7 Ciri Manipulasi Emosi untuk Memanfaatkan Orang Lain | iluvtari

7 Ciri Manipulasi Emosi untuk Memanfaatkan Orang Lain

, , 19 comments
Ini bukan tips, Gengs! Apalagi nyuruh kamu jadi manipulator emosi untuk memanfaatkan orang lain. Justru sebaliknya, ngajak mikir biar gak jadi korban gaslighter yang memanipulasi orang, bahkan pasangannya, untuk mendapatkan keuntungan.

Semua kita pada dasarnya manipulatif, mungkin bawaan insting manusia. Entah untuk mempertahankan diri, membahagiakan orang yang kita sayangi, atau faktor lainnya. Namun jika perilaku memanipulasi sudah jadi habit, jelas tidak sehat karena berdampak buruk bagi orang lain.

manipulasi emosi

Perbedaan Gaslighting dan Manipulatif

Sebelum membahas manipulasi emosi yang memanfaatkan orang lain, sebaiknya kita pahami dulu beda manipulator dan gaslighter.

Menurut KBBI, manipulasi adalah upaya kelompok atau perseorangan untuk memengaruhi perilaku, sikap, dan pendapat orang lain tanpa orang itu menyadarinya. Itu perbuatannya, pelakunya jelas disebut manipulator.

Sementara gaslighter adalah pelaku gaslighting. Ini bukan bahasa Indonesia dan sulit di-Indonesia-kan. Jadi gaslighting itu apa? Oxford English Dictionary mendefinisikan gaslight sebagai “manipulate someone by psychological means into doubting their own sanity”. Memanipulasi seseorang secara psikologis untuk meragukan kewarasan mereka sendiri.

Sederet (situs bahasa) memperjelas gaslighting dengan “Tindakan  untuk memanipulasi seseorang dengan meyakinkan mereka bahwa mereka tidak mengalami, mendengar, atau melihat sesuatu, dan membuat mereka meragukan diri dan kewarasan mereka sendiri”. Gaslighter meyakinkan gaslightee (korbannya) bahwa segala sesuatu yang terjadi hanyalah imajinasi saja sehingga korban bisa tidak lagi percaya pada insting dan kewarasannya.

Jadi, gaslighter pasti manipulator. Sementara manipulator belum tentu gaslighter. Ada pelaku manipulasi emosi yang sering melakukan gaslighting relationship untuk memanfaatkan pasangannya. Tapi ada pula suami manipulator yang mengesankan semua baik-baik saja untuk menjaga hati istri dan semangat anak-anaknya.

Manipulasi Emosi untuk Memanfaatkan Orang Lain

Entah ini praktik gaslighting in relationship atau contoh manipulasi emosi secara luas, yang jelas ketujuhnya adalah tanda bahwa kamu sedang dimanfaatkan seseorang. Kalau kamu gak banyak baca atau bergaul dalam cyrcle yang gak sehat, kamu bisa kehilangan kewarasan.

Jadi sebelum semua itu terjadi (atau mungkin sedang berjalan?) sebaiknya cek secara saksama, apakah kamu merasakan 7 hal di bawah ini? Atau justru kamu pelakunya? Tobat woi!

memanfaatkan orang lain

#1 Iya tapi Nggak

Kamu butuh pertolongan orang lain, entah itu rekan kerja atau pasangan, untuk melakukan sebuah tugas. Ybs mengaku bersedia, tapi tak kunjung mengerjakannya. Jika hal ini berulang, ada dua kemungkinan; dia/mereka sebenarnya tidak mau melakukannya tapi segan untuk menolak. Atau dia/mereka memang sengaja hendak menjatuhkanmu.

Alih-alih membantu, manipulator yang jahat atau pasangan gaslighting akan membuatmu terkendala melakukan tugas tersebut. Jika amanah mereka tidak terkerjakan, itu semua karena salahmu. Secara emosional mereka lebih meyakinkan dalam berdalih. Pokoknya mereka gak salah, bahkan kamu bisa merasa bersalah karena perbuatannya.

#2 Pelecehan Intelektual

Kamu pernah bertemu orang sok pinter? Pelaku manipulasi emosi lebih jahat dari sekadar orang keminter. Mereka suka menjatuhkan mental orang lain di hadapan publik. Hebatnya, mereka mampu membuatmu datang padanya.

Alih-alih benci, kamu justru menganggap si manipulator, orang yang membuatmu tampak bodoh di depan orang lain, sebagai pahlawan. Kamu pikir ia dapat menyelamatkanmu dari ketidaktahuan. Namanya juga manipulasi, mereka melakukannya tidak dengan terang-terangan. 

Atau terang-terangan tapi dengan cara yang sangat pintar. Memvonis orang bodoh untuk dianggap pintar. Orang yang mengedepankan emosional (menyentuh emosi, bukan emosional marah-marah) sangat mudah jadi korban manipulator atau gaslighter. Bagus kalau kamu seorang perasa, tapi akal jangan ditinggal.

#3 Memutarbalikkan Fakta

Mirip dengan psikopat, manipulator emosi yang terbiasa memanfaatkan orang lain sangat pandai berbohong. Saking ahlinya, mereka mampu menciptakan gestur yang membuat orang lain nampak sebagai pembohong, alih-alih dirinya.

Tak heran kan kalau disebut “memanipulasi secara psikologis untuk meragukan kewarasan orang lain”. Manipulator jahat bisa membalik persepsi, sampai-sampai korban ragu dengan fakta yang sebelumnya sudah ia yakini. Aslinya para pelaku gaslighting memang pintar. Pintar tapi jahat. 

#4 Baru Kenal tapi Sotoy Lebay

“Kamu punya potensi!” seseorang memujimu padahal kalian baru saja bertemu. Kenal juga nggak. Jangan buru-buru tersanjung, bisa saja itu adalah jaring untuk menjeratmu.

Seringkali si pembual menggali informasi dalam bualannya. Misalnya ia bicara tentang tempat tinggal, dan menyebut lokasi domisili untuk membuatmu merespons dengan informasi di mana kamu tinggal. Segala info yang ia dapat, bisa digunakan untuk menipumu. Atau setidaknya dijadikan bahan untuk menjatuhkanmu suatu saat nanti.

#5 Playing Victim

Dia yang berulah, dia yang akting sebagai korban. Contoh seperti ini banyak. Kalau kamu mampu membawanya ke psikiater, mungkin bagus. Kalau nggak, lebih baik jauh-jauh dari orang dengan tipikal begini.

Playing victim adalah salah satu hal yang paling sering dilakukan seseorang dengan mental illness. Tapi bukan berarti semua orang dengan penyakit mental pasti melakukannya, dan pelaku playing victim pasti sakit mental. Mungkin lebih tepat kalau playing victim digolongkan sebagai ciri dari orang dengan penyakit hati.

#6 Menghina dalam Candaan

“Dia sih enak, belum nikah. Jadi gak mikirin pelakor. Malah bisa jadi pelakor,” dilanjut dengan tawa. Kalau kamu lajang, dan diperlakukan begitu tapi gak bisa marah cuma dengan ucapan “bercanda kok!” asli kamu adalah seorang gaslightee.

Selain kerap melecehkan intelektualitas seseorang, manipulator emosi yang tergolong gaslighter juga kerap menghina orang lain dengan dalih bercanda. Aslinya ya menghina. Jadi ketika kamu diam dengan perbuatannya yang berulang-ulang, kamu sudah dilecehkan secara mental dan intelektual. Solusinya? Menjauh dari orang yang demikian. Kalau bisa ditampol dulu.  

#7 Marah dalam Diam

Siapa yang kalau marah memilih diam? Tenaang, meski mungkin tergolong manipulasi emosi, namun ini gak ada jeleknya selama kamu lakukan untuk kebaikan. Daripada ngamuk-ngamuk menumpahkan semua kekesalan lalu menyesal, ya kan.

Mendiamkan orang lain yang tidak baik adalah dengan memutuskan silaturahmi. Para ahli (psikolog, psikiater, konselor, dsb) biasanya lebih menyarankan untuk membuka komunikasi pada orang yang membuatmu mangkel. Hal itu untuk memberi tahu yang bersangkutan di mana letak salahnya, demi menghindari kesalahan yang sama terjadi lagi.

Bedanya diam seorang gaslighter dengan yang bukan, adalah tuntutan maaf. Orang yang mendiamkan tanpa maksud buruk biasanya akan “baik” sendiri ketika diajak bicara, atau seiring berjalannya waktu. Sementara pelaku gaslighting akan mempertahankan diamnya untuk menyiksa perasaan si target. 

Nantinya hal ini akan mengarah pada playing victim dan atau pemutarbalikkan fakta. Bisa jadi orang lain salah lalu dibesar-besarkan, atau justru dia yang salah tapi menuntut orang lain untuk mengaku bersalah. Iya, mirip-mirip kelakuan cewek, tapi versi warganet. 

Nah, setelah kamu baca penjelasan mengenai manipulasi emosi dan gaslighting, serta beberapa contoh perilaku memanfaatkan orang lain oleh manipulator dan gaslighter, punya kesimpulan nggak? Kamu pelaku atau korbannya? Kolom komentar ada di bawah, tombol share juga ada. Tinggalin komentar boleh, bagi artikel ini ke medsos lebih boleh lagi!

19 comments:

  1. hati-hati dgn type orang seperti penjelasan pada artikel di atas, selayaknya kita jg hrs lebih smart dan lebih bisa mengendalikan emosi dalam situasi apapun agar gak mudah dipermainkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak enak banget klu emosi dipermainkan apalagi dimanfaatkan, selfie controlling sangat penting nih

      Delete
  2. Hahaha baru kenal sotoy dan lebay, bener bangett. Atau bisa juga merasa kenal bangett padahal mah cuma temen SD yang ga ketemu lagiii. trus dibilang kamu udah berubah, lah padahal kenalnya pas SD doaaangg hiks sedih tapi lucu wkwkwkw

    ReplyDelete
  3. Menghina dalam candaan tuh kadang bikin nusuk. Maksudnya canda, tapi kan kita ngga tahu juga kalau mulutmu tuh harimaumu ya kan. Asli deh lidah emang ngga bertulang, jadi harus dijaga bener perasaan orang lain.

    ReplyDelete
  4. manipulasi emosi ini emang mengganggu psikis banget yaa, klo lagi berantem dan malah diem dieman itu malah mengganggu aku sih ya, lebih enak diobrolin klo diem tuh malah makin mangkel

    ReplyDelete
  5. Yang nomor 4 itu daku pernah ketemu.
    Dan malas aja dengan sok SKSD. Jadinya kadang daku angguk² doang atau meninggalkan orangnya

    ReplyDelete
  6. Oh paham paham. Jadi gaslighter pasti manipulator. Sementara manipulator belum tentu gaslighter.

    Nah, ternyata toxoc juga ya kalau sampe terjadi dalam suatu hubungan. Pelakor. Memutarbalikkan fakta, perselingkuhan etc

    ReplyDelete
  7. Duh, ternyata ada ya orang-orang kaya gitu... Korbannya harus sadar supaya enggak dimanfaatin terus...

    ReplyDelete
  8. sumpah aku bacain artikel ini dengan seksama sambil bayangin diri sendiri begitu ga ya ke orang, 99% merasa enggak. terus bayangin punya teman, saudara atau pasangan begitu ga ya kelakukauannya, hehehe sambil baca sambil filter orang-orang yang punya ciri ini, mau langsung difilter aja lah hehehe

    ReplyDelete
  9. Amit2 dah aku kalo jadi pelaku. Tapi yang pasti aku jd korban mereka sih. Rata2 org yg disebutkan di atas emg menjadi momok bagi sebagian besar org. Rata2 setiap org pasti punya salah satu dr sifat di atas. Cuma kadarnya aja yg bs naik turun. Ya kta juga harus hati2 ya terhadap sifat2 yg disebutkan di atas.

    ReplyDelete
  10. aku seneng artikel seperti ini meski harus pelan pelan bacanya, nice sharing mbak...

    ReplyDelete
  11. oh gitu, aku juga masih belajar untuk mengenal orang lain serta emosi yang ada, makasih sudah menginformasikan ya

    ReplyDelete
  12. wah jadi tau nih, hehe.. bahaya juga ya ternyata hehe.. bisa jadi mengganggu psikis nih

    ReplyDelete
  13. Aku paling nggak suka ada yang playing victim. Huh, biasanya emang dia yang berulah, dia yang akting sebagai korban. Kesal banget kalau kayak gitu. Dan pernah kejadian juga beberapa kali

    ReplyDelete
  14. Aku tau istilah gaslighter ini karena kemarin menimpa salah satu member boyband kesayangan aku, NCT. Dan dia otomatis kena sangsi sosial juga cancel culture.

    Agak menyeramkan yaa..
    Terutama bergaul di sosial media. Jadi kudu hati-hati banget dengan perkataan dan perbuatan yang mungkin bisa jadi menyakiti orang lain.

    ReplyDelete
  15. Ya penrha jadi korban, tapi mungkin juga pernah jadi pelaku. Who knows? Namanya juga manusia, mgkn ada kalanya khilaf. Tapi jangan dijadikan kebiasaan nih, karena sungguh merugikan.

    ReplyDelete
  16. Bahaya banget orang yg suka manipulasi emosi ya, kita harus tetap mengedepankan akal pikiran dan hati nurani di setiap hal biar ga dikendalikan sama org seperti ini

    ReplyDelete
  17. Kadang manipulator emosi ada di sekitar kita.. tapi kita ga sadar aja..

    ReplyDelete
  18. Kalau aku lebih banyak merasa bahwa aku yang jahat pada akhirnya. Padahal yang mulai duluan orang lain, lama-lama aku marah dan mereke melabeli aku dgn sebutan "jahat". Dan itu membuat pikiran selalu negatif terhadap diri sendiri maupun lingkungan. Untungnya pada akhirnya paham bahwa tipikal orang memang beda2, ya... Solusinya cuma menjauh. Titik.

    ReplyDelete