Tidak ada akses internet jauh lebih baik daripada jaringan terganggu. Dari yang internetan dengan kartu bertarif pelajar, sampai kelas bisnis, semua pernah merasakan sinyal internet terganggu, alias lelet atau lemot. Gak usah ngamuk-ngamuk apalagi sampai memaki nambahin dosa, matikan saja akses datanya sekalian. Daripada PHP, lebih baik lanjutkan hidup dengan kegiatan bermanfaat, seperti yang berikut ini.
1. Baca Alquran
aplikasi anak soleh di hp admin

Aplikasi Alquran sangat banyak tersedia di Play Store, pastikan kamu sudah menginstalnya saat jaringan sedang normal. Jadi ketika kekuatan sinyal memburuk, kamu gak perlu banting HP untuk melampiaskan kedongkolan. Makin banyak ponselmu dimanfaatkan untuk hal-hal positif, makin berkah nilainya. Bisa bikin awet dan tidak melalaikan, coba deh!

2. Baca Buku Elektronik (E-book)
macam-macam aplikasi untuk membaca ebook

Buku elektronik yang gratis dan legal juga banyak terdapat di Play Store, atau bisa kamu unduh versi pdf, epub, dll di berbagai laman saat sinyal sedang tidak bermasalah. Buku motivasi, novel, kumpulan cerpen, bahkan komik dari berbagai genre tersedia di jagat maya. Selain dapat menambah pengetahuan, membaca ternyata penting untuk kesehatan otak, mencegah pikun, dan mengembangkan imajinasi.

3. Bersih-bersih Penyimpanan
lihat sisa memori internalnya! parah kan.

Kegiatan ini benar-benar tidak membutuhkan sinyal internet. Bahkan pada mode pesawat, kamu dapat melakukannya untuk mengurangi beban ponsel. Misalnya membersihkan cache, menghapus percakapan di grup WA yang ramai, atau menghapus aplikasi yang ternyata tidak pernah kamu gunakan. Coba lihat-lihat koleksi foto dan video di memori, kadang kamu akan terkejut dengan jumlahnya yang ribuan. Yang sekiranya tidak lagi diperlukan, lebih baik dibuang.

4. Latihan Fotografi
motoin si mozza ganteng

Kebanyakan kita memanfaatkan kamera ponsel untuk swafoto atau menjepret objek standar seperti manusia, makanan, dsb. Coba sesekali memotret mainan, tumbuhan dari jarak dekat, atau pemandangan biasa yang kemudian kamu edit sedemikian rupa agar lebih menarik. Dengan kegiatan ini, kamu bisa berlatih memilih angle, membuat efek, atau kemahiran lain. Tapi tahan jarimu agar tidak terburu-buru mempostingnya ke media sosial. Kan internetnya lagi lemot, nanti malah emosi!

5. Menulis
begitu ada ide, langsung tulis. gak usah nunggu jaringan lemot

Manfaat menulis sungguh luar biasa. Kalau kamu lahir sebelum tahun 2000, kamu pasti tidak asing dengan diary. Jauh sebelum media sosial ditemukan, orang-orang biasa melepaskan kegalauan di buku harian/diary. Bahkan tersedia diary dengan kunci dan gembok untuk menjaga rahasia yang tertulis di halaman-halaman buku tersebut. Berbeda dengan sekarang, di mana orang-orang justru sengaja memamerkan masalahnya di ruang publik.
Setelah sebagian atau semua hal di atas kamu lakukan, coba aktifkan kembali akses data di ponselmu, siapa tahu sinyal sudah normal seperti semula. Biasanya pada kasus tertentu, mematikan data lalu menyalakannya kembali bisa menjadi salah satu solusi.
Solitaire di Windows 95/windowswally.com

Pengguna komputer dengan sistem operasi Windows pasti kenal Solitaire, permainan lawas yang selalu ada di setiap versi Windows. Aturannyanya sederhana, hanya menyusun kartu sesuai urutan nilai. Begitu pula tampilannya, sangat sederhana dibanding gim-gim (sesuai KBBI, kata baku untuk game adalah gim) yang sekarang banyak bermunculan. Maklum, gim ini sudah menempel di Windows sejak tahun 1990, tepatnya pada Windows versi 3.0.
grayscale photography of woman facing window
unsplash.com


cerpen Syarifah Lestari 

Pelarian itu ada di rumahku, mengenakan pakaianku, selonjor di atas dipanku. Wajahnya tidak menampakkan penyesalan barang segaris saja. Tapi kenapa pula, pikirku, ia harus lari begini. Bukankah ia tidak menyesal, berarti ia sudah siap dengan akibat perbuatannya.
“Orang yang mengejarku tidak tahu apa yang kurasakan.” Ia menggeletak nyaman, melipat dua sebuah bantal lama, lalu membebankan kepalanya di atas batal itu.
“Makanya kau harus ceritakan, agar mereka tahu.”
“Kau mengusirku?”
“Sama sekali tidak.” Segera aku menggeleng. “Aku hanya mengkhawatirkanmu. Status buron pasti menyusahkanmu. Orang-orang akan segera tahu. Pelarianmu hanya memperjelas ketidakberanianmu untuk bertanggung jawab.”
“Dia yang tidak bertanggung jawab!” Kali ini ia membentakku.
Selanjutnya kupastikan ia akan bercerita ulang tentang sebab pembunuhan yang ia lakukan dan cara ia membunuh suaminya. Tapi kenapa ia memilih rumahku sebagai tempat persembunyian, belum kutahu sebabnya.

Ia terlalu kuat, begitu aku menyimpulkan. Dari cerita Rahmi, kudapati pengakuan, yang besar keyakinanku akan kevalidannya. Rahmi tidak sekolah, tapi ia sering bertindak layaknya orang berpendidikan. Berpendirian teguh, baik, tapi tak ingin diremehkan.
“Aku kemari karena yakin kaulah yang paling mengerti.” Rahmi sedikit menekuk kakinya.
Aku diam saja. Kalimat itu tak spesifik, terlalu di permukaan.
Uraian ceritanya yang lalu bergulir lagi. Suaminya, Amran, yang terbiasa hidup nyaman di antara setengah lusin kakak perempuan, dianggap tak berkelamin saat menghadapi dunia. Rahmi tak seperti kakak-kakaknya, demikian pula istri Amran terdahulu.
Tak ada di dunia ini perempuan yang bisa ngemong Amran sebaik kakak-kakaknya. Tidak soal selera makan, merek rokok, apalagi uang jajan. Amran tak biasa cari uang, jika bekerja ia sakit. Semua kakaknya paham, begitu pun ibu, bahkan bapaknya yang bukan perempuan.
“Lalu aku hamil,” Rahmi melengkapi ceritanya yang sudah pernah kudengar. “Dia sangat suka dan berharap anak kami laki-laki. Tapi aku tidak. Sejak menikah dengannya, bagiku laki-laki adalah parasit.”
Kemudian Rahmi memelihara perutnya sendiri. Cek kandungan dan menutrisi janinnya dengan keringat yang ia dompeti. Dunia sudah terbolak-balik. Laki-laki bernama Amran itu, kepalanya tercemari keperempuanan yang menjadi-jadi ketika berurusan dengan nafkah. Sedangkan enam kakak perempuannya begitu ksatria menjaga pangeran bungsu tak berotot itu.
“Bukan dia yang menikahiku, tapi aku yang menikahinya. Aku membelinya sesuai adat, tapi bertahun hidup dengannya, aku masih terus membeli. Niaga yang merugikan.”
Tawaku tertahan mendengar kalimat terakhir Rahmi. “Tidurlah,” rayuku kemudian.
“Begitu anakku lahir, kerugian makin menggerogotiku ….” Rahmi terus bercerita. Kelopak matanya ditahan-tahan agar tak mengatup, tapi ia kalah. Bibirnya terus bergumam, meski selanjutnya hanya kedengaran seperti ceracau, tapi ruang imajinasiku menampilkan gambar bergerak yang demikian sempurna.

Anak Rahmi laki-laki. Sangat normal, lincah dan sehat. Tapi makin hari bayi yang terus tumbuh butuh biaya untuk ia menjadi anak, remaja, kemudian dewasa. Amran tak punya kekuatan untuk menumpu buah hatinya. Bukankah untuk perutnya sendiri pun ia harus mengais kantong istri. Maka sebagai bungsu yang lemah, ia mengadu pada kakak-kakaknya.
Terjadilah rembuk keluarga besar. Tanpa Rahmi.

“Malam itu ia mendatangiku dengan lembut. Membelaiku. Seperti pejantan. Sangat laki-laki,” Rahmi tersenyum dalam igaunya. “Besar sekali cintaku untuknya. Kecuali setelah ia memaparkan hasil rapat mereka.”
Keluarga besar memutuskan, Rahmi harus merantau ke luar negeri untuk memperbaiki kondisi ekonomi rumah tangganya. Ia diberi hak penuh untuk memutuskan ke mana hendak mengadu nasib. Ringgit, real atau dolar, jauh lebih bernilai daripada rupiah yang nolnya kepanjangan.
Rahmi dijanjikan kemudahan soal surat-menyurat dan anak. Segala dokumen akan diurus oleh para ipar, anak semata wayang pastinya dijaga dengan sangat baik oleh keluarga besar.
“Meski yatim piatu, aku masih punya keluarga. Biar begitu, tak mungkin kuberi anakku pada siapa pun!” Setengah berteriak Rahmi dalam tidurnya. “Aku kira aku seorang penyabar,” ia terisak. “Tapi mereka menyimpulkan bahwa aku bodoh.” Tersedu-sedu.
Rahmi menolak keras permintaan Amran. Dan malam itu pula ia menanggung konsekuensinya.
“Ia memukulku, hal yang tak pernah terbayang, karena kupikir ia sudah terlalu durjana dengan kemiskinan yang ia sengaja. Aku tentu membalas, karena aku tidak lemah dan tidak bodoh. Aku yang menghidupinya, durhaka ia padaku.”
Amran kesulitan menghadapi amukan Rahmi, ia berlari keluar rumah. Menuju rumah salah satu kakaknya yang hanya selemparan bata.
Keributan hebat tak terhindarkan. Anak laki-laki Rahmi diungsikan ke tempat yang aman, versi iparnya. Tapi penyelamatan itu justru membuat akhir keributan yang lebih hebat. Rahmi menikam Arman, bertubi-tubi tanpa ampun!
“Kau setan paling iblis, tak ada perlindunganmu untukku. Kau tiduri aku, kau bebani punggungku, sekarang kau bunuh aku dengan mengambil satu-satunya hartaku!” Rahmi histeris. Tangan kanannya seolah menggenggam sesuatu, bergerak berayun berulang-ulang. Ruang imajiku menggambarkan ia tengah menanam-cabut pisau ke dada dan perut Amran.

“Rahmi, tenanglah. Kau mengigau.” Terpaksa kubangunkan ia. “Minumlah!” kuangsurkan segelas air putih ke hadapannya. Tangan kiriku menopang tubuhnya yang menggigil.
Rahmi terisak-isak. Lalu mendadak diam. Menerawang. Kemudian tertawa. “Aku berhasil membasmi parasit,” ujarnya bangga.
Sekarang Rahmi bukan lagi seorang buron, tapi perempuan depresi yang bingung antara lari dan kembali. Sarafnya saling memilin saat ia mencari cara untuk mendapatkan anak tanpa tertangkap oleh siapa pun. Kecerdasannya tumpul karena kekalutan.
“Aku yakin kau tahu perasaanku.” Tiba-tiba Rahmi menatapku lekat. Penuh harap.
“Kau datang padaku, karena beranggapan bahwa tak ada yang mengira kau kemari kan?” Tanyaku, meyakinkan kebenaran tebakanku.
Rahmi menggeleng. “Kau istri pertamanya, kau pasti merasakan hal yang sama denganku.” Ia menarik napas perlahan. “Tapi kau tak sehebat aku!” Ia berseru. “Kau hanya sebentar, tak sabar menghadapinya. Lalu kau tak bisa menyelesaikan hidupnya seperti aku.” Rahmi melepas lenganku yang semula menumpunya. Kemudian melompat-lompat girang sambil meledekku.
Tak lama ia duduk bersimpuh. “Tolonglah! Tolong aku, tak apa aku tinggal di jeruji. Asalkan bersama kekasihku, Habibi ….” Terisak lagi. Sambil menimang lengannya sendiri. Lalu berulah seperti orang mengajari anaknya berjalan, menggendong, dan menciumi lengannya dengan hirupan khas seorang ibu.
Rahmi telah merekam aroma buah hatinya, seperti aku merekam ceritanya. Seperti kami merekam luka yang sama, dan ia berhasil memutus sejarah si pemahat luka dengan mengorbankan separuh lebih kewarasannya.
Aku tafakur.


cerpen syarifah lestari
unsplash.com

cerpen Syarifah Lestari

Setiap hari rumah pamanku ramai dengan orang-orang yang berkumpul. Aku saja mesti menjauh, tak jadi menumpang padanya demi memisahkan diri dari kesibukan yang tak biasa itu. Dari Sumatra aku merantau ke kota ini, berencana kuliah sambil kerja. Tapi karena modal hidupku pas-pasan, rencana awal kutunda saja. Di sini akhirnya aku mengabdi pada seorang warga keturunan, menjadi penjaga rumahnya. Mungkin tahun depan baru aku bisa memasuki dunia kampus. Mungkin tahun depannya lagi, atau ke depan lagi.
Seharusnya, makin banyak kita membaca, makin banyak yang kita tahu. Makanya, sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, admin mau kamu yang datang ke blog ini tambah ilmu walau gak seberapa.
Inilah kumpulan fakta psikologi yang mungkin bermanfaat untuk kita semua. Kalau tidak hari ini, bisa jadi suatu saat nanti. Ketika Avatar telah kembali.
السلام عليكم
Kalau kamu buka artikel ini di hari Senin atau Kamis, dan kamu sedang puasa, tenang .... 10 foto ini memang menggugah selera. Tapi semuanya bukanlah makanan!
Kamu juga patut bersyukur setelah mampir ke sini. Karena jadi tahu, ternyata mindset bisa mengubah banyak hal.
Kalau kamu sedang puasa, entah sunnah atau di Ramadan tahun depan, kamu jadi bisa membalik keadaan. Anggap saja makanan dan minuman yang gambarnya ada di depanmu sebenarnya bukan makanan. Mungkin plastik, kucing, batu, dll.
1. Red velvet atau cheesecake? Batu!

boredpanda.com
2. Tepung dari benda hidup.

boredpanda.com
3. Pisang yang berbahaya.

boredpanda.com
4. Sushi burung mentah.

boredpanda.com
5. Jelly dengan berbagai rasa. Itu di benakmu!

boredpanda.com
6. Bisa patah gigi kalau mengunyah popcorn ini. Karena ia terbuat dari batu!

boredpanda.com
7. Kayaknya enak. Pas digigit, ternyata tanah liat!

boredpanda.com
8. Daging yang mustahil dimakan.

boredpanda.com
9. Pengin kwetiau? Jangan bayangkan karet ini!

boredpanda.com
10. Ada yang bisa menebak, apakah yang tampak seperti tumpukan pancake ini?
boredpanda.com
Sumber: boredpanda.com/inedible-things-look-like-food/?cexp_id=19721&cexp_var=84&_f=featured&utm_source=google&utm_medium=organic&utm_campaign=organic

boredpanda.com
Walaupun tinggal di Indonesia, yang di mana-mana ada masjidnya, kadang kala terlewat juga waktu salat. Entah karena azannya tak terdengar, atau jin magernya terlalu sakti.
cerpen syarifah lestari
ilustrasi dari unsplash.com
cerpen Syarifah Lestari


Lagi, Adin mengempas bukunya. Segala kertas dan buku berserak di bawah meja. 
“Jangan bilang kau mulai terpengaruh candu itu, Kawan!” Roni menyapu pandangannya pada serakan di lantai, tanpa niat memunguti.
cara tepat menyimpan roti tawar
Photo by Youjeen Cho on Unsplash

Makanan berkarbohidrat tinggi yang biasa disantap saat sarapan ini, bisa dibilang adalah pengganti nasi. Kalau nasi bisa dihangatkan, roti tawar yang tersisa perlu disimpan untuk makan berikutnya. Lalu bagaimana cara tepat menyimpan roti tawar?
cerpen syarifah lestari
unsplash.com
cerpen Syarifah Lestari


BOOM ….
“Setaaan!”
“Anjiiingg!”
Kami berlarian sambil terbahak. Mercon busi buatan Muaz memang yang terbaik, barangkali yang belum bangun sejak sahur, sekarang terjengkang di lantai. Hanya makian yang kami dapat, tak akan ada yang berani main tangan pada anak Rusli, Bapakku. Bukan karena itu saja, juga karena memang kampung kami hanya berisi orang-orang baik.