Cari di iluvtari

Tudung Lingkup, Kain yang Menjaga Perempuan Melayu Jambi

 “Heran yo, Kak, nengok nyai tu?” kawanku ketawa melihat aku memandangi seorang nenek yang tengah bertandang ke rumah tetangganya.

Sore itu aku baru saja mengantar pulang seorang kawan ke rumahnya di Olak Kemang, Jambi Kota Seberang. Aku tunda menarik gas motor karena melihat seorang nenek di pinggir jalan—di depan sebuah rumah, sedang bercakap-cakap dengan pemilik rumah tersebut.

Yang bikin terkesima adalah pakaian yang dikenakan si nenek. Beliau membalut tubuhnya dengan kain berwarna terang. Namun, kain itu diserupakan dengan jilbab lebar yang menutupi seluruh tubuhnya selain wajah dan telapak tangan.

Kelak di kemudian hari, baru aku tau. Itulah tudung lingkup.

tudung lingkup melayu jambi

Tudung Lingkup, Kain Duo, Bekerobong

Tudung lingkup berasal dari tradisi masyarakat Melayu Jambi, khususnya di kawasan Jambi Kota Seberang (lebih sering hanya disebut Seberang). Secara umum, ia merupakan kain panjang yang digunakan untuk menutup kepala hingga tubuh perempuan, bahkan dalam beberapa bentuk hanya menyisakan bagian mata saja.

Masih dari sumber teman yang sama, ia bercerita. Ketika dia kecil dulu—tahun 90-an—para gadis kerap mengenakan tudung lingkup saat ikut membantu persiapan pernikahan tetangga mereka.

Perempuan-perempuan muda itu menutup seluruh tubuh mereka dengan dua kain yang bentuknya—dalam pandanganku—serupa gamis dan cadar. Sepanjang jalan menuju rumah calon pengantin perempuan, yang terlihat dari mereka hanya matanya. Begitu tiba di dapur, barulah gadis-gadis yang datang sambil membawa alat masak sendiri ini membuka wajah mereka.

Karena menggunakan dua kain, yang satu dijadikan bawahan, satu lagi sebagai penutup kepala, tudung lingkup sering disebut kain duo. Warga Seberang yang aku kenal kebanyakan menyebutnya bekerobong.

Tradisi Berpakaian yang Menjaga Perempuan

Tradisi bekerobong tidak bisa dilepaskan dari kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Melayu. Seperti yang banyak orang tau, dalam falsafah Melayu dikenal adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Nilai agama menjadi fondasi dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara berpakaian.

Pada awal abad ke-20, sudah menjadi kebiasaan bagi perempuan Jambi, jika belum menikah dan hendak ke luar rumah, mereka harus benar-benar menutup auratnya. Kebiasaan ini menjadikan para gadis di Jambi tidak dikenali siapa pun.

Namun, ada kalanya muncul keisengan di antara mereka. Ketika ada orang lain yang dapat mengenali sosok di balik tudung lingkup, maka para gadis masa itu sengaja bertukar kain sarung untuk mengelabui atau sekadar mempermainkan pemuda yang coba mendekati mereka.

Aturan sosial bagi perempuan yang telah balig tersebut tidak pernah dianggap sebagai pembatasan aktivitas mereka. Meski kini tudung lingkup nyaris tidak pernah terlihat—kecuali dalam festival, tetapi menutup aurat sudah menjadi kebiasaan umum dalam kehidupan masyarakat Melayu Jambi.

Cadar yang Meriah

Kita sudah mafhum bahwa tudung lingkup adalah pengaruh Islam yang mau tidak mau dikaitkan dengan budaya Arab. Bahkan dalam KBBI, tudung lingkup diartikan sebagai kain penutup kepala dan muka wanita; cadar.

Menariknya, jika kita melihat pada tempat asal tudung lingkup alias cadar, maka kita dapati bahwa umumnya kain penutup wajah dan atau kepala itu berwarna gelap, bahkan dominan hitam polos. Bandingkan dengan tudung lingkup yang dikenakan perempuan Melayu Jambi sejak dulu hingga kini.

Ternyata hal itu disebabkan akulturasi budaya lokal yang tidak hanya dipengaruhi budaya Arab, tetapi juga Tionghoa. Jadi, tidak ada alasan menyebut tradisi bekerobong sebagai tradisi yang kearab-araban. Syukurnya masyarakat Melayu memang tidak latah memberi stigma demikian.

Meski tudung lingkup cukup meriah dengan aneka warna dan motifnya, tetapi hal tersebut lebih karena faktor kain yang digunakan. Artinya, penggunaan tudung lingkup oleh perempuan Melayu memang lebih berfokus pada fungsi, bukan sekadar penampilan.

Perubahan Tak Pernah Bisa Dielakkan

Seiring perkembangan zaman, tudung lingkup mulai mengalami pergeseran. Modernisasi membawa banyak pilihan baru dalam berpakaian. Jilbab dan busana muslim modern menjadi lebih praktis dan populer.

Akibatnya, tudung lingkup tidak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir aku melihat nenek-nenek mengenakan tudung lingkup—yang kukisahkan di awal—adalah di kisaran tahun 2007 atau 2008. Bisa jadi nyai bekerobong itu dulunya terbiasa mengenakan tudung lingkup dan takingin melepas kebiasaan masa mudanya. Sayangnya, beliau pula generasi akhir yang mengenakan tudung lingkup dan takmampu mewariskan kebiasaan tersebut pada generasi yang lebih muda.

Meski demikian perubahan zaman tidak membuat tradisi bekerobong hilang sepenuhnya. Tudung lingkup kini berpindah ruang, dari keseharian beralih ke simbol budaya.

Festival Tudung Lingkup sebagai Upaya Pelestarian

Di tengah perubahan yang tidak pernah bisa dielakkan, muncul upaya untuk menghidupkan kembali tradisi bekerobong, salah satunya melalui festival budaya.

Pada 2019, masyarakat Seberang, tepatnya warga Kelurahan Tanjung Pasir, menggelar festival budaya lokal bertajuk Grak Jalan Tudung Lingkup Behelet-helet Bekerobong

Kegiatan tersebut diikuti ribuan peserta. Para perempuan mengenakan tudung lingkup dengan dua lembar kain sarung, sedangkan peserta laki-laki mengenakan sarung, baju koko, dan kopiah. 

Di 2022, upaya pelestarian ini semakin diperkuat melalui penyelenggaraan Festival Tudung Lingkup yang digelar oleh Pemerintah Kota Jambi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan budaya Kenduri Swarnabhumi

Tak hanya melibatkan masyarakat lokal, tetapi juga menjadi ajang promosi budaya yang lebih luas. Dalam festival tersebut, perempuan Jambi kembali mengenakan tudung lingkup sebagai identitas budaya, sekaligus simbol penghormatan terhadap nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun.

Melestarikan Esensi

Berbagai festival kebudayaan Melayu Jambi kerap diadakan, baik oleh pemerintah maupun masyarakat lokal, sebagai upaya menjaga dan menghidupkan kembali tradisi yang mulai memudar.

Namun, sejarah tetaplah sejarah. Sekalipun bisa berulang, tidak mungkin sama persis. Aku gak tergolong orang yang sangat menyayangkan budaya semacam bekerobong ditinggalkan, meski aku begitu meyakini faedah dan nilai keislaman yang ada di dalamnya.

Yang lebih penting dari itu semua adalah esensi dikenakannya tudung lingkup oleh generasi lampau. Para pendahulu kita tidak menjaga, melainkan dijaga oleh nilai yang mereka pegang. Sejatinya tudung lingkup bukan sekadar kain, melainkan cara menjaga kehormatan perempuan Melayu, dulu hingga kini.

No comments