Berapakah Usia Ideal Perempuan Melahirkan?

, , 11 comments
Usia melahirkan ideal itu berapa sih? Kamu mungkin pernah bertanya-tanya begitu, setelah sebelumnya mikirin kapan usia yang tepat untuk menikah. True?

Ideal gak ideal, masalahnya nikah dan hamil itu ada yang menentukan. Bukan semata bersandar pada usaha kita. Tapi tetap boleh direncanakan dong, kan usaha dulu baru tawakal. Nikah dulu baru melahirkan. Salah! Nikah, hamil, baru punya bayi.

Kita semua sudah mafhum, kalau zaman dulu kebanyakan orang-orang tua kita melahirkan anak sulung mereka di usia yang bahkan jauh dari 20. Sementara sekarang, terutama di barat sana, orang-orang lebih suka melahirkan setelah usia 30. Jadi sebenarnya kapan usia melahirkan yang baik? Usia melahirkan bagi kaum ibu terbaik pada … kita bahas satu per satu!

usia melahirkan ideal

Melahirkan di Usia 20-an

Setidaknya menurut orang-orang yang seangkatan denganku, usia 24-27 adalah umur yang tepat bagi cewek untuk menikah. Sudah selesai kuliah, sempat kerja (entah setelah menikah akan lanjut kerja atau pilih di rumah), dan siap jadi ibu muda. 

Tapi apakah umur 20-an otomatis jadi usia melahirkan ideal? Nggak juga. Pada usia ini tingkat kesuburan perempuan memang lebih tinggi. Jumlah sel telur yang ada di rahim masih sangat banyak. Kita membawa sekira 1 juta sel telur ketika dilahirkan, dan akan terus berkurang seiring bertambahnya usia. 

Kelebihan Melahirkan pada Usia 20-an

Karena berbagai faktor yang menguntungkan terkait hamil pada usia muda (bukan usia dini), sedikitnya ada dua keunggulan jika kamu hamil dan melahirkan di usia 20 tahunan.

#1 Risiko keguguran lebih kecil.

Selain kesehatan ibu sebagai pemilik rahim, kualitas sel telur dan sperma juga memengaruhi kondisi janin yang terbentuk nantinya. Di usia 20an, bisa dikatakan kita (baik laki-laki maupu perempuan) berada pada kondisi paling prima. Sehingga peluang melahirkan “tanpa masalah” seperti keguguran dsb, jadi lebih besar.

#2 Kesempatan bertualang bersama anak.

Kalau kamu melahirkan di usia 20an, ketika anakmu 17 tahun, maka usiamu masih awal 40-an dong. Masih bisa disebut mama muda, padahal anaknya sudah remaja. Kalian bisa traveling bareng (sebenarnya yang 60 tahun juga bisa sih, asal ada duitnya!) atau melakukan aktivitas lain yang membutuhkan kekuatan fisik bersama-sama. Dengan asumsi kamu gak mageran.

Kelemahan Melahirkan pada Usia 20-an

Meski banyak yang merasa keren saat menikah muda (yang kemudian jadi orang tua padahal masih sangat muda), itu tidak membuatku menjadikannya poin kelebihan. Sebab tanpa ilmu yang memadai, kebanggaan nikah muda hanyalah pameran konyol.

#1 Lebih melelahkan secara psikis.

Kalau nikah itu sepele, tentu dia bukan amalan separuh agama. Anak, yang seharusnya jadi pelipur lara, justru akan membuat drama rumah tangga semakin melelahkan jika tanpa pemahaman yang memadai. Ingat Gengs, seberat apa pun ujianmu, jangan sia-siakan anak. Tanpa kasih sayang orang tua, mereka bisa jadi pribadi yang buruk di masa depan nanti.

#2 Sakit yang lebih terasa.

Menurut penelitian, melahirkan sebelum usia 30 berisiko menghasilkan nyeri yang lebih kuat. Sevalid apa hasil penelitian itu, kamu cek sendiri aja (terlampir di kata yang ditebalkan). Yang aku tau, namanya melahirkan ya sakit. Yang enak itu baca buku sambil ngemil, terus dikasih duit. 

usia ideal melahirkan

Melahirkan di Usia 30-an

Saat pubertas, jumlah sel telur perempuan diperkirakan sebanyak 300 ribu. Memasuki usia 37, tersisa sekira 25 ribu saja. Ketika persediaan telur sudah habis (mendekati usia 60), indung telur tak lagi melepaskan sel telur, sehingga kita tidak lagi haid. Yup, menopause! Jadi batas usia melahirkan bukan 40, 50, atau lebih. Tapi masih punya telur nggak?

Entah karena sengaja memilih hamil di usia 30-an atau setelah menikah tidak segera dikaruniai anak, akhirnya jumlah sel telur calon ibu jadi jauh lebih sedikit. Artinya, peluang hamil relatif lebih kecil. Kemungkinan kecil itu masih berkemungkinan, bukan mustahil. Dan sama dengan usia yang lebih muda, melahirkan di usia 30an juga memiliki keunggulan dan kelemahan.   

Kelebihan Melahirkan pada Usia 30-an

Bagi kebanyakan masyarakat barat modern, umur 30 adalah usia melahirkan ideal. Tapi mereka sudah ngeseks jauh sebelum usia 20, hiks! Dengan asumsi perempuan usia 30-an jauh lebih siap menjadi ibu, berikut kelebihannya:

#1 Lebih siap secara finansial.

Meski sekarang sedang tren punya ratusan juta di usia 25, tapi berapa persen dari populasi kita yang mencapai tren itu? Sebagian besar pasangan, meski sudah bekerja, belum berada pada posisi yang aman di bawah usia 30.

Sementara memasuki usia 30-an, rata-rata kita memiliki pengalaman kerja yang memadai. Jika sudah memulai usaha sejak awal 20 atau malah sebelumnya, di usia ini kemungkinan kita sudah memetik hasil. Artinya, ibu yang melahirkan pada usia 30-an psikisnya relatif lebih tenang dan bisa mencukupi kebutuhan buah hati lebih baik dari ibu yang lebih muda. 

#2 Berpeluang melahirkan bayi kembar.

Untungnya walaupun sel telur kita terus berkurang, namun jumlah perlepasannya dalam siklus jadi lebih banyak seiring bertambahnya usia. Sehingga sperma dapat membuahi lebih dari satu telur, dan akhirnya membentuk janin kembar.

Kalau boleh disebut “telat hamil” tapi keterlambatan itu terbayar, karena melahirkan langsung dua atau tiga. Tapi ya … repot sih! Namun dengan asumsi si ibu lebih siap, melahirkan anak kembar adalah anugerah kan! 

#3 Panjang umur. 

Menurut penelitian yang dirilis NCBI, perempuan yang melahirkan di atas usia 33 tahun memiliki umur yang lebih panjang, bahkan hingga lewat 90 tahun! Tolong jangan bantah penelitian dengan opini, Gengs! Gak apple to apple. 

Bahwa ajal di tangan Allah, kita sudah tau. Tapi kalau kamu merasa penelitian itu gak cocok dengan pikiranmu, buatlah penelitian yang selevel. Jangan pakai perasaan. Ibarat tukang bangunan. Untuk bikin sekadar kandang ayam pun, harus diukur. Bukan diramal.

Para senturian/centenarian (orang yang berusia 100 tahun lebih) umumnya masih melahirkan saat usia mereka “masih” kepala empat dulunya.

#4 Anak berpeluang lebih cerdas dan lebih tinggi.

Tinggi tubuh seseorang selain dipengaruhi faktor gen, juga bergantung asupan gizi masa kecilnya. Karena ibu usia 30+ umumnya lebih matang secara finansial, mereka lebih mampu melengkapi kebutuhan gizi anak-anak. Itulah sebab anak yang lahir dari ibu “lebih tua” cenderung lebih tinggi dan lebih cerdas

Tapi balik-balik ke mindset mamaknya juga, ya. Kalau sudah berumur tapi masih belum paham ilmu tumbuh kembang anak, yang dia kejar mungkin bukan gizi. Tapi gaya. 

Kelemahan Melahirkan pada Usia 30-an

Melihat berbagai kelebihan di atas, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa 30 adalah usia melahirkan ideal. Masih ada kelemahan yang perlu dipertimbangkan jika melahirkan anak setelah lewat usia 30 tahun.

#1 Risiko melahirkan caesar.

Iyyap! Kamu langsung membantah. Aku pun termasuk yang harus melahirkan secara caesar, padahal waktu itu usiaku baru 26 tahun. Jadi tidak ada batas usia melahirkan normal. Kalau yang 20an saja berisiko, apalagi yang lebih tua. Caesar maupun normal, sama-sama sakit cuy!

#2 Risiko bayi mengalami komplikasi.

Memasuki usia 30, kamu mungkin merasakan sendiri bahwa fisik kita tidak sebaik sebelumnya. Alergi menjadi-jadi, gampang lelah, dsb. Gaya hidup, pola makan, dll, yang kita jalani hingga menjelang usia 30 mulai dirasakan efeknya pada usia ini. 

Di umur 30-an juga hasil cek medis kita menunjukkan informasi mengagetkan; diabetes, hipertensi, berbagai gejala ini itu yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. Jika sedang hamil, jelas semua itu berisiko pada janin, lahir prematur atau bahkan keguguran.

Tak sampai di situ, kromosom calon ayah dan calon ibu telah mengalami berbagai kerusakan. Semakin tua calon orangtua, semakin mereka berisiko melahirkan anak berkebutuhan khusus. Kebanyakan anak down syndrome lahir dari pasangan yang berusia mendekati 40 tahun atau lebih.
usia melahirkan yang baik
Jadi kapan usia melahirkan ideal itu? Jawabnya, tidak ada usia sempurna untuk seseorang melahirkan. Hidup bukan lomba, dulu-duluan, gaya-gayaan. Kalau mau menunda kehamilan, bersiaplah dengan segala risikonya. Pun demikian yang memilih start lebih dulu. Lagi pula sekeras apa pun usaha, hasil tetap di tangan Allah juga. Jalani sajalah!

11 komentar:

  1. aku melahirkan anak pertama usia 26 tahun dan itu masih banyak banget kedodoran ilmunya, semoga mau menikah lebih banyak ilmu ya

    BalasHapus
  2. Emang ya semua hal itu ada plus minusnya. Apa pun yang jadi pilihan kita, semoga kita memilih dengan penuh tanggung jawab ya

    BalasHapus
  3. mau di dua puluhan atau tiga puluhan tetep ada resikonya masing-masing ya,, baru tau kalo di usia 30 an bisa kemungkinan mendapatkan bayi kembar.

    BalasHapus
  4. aku melahirkan anak usia 30an sih. Meski bisa dibilang usia yang matang, nyatanya aku masih harus banyak belajar soal pengasuhan ini

    BalasHapus
  5. Pas banget nih postingannya, Mba. Ku-share ke adikku yang baru aja merit...

    BalasHapus
  6. Wah ternyata udah banyak penelitian soal usia hamil, ya, kayaknya aku perlu baca-baca biar ada bekal nantinya. Masih awam nih soal kehamilan

    BalasHapus
  7. Saya yang belum punya anak jadi merenung akibat artikel ini. Memang betul, punya anak itu bukan perlombaan, dan walaupun belum punya, tetap terus ikhtiar

    BalasHapus
  8. Aku nyari baca sampai bawah, untuk usia di atas 40. Soalnya kakak dan teman saya banyak juga yang melahirkan di usia itu

    BalasHapus
  9. Umumnya usia 20-40, ya... Usia 40 sudah berisiko. Namun tetap ada kuasa Allah yg menentukan

    BalasHapus
  10. Saya belum menikah. Harus segera memikirkannya setelah baca artikel ini sebelum masa usia 20an telah lewat. Tapi qodarullah semua ada jalannya masing-masing.

    BalasHapus
  11. sebuah sudut pandang yang menarik, dan perlahan membuka pemikiran saya yang belum menikah.

    BalasHapus

pembacaku nan baik budi, gunakan profil google yg jelas ya, yg pake wp juga boleh langsung nama blognya. yg penting jgn anonim, pelan2 tamu anonim akan dihapus komennya dr blog ini.