2 Penawar Penyakit Ain untuk Diketahui Semua Muslim

, , No Comments
Semua penyakit ada obatnya, kecuali maut. Lalu apa penawar penyakit ‘ain? Sebelum membahas lebih jauh tentang pengobatannya, kita cari tau dulu yuk info tentang penyakit yang sempat dikira mitos ini!

penawar penyakit ain

Arti Penyakit Ain

‘Ain berarti mata. Karenanya penyakit ain sering kali disebabkan oleh pandangan mata. Meski demikian, pada dasarnya ain adalah penyakit yang timbul karena masalah hati. Terbukti, seorang buta sekalipun bisa menyebabkan ain ketika diceritakan padanya sesuatu yang membuat ia hasad ataupun takjub.

Yup, selain hati yang hasad, ketakjuban juga dapat menyebabkan ain. Yakni ketakjuban yang meniadakan Allah di sana. Kita takjub tanpa menyebut nama Allah, sehingga seolah-olah apa yang tampak indah dan baik itu bukan karena kuasa Allah.

Contoh Penyakit ‘Ain

Pasangan suami-istri yang membagi kemesraan mereka di media sosial. Bagi mereka, itu sah-sah saja karena mereka telah resmi menikah. Halal. Yang gak suka paling cuma iri, begitu kira-kira prasangkanya.

Dan memang benar, di antara yang melihat kemesraan mereka, ada yang iri. Apa yang ada di hati, sampai ke mata. Maka mata orang yang hasad inilah yang menyebabkan ain pada pasangan tadi. Meski ia tidak mengatakan apa pun, tidak mendoakan keburukan, benar-benar hanya melihat.

Si pasangan yang menjadi korban ain bisa mengalami hal buruk. Entah itu sakit, perceraian, bahkan kematian satu atau keduanya. Kalau sudah begini, bingung kan mencari obat penyakit ain. Terdeteksi saja tidak oleh ilmu medis.

Contoh berikutnya, seseorang membeli mobil baru yang diproduksi terbatas, sehingga di antara kendaraan lain, mobil ini jadi lebih mencolok. Ketika melintas di sebuah jalan, seseorang melihatnya dengan kekaguman yang luar biasa.

Dalam keadaan takjub, yang melihat tadi hanya berdecak, bergumam, atau mungkin berteriak saking kagumnya. Dan ia sama sekali tidak menyebut nama Allah dalam ketakjuban itu. Maka ia bisa saja menyebabkan ain pada mobil tersebut.

Iya, mobil. Bukan orangnya! Ain dapat mengenai manusia maupun benda mati. Dan akibatnya tak kalah parah, mobil tadi bisa saja mengalami kecelakaan atau hal buruk lainnya dengan atau tanpa pengendara.
Sepertinya tak masuk akal, ya. Tapi Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam mengatakan bahwa ain nyata. Gapapa gak percaya, kalau kamu bukan umat beliau.

penyakit ain dalam islam

Mencegah Penyakit Ain

Apa itu penyakit 'ain sudah diketahui, lalu bagaimana cara mengobatinya? Nanti dulu. Sebelum menjadi korban ain, akan lebih baik jika kita bisa mencegahnya. Baik mencegah diri dari terkena ain maupun menyebabkan ain bagi orang lain.

Mencegah dari Penyakit Ain

Doa dan zikir.

Apa lagi yang bisa menolong kita dari penyakit yang jelas-jelas tak nampak? Virus yang superkecil dapat dilihat dengan bantuan teknologi. Ain tidak dapat dilihat dengan apa pun, namun bisa dirasakan. Jadi hanya Allah tempat berlindung, yakni dengan doa.

Doa sudah pasti zikir, zikir belum tentu doa. Ada zikir pagi dan petang (al-ma’tsurah) yang bisa kamu baca secara rutin untuk menghindari berbagai keburukan dunia akhirat, termasuk ain. 
Ketika keluar rumah, biasakan membaca doa berikut!

doa terhindar dari penyakit ain

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Apabila seseorang keluar dari rumahnya kemudian dia membaca doa “Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa hawla walaa quwwata illa billah.” Maka disampaikan kepadanya, ‘Kamu diberi petunjuk, kamu dicukupi kebutuhannya, dan kamu dilindungi.’ Seketika itu setan-setan pun menjauh darinya. Lalu salah satu setan berkata kepada temannya, ’Bagaimana mungkin kalian bisa mengganggu orang yang telah diberi petunjuk, dicukupi, dan dilindungi.’” (HR Abu Daud no. 5095; Turmudzi no. 3426; dinilai shahih oleh Al-Albani).

Setiap sebelum tidur malam, Nabi menangkupkan kedua tangan beliau, meniupnya, lalu membaca surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, kemudian mengusap kedua tangan yang sudah dibacakan ke seluruh tubuh.

Media sosial secukupnya.

Entah membagi foto atau aktivitas sehari-hari, sebaiknya tidak terlalu sering kamu lakukan di media sosial. Ada terlalu banyak orang yang bisa melihat, dan kita tidak bisa menyaring siapa yang hasad atau alpa dalam berzikir.

Penyakit ‘ain sering kita temukan pada bayi. Jika anak mendadak demam atau gejala lainnya tanpa alasan yang jelas, bisa jadi orang tuanya terlalu banyak mengekspos sang anak di media sosial. Meski kamu tidak termasuk orang tua yang demikian, penawar penyakit ain tetap perlu kamu ketahui.

Tahan lidah.

Jangan mengumbar kisah kesuksesan pada waktu dan tempat yang tidak dibutuhkan. Kecuali jika yang kamu ceritakan benar-benar memberi manfaat, sebaiknya tak perlu menyampaikannya pada sembarang orang.

Seorang yang buta dapat membuat orang yang diceritakan padanya tertimpa ain, karena hasad atau ketakjuban (tanpa zikir) yang ada di hatinya. Dia gak maksud jahat, yang salah yang kebanyakan cerita.

Mencegah Diri dari Menjadi Penyebab Penyakit Ain

Doa dan zikir.

Karena ain disebabkan oleh hasad dan takjub, maka zikir membentengi dengan cara membersihkan hati dari rasa hasad, juga membiasakan diri untuk memuji Allah atas apa pun yang tampak luar biasa.

contoh penyakit ain

Biasakan mengucap Masyaallah Tabarakallah (Apa yang Allah kehendaki, semoga Allah memberkahi) ataupun zikir lain yang sekiranya lebih relevan, saat melihat atau mendengar sesuatu yang menakjubkan. Pengakuan bahwa Allah-lah yang membuat sesuatu menjadi indah di mata maupun telinga, menjadi benteng perlindungan dari penyakit ain.

Jaga pandangan.

Karena  ain umumnya berasal dari pandangan, maka yang kita lakukan adalah menjaga pandangan tersebut. Kita kira cuma laki-laki yang wajib menjaga pandangan karena faktor syahwat, padahal perempuan juga harus menjaga pandangan, salah satunya karena kebiasaan hasad (dan naluri gibah, hehe).

Penawar Penyakit Ain

Dari Abu Umamah bin Sahl, ia berkata, “Suatu saat ayahku, Sahl bin Hunaif, mandi di Al-Kharrar. Ia membuka jubah yang ia pakai, dan ‘Amir bin Rabi’ah ketika itu melihatnya. Sahl adalah seorang yang putih serta indah kulitnya. Maka ‘Amir bin Rabi’ah pun berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kulit indah seperti yang kulihat pada hari ini, bahkan mengalahkan kulit perawan.’ 

“Maka Sahl pun sakit seketika di tempat itu, dan sakitnya semakin parah. Hal ini pun dikabarkan kepada Nabi saw, ‘Sahl sedang sakit dan ia tidak bisa berangkat bersamamu, wahai Rasulullah.’ Maka Rasulullah saw pun menjenguk Sahl, lalu Sahl bercerita kepada Rasulullah tentang apa yang dilakukan ‘Amir bin Rabi’ah. 

“Rasulullah saw bersabda, ‘Mengapa seseorang menyakiti saudaranya? Mengapa engkau tidak mendoakan keberkahan? Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya, maka berwudulah untuknya!’ ‘Amir bin Rabi’ah lalu berwudu untuk disiramkan air bekas wudunya ke Sahl. Lalu Sahl pun sembuh dan berangkat bersama Rasulullah saw.” (HR Malik dalam Al-Muwatha’, dishahihkan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah).

Contoh kasus ain di atas “lebih mudah” ditangani karena ketahuan siapa yang menyebabkan ain, bagaimana jika terjadi di masa sekarang yang mana lawan interaksi kita lebih banyak daripada para sahabat Nabi? Apalagi dengan adanya internet, terutama media sosial. 

Itulah kenapa penting sekali membatasi penggunaan medsos sebagai upaya mencegah ain. Dari kisah di atas, ditambah kisah lainnya yang tidak cukup jika dituliskan semua di sini, ada dua cara yang merupakan penawar penyakit ain.

1. Menggunakan Air Wudu

Sesuai hadits dari Abu Umamah di atas, air wudhu yang dimaksud adalah bekas wudu orang yang menyebabkan ain (tetesan wudunya ditampung), basuhkan pada kepala dan punggung pasien. 

2. Ruqyah Syar'iyyah

Jika tidak diketahui siapa yang menyebabkan ain, maka gantinya adalah dengan diruqyah. Loh, bukannya ada yang bilang kita tidak boleh minta diruqyah?

Yang tidak boleh adalah minta dijampi-jampi (bahasa Indonesia dari ruqyah). Tentulah yang dimaksud itu jampi ala dukun, alias ruqyah syirik. Ruqyah yang syar’i adalah obat, sebagaimana kita meyakini bahwa bacaan Al-Qur’an merupakan penawar.

Emang kamu kalau sakit cukup nunggu dokter tanya, mau diobati nggak? Padahal kamu percaya bahwa dokter mampu mengobati orang sakit (Allah yang menyembuhkan). Jadi kamu percaya nggak kalau Al-Qur’an lebih mampu lagi?

Yang perlu diperhatikan terkait ruqyah: 
  • Pastikan bahwa yang diminta meruqyah adalah memang peruqyah syar’iyyah, bukan dukun. Hal itu dapat dilihat dari bacaan Al-Qur’annya yang baik dan benar, serta cara membacanya yang jelas (tidak berbisik-bisik).
  • Tidak memperlakukan peruqyah seperti dukun, apalagi Tuhan. Yakni dengan menyandarkan diri pada mereka, misalnya setiap ada keluhan, datang pada peruqyah untuk dibacakan ayat. Lakukan ruqyah secara mandiri, jangan tinggalkan shalat, dan perbanyaklah zikir.
  • Peruqyah syar’iyyah umumnya memberi tausiah sebelum meruqyah, yaitu dalam rangka meluruskan akidah pasien agar bersandar hanya kepada Allah. Memberikan pemahaman terkait hal-hal yang dapat merusak keimanan, termasuk rasa takut kepada selain Allah dan kepercayaan pada mitos yang dapat membatalkan syahadat seorang muslim.
Baik manusia maupun benda mati, obat penyakit ain yang menimpanya sama saja. Air bekas wudhu orang yang menyebabkan ain dan ruqyah oleh ustaz yang kompeten (dibantu ruqyah mandiri).

Dari berbagai sumber shahih, penawar penyakit ain adalah dua hal di atas. Sebagaimana kita tau, mencegah lebih baik daripada mengobati. Lebih aman untuk menghindari ain daripada harus mengobatinya. Namun demikian, sakit bisa jadi adalah salah satu cara Allah untuk menggugurkan dosa-dosa kita. Allahua’lam.

0 comments:

Post a Comment

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.