gak ada hubungannya dengan urusan kantor?

Bukan untuk menyebut-nyebut kebaikan, tapi memisahkan antara diberdayakan atau diperdaya, menjadi manusia bermanfaat atau manusia yang terus dimanfaatkan manusia lain. Masih ada peluang pahala lain kok, yang risiko sakit hatinya lebih kecil. 

Sebab jika terbiasa memanfaatkanmu, di saat kamu gak bisa memenuhi keinginannya, keramahannya akan hilang. Seolah si bos berhak memperlakukanmu sesuka dia. Gak percaya? Terus aja kerja sama dia!

8. Atasan yang Selalu Mengeluh

“Utang kita ke bank sudah banyak banget, kita harus lebih giat!” pernah dengar bosmu mengeluh begitu? Oke, doakan saja agar utang itu cepat terbayar tanpa perlu utang baru. Cukup sampai situ!

Bukan kebijakanmu kan kantor sampai berutang? Dan cukup realistis kok kalau kamu berprasangka keluhan itu hanya tameng supaya kamu gak minta naik gaji, libur, atau kebijakan lain yang menguntungkan karyawan.

9. Tidak Ada Jatah Libur

Aku sih gak paham undang-undang tentang jatah libur karyawan. Perbedaan karyawan dengan buruh aja aku gak ngerti-ngerti amat, hihi kasian kamu dah baca sepanjang ini! Namun yang jelas setiap negara pasti punya UU yang melindungi warganya, termasuk UU tentang hak karyawan di tempat kerja, salah satunya perkara libur.

Coba kamu cek perjanjian kerja yang dulu pernah kamu tanda-tangani, apakah disebutkan tentang berapa jatah libur dalam setahun, kondisi bagaimana kamu bisa mengajukan cuti, dsb. Idealnya jika itu tidak sesuai ketentuan pemerintah, kita bisa laporkan ke pihak berwenang. Tapi gak jamin sih, yuno lah kita tinggal di mana. 

Paling tidak seminim-minimnya, tanggal merah dan hari raya kamu bisa libur. Saat sakit kamu diizinkan tidak masuk, dapat cuti setidaknya tiga bulan untuk melahirkan, dan ada biaya lembur jika kamu bekerja di luar jam kerja.

10. Pekerjaan yang Tak Ada Habisnya

Awalnya kamu mungkin bangga bisa mengerjakan banyak hal. Tapi hati-hati, semakin banyak yang kamu kuasai, semakin banyak yang harus kamu kerjakan. Terutama kalau kamu adalah karyawan baru, tahan diri untuk tidak memamerkan kehebatan. Kamu belum kenal medan!

Kalau kamu pribadi yang lunak dengan sekian banyak skill, siap-siap aja dianggap robot. Pastikan kamu paham tabiat orang-orang di sekitarmu sebelum mereka sadar dengan banyaknya keahlianmu.
tanda harus resign

Gengs, aku pribadi mendapati lima dari sepuluh tanda harus resign di atas saat bekerja. Kalau kamu cuma mendapati satu dua, mungkin ada baiknya pertimbangkan dulu sebelum mengambil keputusan superpenting untuk melepaskan pekerjaan.

Di luar sana ada banyak orang yang membutuhkan pekerjaan yang sudah kamu punya. Namun balik lagi, kalau setengahnya atau malah lebih dari 10 alasan untuk resign kerja itu sudah kamu alami, yakin masih mau bertahan?

1 komentar:

  1. Ih kalau 10 tanda di atas udah keluar semuanya, wajib banget resign. Ga enak kerja kalau lingkungan kerjanya nggak nyaman.

    BalasHapus

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.