Cari di iluvtari

6 Ciri-ciri Kamu Tumbuh di Keluarga Toxic

Selain ada teman toxic, atasan toxic, pasangan toxic, ternyata ada pula keluarga toxic. Eh jangan-jangan kita sendiri adalah pribadi toksik (ini penulisan yang tepat sesuai PUEBI). Sebagai lingkungan terdekat, keluarga tentu punya andil besar terhadap kehidupan seseorang. Kalau lingkungan ini beracun, tentu saja bisa merusak isi di dalamnya. Apa saja ya ciri-ciri keluarga toxic?

ciri-ciri keluarga toxic

Ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa seseorang tumbuh di dalam keluarga toxic. Artikel ini tidak menjadikan penulisnya sebagai standar, maksudnya, keluargaku yang besar (orang tua dan saudara) atau yang kecil (bersama suami dan anak-anak) bisa jadi tidak terlepas dari ciri toksik. 

Informasi tentang ciri-ciri keluarga toxic ini kuramu dari sumber untuk kemudian disesuaikan dengan kekhasan iluvtari. Jadi aku bukan ahli dunia “pertoksikan”, bukan psikolog, apalagi konselor parenting. Cuma penulis yang menyebarkan informasi lewat blog. Oke kita lanjut!

Ciri-ciri Anak yang Tumbuh di Keluarga Toxic

Intinya memang ciri keluarga toxic, tapi penilaian kita dilihat dari korban, yang itu adalah kamu sendiri, yang baca artikel ini. Karena ini menyangkut perasaan, jadi yang bisa menilai adalah yang bersangkutan. Kita nggak bisa memvonis si fulan tumbuh dari keluarga toxic, si fulanah dari keluarga ideal. Nggak bisa!

Maka kalau kamu melihat seseorang sepertinya dibesarkan di keluarga toxic, cara ceknya adalah dengan membagikan artikel ini ke ybs. Bukan mengira-ngira dengan prasangka, ya. So, inilah 6 tanda bahwa kamu tumbuh di keluarga toxic: 

Mudah Cemas

Menurut penelitian, remaja dengan orang tua yang sering bertengkar umumnya mengalami gangguan kecemasan (anxiety disorder) hingga depresi. Depresi itu berbeda dengan stres ya, Gengs. Kamu bisa lihat gejala depresi terselubung di sini.

Sumber toxic di keluarga memang tidak melulu orang tua. Bisa jadi saudara atau keluarga dari salah satu orang tua yang tinggal bersama kita adalah pribadi toxic. Tapi dalam sebuah rumah, yang paling besar pengaruhnya terhadap anak adalah orang tuanya.  

Merasa Tidak Berdaya

Dikutip dari independent.co.uk (4/9/15), orang tua yang terlalu mengontrol menyebabkan kerusakan psikologis seumur hidup pada anak-anak mereka. Kalau kamu merasa tidak berani mencoba hal baru, sulit bermasyarakat, dan serba bingung mengurus apa saja, bisa jadi kamu tumbuh dalam keluarga toxic.

Anak-anak yang seolah tidak memiliki kecakapan apa pun biasanya dibesarkan dalam pengawasan ketat orang tuanya. Bisa dalam bentuk terlalu dilayani, bisa pula terlalu banyak dilarang. Meski niatnya baik, kadang orang tua tidak tau (atau tak mau tau) batasan privasi dan harga diri anak.

Terbiasa Menekan Emosi

Ternyata bagi sebagian orang, mengekspresikan perasaan adalah suatu hal yang besar. Itu karena mereka terbiasa menekan emosi di rumah, entah demi menjaga perasaan orang dewasa di sana, atau karena takut dengan kemarahan mereka.

Dampak buruk dari ciri korban keluarga toxic yang ini adalah, anak-anak mudah dimanfaatkan orang lain, karena terbiasa mengutamakan emosi orang daripada dirinya sendiri. Sementara, sesuatu yang ditahan dalam waktu lama, pada titik tertentu akan meledak juga.

Gampang Meledak

Bukannya tidak konsisten, tapi memang ada orang yang karena tekanan lingkungan jadi terbiasa menahan emosi, ada pula yang justru gampang meledak. Jadi kalau kamu melihat teman yang mudah marah, mungkin bisa sedikit bersimpati. Siapa tau dia lahir dari keluarga toxic, makanya temperamen.

Merasa Tidak Berharga

Siapa yang di rumahnya tidak pernah dipuji? Memang terlalu banyak dipuji tidak baik, tapi sama sekali tidak dipuji juga bisa merusak mental anak. Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangan. Orang tua mana sih yang tidak pernah memarahi anak? 

Jika marah adalah respons untuk kekurangan anak, masa orang tua tidak mau memuji sekadar menghargai kelebihan anak? Jika begitu, pas banget deh disebut orang tua toxic! Anak yang besar dalam lingkungan orang tua atau orang dewasa toxic biasanya mengalami krisis harga diri.

Sulit Memercayai Orang Lain

Kita sering menganggap remeh perbuatan membohongi anak. Padahal selain jadi contoh buruk, bohong pada anak kecil sebenarnya merupakan pelecehan intelektual terhadap mereka. Akal balita sekalipun sudah bisa menganalisis tidak sinkronnya ucapan dan perbuatan orang dewasa di sekitarnya, terutama orang tua.

Pernah dengar peribahasa Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya? Hal itu juga berlaku bagi anak-anak. Orang tua toxic membuat anak sulit memercayai ucapan dan janji mereka. Jika orang tua saja tidak bisa dipercaya, bagaimana dengan orang lain. 

Cara Menghadapi Keluarga Toxic

Terpikir gak sih, kok korban KDRT, pelecehan seksual, dan semacamnya, tidak termasuk dalam ciri-ciri anak yang tumbuh di keluarga toxic? Logika sederhananya, kalau enam hal di atas yang jauh lebih ringan saja tergolong toxic, maka perbuatan kriminal seperti kekerasan bakal masuk kategori limbah! 

Tidak ada unsur kasih sayang di dalamnya, sehingga jika kamu mengalami kekerasan, pelecehan, dsb, segera saja lapor ke pihak berwajib! Sementara untuk 6 ciri-ciri keluarga toxic di atas, umumnya terjadi karena minimnya pengetahuan orang tua, jadi jangan buru-buru kabur dari rumah! Bagaimana kalau mencoba beberapa langkah berikut ini?

cara menghadapi keluarga toxic

#1 Sampaikan perasaan saat ngobrol santai.

Normalnya keluarga punya momen ngobrol santai yang gak perlu jadwal khusus namun biasanya terjadi begitu saja. Kamu bisa setting waktu khusus, cari kesempatan ketika orang tua/saudaramu sedang tidak sibuk. Misalnya waktu sedang nonton, makan, dsb.

Upayakan hanya ada kamu dan salah satu orang tua/saudara yang dibidik; ayah, ibu, kakak, atau adik, yang menurutmu paling toxic. Ketika momennya tepat, sampaikan perasaanmu dengan bahasa sesantun mungkin. Jika terjadi penolakan dari ybs, lebih baik mengalah dulu. Setidaknya dia tau apa yang tidak kamu sukai. Itu baru langkah awal kok!

#2 Introspeksi diri.

Mungkin gak kalau orang tua kita mewarisi pola asuh yang sama dari keluarganya, yang kemudian diturunkan ke kita? Betul itu keliru, jadi kita wajib memutus rantai tersebut. Cukup orang tua kita dan kita yang menjadi korban.

Atau kita cek diri sendiri, jangan-jangan yang membuat keluarga marah pada kita untuk hal yang sama berulang-ulang, memang karena kesalahan kita sendiri. Bisa jadi ada miskomunikasi, entah karena kamu tidak pernah menyampaikan, atau memang mereka yang tak pernah paham. Siapa yang toxic sebenarnya? 

#3 Curhat ke pihak yang tepat.

Ada istilah “teman rasa saudara”, hal itu nyata. Tapi bahwa keluarga adalah hal terpenting, ini pun berlaku di seluruh dunia. Memang ada teman yang sangat baik, tapi yang ada di dekat kita belum tentu yang masuk kategori tersebut.

Jangan buru-buru curhat ke sembarang orang, apalagi ke media sosial. “Keluargaku adalah ciri-ciri keluarga toxic”. Hm, mungkin viral. Tapi pasti ada konsekuensinya, padahal kita cuma ingin bahagia.

Kalau kamu suka menulis, lebih baik kamu tulis untuk dirimu sendiri, yang ketika kamu merasa lebih baik, tulisan itu kamu hapus. Jangan disimpan! Sebab menyimpan tulisan yang buruk sama saja dengan menyimpan luka.

Jika kamu mampu menemukan psikiater, itu lebih bagus. Biasanya dokter psikiatri ini bersikap profesional, mereka tidak mengumbar kasus pasien. Aku pernah baca tentang kode etik kedokteran, di mana dokter wajib merahasiakan keadaan pasien bahkan hingga ybs meninggal dunia.

Kamu juga bisa mempertimbangkan curhat ke ustaz atau ustazah. Tapi jangan menuntut terlalu tinggi ya, bagaimana pun mereka juga manusia biasa. Gak selalu ada untukmu. Tapi mereka punya ilmu agama yang lebih dari kita, sehingga segala permasalahan bisa dilihat dari sisi akhirat. Sebab hidup bukan cuma di dunia yang sepotong ini.

Yang jelas, kamu gak perlu mengumbar masalah keluargamu, alih-alih kabur ke rumah teman dan menghabiskan waktu sia-sia bersamanya. Percaya deh, itu bukan solusi, justru akan jadi masalah baru yang membuat masalah lama semakin dalam dan lebar.

#4 Berdoa.

Sebelum melakukan beberapa hal di atas, utamakan berdoa dulu. Jika kamu muslim, kusarankan memilih doa yang ada di Al-Qur’an atau hadits, yang dekat dengan masalahmu. Walau doa dalam bahasa Indonesia juga nggak dilarang. Yang penting tidak usah mengatur-ngatur Allah, harus begini harus begitu. 

Kalau mau cerita banyak, kamu bisa “ngobrol” dengan Allah seperti ngobrol dengan sahabat. Entah itu di tempat tidur, di jalan, atau tempat lain yang kamu suka, selama tempat itu suci. Kamu bisa merengek, ketawa, bercanda, tapi tetap jaga adab seperti kamu bicara pada orang yang kamu sayangi dan hormati.

Biasanya hatimu akan tergerak untuk bersyukur dulu. Di luar sana banyak yang nasibnya lebih buruk darimu. Kamu akan paham bahwa tidak ada orang tua atau saudara yang sempurna. Alih-alih jadi anak durhaka, kamu akan jadi pahlawan di rumah, jika mampu memahami mereka.

Jika semua hal di atas sudah dilakukan tapi ciri-ciri keluarga toxic masih ada di rumahmu, mungkin hijrah memang solusinya. Tapi pastikan kamu pindah ke lingkungan yang lebih baik, ya. Jangan sampai lepas dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Harusnya keluar dari kandang harimau, kamu main sama kucing! Pasti lebih hepi.

13 comments

  1. Semoga di jauhkan dari keluarga toxic aamiin

    ReplyDelete
  2. aku tuh sebetulnya ngga tega kalau menyebut kata toxic untuk keluarga. tetapi bagaimana pun juga, memang itu terjadi di sebagian orang.. dan kita ga perlu menghakimi mereka yang mengalami pengalaman buruk itu

    ReplyDelete
  3. Curhat ke orang yang tepat ternyata bawa pengaruh ya mbaa. Apalagi sekarang trend sebutan bestie. Apa2 diceritain ujung2nya nyesel karena ybs nggak amanah ya dan bikin kita jadi nyesel udah cerita ke dia, hiks. Bener setuju mending nulis di jurnal bentuk refleksi diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pengalaman tuh, curhat berharap dibantu, malah diremehin. Auto jadi pelajaran, berharap ke manusia pasti kecewa

      Delete
  4. Saya termasuk bukan tipe yang suka membicarakan masalah ke seseorang. Tapi, emang pernah sesekali dan itu beda rasanya dengan kita yang suka pendam masalah sendiri. Lebih lega dan lebih plong aja walaupun teman tersebut tidak memberi jawaban yang kurang memuaskan.

    ReplyDelete
  5. Kalau aku nggak terlalu nyaman buat curhat ke orang sekalipun best friend. Paling banyak sih nulis di jurnal atau curhatnya ke Allah untuk yang bener2 aku nggak tahu lagi harus gimana melepaskannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. best friend sekarang, besok2 bisa jadi bad friend. mending ngobrol dg Allah emang, gak bakal buka aib

      Delete
  6. Anonymous27/5/22

    Mbak, izin share artikelnya ya. Akhir-akhir ini lagi jadi bahasan intens dengan suami karena sering dapat curhat teman tentang lingkungan toxic terutama dari keluarga dekat. Ya Allah, semoga Allah jaga kita dan bisa membuat kita tidak terpengaruh dan justru bisa mengubah lingkungan itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. silakan ... semoga bermanfaat.
      aamiin

      Delete
  7. Wah iya, bahaya banget ya kalau kita berada di lingkungan keluarga yang toxic seperti ini
    Bisa jadi beban psikologis sepanjang usia

    ReplyDelete
  8. Toxic pada keluarga sendiri tuh penyakit banget. Semoga kita bisa mengatasi ini ya. Curhat sama yang tepat itu kudu banget. Jadi bisa ngasih solusi

    ReplyDelete
  9. bagus banget tulisannya
    zaman bertambah maju, pengembangan keluarga harmonis bertambah bagus
    Dulu, keluarga saya masih menerapkan pemukulan lho pada anak yang berbuat salah.
    Karena menyadari itu salah, saya tidak melakukan pada anak saya, tapi pastinya masih banyak kesalahan yang saya lakukan
    Di masa anak-anak saya, mereka melakukan perbaikan dst

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih. aku ngerasa ada yg keliru di keluarga besar, tapi cukup jadikan pelajaran saja. dan sekarang setelah jd ortu jg masih jauh dr sempurna, jadi masih harus belajar banyak

      Delete